Anak

Perempuan dan Anak dari Sudut Pandang Serempak

Posted on Updated on

Sudah menjadi pemahaman semesta, yang tak perlu pengakuan siapa-siapa, bahwa keberadaan perempuan di dunia yang berdampingan dengan insan lain dari jenis yang disebut kaum pria adalah sama pentingnya dalam dinamika entitas manusia. Peran wanita sebagai ibu adalah hal yang paling tak terbantahkan saat mengulik perjuangan dan pengorbanan mereka. Di luar itu, kenyataannya kaum wanita banyak yang telah pula sanggup memikul beban yang sebelumnya hanya diberikan kepada pundak kaum pria. Tak terhitung jumlah kaum wanita yang kini merambah profesi yang dahulu dipandang hanya para lelaki yang pantas melakukannya.

Namun demikian, sudah pula menjadi catatan sejarah dunia, bahwa kaum perempuan di beberapa tempat di belahan bumi dan di beberapa aliran pemahaman dan kepercayaan kerap mendapat posisi dan perlakuan yang sebaliknya. Stereotype yang dilekatkan kepada mereka hampir sama dengan yang disematkan kepada anak-anak, yaitu kaum yang lemah. Sebuah sudut pandang yang tak terasa sungguh merugikan bahkan menyakitkan karena disebabkan pandangan ini kaum perempuan dan anak-anak sering pada begitu banyak kasus, berada pada posisi yang dinistakan.

Itu sebabnya, banyak sekali dibuat gerakan di mana-mana dalam skala kecil hingga mendunia yang concern dengan upaya perlindungan kaum wanita dan anak-anak, bahkan sampai pada tingkat upaya untuk memberdayakan mereka sehingga terangkat harkat dan martabatnya sebagai bagian dari eksistensi umat manusia.

Di Indonesia sendiri tak dipungkiri telah banyak gerakan yang mengusung hal ini baik secara pribadi di lingkup domestik hingga skala nasional. Sebagai negara dengan bangsa yang terdiri dari beragam suku dan keyakinan, insan Indonesia kaya dengan pemahaman dan kesadaran untuk menjadikan issue pemberdayaan dan perlindungan kepada kaum wanita dan anak-anak sebagai hal yang urgent terutama saat mengetahui angka kasus kekerasan kepada kaum ini semakin meningkat dalam berbagai bentuknya.

Diskusi Bersama Serempak                                                       

Serempak, yang merupakan singkatan dari Seputar Wanita dan Anak-Anak kini hadir sebagai sebuah website portal yang menyediakan beragam informasi seputar perempuan dan anak-anak baik berupa artikel, berita, serta galeri foto maupun video yang mendokumentasikan segala kegiatan yang berhubungan dengan kiprah perempuan dan anak-anak dan forum diskusi.

Sebuah keberuntungan bagi saya pada tanggal 29 Juni 2015 yang lalu menjadi salah satu orang dari 30 blogger lainnya yang terpilih mendapat undangan untuk berdiskusi bersama fihak Serempak dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melalui komunitas blogger Fun Blogging yang digawangi oleh teh Ani Berta, mbak Haya Aliya Zaki dan  Shinta Ries.

Sekitar pukul 8 pagi saya bersama beberapa teman blogger dari Bogor sudah berada di kantor KPPPA di jalan Medan Merdeka Barat No.15 Jakarta Pusat. Alhamdulillah, kami datang sebelum acara diskusi dimulai sehingga berkesempatan mempersiapkan diri lebih dulu. Tak lama kemudian rombongan blogger lain berdatangan bersama tim Serempak dan beberapa staf dari kementrian. Seketika, aura baik saya rasakan. Begitu bersemangatnya, saya merasa mendapat kehormatan bukan karena saya berada di kantor kementrian, tapi karena merasa telah diperkenankan Tuhan bisa ikut terlibat dalam event yang saya anggap jalan untuk saya bisa berkontribusi dalam upaya pemberdayaan perempuan dan anak-anak.

