Uncategorized

Bukan sekedar password

Posted on Updated on

Sssttt……tenanglah…!
Coba perhatikan…..

Lihat bayi itu, sedang lelap tertidur, setelah seharian bermain-main rupanya ia kelelahan.
Kita pun orang-orang yang telah dewasa membutuhkan tidur untuk beristirahat, bertahan sekuat apapun jika sudah kelelahan pasti tertidur juga. Di sofa ruang tamu, di tempat tidur, di depan TV, di dalam bus atau kereta api, di tengah jam perkuliahan, bahkan di trotoar-trotoar jalan sekalipun kita saksikan banyak orang yang lelah tertidur dengan nyenyaknya. Tak ada yang bisa menahannya, kecuali…………..

Tapi tidak selalu begitu juga…
Kau tahu ? Banyak orang yang merasa kesulitan untuk bisa tidur. Mereka menyebutnya ‘Insomnia’. Berat terasa bagi orang yang mengalaminya. Bayangkan, ia lelah luar biasa namun untuk bisa tertidur, sesuatu yang sejak awal kehidupannya tidak pernah terlewatkan dan menyamankannya, ia sudah tak bisa. Tidur, menjadi barang yang mahal harganya, kadang-kadang ia harus membelinya dengan menukar seteguk obat agar dapat merasakannya. Itupun hanya bersifat sementara, sedang tidur yang didorong obat-obatan tentu saja bukan tidur yang nikmat. Tak ada yang bisa menghadirkannya kecuali…………..

Sssssttt…….coba perhatikan lagi….

Mengapa orang itu tersenyum-senyum sendiri sambil mengerjakan sesuatu. Coba kita intip apa yang ada di benaknya….Hmmm ternyata dia sedang mencintai seseorang. Rasa itu hampir-hampir “meledakkannya”. Tak tahan, ingin melakukan apapun untuk orang yang dicintainya. Pantas ada sebuah lagu yang mengungkapkan, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Menandakan, orang yang merasakannya begitu terlena.
Mencintai seseorang itu beraneka rupa bentuknya, tergantung kepada siapa ia sedang mencinta. Seorang Ibu tak diragukan lagi, besar cintanya kepada anak-anaknya. Jika ia bisa, akan dilakukannya untuk membahagiakan buah hatinya.Atau Istri kepada suaminya atau sebaliknya. Bisa jadi anak kepada orang tuanya. Atau seorang teman kepada sahabatnya. Jika takdir menghendakinya berpisah dari orang yang dicintainya karena sesuatu urusan atau bahkan kematian, kita lihat…orang dapat demikian terpukul. Sampai-sampai rasa sakitnya menyesakkannya. Tak kuat menanggungkan perpisahan dengan orang yang biasa dikasihinya.

Tapi, ada pula yang tak kuasa menahan benci. Demikian beratnya kebencian membebaninya, sampai-sampai apapun akan ia lakukan untuk melampiaskannya. Kita saksikan, kemarahan dan segala upaya untuk menyakiti orang lain telah menjadi pilihan para pembenci sesamanya. Walau kadarnya berbeda-beda namun siapa yang bisa menghalang-halangi perasaan ini ?. Tidak ada, kecuali……….

Sssttttt………Perhatikan sekali lagi………
Bagaimana jika orang tak menemukan makanan dan minuman? Tak ada yang dapat menanggungnya jika hal itu terjadi dalam jarak 15 jam. Apalagi barang seteguk air, tidak bisa orang bertahan tanpanya dlam sehari semalam. Menjadi lemas seluruh tubuh, tak kuat membawa beban dan aktivitas. Walau banyak orang kelaparan di dunia ini, tetaplah ia membutuhkannya walau harus mengambil sesuatu yang menjijikkan. Tidak ada yang dapat menolak lapar dan haus, kecuali……………..

Bagaimana kita bisa menahan virus yang demikian kecil ukurannya..? Bagaimana kita bisa menangkis sesuatu yang mata kitapun tak dapat melihatnya memasuki tubuh kita ?. Bagaimanapun kita tidak menginginkannya, mereka akan tetap masuk, mengobrak-abrik sistem pertahanan tubuh kita dan kadang-kadang memenangkannya …………

Bagaimana kita bisa menahan sel-sel kanker itu hidup dan berkembang di dalam tubuh kita, merusak organ-organ penting tubuh kita. Memberikan penderitaan yang luar biasa. Bagaimanapun kita tidak menginginkan kehadirannya, mereka tetap masuk dan bekembang biak, memenuhi semesta tubuh kita …….

Ssssttt…..diamlah…..

Coba tafakuri….tanda-tanda apakah itu semua?

Ternyata…..ITU SEMUA KARENA KITA LEMAH….karena kita ini FAQIR….dihadapan semua kekuatan-kekuatan itu. Sangat terbatas. Di hadapan Tuhan yang Allah asmaNYA. So weak…so helpless.

Bagaimana kita dapat menahan TAQDIR, Kehendak yang tak terbatalkan dari Sang Kreator, Maha Pencipta yang detail, yang terus Memelihara dan Mengendalikan ciptaanNYA.

Ingatkah , ketika kita diajarkan bahwa untuk memulai segala aktivitas, mulailah dengan mengucapkan Basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim) ?

Ternyata, Basmallah bukan hanya sekedar Password untuk memulai aktivitas kita. Seolah-olah, hanya dengan mengucapkannya, maka aktivitas itu akan bermakna dan bernilai bagi diri pelakunya. Benarkah demikian ?. Karena burung Beo pun, jika dilatih mengucapkan Basmallah tentu ia pun dapat fasih melafalkannya. Bahkan orang-orang yang tak meyakininya pun,dengan mudah dapat meniru pengucapannya.

Lalu dimanakah letak kesakralan Basmalah jika demikian?
Ternyata itu semua tergantung pada bagaimana kita memaknai kalimat itu.

