Jangan Marah

Posted on

Dulu, saya termasuk salah satu orang yang tanpa sadar sering mengamati perilaku orang di media sosial. Kenapa media sosial  ? karena ia adalah media yang saat ini membuat kita lebih mudah “mengenal” orang lain meski dalam level praduga melalui postingan-postingannya. Dan lalu mulai tergelitik oleh pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri tentang karakter dan keadaan sesungguhnya orang-orang jika dikaitkan dengan hal-hal yang sering /biasa mereka ungkapkan.

Keheranan yang menimbulkan pertanyaan itu seperti ini misalnya :

 ”Kenapa ada beberapa teman dari sekian banyak teman di medsos yang hampir setiap hari (ya setiap hari, bahkan sehari bisa 3 – 4 kali )membuat status-status di wallnya dalam bentuk curhat ataupun puisi dalam nada yang kadang melankolis, kadang kesedihan, kecemasan, kesepian bahkan kemarahan; kebanyakan dalam kehidupan nyata mereka mengidap penyakit berat ?  (penyakit jantung koroner, stroke dan kanker) Ah mungkinkah  ini hanya kebetulan saja?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelindan di alam pikiran saya selama beberapa waktu dan begitu membekas karena tak jarang persahabatan di medsos berlanjut pada persahabatan di dunia nyata, dan itu memilukan terlebih karena banyak diantara mereka adalah orang-orang yang sangat baik kepada saya selama rentang persahabatan.  Saya terus penasaran karena tanda-tanda itu terus bermunculan di ruang virtual hingga realitas, hanya saja saya tak berani menyimpulkan karena itu sebatas dari apa yang saya temukan.

Hingga saya mulai teringat pada teori Psikosomatis, dimana sejumlah konflik psikis (kecemasan, ketakutan, kesedihan, kekecewaan, kemarahan) bisa menjadi sebab timbulnya ataupun memperparah berbagai macam penyakit jasmani. Ada keterkaitan yang begitu lekat diantara jiwa dan raga, sehingga apabila terjadi masalah di salah satunya maka akan berimbas kepada yang lainya.

Di forum edukasi dan diskusi Lavender Ribbon, saya ”menyaksikan” detail maha karya Tuhan bekerja. Yakni pada saat membaca sharing pengetahuan dan ragam pengalaman pribadi orang  tentang saling ketergantungan kesehatan jiwa dan ragawi ini. Bagaimana setiap sel tubuh kita bereaksi serentak sesudah emosi kita terpantik. Dan apabila emosi yang negatif tersulut terus menerus maka ia mampu merusak sistem normal tubuh dan membuat sel-selnya bermutasi menjadi sel yang ganas untuk kemudian menyerang sistem pertahanannya sendiri.

Setiap keresahan, kecemasan, ketakutan, kesedihan, adalah bentuk-bentuk kecil dari kemarahan yang apabila kita biarkan terus menerus maka kemarahan ini akan menumpuk dan menjadi energi negatif yang mengubah suasana pH tubuh kita menjadi asam, maka saat pH tubuh berubah asam seketika ia menjadi serupa magnet bagi masuknya berbagai  virus, bakteri, jamur dan kuman untuk tumbuh subur di dalamnya karena dalam keadaan asam, otomatis daya tahan tubuh kita terlumpuhkan.

Meski upaya menaikan pH ke arah basa dilakukan dengan mengkonsumsi berbagai makanan yang alkalis seperti banyak memakan buah-buahan dan sayur-sayuran, namun jika tanpa diiringi dengan mengubah mind set yang seringkali negatif menjadi selalu positif, maka upaya itu akan sia-sia. Ingat, selain menjaga pola makan, menjaga ketentraman jiwa pun adalah salah satu hal terpenting untuk kestabilan kesehatan kita, terutama saat sedang menjalani proses penyembuhan bagi yang sedang menyandang penyakit-penyakit degeneratif semisal  diabetes mellitus, osteoartritis, osteoporosis, jantung koroner, alzheimer, parkinson dan kanker.

 

IMG_20150413_003811

Ada banyak sekali methoda terapi dalam ilmu pengobatan di dunia yang berasal dari berbagai negara dengan ragam istilah yang sesungguhnya bermuara pada satu tema, yaitu pengendalian emosi.  Metoda terapi ini dirujuk dari begitu banyak perspektif termasuk di dalamnya adalah budaya dan agama. Dari sudut pandang agama, misalnya Islam, kaum muslimin sudah lama mengetahui sebuah hadist yang mengangkat wasiat Nabi Muhammad saw kepada seorang sahabat dari Badui yang memohon nasehat kepadanya. Oleh beliau hanya disampaikan satu pesan sederhana :

“Jangan marah”

Hal itu diucapkan oleh sang Nabi hingga tiga kali saat orang dari Badui itu berulang-ulang meminta nasehat beliau.

Sekilas terdengar seperti nasehat biasa, apa hebatnya diminta jangan marah ? Namun sekali lagi, dari persektif agama ucapan utusan Tuhan tidak ada yang tak bernilai. Dan sekali lagi, nasehat sederhana itu nyatanya sungguh berharga, ditemukan bertuahnya pada saat ilmu pengetahuan di dunia berkembang dengan pesatnya. Bahwa kemarahan; daya yang bersarang di dalam jiwa kita jika dibiarkan dan dibiasakan buncah setiap kali menemukan cobaan maka ia akan menjadi sumbat yang menghambat kerja energi positif dan membinasa jasad pemiliknya berupa penyakit.