Acara diskusi bersama serempak dimulai dengan sebuah opening ceremony berupa kata sambutan dari Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bapak Wahyu Hartono yang menyampaikan kegembiraannya atas keberadaan Serempak yang diharapkannya dapat membantu tugas-tugas KPPPA dalam melayani masyarakat khususnya kaum wanita dan anak-anak dan juga berharap semoga kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang dimanfaatkan tim pokja Serempak dapat menjadi jalan kemajuan bangsa dengan meningkatkan peran wanita dan terlindunginya hak anak-anak.

Sekretaris Mentri PPPa
Sekretaris Mentri PPPa

Setelah Bpk.Wahyu Hartono selesai memberikan sambutan dan lalu meninggalkan ruangan, mbak Martha Simanjuntak sebagai ketua dan penganggung jawab pokja Serempak menjelaskan sedikit profil Serempak dan agenda acara diskusi yang akan segera dimulai.

IMG_20150629_101006

Digital Marketing

Sessi pertama diskusi dimulai dengan menghadirkan nara sumber Robert AB seorang pengajar dari sekolah bisnis BINUS Jakarta dengan tema Digital Marketing (DM). Dalam pemaparannya, pak Robert menguraikan secara detail apa dan bagaimana itu digital marketing dalam kancah bisnis khususnya di Indonesia.

Menurut pak Robert, digital marketing pada awalnya dikenal dengan istilah internet marketing namun kemudian diubah menyesuaikan dengan karakteristik dunia bisnis. Publik seringkali memaknai digital marketing sebagai upaya pemasaran yang berbasis internet atau dalam bahasa sederhana acapkali diistilahkan dengan toko online.

Apa saja platform digital marketing yang banyak digunakan di dalam masyarakat online  ? Wow tanpa disadari ternyata banyak sekali, tanpa disadari ternyata platform yang setiap hari mungkin kita gunakan adalah pintu bagi masuknya pemasaran-pemasaran online tersebut seperti facebook, twitter, Youtube, whatsapp, BBM, Be, dan lain-lain ke ruang pandang dan pendengaran kita ya.

Jika dibandingkan dengan traditional marketing perbedaan digital marketing adalah dari cara interaksinya. Misalnya pada cara traditional marketing, penjual berhadapan langsung dengan calon pembelinya dan melakukan negosiasi transaksi. Tidak demikian halnya pada digital marketing, di sini si penjual tak direpotkan dengan adu tawar harga dengan calon pembeli. Harga sudah ditetapkan dan jika penjualan deal, si konsumen hanya tinggal mentransfer uangnya melalui bank. Mudah sekali ya.

Dengan optimasi digital marketing banyak sekali keuntungan yang bisa didapat, misalnya jalinan sosial dengan konsumen dengan biaya rendah. Bagaimana tidak, konsumen sekarang hanya tinggal mengetik pesanannya di BBM atau whatsapp ataupun media lain kepada penjual online tanpa perlu capek-capek berjalan kaki ataupun berkendaraan ke toko semacam sistem konvensional, tahu-tahu paket barang pesanan sudah di depan pintu. Begitupun dengan fihak produsen online, mereka tak perlu membeli atau menyewa suatu tempat untuk buka lapak, hanya berbekal kamera untuk capture dan unggah foto-foto produknya di media massa maupun online, lalu menunggu hingga datang pesanan.

Oleh karena benefitnya yang besar, para pelaku digital marketing sangat memperhatikan perilaku konsumen (consumer behaviour) seperti misalnya perilaku apa yang kebanyakan orang lakukan di rentang waktu pagi hingga siang hari, siang hingga sore hari, atau sore hingga malam hari. Hal ini akan menentukan eksekusi apa yang mungkin dilakukan demi mencapai goalnya. Dalam hal ini diketahui bahwa jejaring sosial seperti facebook atau instagram misalnya adalah jenis situs yang paling banyak digunakan untuk berjualan online. Mulai dari produk-produk kecil sampai besar, tradisional hingga modern.Busana merupakan item yang paing banyak dijual di online shop, tapi jangan salahsekarang banyak juga orang yang menjual kendaraan pun secara online.

Ini semua menunjukkan bahwa aktivitas kita di social mediasebenarnya akan bermanfaat khususnya  jika kita benar dan bijak menggunakannya.