Bismillaahirrahmanirrahiim
Orang-orang sering menterjemahkannya :”Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”.
Saya bukan ahli bahasa, apalagi Bahasa Arab. Namun jika hanya berhenti pada pengertian seperti tersebut dalam terjemahan itu, maka pantaslah segala aktivitas kita itu menjadi tidak bermakna dan mendapat nilai ibadah, Karena Nama sang Maha Rahman dan Rahim itu HANYA DISEBUT saja, terucap didalam lisan  tanpa disertai Khidmat dan Takdzim hati kita kepadaNYA.

Kalimat Basmalah seharusnya merupakan Ruh yang menyertai dan menjiwai segenap aktivitas dan perbuatan kita. Dimana maknanya terpatri dalam hati, kesadaran bahwa Bersama Dzat yang disebut Allah asmaNYA,dengan seluruh sifat Maha PengasihNYA dan PenyayangNYA maka segala perbuatan kita terjadi. Karena tanpa bersamaNYA, dari sejak awal hingga akhirnya, kita tidak memiliki daya dan kekuatan sama sekali. ibarat daun kering yang terombang-ambing hantaman ombak di atas samudra.

Maka kesadaran bahwa Allah selalu Menyertai dan Meliputi (tidak dari kejauhan, namun dari kedekatan yang amat dekat, bahkan dapat terasa kehadiranNYA di dalam rasa hati) seharusnya menjadi TITIK TOLAK agar segala aktivitas ini dilakukan semata-mata demi untuk mensucikanNYA.

Kesadaran bahwa diri ini sangat terbatas dan sangat lemah dihadapanNYA, bukan untuk mereduksi / mengurangi semangat kita. Namun untuk mengembalikan pensikapan yang benar pada tempatnya.

Semangat adalah “Api” yang harus terus kita tiupkan kedalam diri ini untuk terus beramal shaleh, memperbanyak lakon pitukon di dunia ini, semata-mata demi untuk memenuhi PerintahNYA. Bukan karena kita bisa, karena yang mem”bisa”kan kita juga hanyalah DiriNYA Tuhan, Allah namaNYA.

Alangkah santunnya Insan, yang senantiasa melantunkan dalam lisan dan hatinya :

LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAAH AL’ALIYYIL ‘ADZIIM
Tidak ada daya dan kekuatanku, kecuali yang dipinjamkan dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Wallahu A’lambishawwab
Bogor 10 Maret 2010

Iklan

Hanya Soal Paradigma,Bismillah sajalah….

Posted on

Bismillahirrahmanirrahiim

Hmm sudah berapa lama ya tinggal di rumah yang sekarang?…Dulu, di rumah yang itu sudah tinggal berapa lama? Belum lagi sewaktu masih tinggal dengan orang tua. Banyak bertemu orang, orang yang sama ataupun orang yang berbeda-beda. Kini sejak ada facebook atau situs pertemanan lainnya orang bisa bertemu lagi dengan orang-orang yang telah lama berpisah darinya. Apakah kau temukan sesuatu yang khas dalam perjalan hidup mu itu?

Bagiku ada, sangat khas dan semua orang pasti melihat kekhasan itu pula, ialah keadaan dimana kita menemukan orang-orang itu (termasuk diri kita sendiri) jika tidak dalam keadaan Lemah tentulah ia ada dalam keadaan kuat. Lemah ataupun kuat dalam hal hartanya, bentuk rupa wajah dan tubuhnya, status sosialnya, kedudukannya, profesinya, gender, bahkan bisa jadi dalam hal ilmu.

Biasanya dalam hal Harta, orang-orang akan menganggap kuat kepada orang-orang yang kebetulan memiliki harta yang lebih banyak dibanding dengan harta miliknya. Rumah, furniture, kendaraan pribadi, makanan-makanan yang diinginkan seleranya dan segala pernak-pernik yang berkaitan dengan itu.

atau, dalam hal bentuk rupa wajah dan tubuh, orang-orang cenderung akan menganggap dalam posisi yang kuat kepada orang-orang yang dianggapnya lebih cantik/tampan dibanding dengan dirinya. Maka karena hal itu lah maka ia menganggap dirinya lebih lemah.

Atau dalam hal status sosial dan kedudukan, orang yang dianggap lebih kuat kebanyakan adalah para petinggi-petinggi atau pemegang jabatan-jabatan penting dalam insitusi, apapun.Sehingga kepada orang yang seperti itu, orang-orang cenderung akan lebih mmemberikan penghormatan daripada kepada urang yang tidak berada pada posisi itu.

Atau dalam hal profesi, orang akan menganggap kuat kepada orang-orang yang memiliki profesi yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada dirinya. Jka seorang pengusaha bisa memperoleh pendapatannya Rp.5000 ,- maka pasti ia lebih kuat pendapatnnya dibanding dengan misalnya seorang tukang kue pancong yang hanya bisa mendapat penghasilan Rp. 5 ,-.

Seorang laki-laki pasti akan dianggap lebih kuat dibanding wanita karena dinilai mampu mencari nafkah untuk keluarganya, atau lebih mampu mengangkat benda yang berat dibanding wanita, dan lain-lain contoh dimana banyak fenomena terjadi di masyarakat,anda bisa mencari contohnya sendiri.

Seseorang juga akan dianggap kuat ilmunya oleh orang-orang jika ia mempunyai titel Insinyur, Doktor, Profesor, Ulama, Pendeta, Pemuka agama, Seniman dsb, dibanding orang yang tidak berhasil mendapatkan titel itu di dalam hidupnya. Dimana jika tidak memahami makna dan maksud pencapaiannya,dapat memunculkan rasa ‘aku’ atau ‘ego’ terhadap orang-orang yang memang memperolehnya

Disinilah masalahnya……….
Ternyata semuanya itu pada hakikatnya terbalik !!!

