Belajar Dari Tukang Sampah Mancanegara

Posted on Updated on

Hari Rabu siang kemarin tak sengaja perhatian saya tercuri oleh sebuah program dari stasiun BBC London yang ditayang ulang Kompas TV bertajuk ‘The Thougest Place to be a Binman’ yang mengisahkan secara singkat kehidupan Wilbur Ramirez seorang petugas pengangkut sampah rumah tangga di London Barat.

Sebagai seorang petugas pengangkut sampah di sebuah negara maju dengan perangkat kerja modern berupa truk berperfoma canggih pekerjaan mengangkut sampah terlihat mudah. Sebagai petugas sampah di negara yang sudah makmur dan mapan dengan lengkapnya peraturan tak berarti membebaskan Wilbur dari masalah. Ada saja warga Inggris yang tak disiplin dalam hal membuang sampah mereka, dan jika menemukan kasus demikian Wilbur lalu menelpon institusi terkait untuk menegur warga yang tidak disiplin tersebut dan masalahpun dijamin tak terulang lagi.

Betapa tertibnya, dan alangkah nyamannya tinggal di kota yang rapi dan bersih seperti yang mereka miliki. Sampai di sini saya merasa diajak menyadari bahwa profesi petugas pengangkut sampah bukan sekedar penting, tetapi sangat sangat sangat penting. Serupa sistem pencernaan di tubuh kita, yang merupakan tiang kesehatan. Bayangkan jika sampah di tubuh kita tak ter-manage dengan baik, ia akan menjadi sumber penyakit-penyakit degeneratif (termasuk kanker, gagal ginjal, gagal liver  dan diabetes) yang menghancurkan seluruh fungsi dalam sistem tubuh kita.

Hanya dengan tayangan itu saja fikiran saya langsung membuat komparasi dengan keadaan di Indonesia, terkhusus daerah kumuh di kota-kota besarnya, dimana kemiskinan dan sampah menjadi duo yang seakan tak terpisahkan. Terbayang-bayang sungai-sungai yang airnya berwarna coklat, hitam bahkan berwarna warni tergantung dari limbah apa yang sedang  mendominasi. Terkenang-kenang satu sudut di kota kelahiran saya yang permukaan sungainya setiap hari tertutupi limbah-limbah pabrik berupa styrofoam, plastik dan bahkan sofa dengan santainya melenggang di sungai di hadapan saya.

Kembali ke program di Kompas TV, adegan berikutnya mengejutkan saya, ada ucapan Wilbur yang mempertanyakan dimana letak Indonesia (woww, agak nyelekit juga rasanya saat mendengarnya meski bukan rahasia umum bahwa Bali lebih dikenal bangsa lain dibanding Indonesianya sendiri hehe). Dan tak lama kemudian Wilbur melakukan kunjungan ke Jakarta khususnya daerah TPA Guntur dan tinggal selama 10 hari di rumah salah seorang pengangkut sampah bernama Imam Syafi dan keluarganya.

Di sini gejolak itu dimulai, saat melihat di layar kaca seorang petugas sampah dari London bertemu petugas sampah kota Jakarta. Betapa terkejutnya Wilbur saat melihat rumah Imam yang akan ia tinggali selama 10 hari begitu sempitnya, dihuni oleh Imam, ibu, istri, dan seorang anaknya. Rumah yang tak layak dihuni oleh manusia karena sangat kumuh, berhadap-hadapan langsung dengan tumpukan sampah.

Karena sifat humorisnya, kita hanya melihat tawa Wilbur di sepanjang keheranannya melihat tingkat kehidupan seorang petugas sampah kita yang teramat rendahnya. Dan tawanya semakin pecah saat mulai ikut dalam kegiatan Imam mengangkut sampah warga terutama ketika melihat alat pengangkut sampah yang berupa gerobak beroda dua yang ditarik oleh tenaga manusia. Ia nampak tak percaya dan berkata dalam tawa mirisnya :

”Seorang rekanku bercanda, mengatakan bahwa di Jakarta aku akan melihat orang mengangkut sampah dengan gerobak yang ditarik kuda atau keledai. Oh okay, ternyata sekarang aku yang jadi kudanya”.