IMG_20150629_103409
Pak Robert AB, pengajar di sekolah bisnis

Diantara yang dijelaskan bapak Robert AB, diantaranya yang lain adalah tentang komunitas. Biasanya orang berkomunitas karena adanya beberapa kesamaan, misalnya kesamaan pikiran, kesamaan hobi, kesamaan idealisme. Dan biasanya juga sebuah komunitas akan fokus pada satu topik yagn sedang hangat.

Selain komunitas, pak Robert juga menguraikan tentang bagaimana melakukan digital marketing. Pertama harus menentukan lebih dulu audience/pelanggan yang seperti apa yang diharapkan datang di web kita. Kedua integrating, menghubungkan antara digital marketing dengan traditional marketing adalah hal penting, ini dilakukan demi mengurangi resiko-resiko penipuan dan juga karena kedua cara marketing ini sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Maka di sinilah kita memerlukan integrasi di antara keduanya.

Saat ini yang sedang trend di digital marketing diantaranya adalah content marketing, pemakaian social media untuk sarana promosi, konten bergambar, soft marketing, mudah diakses melalui telepon, efektivitas dengan re-target peliputan iklan, pengenalan SEO.

Salah satu yang penting dipikirkan juga adalah bagaimana membangun brand. Setiap brand pasti punya identitas, punya elemen, punya karakter tersendiri. Jadi saat kita membayangkan brand tertentu kita akan mencapai price dan qualitynya seperti apa.

 

Portal Serempak

Pada sessi kedua teh Ani Bertha menguraikan latar belakang hadirnya portal Serempak di tengah masyarakat yang ditujukan untuk memberikan informasi-informasi yang bermanfaat untuk kepentingan perempuan dan anak-anak. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Sekretaris Menteri Pemberdayaan dan Perlindungan anak di muka dijelaskan bahwa Portal Serempak adalah milik masyarakat yang difasilitasi pemerintah untuk kepentingan mengangkat harkat dan martabat perempuan dan anak, untuk itu masyarakat diharapkan dapat turut andil memakmurkan portal ini sesuai dengan tujuan keberadaannya.

Screenshot_2015-07-05-07-37-28

Sebagai blogger kitapun mempunyai peluang untuk berkontribusi dengan mengirimkan tulisan-tulisan yang bermanfaat ke media ini baik berupa berita, artikel, opini, ataupun sharing hal-hal yang ringan seperti resep masakan dan sebagainya.

Banyak relawan yang menjadi kontributor untuk portal Serempak ini, yang meskipun tidak berbayar namun untuk alasan charity/amal shalih ataupun ikatan bathin dengan tim Serempaknya sendiri mereka rutin mengirimkan tulisan-tulisannya. Memang kepuasan bathin bisa berbagi untuk kemajuan dan keselamatan banyak orang adalah salah satu alasan orang menjadi kontributor.

Screenshot_2015-07-07-06-19-41

Ada beberapa ketentuan bagi para kontributor dalam mengirim tulisannya untuk portal Serempak ini, diantaranya adalah :

  1. Tulisan minimal 500 kata, maksimal 1000 kata
  2. Sesuaikan gaya penulisan dengan idealisme dan ciri khas website/portal Serempak
  3. Tulisan / reportase harus merujuk pada 5W (What, Who, Why, Where, When)
  4. Mengatur jadwal update sesuai kesepakatan kerjasama
  5. Mengisi kanal-kanal website sesuai kategori yang dikuasai
  6. Masukkan keywords yang tepat
  7. Self editing
  8. High resolution photograph

Selain delapan hal di atas, ada delapan lain yang harus dihindari oleh para kontributor yakni :

  1. Tidak melakukan plagiarisme
  2. Tidak menggunakan bahasa alay
  3. Tidak memasukan beropini pribadi
  4. Tidak memasukkan unsur kepentingan pribadi
  5. Tidak menyebut nama brand
  6. Tidak  mendiskreditkan orang / fihak lain
  7. Tidak keluar dari idealisme Serempak
  8. Tidak berbohong

Beberapa keuntuungan yang bisa didapatkan para kontributor khususnya di portal Serempak banyak sekali, diantaranya adalah : branding, portofolio diri, social enterpreuneur, bisa melakukan hobi yang menghasilkan, tulisannya bermanfaat untuk orang lain, relasi, upgrade ilmu, wawasan meningkat, dan skill pun bertambah.