Jika kita mau sedikit bertafakur, tahu Bhiksu kan?
Dikenal orang pada umumnya, para Bhiksu itu orang-orang yang sangat santun, namun hidup berkelompok dengan sesama bhiksu lainnya di tempat yang sunyi, jauh dari keramaian dan pergaulan, baju dan penampilan sangat sederhana seolah tak dapat mengecap nikmat dunia. Membuat orang-orang berfikir alangkah kasihannya mereka hidup dalam komunitasnya. Namun, jika diperhatikan, justru dalam keadaan yang demikian itulah, mereka berhak menyandang predikat orang yang kuat, karena disaat orang lain menginginkan bebas bergaul bersama teman-temannya, mereka justru memutuskan untuk menyepi,mencari ilmu dan mendamaikan hati bersama para guru dan temannya sesama bhiksu itu. banyak ceritra-ceritra bersejarah yang mengisahkan kepahlawanan para bhiksu ini. Di daratan China dan sekitarnya para bhiksu ini dikenal sebagai para ahli bela diri yang mumpuni.Juga ahli obat-obatan. So, para bhiksu itu justru lebih kuat karena mereka mampu bersabar menjalaninya.

apakah orang-orang miskin itu lebih kuat dibanding dengan orang-orang yang kaya hartanya?. Jawabannya adalah YA !!. Karena disaat orang kaya bingung memikirkan menu apa yang ingin disantapnya di rumah atau sebuah restoran, maka sering orang-orang miskin itu dengan cepat dan berani memutuskan untuk memakan habis nasi bungkus sisa makan orang lain yang dibuang ke tempat sampah. Orang-orang tuna-wisma kuat tidur di pinggir jalan hanya beralas kardus bekas dan tanpa berselimut. Betapa kuatnya mereka,setiap hari melihat orang kaya berseliweran dengan mobil-mobil bagus, baju-baju yang pantas dan sibuk memperhatikan penampilan dirinya sedang mereka dengan cueknya berjalan tanpa ada beban walau berjalan kiloan meter berjalan tanpa alas kaki dengan baju yang sudah kumal

Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang mendapat keterbatasan pada tubuhnya namun tetap masih bisa beraktivitas untuk diri dan keluarganya bahkan masyarakatnya? Tentu saja mereka oran-orang yang kuat mentalnya, mereka bukannya tidak sadar orang-orang memandangnya aneh dan iba melihat keadaan tubuhnya,namun ia kuat menghadapi pandangan-pandangan orang itu tanpa marah dan emosi. Di situlah kekuatannya.

Banyak terjadi kaum wanita yang disakiti oleh kaum lelaki,misalnya suaminya. Mereka mampu bertahan didalam bahtera rumah tangganya dimana dia dianggap lemah posisinya. Banyak wanita yang kita kenal telah ditinggal suaminya wafat, namun disisa usianya dia tidak pernah menikah lagi, sendirian menafkahi dan membesarkan anak-anaknya sehingga dewasa dan berhasil. Atau dalam kasus-kasus poligami dimana para istri dengan rela menyaksikan orang yang dicintainya menikah lagi dengan perempuan lain, menunjukkan ketegaran hati dimana banyak wanita lain tidak sanggup menghadapinya.

“Anggapan-anggapan orang” itulah yang selama ini banyak menghakimi kehidupan seseorang. Anggapan orang tentang kelemahan, ternyata pada kenyataannya menunjukkan kekuatan. Semakin sering seseorang dianggap lemah, sehingga tidak mudah untuk memenangkan “pertarungan hidup” maka seharusnya akan semakin lepas dia dari beban pandangan orang bahwa dia harus berhasil ini dan itu. Nah karena lepas itulah,dia bisa lebih bebas mengekspresikan kemampuannya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa, “Semakin sering kau jatuh, maka semakin tidak takut sakit”.

Karena kekuatan itu hanya datang dari dan milik Allah saja, kelemahan diri yang disaksikan orang lain, tidak selalu berarti itulah yang sesungguhnya. Selama masih memiliki cita-cita yang baik, maka teruslah berjalan, Allah sendiri yang memperjalankanmu dari sejak dahulu dan selamanya,demikian pula terhadap alam semesta ini. So, tetap semangat kawan, Keep Bismillah

4 Maret 2010

-Winny-
Alhamdulillah
Website: http://winnywidya.blogspot.com

Air Mata Kami di Pagi Kamis 17 Desember 2009…..

Posted on Updated on

Ibunda kami ……….Nenek dari anak-anak kami………….
Telah sampai pada akhir perjalanannya…………………..

Di dalam tahun-tahun terakhir kehidupan beliau yang ditemani derita sakit di tubuh lemahnya
Serta diiringi berbagai perpisahan dari orang-orang terkasihnya……
Beliau masih setia bertahan dalam sujud-sujud panjangnya di keheningan Malam ataupun di keteduhan Dhuha……..
Mengharap belas kasih Tuhannya…….yang tentu nama kami anak-anaknya merupakan barisan terdepan dalam untaian do’a-do’anya…………….

Selalu demikian…sejak kami dilahirkan…..
Nama kami disebut dihadapan Tuhan..lebih dahulu dari nama beliau sendiri……….karena cintanya…

Dengan segala kelebihan dan kekurangan Ibu sebagai manusia………Ibu tetaplah Ibu kami yang menyayangi dan mencintai kami anak-anaknya………..
Tidak pernah cukup waktu dan harta benda…….seberapapun kami berusaha untuk menggantinya…………

Setiap tetes air susu Ibu yang kami isap…….tumbuh menjadi darah dan daging kami
Setiap keringat Ibu yang menetes………dari lelah mengurus, merawat dan menjaga kami…..

Setiap titik air mata Ibu……….dari setiap kesedihannya merasakan penderitaan kami diwaktu kami demam tinggi….. atau jatuh terluka kaki kami…atau direbut anak lain mainan kami…..atau rewelnya tangis meminta apa yang tak bisa beliau beli…..atau….saat suara kami meninggi mengabaikan keinginannya, melawan kehendaknya…….atau saat kami mulai memilih teman hidup..yang disadarinya kami akansegera meninggalkannya………

Dan dari setiap bahagianya untuk kebahagiaan kami……yang untuk itu beliau tak pernah berhenti berusaha dan berdo’a….

Tuhan…..Allah Tuhan Kami yang Maha Dekat dan Maha Penyayang……
Engkau Perintahkan kami untuk berbakti kepada ibu kami selama hidup kami di sisi beliau….
Tetapi betapapun kami berusaha melaksanakannya…….keikhlasan kami tidak akan pernah bisa menyamai keikhlasannya dalam merawat kami……..

