All We Need Is Love

Posted on Updated on

Jujur, sejak Mama “pergi” karena Leukemia, saya menghindari segala pembicaraan dengan siapapun tentang kanker. Saat hati sedang lemah, saya merasa penyakit itu sungguh telah melukai tak hanya almarhumah Mama, tapi juga Papa, melukai saya dan seluruh keluarga.  Saya merasa kanker telah membuat semua perjuangan saya dan keluarga gagal menyelamatkan Mama dari cengkeramannya.

Kanker memang tak asing dalam pendengaran saya sejak lama, tapi bodohnya saya, tak pernah menduga bahwa ia akan “menyerang” salah satu anggota keluarga yang kami cintai. Tak ada dalam garis keturunan saya ke atas dari fihak Mama yang saya ketahui pernah menyandang kanker apapun. Itulah yang membuat saya dan keluarga saat itu kaget luar biasa dengan hasil cek laboratorium Mama.

Mamaku seorang yang sangat memperhatikan kebersihan dan cukup aware dengan kesehatan. Itu sebabnya beliau cukup rajin mengkonsumsi vitamin dan berbagai suplemen serta perangkat untuk kesehatan. Jadi, semua terkejut saat Mama mulai mendapat serangan stroke dan lalu Leukemia (kanker darah) hanya dalam rentang waktu satu tahun.

Tapi alhamdulillah, trauma saya pada segala hal “berbau” kanker tak bertahan lama. Dari beberapa blog sahabat saya menyadari bahwa ternyata banyak teman blogger yang juga menyandang kanker seperti Mama bahkan dari jenis kanker yang lain dan mereka survive. Banyak teman-teman saya yang tetap bersemangat dan gigih mengatasi penyakitnya tanpa kehilangan semangatnya untuk berbagi.  Salah seorang sahabat blog saya Bunda Julie Utami adalah salah satu orang yang cukup mempengaruhi perubahan saya.

Tiba-tiba saya merasa justru ingin lebih mengenal apa itu kanker. Tiba-tiba saya merasa ingin melindungi keluarga, sahabat, tetangga-tetangga dan siapa saja dari kanker. Saya juga menyadari bahwa diri saya sendiri pun serta adik-adik kini memiliki resiko tinggi terpapar kanker karena riwayat penyakit Mama. Saya sangat penasaran apa yang menyebabkan Mama bisa terjangkit kanker darah. Apa yang terjadi dalam tubuh Mama ? Apa yang salah ? Tentu ada sebab yang logis. Saya lalu merasa ingin mengenal diri saya sendiri, mengenal jiwa raga saya, menyayangi jiwa raga saya. Mungkin saja selama ini saya, kami semua telah salah memperlakukan tubuh dengan memasukkan hal-hal yang membahayakannya; baik itu makanan, minuman, perasaan-perasaan negatif, tindakan-tindakan tak baik ?. Tiba-tiba saya ingin belajar sekaligus menolong orang lain.

Melalui pertemanan, pada akhirnya saya berjumpa dengan orang-orang dalam komunitas yang sejalan dengan harapan. Dan melalui mereka saya mendapat banyak pembelajaran, tak cuma penanggulangan kanker semata sebagai sebuah penyakit, melainkan juga belajar tentang hal yang lebih besar dari itu. Ialah tentang ketegaran menghadapi kenyataan, tentang penerimaan ketetapan Tuhan, tentang kesabaran selama berobat, tentang berbesar harapan, tentang kesyukuran baik dalam menerima nestapa maupun realita menuju kesembuhan (Banyak lho penyandang kanker yang sudah sembuh dan sekarang menjadi supporter bagi penyandang kanker lainnya, tentu saja setelah melalui perjuangan yang hebat dengan kedisiplinan tinggi /kesabaran dalam proses pengobatan) serta tentang cinta, bahwa bagaimanapun kanker pun adalah pemberian Tuhan yang Maha Penyayang, dan segala yang datang dariNYA pasti baik untuk kita, entah kebaikan itu dalam bentuk apa saja, meski sang penerima kebaikan kadang tak menyadarinya.

Buku karangan Andreas Moritz
Melalui mereka saya tahu ternyata kanker itu bukan penyakit melainkan mekanisme pertahanan tubuh. (Gambar milik Andreas Moritz)

Pernah membaca quotes yang kira-kira isinya seperti ini ? :

“Bagaimanapun kita tidak bisa mengerti perasaan orang lain sampai kita merasakan sendiri penderitaan mereka”.

Saya pernah. Kalau saya tak salah ingat, quote ini adalah awalan dari sebuah kalimat yang merupakan ungkapan simpati seseorang kepada temannya yang sedang menyandang kesulitan.

Sebagai sebuah pernyataan simpati, mungkin kalimat ini cukup melipur hati orang yang dituju. Tapi ia menjadi terkesan arogan manakala memandang kenyataan bahwa banyak sekali orang yang bahkan tak berhubungan dengan kesulitan/penderitaan itu baik hubungan atas dasar ‘senasib’, atas dasar ‘ sedarah /‘segaris keturunan’, atau atas dasar ‘balas budi’ yang rela mendarma baktikan hidupnya untuk menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan baik karena masalah ekonomi, masalah bencana alam, masalah penyakit, masalah pendidikan, masalah sosial dsb.