Kita bisa mengirim tulisan ke portal Serempak dengan tema yang sama dengan tulisan kita di blog asal menyisihkan ke delapan hal yang dilarang tadi. Tambahkan juga pengembangan data dan kalimat aktifnya. Jika bahasa di blog sudah sesuai kriteria di berita portal tetap harus diolah kembali agar tidak terkena sangsi google panda.

Jika tulisan itu bertema travelling, tetaplah berikan sentuhan yang sesuai tema portal di mana kita jadi kontributor di dalamnya.

Ada tiga sumber berita di portal Serempak, yaitu dari pemerintah, dari pokja Serempak dan dari masyarakat termasuk blogger.

Yang menjadi concern Serempak saat ini adalah bagaimana bisa menjadi jembatan penghubung agar pemerintah apa yang sedang terjadi di masyarakat. Tulisan kontributor sendiri akan melalui moderasi tim Serempak untuk sampai dipublikasi.

Teh Ani Bertha salah satu lead kontributor di Portal Serempak
Teh Ani Bertha salah satu lead kontributor di Portal Serempak

Demikian sekilas reportase yang masih saya ingat dari event diskusi bersama pokja Serempak yang lalu di kantor Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Oya, sebelum berpisah ternyata ada apresiasi untuk lima orang juara live tweet dan tentu saja tak ketinggalan foto bersama juga. Alhamdulillah, semoga bermanfaat ya.

Screenshot_2015-07-07-11-03-28
Doc. Dian Kelana

Iklan

Giveaway : Mendidik Anak dengan Mendongeng

Posted on Updated on

 

Sebagai manusia, meskipun dianugrahi kehanifan (kecenderungan untuk berbuat baik), tapi kita tak terluput dari berbuat kesalahan bukan ?. Untuk itu kita selalu membutuhkan nasehat orang lain, ingatan yang akan mengembalikan kita pada alur yang benar.

Tapi masalahnya, banyak orang tak suka dinasehati, terutama karena tak sedikit kini orang menasehati sesamanya dengan cara-cara yang jumawa. Hal ini membuat orang yang dinasehati merasa tersudut atau dipermalukan.

Hal ini dulu pernah menjadi kekhawatiranku. Sebagai ibu, duniaku tak jauh dari mendidik anak-anak-anak untuk menanamkan azas yang baik kepada mereka. Masalahnya setiap anak memiliki karakter yang unik. Kepada mereka perlu bentuk-bentuk mendidik yang tepat sesuai dengan usia dan karakternya. Terkadang pada anak dengan karakter tertentu kita memerlukan ketegasan yang lebih Pada anak yang lain cukup diingatkan saja dia sudah faham.

Banyak hal yang bisa membantu orang tua dalam mendidik anak-anaknya, salah satunya misalnya dengan menyediakan untuk mereka buku-buku cerita. Membaca adalah pintu masuknya pengetahuan yang demikian luas. Dan hal ini sangat baik dibiasakan sejak dini.

Tapi, jika hanya mengandalkan buku-buku cerita mungkin saja anak-anak terpenuhi rasa keingtahuannya yang besar akan segala, apalagi sekarang banyak tersedia buku-buku dengan konten yang mengakomodasi kebutuhan anak-anak sesuai usia. Tapi tanpa “kehadiran” orang tua, kita tak bisa melihat proses apa yang sedang terjadi di dalam dirinya saat dan sesudah membaca itu.

Di rumahku sendiri tak memiliki terlalu banyak buku cerita anak-anak. Aku lebih suka mereka mendengarkanku mendongeng. Ya, Mendongeng adalah caraku “menyentuh” benak dan hati anak-anak. Menyisipkan pesan dan nasehat diam-diam melalui cerita dan suara ibunya.

Mendongeng tak bermakna selalu berkisah tentang tokoh-tokoh khayalan. Aku lebih suka membangun imajinasi mereka dari figur pahlawan-pahlawan yang nyata dalam sejarah dunia. Walaupun mungkin ini juga karena keterbatasan list bacaan dan pengetahuanku. Mendongeng dari latar dan tokoh yang lebih beragam tentu akan lebih memperluas wacana. Tapi tetap saja, akhirnya kisah-kisah tertentu yang bisa mengundang reaksi mereka.   Kecuali kepada Rahma yang masih berusia enam tahun, terkadang aku masih perlu menggunakan buku-buku bergambar yang terkadang berupa fabel.