Ya Allah,Apapun yang hilang dari hak Ibu atas bakti kami……semoga Engkau mengampuni kami…
Biarlah….Allah sendiri yang akan Menggenapi…..Mencukupi…..Membalas setiap mutiara kasih sayangnya kepada kami dengan Mutiara yang lebih baik didalam lautan Kasih SayangMU…

Ya Allah Tuhanku ….Ampunilah Ibu ………..Bahagiakanlah Ibu……….

Didedikasikan untuk Al-Marhumah Ibu Hj.Ayi Sumiyati (72 th) Ibunda dari Suami yang saya hormat dan sayangi Elan Suherlan Karnadimadja. Semoga apa yang terserak di dunia ini, Allah kumpulkan bagi Ibu di Akhirat kelak….Aamiin

…Lihat Albumku,Tuhan…

Posted on

Tuhanku…….

Hari ini bukan hari ulang tahunku, bukan ulangtahun siapapun. Tetapi,tidak harus pada hari ulang tahun orang mentafakuri perjalanan hidupnya bukan ?.

Aku mencoba membuka “Album kenangan hidupku”, kuamati satu persatu, dan kudapati “gambar-gambarnya” yang beraneka tema dan cerita. Mulai gambar2 masa kecilku hingga masaku kini, dan mencoba membayangkan akan seperti apa gambaranku nanti.

Aku tercenung…… menatap satu potret di tengah halaman “albumku” itu….”Selembar foto” masa bertahun-tahun hidupku, hidup di dalam idealisme yang kutemukan disaat-saat pencarianku akan makna kehidupan. Dimana hal ini pernah membawaku pada kegairahan untuk bekerja bahkan berjuang demi sirnanya haus jiwaku akan sesuatu yang kuanggap kebenaran.

Idealisme yang tumbuh, yang diawali oleh rindu hatiku kepada Tuhan yang Mencipta segala sesuatu.

Selama masa itu,segala gelombang kehidupan kuhadapi dengan gigih dan kekuatan ide yang kupegang teguhi. Bahkan sampai pada fase dimana secara sadar kubawa seluruh episode hidupku di dalam lingkarannya.

Bertahun-tahun kujalani kehidupan itu….,hingga pada suatu titik,dimana hatiku bertanya….”Dimana Tuhan yang kucari? ….Yang untuk itu kujalani hidup dengan tabah….
Mengapa hanya simbol-simbolNYA saja yang ditinggikan, sedang kepada DiriNYA aku merasa semakin jauh.

Belasan tahunku berganti menjadi kegundah gulanaan. Adakah idealisme yang dipancangkan di atas dasar kebenaran,justru menjauhkan insan dari Penciptanya dan dari tuntunan utusanNYA….???

Adakah Kebenaran yang mengajarkan kemuliaan akhlaq,justru menjauhkan insan dari menyayangi sesamanya…..

Tersungkur dalam sujud dan air mata, do’aku……………Kiranya Tuhan menunjukkan padaku Kebenaran itu.
Kebenaran yang hakiki, bukan idealisme yang angkuh, idealisme yang dipimpin oleh nafsu, idealisme yang haus kekuasaan, yang memandang manusia lain lebih rendah dan sesat ,yang karena itu merasa memiliki musuh dimana-mana…..

Tersadar aku…Bahwa manusia membutuhkan pembimbing……..
Namun bukan pembimbing yang penuh otaknya dengan isi kitab-kitab agama atau “berbuih” mulutnya dengan Nash2 Al-Qur’an dan Hadist.

Manusia membutuhkan Pembimbing yang Allah sendiri yang memilihnya bagi mereka dan lalu penerusnya yang berhak dan sah hingga akhir zaman…….

Kutatap albumku……Semua tentang perjalananku….
Perjalanku yang merindukanMU Tuhan, yang untuk itu kuhabiskan waktuku mencariMU………

Terima kasih Allah Tuhanku, bersama Sang Pembimbing, harapku…..Tak lama lagi…,dapat selamat berjumpa dengan MU……aamiin