Untuk bisa berempati,  tak berarti harus merasakan sendiri penderitaan yang dialami orang lain. Untuk bisa menyayangi tak perlu harus menjalani sendiri kesusahan orang lain. Menghargai perasaan mereka dan memberikan perhatian serta mengulurkan pertolongan itu sudah hebat.

Dalam komunitas kanker yang saya ikuti banyak anggotanya tak hanya penyandang kanker, diantara mereka ada juga para survivor yang telah memenangkan pertarungan, dan banyak juga para supporter yang tidak mengidap kanker tapi terlibat penuh dan turut mendampingi perjuangan para penyandangnya padahal bisa jadi tak ada hubungan darah, hubungan suku ataupun hubungan agama di antara mereka. Ketulusan, hanya ketulusan yang saya rasakan. Dan saya bahagia berada diantara mereka.

Saya teringat sebuah quotes seorang survivor kanker PD (Ca Mamae):
“Jangan hidup hanya untuk dirimu sendiri, hiduplah juga untuk orang banyak, dengan begitu kamu telah hidup di jalan Tuhan”

Instead of doing something hurt to each other, there’re so many good and useful things to do for make this world be a better place. Then, make a change.  And for this change, all we need is love.

Pita Ungu
Untuk mengenal komunitas kanker Indonesia ini silakan kunjungi website kami di sini (Klik gambar ini dan anda akan terhubung dengan grup kami)

Iklan

13 thoughts on “All We Need Is Love

    adhyasahib said:
    30/03/2015 pukul 7:29 pm

    salut sama orang2 yang bisa survive dan yang masih berjuang melawan kankernya sendiri,mudah2an diberikan kemudahan dalam menjalani cobaan ini.

    Disukai oleh 1 orang

      winny widyawati responded:
      30/03/2015 pukul 7:32 pm

      Aamiin, terima kasih atas do’anya mbak Adhya dear. Ya, saya banyak belajar kesabaran dari beliau-beliau ini. Semoga saya diperkenan bisa terus belajar. Terima kasih kunjungannya ya mbak 🙂

      Suka

        adhyasahib said:
        30/03/2015 pukul 7:34 pm

        Tetap semangat ya Winny!saya turut berduka atas kehilangan mama Winny :(, mudah2an kita semua tetap dikaruniai kesehatan ya,amin 🙂

        Suka

        winny widyawati responded:
        30/03/2015 pukul 7:35 pm

        Selalu semangat Adhya, apalagi punya sahabat-sahabat sepertimu. Makasih banyak ya :-*

        Suka

    Oline said:
    30/03/2015 pukul 9:14 pm

    Aku selalu salut sama para survivor penyakit kanker ini.
    And tfs ya mak 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      30/03/2015 pukul 9:36 pm

      My pleasure mak Oline 🙂 senagnya mendapat kunjungan darimu. Makasih ya 🙂

      Suka

    Pakde Cholik said:
    31/03/2015 pukul 8:50 am

    Semoga Mama mendapat tempat yang layak di sisiNya
    Tak ada daun yang gugur tanpa sepengetahuanNya.
    Kita semua akan berpulang, tinggal nunggu jadwal belaka.
    Selayaknya kita menyiapkan sebaik-baik bekal sebelum ajal tiba
    Salam hangat dari Surabaya

    Disukai oleh 1 orang

      winny widyawati responded:
      31/03/2015 pukul 8:46 pm

      Ya pakde, semua sudah dalam ketentuanNYA ya. Terima kasih doanya pakde 🙂

      Suka

    itsmearni said:
    02/04/2015 pukul 12:54 pm

    Turut berduka untuk mamanya mbak winny
    Barusan ngeklik linknya
    Wow salut saya sama teman-teman yang tergabung dikomunitas itu. Semangat hidup dan semangat berbagi, saling menguatkan satu sama lain sungguh bikin saya belajar
    Terimakasi sharingnya mbak

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/04/2015 pukul 6:34 pm

      Iya mbak Arnie saya berguru banyak hal kpd beliau-beliau para survivor dan jg supporter ini.
      Sama-sama mbak Arnie, makasih jg kunjungan dan komennya ya :♥

      Disukai oleh 1 orang

    Nefertite Fatriyanti said:
    03/04/2015 pukul 6:29 pm

    neng Winny, ciee aku juga survivor lho, beneer
    Makanya aku sering terkesan makannya pilih-pilih
    Yup, hidup harus berbagi

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/04/2015 pukul 6:37 pm

      Mbak Yanti survivor ? Masya Allah. Gak keliatan mbak. Itulah saya sering ‘kecele’, para survivor dan mbak yanti ini bener2 hebat :♥

      Suka

    winnymarch said:
    04/04/2015 pukul 12:10 am

    sabar ya winny

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s