Belajar Fokus dari Ridwan Kamil

Posted on Updated on

Bandung; bagi saya adalah kota yang selamanya ada di hati. Ia tempat orang tua saya tinggal dan melukis kenangan bersama kami anak-anaknya, tempat saya sekolah dan bersahabat, tempat saya menikah dan berkeluarga. Meskipun sekarang saya ber mukim di kota hujan Bogor, Bandung akan selalu menjadi tempat pertama dimana saya mengharapkan baginya dan orang-orang yang bernaung di bawah langitnya, kebaikan dan kesejahteraan.

Jadi saat seorang tokoh tiba-tiba muncul membawa gagasan dan karya briliantnya, membenahi sedikit demi sedikit setiap sudutnya tak hanya dengan pembangunan infrastrukur serta tertib peraturannya, melainkan juga menghadirkan keindahan dan kedamaian di dalamnya maka saya termasuk dalam rombongan khususnya “urang” Bandung yang turut bahagia dan berbangga dengannya.

Seperti kepada tokoh-tokoh lainnya yang “bersinar” karena jasanya kepada masyarakat dan tanah tempat berhidupnya, maka demikianlah pula saya memandang seorang Ridwan Kamil setara dengan mereka. Memandang dengan sepenuh takzim semata-mata sebagai penghormatan karena pencapaiannya telah membawa kebaikan untuk sesamanya.

Jika pada sisi lain ada orang menemukan setitik kekurangannya lalu diumbar media ataupun orang-orang yang mendengkinya sebagai besar cacatnya, maka itu tak akan pernah mengubah keyakinan bahkan perasaan saya atas pandangan  baik saya kepadanya. Saya merasa miris saat membaca beberapa komentar orang yang menganggap kebaikan Ridwan Kamil sebagai “pencitraan” saja. Bahwa ia seorang yang senang bermain “ One Man Show”, narsis, darling media dan sebagainya hanya karena beliau memiliki akun twitter pribadi dan facebook yang kerap mengangkat prestasinya.

Sebagai orang yang juga memiliki akun facebook dan twitter bertahun-tahun, juga blog, instagram, path, google+ dsb saya sendiri terbiasa memposting hal-hal tertentu dalam kehidupan saya, apapun itu dan merasa tidak pernah terfikir untuk mencitrakan diri yang lain yang lebih bagus dari kenyataannya. Begitu banyak teman, user akun-akun itu yang melakukan hal yang sama dengan saya yang selama tidak berlebihan (dan kata berlebihan pun sebenarnya bisa relatif ya) saya tidak menganggap mereka sedang melakukan pencitraan. Apalagi bagi seorang terkemuka pejabat negara yang prestasinya telah membuat masyarakat jatuh hati, sudah difahami pasti akan menjadi magnet bagi para pewarta dalam beragam media untuk memberitakannya tanpa harus mengundangnya. Dan untuk apa pula mengundang keramaian dan kerepotan dalam padat dan sesaknya agenda tugas dan kewajiban bukan ?

Jujur, saya sering merasa heran dan cenderung gemas dengan standar orang saat ini, bagaimana orang dengan mudah mendakwa pencitraan pada orang yang sedang berbuat kebaikan jika kebaikan itu dilakukan oleh orang yang bukan dari “golongannya”, sebaliknya akan memuji apapun tindakan selama itu dilakukan oleh orang yang berada di “fihaknya”. Kata fihak dan golongan menjadi kata yang menakutkan untuk sebuah harmoni dan keguyuban saat ini.

Saat kabar-kabar akan diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung digaungkan jauh sebelumnya, saya sudah yakin, Ridwan Kamil pasti akan membuat hal yang unik dan keren untuk Bandung dalam rangka menyambut tamu-tamu agung di kota di bawah kepemimpinannya. Biasanya, sebuah prestasi akan bisa ditebak berdasar track recordnya bukan ?

Dan aduhai, sungguh benar, pada puncak acara peringatan KAA, Bandung menjelma Paris van Java sesungguhnya. Jalan-jalan berhias payung-payung dan bendera, diterang lampu-lampu artistik, berhias bunga-bunga. Bagaimana hati tak ikut senang, melihat kota kelahiran semakin cantik saja.

Dan acara pun sukses tanpa insiden (meski ada sedikit kabar tak sedap tentang kerusakan beberapa perangkat kota setelahnya) sayangnya, dua hari sesudah “pesta” itu usai, seorang sahabat mengabarkan sebuah foto dari akun Path temannya seperti ini.

img1430147259703
Foto Ridwan Kamil beserta istri namun dengan caption menghujat orang lain.