Permata Sejati

Posted on

Angin laut masih berdesir, membelai-belai dedaunan pohon-pohon kelapa di pesisir laut Jawa, ombak-ombak kecil dan besar bergulung-gulung menghempas batu-batu karang, dan Yasmin pun masih berdiri disana, diatas kelembutan pasirnya. Kerudung putihnya melambai-lambai dipermainkan angin, sesekali diperbaikinya tutup kepalanya itu jika telah mengganggu pandangannya yang jauh ke tengah laut.
Seakan-akan, nampak jauh disana peristiwa dua tahun yang lalu, saat-saat di mana peristiwa itu telah meninggalkan bekas di hatinya. Peristiwa yang tak pernah masuk di dalam barisan do’a-do’anya dahulu,namun ternyata ia terpilih untuk dapat melewatinya.
Yasmin… Mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Jakarta, berasal dari Aceh. Tinggal merantau jauh dari orang tua, namun mampu menjaga kehormatan dirinya, wanita muda yang anggun dan sederhana, berkhidmat pada pesan kedua orang tuanya untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu di “kampung” orang. Menyewa sebuah kamar kost sederhana bersama kawan perempuannya satu fakultas Dista.
Pertemanan mereka berkembang menjadi persahabatan. Satu sama lain saling membantu, saling menolong, walau terkadang adakalanya terjadi perbedaan pendapat, namun hal itu tidaklah mengganggu persahabatan mereka.
Pagi itu seperti biasa, Yasmin telah berada di kampusnya untuk mengikuti perkuliahan pagi dari dosennya. Tiba-tiba,dari arah belakang seseorang menepuk pundaknya,”Dista..?”.
Dista tersenyum sambil membetulkan tali tas punggungnya. Yasmin memperhatikan sesuatu yang berbeda;
”Dista….., kamu lagi seneng ya pagi ini?”.Tapi Dista hanya mengacungkan telunjuknya menempel di bibirnya:” Ssssttt…..”.
Yasmin mengangkat alisnya, namun dia membiarkan Dista dengan misteri nya.Merekapun melangkah ke dalam kelas untuk mengikuti perkuliahan.
Dua jam berlalu tanpa kesan apapun, mahasiswa keluar dari ruangan perkuliahan satu persatu. Yasmin dan Dita pun berjalan beriringan, hanya sesekali,sesekali yang nampak seringkali bagi Yasmin, Dista memeriksa pesawat Handphone-nya, atau mengetik sesuatu melalui smsnya. Kampus yang ramai, namun sepi bagi Yasmin karena sejak tadi Dista seolah-olah sendirian, sibuk dengan HP-nya, walau bersama Yasmin di sampingnya.
Seolah-olah dikomando, tanpa perjanjian langkah kaki kedua gadis itu mengarah ke arah bangku taman di dekat kolam, tempat favorit keduanya saat menunggu jam kuliah berikutnya.
Begitu keduanya duduk di bangku itu, Dista sudah akan memeriksa lagi pesawat HP-nya,namun sebelum jarinya menyentuh keypad, Yasmin menahan tangan Dista lembut dan tersenyum sambil berkata : ”Halloo….apakah Dista masih disitu?”. Dista menolehkan wajahnya dan melihat Yasmin dengan wajah penuh tanda tanyanya . Dista tertawa :”Hihihi….penasaran nih yee”. Tapi Yasmin tetap menahan tangannya di lengan Dista. Dista berkata:” OK…OK, aku lupa punya one curious girl di kampus ini hehe.Tapi janji yaa, ini cuman di antara kita aja”. Dista lalu bercerita dengan suara perlahan seolah-olah tak ingin diketahui rahasianya oleh orang banyak .
Malam itu, Yasmin di kamarnya sendiri duduk di atas meja mengerjakan beberapa tugas dari dosennya. Dista sudah 3 hari cuti pulang sementara ke tempat asalnya di Yogya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 11, namun mata Yasmin tak hendak beristirahat. Dibiarkannya waktu berjalan yang terasa lambat, dicobanya untuk menikmati sayatan-sayatan kecil di hatinya yang masih agak terasa perih. Dikenangnya lagi pembicaraannya dengan Dista di kampus beberapa hari yang lalu tentang rahasia kecilnya. Tentang seorang pemuda, satu kampus dengan mereka, yang menjadi asisten dosen mereka selama ini dan juga ketua Rohis di kampus, yang Yasmin “kagumi”selama 1,5 tahun ini namun ia simpan itu sekedar sebagai sebuah semangat saja. Pemuda itu, di saat-saat Yasmin bersimpati dan menaruh sekuncup harapan, ternyata telah melabuhkan harapannya sendiri terlebih dahulu kepada sahabatnya Dista. Ya, Syam – yang Yasmin kagumi kepintarannya, keshalehannya,- yang Yasmin “melihat’ dari kejauhan kerinduannya akan gambaran-gambaran tentang rumah tangga yang sakinah, mawadah warahmah akan lebih berseri seandainya jika perahu itu didayungi bersama Syam, pemuda yang seringkali pula membantunya dalam beberapa event di kampus yang karenanya sempat pula Yasmin mensyukuri kebersamaan itu, pemuda yang ternyata kini telah memilih Dista untuk menjadi pendamping hidupnya.
——
Berita “gembira” itu, dikabarkan Dista dengan tenang, namun terasa bagai halilintar di telinga Yasmin.”Dia melamarku tadi malam Yasmin.” Berdetak kencang hati Yasmin, mengapa ia harus mendengar “Happy Ending” ini, mengapa ia tidak sensitif selama ini jika Dista sering menceritakan Syam kepadanya di kamar mereka,di kampus atau dimana saja setiap mereka pergi bersama. Yasmin mengira Dista hanyalah fans Syam belaka yang sering merasa tersanjung oleh perhatian pemuda itu,hanya saja berbeda dengan Yasmin Dista lebih ekspresif mengungkapkan ketertarikannya. Sementara dirinya hanyalah seorang gadis pemalu yang tak mungkin akan mengumbar kegembiraannya setiap saat ia merasa Syam memperhatikannya. Namun Yasmin bukanlah gadis yang dengki, berita sebesar apapun tidak akan menggoyahkan kelembutannya dalam bersikap. Bahkan Yasmin memeluk Dista erat, membisikkan do’a yang tulus di telinga sahabatnya dan tersenyum tanda turut bergembira untuk kebahagiaannya:” Selamat ya Dis, aku tahu dia laki-laki yang baik, shaleh dan pantas mendapatkan gadis seperti kamu. semoga pernikahan kalian diberkahi Allah, aku ikut senang”. Mata Yasmin berkaca-kaca menatap Dista, ia ingin Dista menduga itu adalah air mata bahagianya walau sesungguhnya kepedihan telah bersenyawa didalamnya. Mereka berdua akhirnya tertawa-tawa