Ada saat-saat yang kusukai untuk mendongeng, ialah kala mereka memintanya. Ya, tak ada waktu-waktu khususku untuk bercerita, misalnya mendongeng setiap sebelum anak-anak berangkat tidur. Aku menunggu mereka memintanya saja, karena jika mereka memintanya, itulah saat mana mereka membutuhkannya, dan itu berarti, mereka dalam keadaan siap mendengarkan.

Dan saat yang kusukai itu biasanya datang pada saat sesudah maghrib. Selesai mengaji anak-anak duduk atau berbaring santai di pangkuan atau di atas sajadah. Kalau sudah seperti itu, biasanya aku menanyakan kabar mereka di sekolah atau  tempat bermainnya. Ada-ada saja pengalaman mereka seharian, dan dari peristiwa yang mereka hadapi hari itu, banyak ide cerita bermunculan.

Tak selalu ide itu datang dari pengalaman anak-anak, sering pula aku sharing tulisanku sendiri di blog untuk mereka. Misalnya kisahku tentang Nabi Yusuf yang kutulis disini edisi 24 Maret 2014 lalu.

Meskipun kisah Nabi Yusuf sudah tak asing lagi di telinga mereka, tapi aku selalu senang melihat reaksi mereka saat mendengar cerita itu lagi. Kata-kata seru seperti “wiiihh”, “woooww” atau senyum dan binar di mata mereka dan juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul di tengah-tengah cerita menunjukkan betapa antusias itu hadir saat mereka mendengarkan cerita. Lain jika cerita itu mereka dapatkan dari membaca saja.

Padahal aku bukan pendongeng yang ekspresif, cara bicaraku tak seperti yang direkomendasikan pakar di seminar parenting yang  menganjurkan berkisah dengan dramatis. Suara yang dibuat meninggi, mengapung atau kadang berbisik merendah  sesuai suasana kisahnya.

Tak seperti itu. Rima bicaraku biasa-biasa saja, seperti berbincang dengan anak-anak setiap harinya. Itu sebabnya, aku sering takjub sendiri, betapa Maha Besarnya Tuhan yang membuat kemampuan anak menerima informasi sebegitu dahsyatnya dari media yang demikian sederhana (cerita ibunya).

Tentu saja, ini tak berarti aku mengabaikan pentingnya membaca, hanya saja, pada anak-anak balita hingga usia sekolah dasar, mendengarkan orang bercerita lebih mengasyikan dan lebih cepat meresap ke dalam ingatan dan pemahaman mereka.

Aku meyakini, seringnya kita berbincang dengan anak, menasehati mereka melalui kisah-kisah yang baik, ikut menyirami harapan-harapan indah mereka seperti terlukis dalam dongengan,  tanpa terkesan menggurui, tanpa terdengar menyindir kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan, itu sudah bermakna kita telah memberi anak-anak “akar” nilai-nilai kebajikan yang kokoh, sekaligus memberi mereka “sayap” untuk menerbangkan imajinasi dan cita-cita mereka sejauh yang mereka inginkan dalam cakrawala kehidupannya kelak.

 

Your children will become who you are

So be who you want them to be

(anonymous)

 

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway SEMUA TENTANG DONGENG ANAK

Andai Bisa Lebih Lama …

Posted on Updated on

Haru atau Sedih

Hanya ingin menulis bahwa saya terharu, eh mungkin sedih. Ahh betapa tak pentingnya, tapi keharuan atau kesedihan itu tiba-tiba muncul malam tadi, sesaat setelah anak-anak yang semula melingkar di meja makan berbentuk bundar itu bubar, menekuni buku pelajarannya masing-masing, belajar.