Sebuah foto yang menggambarkan pasangan Ridwan Kamil dan istri dengan caption bernada pujian kepada beliau sebagai pemimpin yang sederhana namun diiringi perbandingan kepada sosok lain yang digambarkan dalam nada yang berkebalikan dengan sebelumnya yakni dalam nada cynical. Sosok lain yang sebelumnya (masih dalam tema konferensi KAA) mengalami hal yang sama berkaitan dengan kesan penampilannya jika dibandingkan dengan Ridwan Kamil (saya rasa ini semacam rahasia umum sejak kompetisi pilpres lalu, bahwa Presiden RI ke 7 Joko Widodo adalah yang dimaksud oleh sang pengunggah foto ini)

Jauh sebelum peristiwa ini, Ridwan Kamil pun pernah mengalami hal yang sama. Dihadap-hadapkan dengan tokoh lain yakni gubernur DKI Jakarta Basuki Cahaya Purnama (Ahok) dalam hal perilaku dan sopan santunnya. Tentu dalam posisi Ridwan Kamil mendapat pujian dan “lawan perbandingannya” mendapat cacian.

Sebuah situasi yang saya yakin sangat mengusik hatinya karena para tokoh yang dibandingkan dengan dirinya itu nampaknya adalah figur-figur yang “dekat” dengannya sebagai kolega maupun pemimpin birokrat yang sama-sama memiliki reputasi baik di hadapan masing-masing pengagumnya meskipun berbeda ataupun berarsiran kelompok.

Dalam ilmu psikologi, terkait parenting maupun yang lebih luas lagi, efek negatif dari perilaku membanding-bandingkan orang secara terbuka tidak hanya akan menimpa fihak yang dianggap kurang baik/lebih lemah/lebih buruk/lebih tidak pantas saja, melainkan juga kepada fihak yang dianggap sebaliknya (lebih baik/lebih kuat/lebih bagus/lebih pantas).

Saat seorang adik ditegur orang tuanya karena sebuah kesalahan lalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya dengan menyebut seluruh kelebihannya bukan hanya akan melukai perasaan sang adik semata melainkan juga perasaan sang kakak yang tak terlibat dengan masalah. Tanpa sadar, orang tua yang membanding-bandingkan sedang “mengadu” keduanya dalam diam. Pada diri adik akan tumbuh rasa rendah diri, pada sang kakak akan bertunas rasa sedih.  Apalagi jika materi yang dibandingkan bukanlah nilai dan prinsip, melainkan sekedar bungkus fisik dan hal-hal artifisial.

Dalam pribadi yang baik, kebaikannya bukanlah kebanggaan untuk disombongkan yang membuatnya merasa lebih baik dari yang lain. Maka bagaimana halnya jika yang sedang dibanding-bandingkan itu adalah orang-orang  yang dalam pandangan objektif adalah sama-sama hebat, sama-sama sedang mengabdi kepada kebenaran, sama-sama sedang saling mendukung, sama-sama sedang saling mendoakan dalam kebaikan ?

Nampaknya hal berat yang harus ditanggung para orang tua sekarang (melihat fenomena generasi ini dari attitude kebanyakan mereka) adalah bagaimana menanamkan kepada anak sikap adil dan berakhlaqul karimah. Mengetahui maqam orang lain dan menghormatinya berdasar ilmu dan jasa mereka kepada orang banyak.

Saya fikir, jawaban Ridwan Kamil atas hal ini cukup lugas, jelas dan bijaksana menanggapi para pencaci yang sesungguhnya mengaguminya.

“Gak pada capek habiskan energi membanding-bandingkan manusia ? Manusia itu gudangnya khilaf. Mari fokus bekerja” — Ridwan Kamil

Twit pak Ridwan Kamil menanggapi orang-orang yang membanding-bandingkannya dengan tokoh lain.
Twit pak Ridwan Kamil menanggapi orang-orang yang membanding-bandingkannya dengan tokoh lain.

Tiada hal yang menentramkan jiwa selain dari fokus pada Tuhan dan kebaikan saja. Hidup hanya sekali maka harus berarti.

Yuk fokus bekerja 🙂

850515051_16807

Iklan

3 thoughts on “Belajar Fokus dari Ridwan Kamil

    Lusi said:
    28/04/2015 pukul 9:17 am

    Meski bukan warga Bandung, saya akui Kang Ridwan Kamil adalah walikota paling keren. Selalu menanggapi segala sesuatu tepat ke sasaran. Nggak bertele-tele, nggak berlebihan, nggak sok merendah, nggak sok bikin perubahan, nggak sok bersih2. Beliau sangat lugas. Cocok jadi pemimpin masa kini. Pinjem walkotnya boleh nggak teh?

    Suka

    jampang said:
    28/04/2015 pukul 11:14 am

    salut buat beliau

    Suka

    Nefertite Fatriyanti said:
    04/05/2015 pukul 2:03 pm

    saya tahu tentang beliau sudah lama, dia sosok inspiratif, fokusnya untuk bekerja untuk orang banyak sangat menginspirasi
    Postinganya bagus

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s