Yasmin menekur di muka monitor, menatap beberapa foto yang diambil saat pelaksanaan acara Bedah Buku di kampus, ada salah satunya foto dirinya, Dista dan Syam dengan latar belakang mesjid kampus.Semua tersenyum dalam foto itu, seharusnya menjadi kenang-kenangan yang indah menurut Yasmin, tetapi mengapa air mata itu jatuh di pipinya, semakin lama semakin tercurah, pundak Yasmin berguncang pelan, terdengar suara terisak dan bisikan lirih Yasmin; ”Ya Allah, Tuhanku….terima kasih telah Engkau karuniakan hamba saat-saat yang b
aik ini. Dari sejak kecil hingga kini, tidak pernah Engkau mengecewakan hamba. Ya Allah, sembuhkanlah luka hati ini, ringankanlah mata penglihatan dan mata hati hamba jika melihat kebersamaan mereka. Bahagiakanlah mereka Tuhan. Dan cukuplah bagi hamba Allah dan RasulNYA
“. Mengalir air mata Yasmin, airmata keikhlasan, digelarnya sajadah ingin melewatkan malam itu bersama Tuhannya.
Hari pernikahan Dista dan Syam tidak kurang dari satu minggu lagi. Namun berita menggemparkan itu memecah keasyikan. Dista mendapat kecelakaan berat di tikungan jalan daerah Yogya saat sedang mempersiapkan pernikahannya. Saat Yasmin tiba di Rumah Sakit di Yogya, ia melihat Syam sendirian terpekur di sudut hall, berdesir hatinya, entah mengapa kini ia merasa iba melihat kekasih sahabatnya itu bak burung yang terluka sayapnya, merasakan kesedihannya yang luar biasa dan kekhawatiran akan kehilangan orang yang dicintainya. Namun perhatian Yasmin terbelah, suara pekik orang-orang di ruang UGD mengejutkannya. Yasmin melihat ibunda Dista menangis, dan Ayah Dista berdiri lemas, dipapah kerabat beberapa orang. Berdegup kencang jantung Yasmin, dan benarlah ternyata Dista dinyatakan telah meninggal dunia.Yasmin terguncang hatinya, namun di saat-saat seperti itu sisi lain dirinya menuntutnya untuk sadar, ada orang lain yang lebih “berhak” untuk merasakan kepedihan besar itu, dialah Syam calon suami Dista. Bergetar bibir Yasmin mengucapkan istirja: ”Innalillahi wa inna ilahi rooji’uun, sesungguhnya kami semua milik Allah,dan sesungguhnya kami semua kepadaNYA akan kembali.
——
Hari-hari Yasmin dan Syam kini menjadi sendu. Ditinggal orang yang dicintai dan dekat dengan mereka bukanlah hal yang mudah. Namun kebersamaan mereka telah mendekatkan kembali taqdir yang dahulu terasa jauh. Yasmin merasakan kini perhatian Syam kepadanya bertambah setiap hari. Perasaan berbunga yang dulu pernah dirasakannya kini datang kembali.Walau tidak sesemerbak dahulu karena jauh di lubuk hatinya, ada perasaan rendah diri yang sulit terhapus, dirinya hanyalah perempuan pengganti di sisi Syam setelah kepergian Dista. Namun ia berusaha untuk selalu mensyukuri kebahagiaan itu, masa lalu tidak mungkin dihapus, karena bagaimanapun itu telah terjadi.Yasmin mencoba merangkai kehidupannya kembali dan membangun cita-citanya.
Hari wisuda itu akhirnya datang juga. Orang tua Yasmin dan kedua kakaknya datang dari Aceh. Kebahagiaan yang membuncah dihatinya, kedatangan ibunya dan kelulusannya telah menambah seri di wajah cantik Yasmin, apalagi saat disadarinya ternyata Syam pun hadir untuk dirinya menikmati bersama kebahagiaannya. Itulah saat-saat yang mendebarkan hatinya dalam kehidupannya. Di hari wisudanya, Syam melamar dirinya kepada orang tuanya, memintanya untuk menjadi istrinya. Terasa terang benderang dunia Yasmin dan penuh aroma yang menyenangkan, walau entah mengapa lututnya saat itu terasa lemas.
Hari-hari Yasmin kini menjadi lebih berwarna. Tidak kurang dari 2 bulan lagi pernikahannya akan digelar. Syam pun telah membawanya berkenalan dengan kedua orang tuanya dan keluarganya. Keluarga Yasmin di Aceh pun sibuk mempersiapkan pernikahannya. Namun ada sedikit kekhawatiran Yasmin, mengingat telephone dari Syam malam tadi tentang keluhannya di bagian pinggangnya. Memang sudah beberapa minggu ini, Syam terlihat semakin sering mengeluh sakit. Namun Yasmin tidak pernah menyangka, seminggu kemudian setelah tak kuat menahan sakitnya dan Syam dibawa ke Rumah Sakit ternyata saat diperiksa oleh dokter ahli penyakit dalam, Syam dinyatakan menderita kelainan ginjal, satu ginjalnya telah tak berfungsi dengan baik, sedang satu ginjal yang lainnyapun dalam kondisi yang tidak terlalu baik. Saat itu juga Syam diharuskan menjalani rawat inap di Rumah Sakit.
Dua minggu sudah Syam dirawat di Rumah Sakit, berat badannya turun drastis, keadaanya tidak semakin membaik.Yasmin amat berduka melihat kekasihnya terbaring di pembaringan rumah sakit tanpa dirinya bisa merawat sepenuhnya. Statusnya yang belum menjadi istri yang sah menghalanginya untuk dapat sekedar menyentuhnya. Hanya kepada ibunda Syam ia dapat menitipkan sekedar buah tangan dan do’a tulusnya yang tak henti-henti ia alirkan dari bibir dan hatinya.Sedang keadaan Syam semakin memburuk saja, dan dokterpun telah menyerah sementara hari pernikahannya yang telah tertulis di dalam undangan telah sangat dekat tak kurang dari 2 hari lagi. Hingga terucap dari bibir tipisnya, kepada ibunda Syam:”Wahai ibu, saya tidak bisa duduk diam seperti ini saja. Laksanakanlah pernikahan kami pada waktu yang ditetapkan semula. Nikahkan kami sedang Abang Syam masih bisa mengenali saya. Izinkan saya berbakti kepadanya sebagai istri dalam keadaan sakitnya ini Ibu”.