Lalu meledak lagi tawanya. Amboi , rasa malu saya melesat cepat, dalam ilustrasinya acara dari stasiun BBC Inggris ini memperlihatkan kesenjangan yang terentang begitu lebar, bahwa diantara menjulangnya gedung-gedung tinggi di pusat kota dan data meningkatnya pertumbuhan ekonomi sebesar 6% setiap tahunnya namun tak diimbangi berkurangnya jumlah kemiskinan yang menghimpit jutaan orang di sisi yang lainnya.

Rasa haru mulai menelusup secara semana-mena ke dalam hati saya saat melihat seorang Wilbur sudi tingggal bersama keluarga yang sangat sederhana seperti keluarga Imam padahal di negerinya Wilbur memiliki tingkat kehidupan yang baik. Wilbur tak menunjukkan sikap-sikap negatif seperti misalnya enggan saat acara makan siang bersama keluarga Imam. Sikapnya biasa saja saat melahap hidangan yang disediakan ibunda Imam seolah ia adalah bagian dari keluarga itu sejak lama.

Satu pesan yang saya dan siapapun yang menonton acara itu akan tangkap, ialah bahwa empati telah ditunjukkan seorang anak bangsa lain kepada anak bangsa kita, bahkan masyarakat kita khususnya tentang masalah sampah. Bahwa banyak sekali persoalan penanggulangan sampah yang jika dibiarkan akan menjadi bom waktu tak terkendalikan di suatu saat nanti. Bagaimana sedihnya Wilbur hingga meneteskan air mata saat melihat Imam lima kali sehari bolak balik harus mengangkut sampah-sampah warga termasuk warga dari kalangan “berada” tanpa alas kaki. Betapa sedihnya Wilbur melihat ketegaran Imam dan memahami bahwa Imam bekerja keras demi menafkahi keluarganya.

“Dia punya istri yang cantik, anak yang lucu dan seorang ibu yang sudah tua. Siapa yang tak ingin bekerja keras untuk mereka ? Kau pasti akan melakukan apapun untuk orang-orang yang kau cintai bukan ?”.

Ucapan Wilbur telak membidik perasaan saya. Bagaimana seorang asing peduli pada nasib saudaranya di negeri yang sebelumnya bahkan ia tak tahu pernah ada (ingat kata-katanya :”Aku tak tahu dimana itu Indonesia”).

Selama 10 hari di Jakarta Wilbur mencatat banyak sekali masalah tentang sampah di Jakarta bagian Guntur. Ia dapat merekam banyak hal sehingga detail karena Wilbur tak hanya melakukan kajian dari awang-awang, namun terjun langsung di titik persoalan (blusukan ?).

Selama 10 hari itu ia turut berkeliling keluar masuk perumahan bersama Imam bekerja mengangkut sampah dan menyaksikan sendiri ketidak disiplinan kebanyakan warga ibu kota termasuk petugas sampah di level atas yang juga seenaknya membuang sampah yang sedemikian banyaknya di tempat Imam bermukim. Bagaimana pemerintah daerah pada masa itu (pada masa Wilbur berkunjung sekitar tahun 2012) sangat kurang menyediakan sarana dan prasarana bagi petugas sampah supaya dapat mengerjakan tugasnya dengan baik. Dari istri Imam; Windy kita tahu bahwa banyak petugas sampah yang harus membeli peralatan menyapu atau membersihkan sampah dari uang pribadi, padahal untuk menanggung kebutuhan primer mereka sendiri seperti makan, pakaian dan tempat tinggal sudah sangat kesulitan.

Setelah masa kunjungannya usai, Wilbur kembali ke negaranya dan mengadakan semacam acara malam dana di klub musik London untuk support para petugas pengangkut sampah di daerah Guntur Jakarta.

“Saya ingin membantu Imam dan teman-temannya untuk mendapatkan pengangkut sampah baru dan mudah-mudahan bisa kami kirim ke Jakarta dalam dua atau tiga bulan ini”.

Kata Wilbur Ramirez selepas bernyanyi The 100 Club, Oxford Street, London Kamis (29/03). (Sumber BBC Indonesia, 30 Maret 2012, 20.51 WIB). Bantuan ini merupakan bantuan tahap pertama karena Wilbur berencana untuk memberikan bantuan pendidikan dan kesehatan juga untuk para petugas sampah dan keluarganya. Hingga pada suatu kesempatan Wilbur kembali ke Jakarta untuk menyerahkan seluruh bantuan itu. Tak terbayangkan, namun yang pasti sangat membahagiakan Imam dan keluarganya serta banyak teman-teman sesama petugas pengumpul sampah di Guntur mendapat bantuan gerobak bermotor untuk mengangkut sampah. Kini pekerjaan mereka menjadi termudahkan dengan adanya motor gerobak sampah itu sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga mereka untuk diberikan bagi kenyamanan hidup mereka dan keluarganya.

