makanan sehat dan enak

Makanan Sehat Tetap Enak

Posted on

Siapa bilang makanan sehat itu mahal dan nggak enak ? Ini hanya masalah persepsi disebabkan kebiasaan bertahun-tahun yang membuat kita nyaman justru dengan hal-hal yang merugikan tubuh.

 

Ya, faktor ‘kebiasaan’ ternyata yang paling membuat orang sulit move on karena alam bawah sadarnya sudah mengunci asumsi bahwa sesuatu itu A atau B. Misalnya pendapat bahwa “semua yang manis itu enak”. Sekilas, tak ada yang salah dengan pendapat ini, tapi jika dikembalikan ke rumus makanan sehat, sebetulnya tak semua yang manis itu enak lho.

 

Kenapa ? Karena orang yang sudah memahami bahwa untuk hidup sehat itu perlu mengkonsumsi makanan yang baik sudah tahu bahwa ada beragam rasa yang bisa ia nikmati agar tetap sehat.

 

Persepsinya tidak sama dengan yang tadi. Bagi mereka “Semua yang menyehatkan itu enak”.  Jadi meskipun yang ia makan rasanya flat semacam salad dan lalapan atau yang bagi kebanyakan orang bahkan rasanya asam ataupun pahit, dia akan enjoy aja.

 

Mungkin teman-teman tahu orang-orang tua di era nenek kakek kita yang suka mengunyah sirih beserta kawan-nya sebangsa gambir, kapur sirih, dll secara rutin ? Boleh ditanya kepada mereka apakah mereka menderita saat melakukannya ? Nggak ada. Yang ada mereka menikmatinya. Biasanya nenek-nenek sepuh itu mengunyah sirih siang atau sore hari di keteduhan teras rumah panggung  mereka sambil berbincang dengan anak cucu atau tetangga mereka. Udah macam ngopi-ngopi cantik di cafe aja di masa sekarang. 😀

 

Bicara kebiasaan, saya pun ingin membiasakan hal yang baik buat keluarga terkhusus dalam hal makanan dan minuman ini. Meski masih haruuuuus banget belajar dan banyak bertanya, saya coba terapkan sedikit demi sedikit karena ilmu yang datang pun nggak sekaligus banyak kan.

 

Dimulai sejak awal menikah dan memiliki bayi pertama, sudah bertekad memberikan ASI secara full sampai usia anak 2 tahun, karena sudah membaca banyak referensi sebelumnya tentang keutamaan ASI dari sumber-sumber literatur sebelumnya, tanpa mengurangi rasa hormat pada semua ibu yang memberikan susu formula, tentu saja. Saya disanggupkan memberikan ASI secara full pada setiap anak masing-masing dua tahun karena kebetulan ASI saya berlimpah saat itu.

 

Selepas ASI saya tetap tidak memberikan susu formula karena sepertinya anak-anak juga kurang suka. Kalaupun ada produk susu yang disukai, mereka lebih senang meminum susu UHT sebagai minuman rekreatif yang tidak rutin dikonsumsi. Selebihnya, saya lebih ke menyediakan makanan ataupun minuman standar saja asalkan cukup nutrisi.

 

Sebagai ibu, tentu saja saya mengalami pernah punya pandangan yang salah tentang makanan yang baik dihidangkan untuk keluarga. Ditambah lagi, kerepotan mengurus rumah dengan anak-anak yang masih kecil-kecil tanpa ART saat itu sempat juga membuat saya kurang memperhatikan point-point apa yang penting untuk kesehatan orang-orang yang saya cintai.

 

Tapi, pengalaman memang guru yang terbaik. I’ve learned by doing menyadari beberapa kesalahan saat anggota keluarga atau diri saya sendiri jatuh sakit. Apalagi, setelah Mama saya sendiri divonis menyandang Leukeumia, saya benar-benar shock. Padahal Mama bukan type orang yang suka makan atau jajan sembarangan. Saya lalu menjadi skeptis dengan banyak hal, dan lebih mencermati pola hidup baik keluarga inti maupun keluarga besar saya. Karena ternyata, pola makan dan minum yang salah itu adalah faktor terbesar terpicunya penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker, stroke, diabetes dan gagal ginjal.

 

“Semua makanan yang sehat itu enak. Hmm ternyata nggak gampang menyematkan paradigma itu kepada anak-anak bahkan kepada suami. Madu yang manis aja Faishal anak kedua saya kurang suka. Jangan ditanya lagi lalap-lalapan ataupun salad, nafsu makannya meredup sampai 5 watt.

 

Di sini tantangannya. Gimana ya supaya keluarga suka makanan yang sehat ? Ooh mungkin ini karena mereka belum biasa aja. Jadi, solusinya ya harus dibiasakan. Semakin dini, peluang untuk menjadi kebiasaan semakin besar. Mumpung belum sakit, mumpung masih muda.

 

Dari explore info dan berkomunitas sana sini sedikit demi sedikit saya mulai tahu apa dan bagaimana makanan minuman yang sehat itu dan cara mengolahnya. Misalnya jus buah yang baik itu adalah yang murni tanpa gula, nah supaya tetap dapat enaknya, terutama buat anak-anak kita bisa mencampurnya dengan jenis buah-buahan lain yang manis. Misalnya jus mangga dicampur buah naga atau buah nanas madu. Buah apel dicampur buah naga dll.

 

Selain mengkonsumsi raw food (sayuran mentah dan buah-buahan) sebagai jenis makanan terbaik karena nutrisinya masih sangat lengkap, ternyata banyak sekali jenis makanan yang dimasak yang tetap berkategori makanan sehat asal tahu cara mengolahnya.

 

Di komunitas Lavender Ribbon beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan ikut kelas memasak dengan tema “Healthy Food” yang dikomando oleh seorang ibu mantan chef di luar negeri bernama ibu Metty. Menu yang kami masak bersama hari itu terdiri dari : Sup ikan gurame, Salad, Kentang panggang (baked potatoes), talas rebus, ubi rebus dan susu almond.

 

Ternyata tak aneh-aneh juga cara mengolahnya, bahannya pun banyak terdapat di tempat kita. Kalaupun ada yang dirasa mahal itu tak sebanding dengan kesehatan kita dan bisa diganti dengan bahan lain yang harganya lebih terjangkau asal perlakuan kita pada saat mengolahnya benar.

 

Ahh senangnya belajar sesuatu yang bisa merawat kesehatan keluarga. Selain sehat, ternyata juga enak. Jadi, siapa bilang makanan sehat itu nggak enak ? 🙂

20150428_130620
Sup ikan gurame (tom yum)
20150428_124835
Salad daun kheal, letuce, avocado, tomato with coconut virgin oil
20150428_123153
Talas rebus tabur kelapa
20150428_123111
Ubi rebus
20150428_120259
Baked potatoes

Iklan