Ibunda Syam memandanginya haru, di saat-saat di mana ia merasa tak pantas lagi mengharap cinta seorang bidadari untuk putranya yang telah kehilangan ketampanannya, kegagahannya, di saat dimana ia mengira hanya kasih orang tualah yang akan setia menemani penderitaan putra tercinta,Yasmin mengajukan diri untuk tetap melaksanakan pernikahannya hanya supaya dapat turut merawat sepenuhnya sang putra. Ibunda Syam memeluk Yasmin dan menangis di pundaknya, sementara Syam yang terbaring disamping mereka menitikkan air matanya tanpa mampu berkata-kata.
Ia merasa baru sekarang ia menemukan permata sejatinya
Tepat seperti yang telah tertulis di dalam kartu undangan, dilaksanakanlah pernikahan itu. Syam sudah tak mampu duduk, namun ia mampu melafalkan ikrar nikahnya walau dengan suara yang lemah. Semua yang hadir di kamar rumah sakit itu tertunduk, atmosfir ruangan dipenuhi keharuan melihat sepasang pengantin yang bersanding. Mempelai putri yang cantik mengenakan kerudung putih berhias bunga sederhana duduk di kursi, sementara Mempelai pria terbaring lemah di ranjang rumah sakit sedang lengannya dipenuhi jarum infus dan obat-obatan.
Maka dimulailah hari-hari penuh pengabdian Yasmin kepada suaminya di rumah sakit. Bahkan ia pun kini harus ikut memikirkan biaya yang harus ditanggung untuk perawatan dan pengobatan selama di rumah sakit. Jika ada waktu, saat menunggui suaminya Yasmin merajut benang untuk dibuatnya mainan atau topi-topi bayi yang lucu. Bukan untuk bayi mereka, tetapi untuk Yasmin jual kepada beberapa teman yang merasa iba dengan penderitaan keluarganya sebagai ikhtiarnya mencari nafkah karena disadarinya suaminya belum mampu melaksanakan kewajiban itu saat ini. Yasmin tidak tergoyah, rasa sedihnya tidak membuatnya berhenti tersenyum untuk Syam suaminya.Setiap ada waktu berdua,Yasmin selalu menceritakan hal-hal menarik yang ditemuinya, mulai dari rajutannya yang salah warna, perawat shift malam yang judes tapi suka memberinya segelas kopi panas, anak-anak teman mereka yang menitipkan hadiah untuk pernikahan mereka dan sebagainya.Yasmin ingin suaminya tidak terlalu menderita, setidaknya ia dapat melihat senyum di bibir Syam setiap hari sudah menjadi syurga baginya.
————–
Yasmin masih bersimpuh di atas sajadahnya, saat tengah ma
lam itu dari sudut matanya ia melihat tangan Syam mencoba menggapainya.Yasmin segera bangkit, dan menangkap jemari suaminya lalu didekapnya:”Ada apa sayang?”bisiknya. Syam menatapnya lekat dan berbicara dengan suara lemah: ”Terimakasih…” Syam tercekat, lalu ia melanjutkan bicaranya:
Abang rasa telah dekat waktunya…., Abang  mensyukuri semua nikmat Allah selama ini…bahkan penyakitku ini….tapi tidak ada nikmat Allah yang lebih besar daripada dicintai dan menikahi Yasmin Nurul Aini.  Abang memohon kepada Allah cukuplah Yasmin sebagai Bidadariku dan Abang ridha kepada adik sebagai istriku. Maafkan Abang belum menjadi suami yang baik ya….  tolong sampaikan  maaf abang kepada Ibu, Bapak Abang. Tentu saja Orangtuamu juga Dik. Sampaikan maaf Abang belum dapat membahagiakanmu……. Setiap habis sholat, ikutkan Abang dalam do’amu ya dik”. Yasmin meneteskan airmatanya dan menganggukkan kepalanya, pertanyaan bergelayut di pikirannya, adakah ini saatnya, inikah saat-saat perpisahan itu?.Namun Yasmin tak ingin menangis dihadapan suaminya, bahkan dalam saat yang kritis sekalipun Yasmin ingin tetap tegar mengantar sang kekasih kepada Kekasihnya yang lebih mengasihinya, IA lah Tuhan.
Yasmin mendekatkan bibirnya ke telinga Syam membisikkan kalimat-kalimat dzikir dalam zona pendengarannya. Terus demikian hingga mendekati Shubuh, saat akhirnya suaminya menarik nafas yang terakhir untuk berpulang kepada Sang Khalik. Yasmin sendiri yang menutupkan mata lelaki yang dicintainya itu. Dan tidak berhenti membacakan ayat-ayat AL-Qur’an di sisinya, hingga perawat shift pagi datang dan mengetahui keadaannya.
Yasmin masih berdiri di pantai itu. Kaki lembutnya disibakki air ombak yang terus meninggi. Diperbaikinya lagi kerudungnya yang dipermainkan angin laut. Yasmin menggerakkan bibirnya, berbisik lirih :” Ya Allah, tak ada yang terbaik selain dari QudrahMU, cukupkanlah hamba hanya denganMU. Terimakasih telah memilih hamba untuk melalui salah satu jalan taqdirMU untuk bertemu orang-orang yang hamba cintai walau diantaranya hanya sebentar saja, namun apalah arti sekejap atau pun lama di hadapanMU, tutuplah dan dinginkanlah luka hati hamba ya Rabby, jikalau ada alam lain tempat pertemuan para kekasih, pertemukanlah kami kembali ya Allah, jikalau tiada maka cukuplah Engkau saja bagi hamba”.
Yasmin memandang ke arah laut sekali lagi, matanya basah oleh air mata beningnya namun hari telah senja, suara adzan maghrib tidak lama lagi akan berkumandang. Yasmin memetik sekuntum bunga perdu lalu membalikkan badannya, berjalan menyusuri pesisir , hatinya bergetar oleh dzikir dan bibirnya melantunkan do’a-do’a.
————–
Terimakasih untuk Rahma -19 bln- yang tak bosan menghampiri dan duduk di pangkuanku saat menulis cerita ini