Tak penting bahwa saya memang selalu cengeng bahkan kalau yang bercerita itu anak ABG dua belas tahun seperti Zahra. Sulungku ini bisa mengaduk-aduk hatiku hanya dengan menceritakan bahwa diantara semua teman sekelasnya, hanya dia yang diberi nilai yang baik ditambah senyuman oleh seorang gurunya yang dikenal “killer” oleh seantero sekolah. Mungkin karena dia pandai menuturkannya dengan terstruktur, membangun piramida di labirin emosiku lalu meruntuhkannya bersama air mataku pada waktu yang tepat.

Entahlah, yang jelas mataku terus mengerjap tanpa bisa menahan airnya.

Flash Back

Setiap habis menegakkan shalat maghrib, diantara sesudah acara mengaji dan sebelum belajar malam anak-anak, ada secuil waktu buatku bisa berbincang dengan mereka seluruh buah hatiku. Mendengar pengalaman mereka seharian itu, sungguh-sungguh acara keluarga yang seru.

Malam tadi Zahra bercerita tentang teman sebangkunya yang senang menirunya. Lebih tepatnya meniru tugas kelasnya hehehe. Aku senang memperhatikan mimiknya yang lucu saat Zahra sedang menceritakan temannya itu. Antara gemas dan merasa lucu.

Atau saat ia menceritakan Ani, sahabatnya di rumah sekaligus sahabatnya di sekolah karena mereka belajar di sekolah yang sama. Bahwa betapa Zahra begitu menyayanginya, hingga meresmikannya menjadi kakak angkatnya tanpa upacara apa-apa. Aku sering tak kuat menahan tawa  mendengar ceritanya bersama Ani.  Bayangkan, di BB saja mereka membuat grup BBM yang anggotanya hanya mereka berdua hahaha (aku nggak tahu, apakah itu karena saking euphorianya dengan persahabatan, atau karena nggak nyadar, bahwa apa bedanya sama chatting secara langsung (yang notabene berdua berdua juga kan :s).

Cerita Zahra macam ini sering lalu ditimpali adik-adiknya. Kadang pertanyaan yang belakangan datang kurang nyambung dengan cerita sebelumnya. Tentu saja, mereka punya pengalaman yang berbeda tetapi sama ingin dibagi juga. Cerita Faishal tak kalah menariknya, tentang teman-temannya yang sadar ataupun tidak, sering memanggil temannya dengan julukan-julukan yang mengecilkan hati. Bahkan Faishalpun tak luput dari julukan itu.

Hanya pada kesempatan seperti itu, di usia mereka sekarang, aku punya waktu membagi pandangan-pandanganku secara lebih luas. Aku sering harus memeras otak lebih keras, karena satu pertanyaan salah satu anak sebisa mungkin juga bisa menjadi pelajaran untuk anakku yang lain yang usianya lebih tua maupun yang lebih muda. Dan sering pada kesempatanku yang seolah-olah sedang menasehati mereka itu. justru akulah yang lebih banyak belajar dari pengalaman mereka menghadapi dunianya.

Feeling

Perbincangan santai itu biasanya tak berlangsung lama, hanya sekitar 45 menit atau kira-kira satu jam saja. Lalu mereka akan bubar, asyik dengan tugas sekolahnya masing-masing . Kecuali si bungsu Rahma tentunya, yang cukup menjadi cheerleader saja menyemangati kakak-kakaknya *seringnya menggoda juga sih :D*

Saat mereka telah berada dalam asyik berkutat dengan buku-buku, entah apa yang membuat mataku meruyak lalu meneteskan airnya. Tiba-tiba dari sudut tatapku, aku melihat tempatkku duduk mundur dalam kecepatan cahaya, membawaku ke lorong waktu, melemparku pada masa yang aku tak tahu dan membuka kesadaranku.

Bahwa tak selamanya aku diberi kesempatan untuk dapat berkumpul seperti itu. Menikmati cerita-cerita lucu, kadang menyedihkan dari mulut-mulut mungil mereka. Mencoba memberi pandangan dan berharap bisa membantu mereka menghadapi kesulitan yang sama atau lebih dari yang sebelumnya mereka temukan.

Bahwa tak seterusnya, aku bisa memeluk mencium atau dipeluk dicium mereka, sesering yang kusuka. Menelisik setiap jengkal wajah dan tubuh mereka untuk kutemukan apakah ada luka disana. Atau meski sekedar perubahan karena gigitan nyamuk pada malam harinya.