Masya Allah, tak malukah kita di saat di negeri yang besar ini masih disesaki dengan konflik vertikal, perselisihan antar anak bangsa memperdebatkan perbedaan dalam cara-cara yang semakin radikal entah itu di grass root hingga ke elitnya, ada segelintir orang (yang bahkan dari kalangan orang biasa dari negeri yang jauh, bukan pejabat, bukan pula orang yang kaya sangat) memberikan kepeduliannya kepada sesamanya tanpa melihat latar belakang bangsa, bahasa dan agamanya dengan sepenuh ketulusan.

Tak malukah kita, masih berkubang dalam saling mencela dan mencaci untuk hal-hal yang kontra produktif sementara bahtera negeri sedang terancam akan tenggelam. Sibuk menyalah-nyalahkan fihak lain yang tak segaris dan membenar-benarkan fihaknya sendiri yang hakikatnya sebenarnya telah terbaca, semuanya berujung pada kepentingan pribadi dan kelompok. Terjebak ashabiyah, terjerat fanatisme. Lupa pada tujuan mulia berhidup. Tak tahu indahnya dirahmati keragaman, tak mau belajar dari kesalahan dan bangga dengan sikap radikal semu.

Feeling Fancy doing something radical ? Try RADICAL EMPATHY !. (Wayan Lessy)

Wilbur di London bersama truk pengangkut sampah modernnya
Bagaimana petugas sampah di luar negeri bekerja dengan perangkat modernnya
Imam dan Wilbur | Petugas sampah dari dua negara berbeda yang akhirnya bersahabat
Wilbur dan Imam bekerja mengangkut sampah dengan gerobak usang roda dua
Malam dana untuk mendukung para petugas sampah di Jakarta
Kini Imam memungut sampah warga menggunakan gerobak motor yang lebih meringankan pekerjaannya
Wilbur bersama Imam dan keluarga
PS : Foto-foto diambil dari berbagai sumber media online
Iklan

10 thoughts on “Belajar Dari Tukang Sampah Mancanegara

    adhyasahib said:
    28/03/2015 pukul 3:35 am

    aih baiknya hati Wilbur sampe ngumpulin dana buat bantuin tukang sampah disini 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/03/2015 pukul 7:41 am

      Nah itu yg bikin saya salut sama orang seperti Wilbur ini mbak Adhya, di negeri sendiri instead of build their own country orang malah masih banyak yg bertikai urusan politik dsb.
      Terima kasih kunjungannya di blogkh mbak cantik 🙂

      Suka

    indah nuria Savitri said:
    28/03/2015 pukul 6:44 pm

    dan sebenarnya kita bisa mengusahakannya sendiri ya mba…dengan contoh orang-orang seperti wilbur, harusnya kita pun bisa mengupayakan sistem manajemen sampah yang lebih baik. cheers..

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/03/2015 pukul 7:28 pm

      Bisa banget seharusnya ya mak Indah. Sedih sekali padahal para petugas sampah itu tugasnya berat sekali dan tanpa mereka kita nggak akan hidup dgn nyaman ya mak

      Suka

    itsmearni said:
    29/03/2015 pukul 11:56 am

    Aih salut saya sama kebesaran hatinya Wilbur

    Suka

    Nefertite Fatriyanti said:
    29/03/2015 pukul 8:30 pm

    hebat ya, kebesaran hati yang inspiratif

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/03/2015 pukul 8:43 pm

      Iya mbak Yanti, teladan ternyata banyak didapat dari mana dan siapa aja ya 🙂

      Suka

    pawulan said:
    04/11/2015 pukul 10:20 am

    mb winny, saya mengirim link ini ke pak ahok, supaya bisa mempertimbangkan bentuk truk sampah ke depannya terkait carut marut masalah sampah di ibukota. artikel yang bagus.. terus berkarya ya mb winny

    Disukai oleh 1 orang

      winny widyawati responded:
      08/11/2015 pukul 11:43 pm

      Terima kasih sudah menjadi jalan tulisan ini sampai ke Pak Ahok mas Pawulan. Semoga bisa membantu permasalahan samph di Jakarta meski hanya bagai setitis air di tengah lautan

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s