Persembahan Terakhir

Posted on

Pada suatu hari di daerah Bandung bagian selatan, seorang ibu tua dengan berjalan terseok-seok, membawa tubuhnya yang ringkih karena penyakit reumatik yang dideritanya bertahun-tahun ….seperti hari-hari sebelumnya selama belasan tahun berkeliling dari perumahan satu ke perumahan yang lain, kadang-kadang menyusuri pemukiman kumuh melewati gang-gang sempit menjual makanan hasil olahannya sendiri ‘Gemblong’ namanya makanan daerah terbuat dari tepung ketan hitam dibalut gula merah, yang disimpan di dalam sebuah baskom kaleng berukuran besar. Dibawanya diatas kepalanya yang beralas kain sambil meneriakkan dagangannya di setiapkali melewati rumah-rumah atau tempat-tempat dimana terdapat ramai orang.

Kulitnya yang berkerut dimakan usia dan menghitam terbakar matahari setiap hari, menunjukkan ketabahannya menjalani taqdir yang dikehendaki Tuhannya. Hidup sebatangkara di rumah kontrakan sangat sederhana yang ia bayar sendiri dari penghasilannya berjualan gemblong. Anak laki-laki satu-satunya sudah sangat lama tak pernah lagi menjenguknya atau sekedar menanyakan kabarnya sejak meninggalkannya merantau ke Papua bertahun-tahun yang lalu. Sedang seorang anak perempuannya , walau tinggal sekota tidak dapat menolongnya karena kerasnya kehidupan yang menghimpitnya. Maka tinggallah sang Ibu sebatangkara di tengah ganasnya persaingan usaha mencari nafkah untuk kehidupan. Bertahan dengan penyakit yang ia derita karena tak sanggup untuk membayar dokter untuk berobat,walau jarak rumah kontraknnya ke puskesmas hanyalah dua puluh langkah saja.

Hari itu hari yang sama dengan hari-hari sebelumnya, matahari tepat di atas ubun-ubunnya… panas menyengat kulit tangannya yang memegang erat dagangannya dan menempel di pinggangnya. Gemblong jualannya masih tersisa separuhnya. Langkahnya gontai…semakin lama semakin lemah,hingga terduduk ia di pelataran masjid besar di sebuah perumahan. Dibelinya segelas minuman mineral yang terasa kesat di lidah tuanya. Dalam sisa tenaganya, sang ibu tua penjual gemblong itu melangkah perlahan mengambil air wudlunya, perutnya belumlah terisi nasi sejak pagi, hanya sebuah gorengan dan lontong dari warung langganannya yang sanggup ia beli. Kepalanya sedikit pusing,sesuatu hal yang sudah biasa ia rasakan sejak muda…maka tak ia hiraukan. Tetapi tubuhnya semakin lemah saja,maka sembahyang pun ia lakukan sambil terduduk di sudut belakang masjid.

Tak seorang pun jama’ah masjid yang memperhatikan perempuan itu, kecuali seorang bapak tua penjaga mesjid yang setiap hari merawat dan membersihkan masjid *Marbot Masjid*. Ia sudah sangat mengenal perempuan tua itu karena setiap dzuhur ia selalu shalat dan beristirahat di tempat itu. Bapak marbot tersebut memperhatikan sang ibu tua yang masih terduduk bersandar di dinding masjid. Mukenanya belumlah ia lepaskan,namun saat ibu penjual gemblong itu melihat bapak marbot sedang melihat ke arahnya,dengan lemas ia berusaha melambaikan tangannya meminta supaya dia mendekat. Rupanya bapak marbot itu menangkap maksudnya,maka diapun mendekatlah.

Tak lama setelah bapak marbot itu berada dihadapannya,si ibu berkata kepadanya:”Bapak yang baik, bolehkah saya meminta tolong Bapak sekali ini saja?”. Bapak penjaga masjid itu terdiam,ia mengira si ibu penjual ini sedang tidak enak badan :”Baik Ibu, Ibu ada keperluan apa?”
Ibu tua itu mengeluarkan sesuatu dari balik mukenanya, selembar uang Lima Ribu Rupiah,lalu diserahkannya kepada bapak itu dan berkata:”Saya menitipkan kepada bapak uang ini untuk Sari di kampung Baru dekat sini,bilang sama dia jualan saya belum habis terjual,saya Cuma bisa kasih segini.Tolong ya pak,dia butuh uang ini”.
Bapak marbot menerima uang selembar uang Lima Ribu rupiah itu dengan hati bertanya-tanya,namun saat ia akan bertanya lebih lanjut kepada ibu penjual gemblong tersebut,sang ibu sudah terpejam matanya,nafasnya tiada lagi. Innalillaahi wa innaailaihi raaji’uun…sang penjual sederhana tersebut rupanya telah wafat,masih terbungkus pakaian sembahyangnya.

Tiga hari setelah wafatnya Ibu penjual gemblong itu,Bapak marbot mencoba melaksanakan wasiatnya. Ia pergi menuju tempat yang ditunjukkan sang penjual. Seharian ia mencari, bertanya kepada orang-orang dimanakah wanita bernama Sari itu tinggal. Akhirnya,setelah pencarian yang melelahkan bertemulah ia dengan wanita yang dimaksud.

Berceritalah bapak penjaga masjid itu kepada Sari pertemuan terakhirnya dengan Ibu penjual gemblong itu di masjid. Maka meledaklah tangis wanita yang bernama Sari itu. Marbot bertanya dengan hati-hati:”Maaf Nak, apakah Ibu itu ibumu?”
Sari kembali tersedu,namun ia menggelengkan kepalanyalalu ia berkata:” Bukan pak,bukan ibu kandung saya, tapi saya menganggap beliau ibu saya sendiri. Kami sama-sama hidup dalam kekurangan,Ibu kasihan kepada saya karena anak saya banyak,suami saya meninggal karena kecelakaan dua tahun yang lalu. Setiap hari, Ibu itu datang ke tempat saya dan memberi saya uang Sepuluh Ribu rupiah,katanya untuk nambahin keperluan anak-anak. Waktu saya tolak,karena saya tahu ibu pun orang miskin, beliau menjawab: ”Nak Sari, biarlah ibu bisa menabung sedikit kebaikan dari rejeki ibu.Ibu kepingin ketemu Tuhan nak.Kalau ibu kasih uang ini buat anak-anakmu,mudah-mudahan Tuhan “seneng” dan mudah-mudahan Tuhan pengen ketemu sama Ibu nanti”.

Sari tak kuat lagi menahan tangisnya,begitupun sang marbot tua itu. Rupanya, di hari wafatnya,ibu itu masih berusaha menggapai cita-citanya ingin bertemu Tuhan kelak dengan mensedekahkan hartanya yang sangat sedikit dalam perhitungan manusia walau hanya dengan separuh penghasilannya.

Semoga engkau benar-benar sudah bertemu Tuhan, Ibu.

*Terinspirasi dari sosok yang benar-benar ada dan saya kenal di Bandung*

Bogor 2 Februari 2010