Ternyata kemarahan tak sesederhana yang kita “lihat” ia bukan sekedar ungkapan hati seseorang manakala merasa terusik. Ia  nyatanya gambaran ketakberdayaan, merasa tak dihormati, merasa tak dicintai, merasa tak diinginkan, tersinggung, kesepian, terhina, tersisihkan. Perasaan-perasaan yang tak disadarinya telah mencerabut perisai dan benteng pertahananannya. Dan kini, tubuhnya terbuka seluas-luasnya bagi masuknya tentara penyakit-penyakit berat dan menutup akses bagi ditambahnya kekuatan pasukan pertahanannya sendiri.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa mengendalikan diri supaya tidak mudah marah, padahal setiap orang pasti memiliki masalah bukan ? Apalagi hidup kita yang sudah berwarna hari ini semakin bising dengan banyaknya berita macam-macam di sekitar, dari mulai kabar kenaikan harga di mana-mana hingga konflik sosial dan politik di media-media yang kita baca. Bagaimana caranya agar semua itu tak menguasai pikiran kita?, padahal pikiran yang negatif mampu menurunkan daya tahan tubuh dan membuat tunas-tunas penyakit semakin berkecambah, sedang di sisi lain kita juga tak mungkin bisa berlepas diri dari realitas dan masalah-masalahnya ?.

Hmm, ternyata jawabannya sesederhana mengedip mata, ada di tombol pikiran kita yang bisa kita setting semudah tersenyum.  Ternyata semuanya tersimpan di mind set kita. Apakah itu ? ialah rasa syukur. Rasa syukur itu membuat kita senang menerima apapun pemberian Kehidupan kepada kita. Menerima sepenuh hati segenap karunia Tuhan apapun bentuknya, termasuk hal-hal yang terasa menyulitkan.

Mengapa diterima ? karena apapun yang diberikan oleh Tuhan pasti baik. Tak ada yang lebih memahami dan mencintai diri kita selainNYA. Mustahil Tuhan yang Maha Mencipta ingin menyakiti hamba-hamba yang dikasihiNYA meski acapkali begitulah yang dirasakan sang hamba. Tuhan yang Maha Besar tak mungkin tanpa alasan menetapkan ketentuanNYA.

 Emotional Pain Chart

Nah, jika demikian apakah hari ini kita sudah bersyukur ? Kepada Tuhan yang telah menciptakan semesta yang begitu rumit dan pernik dengan segala kesempurnaan dan keseimbangannya ?. Sudahkah kita menghargai orang-orang yang telah membuat kita bisa belajar memaknai hidup dengan cara yang benar dan indah ?. Dan sudahkah kita berterima kasih kepada mata, telinga, anggota tubuh dan organ-organ dalam yang telah mendukung seluruh aktivitas-aktivitas kita ? Sudahkah kita memohon maaf kepada mereka atas segala kesalahan yang membuat mereka menanggung beban lebih dari kemampuannya akibat dari keserakahan dan sifat berlebih-lebihan kita ?. Sudahkah kita menyayangi mereka sebagai titipan (amanah) Tuhan yang tak terpisahkan sejak usia dikaruniakan hingga kelak berpulang ?

Ahh, nasehat sederhana yang acap terabaikan. Semoga selalu semat dalam ingatan :

“Jangan marah”

Iklan

10 thoughts on “Jangan Marah

    bundadontworry said:
    13/04/2015 pukul 9:01 pm

    Subhanallaah…..sejuknya membaca artikelmu ini mbak Winny..
    Kunci nikmatnya hidup telah diberikan oleh Allah swt melalui kekasihNYA, Rasulullaah saw: jangan marah dan selalu bersyukur atas segala pemberianNYA.
    Karena musibahpun hakikinya utk mengajarkan kita bersyukur.

    Terima kasih utk pencerahannya mbak Winny.

    Salam

    Suka

    adhyasahib said:
    14/04/2015 pukul 2:22 am

    baiklah, coba saya tanamkan dalam hati jangan marah 😀

    Suka

    Ani Rostiani said:
    14/04/2015 pukul 8:07 am

    semoga saya bisa mengedalikan rasa marah dengan positif. Selamat pagi, neng …
    semoga selalu sehat lahir batin, ya

    Suka

    atanasia rian said:
    14/04/2015 pukul 9:59 am

    Wah mengendalikan marah ini yangsangat sulit. Sabar sabar sabar

    Suka

    kania said:
    14/04/2015 pukul 11:07 am

    TFS mak, saya juga pernah diingatkan sm anak dengan hadist nabi ini. dia kan ada hafalan haidst ini di sekolahnya. laa taghdab wa lakal jannga. jangan marah, maka bagimu surga.

    Suka

    yunihan09 said:
    14/04/2015 pukul 12:34 pm

    Tulisan yang sangat informatif dan bermanfaat…saya hrs merubah semuanya supaya penyakit tidak bersarang dalam tubuh saya, terus terang saya takuuuuut, TFS ya mak Winny

    Suka

    windi teguh said:
    14/04/2015 pukul 3:06 pm

    setuju banget mak, pikiran itu sangat berkaitan erat dengan kesehatan tubuh.

    Suka

    Ila Rizky said:
    14/04/2015 pukul 4:06 pm

    marah memang melelahkan jiwa dan raga ya, mak win. paling baik menjaga emosi biar badan selalu sehat 🙂

    Suka

    belalang cerewet said:
    15/04/2015 pukul 7:41 am

    Larangan untuk tidak mudah marah ini memang pendek, tapi dalam dan berat dilaksanakan. kadang keburu marah lalu menyesal. Memang marah tidak produktif. makasih ya Mbak atas infonya

    Suka

    winnymarch said:
    23/04/2015 pukul 12:16 am

    harus menahan emosi 😀

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s