Bahwa tak sepanjang masa, aku bisa menjahitkan kancing baju mereka, atau menambal robekan baju seragam dan kaus kakinya. Mendengar keributan di pagi buta, saat ada yang tak dapat menemukan topi ataupun dasinya.

Bahwa tak abadi, saat-saat dimana aku orang pertama yang mereka cari, darimanapun mereka telah pergi. Rumah selalu menjadi tempat pertemuan terindah kami. Sebodoh-bodohnya aku, dan seseru-serunya petualangan mereka di luar, tak ada nama yang pertama mereka seru saat tiba di muka pintu selain :

/\  “Ummiii …?, Umi dimana ?”.

Bahwa tak perduli seberapa dekat anak-anakku dengan Abi mereka, namun untuk bisa terlelap dalam ketenangan, haruslah aku yang menemani mereka di ruang tidur. Tak harus mendongeng kisah-kisah yang selalu baru, hanya melihat sosokku atau sekedar menyentuh kulitku, barulah matanya bisa terpejam. Apatah lagi jika aku memainkan gitar mengantarkan pada lelap,saat hanya lilin yang menerangi kami dalam gelap.

Lalu aku hanya meminta kepada Tuhan, agar dalam taqdirNYA ini semoga kiranya DIA memberiku kesempatan, lalu rasa mau dan mampu untukku menjadi seorang yang sesungguh-sungguhnya seorang Ibu. Mungkin dengan segala kekuranganku sulit untuk mencapai harapan itu, namun aku bisa terus belajar dan belajar, dan untuk itu aku membutuhkan segala kekuatan disebabkan lemahku.

Aku sebagaimana ibu manapun hanya mencita-citakan hal yang terbaik dan terindah untuk anak-anakku. Dan harapan itu bukan kuucapkan dalam bentuk future tense, bahkan saat-saat kini aku masih dikarunia kesempatan membersamai dan mengasuh mereka. Bahwa apa yang telah kami lalui dalam naungan yang kami sebut keluarga, kumaknai sama dengan membangun sejarah mereka. Maka pondasi itu haruslah kokoh, dan tugasku cukup berat untuk bisa meng-cover segala yang kuucap, segala yang kulakukan atau bahkan segala yang kubiarkan menjadi GPS yang akurat, setidaknya untuk kehidupan mereka kini. Syukur-syukur jika hal itu masih berbekas, untuk di kemudian hari, saat aku telah tak ada lagi, lalu sesuatu tak baik terjadi, ada satu anakku mengingatkan anakku yang lain :

/\  “Eh, ingat nggak dulu apa kata Umi ? ….” bla bla bla bla bla”

Ahh betulkah separah itu aku ingin dikenang ? Entahlah.

Aku, meski dalam kapasitas terendah dibanding semua Mama di bumi, tetap sama mengharapkan, bisa membekali anak-anakku dengan sebaik-baik bekal dalam kehidupan mereka, kurasa itu yang lebih tepat dilakukan daripada terjebak terus dalam sentimentil perasaan malam itu.

Dalam segenap kelemahan dan kekuranganku sebagai seorang Ibu, aku sungguh-sungguh bersyukur, setidaknya hingga aku menulis jurnal ini, masih bisa mendampingi buah hatiku. Semoga, bisa terus menyaksikan apa yang kusemai kini kelak berbuah indah dan bermanfaat bagi kehidupan.

Yang pasti aku hanya ingin menikmati keharuan, bahkan saat kuketikkan jemari di tuts laptop setiaku ini. Dan saat Rahma dengan riang menjeda dengan mendudukan dirinya diatas pangkuanku, kembali hatiku berkata lirih :

/\  “Tak selamanya kamu akan duduk di pangkuan Umi, saat Umi sedang menulis seperti ini Nak”

Dan seketika kurengkuh mungil tubuhnya kedalam dekapan, memeluknya erat,tak ingin kulepaskan.

umirahma

8735_103733626306110_100000084182559_97910_5798653_n

22040_108033072542832_100000084182559_206782_5717211_n

berbagi ni'mat eskrim

16360_104413682904771_100000084182559_116619_6852235_n

ngegaya

4 of us