Bukan Lebay, Hanya Sepotong Kerinduan

Posted on

Malam benderang, bukan karena sedang purnama bulan. Mungkin karena cakrawala berkilauan bintang, atau perasaan sedang senang melihat di pelataran masjid anak-anak lari berkejaran. Tiba-tiba hati ingin singgah, memandang keriangan dari tepian, menanti sayup-sayup suara dari masa silam.

Dahulu dunia sedikit lebih temaram, lebih senyap dan lebih tenang. Saat terang bulan masih bisa dirayakan dengan bertemu teman-teman di tanah lapang dan main kucing-kucingan sampai kelelahan. Tak ada sekat memisahkan, tak ada membeda-bedakan. Satu-satunya masalah besar hanya jika seseorang gagal menemukan sendalnya yang disembunyikan kawan.

Dahulu tempat curhat cuma buku diary, sahabat dan Tuhan. Tiga hal yang  walau terjadi kiamat tak akan berkhianat. Rasanya tak ada sesuatu yang terlampau berat, semua sesederhana maaf pada nyamuk yang mencuri setitis darahmu. Tak pernah ada dendam, karena senyum semurah udara yang setiap detik kau telan.

Di rumah mungil berteras panjang yang diteduhi rerimbun daun jambu air, acap terpukau oleh iring-iringan semut-semut di sepanjang pohon asparagus nan merambat hingga ke atap. Kagumi cara mereka saling memberi salam, khayalkan gerangan apa yang mereka senang perbincangkan. Ahh andai bisa menjadi semungil mereka.

Namun, terkadang rumah terasa sempit bagi hati yang dirundung kesedihan.  Tiada pelipurnya selain dari berjalan di antara hijaunya pepadian, dengan mata yang rinai mencari awan membentuk senyuman.  Lalu dengan indahNYA Tuhan karuniakan penghiburan, diusapNYA air mata dengan luruhan hujan.

Dahulu sebelum gadget datang mencuri perhatian, hanya buku-buku yang menjadi tambatan. Menabung berhari-hari setiap uang recehan hanya untuk bisa meminjam komik dan novel di perpustakaan. Kadang terdampar di pesawahan, membentuk boneka dari jerami atau mensketsa senja dan pelangi.

Tak pernah terfikir waktu akan berlari melebihi  kilatan asteroid. Membawa segenap daya ubah melalui tekhnology yang bak candu mengutak-atik denyut nadi yang menyentuh hasrat dan ego diri. Hasrat pada rasa ingin tahu,ego untuk meluahkan fikir dan rasa, ego akan pengakuan.

Akun-akun lalu menjadi topeng-topeng penuh kepalsuan. Siapapun bisa menjadi apa saja dan apapun bisa menjadi siapa saja. Menebar pesona sekaligus membentang perangkap. Menabur kebencian sekaligus meraup keuntungan. Lalu sadar, kini kita sedang hidup dalam zaman dimana barisan kata atau ribuan “like”bisa berubah menjadi laba dan penghasilan.

Aduhai  malam yang rindang dengan cahaya bintang. Tiba-iba merindukan masa dimana kita hidup dalam ketulusan. Saat orang-orang bebas berbeda tanpa takut celaan. Saat orang-orang lebih bangga menjadi orang yang jujur daripada bertinggi kedudukan ataupun pujian. Tempat dimana keramahan dan kemaafan adalah demikianlah dirinya apa adanya.

Aku masih termenung di tepian jalan, geli menatap kelucuan para bocah bercengkrama cekikikan. Mungkin anak-anak itupun tak pernah mengira akan seperti apa kelak dunia mereka. Semoga selalu ada tempat lebih baik dan lebih indah tersedia, dunia yang damai namun hebat untuk jiwa-jiwa baik mereka.

Ini bukan lebay, ini hanya sepotong kerinduan pada masa silam

Iklan

4 thoughts on “Bukan Lebay, Hanya Sepotong Kerinduan

    bemzkyyeye said:
    11/03/2015 pukul 6:18 am

    Bagus mbak Winny 🙂

    Suka

    edi padmono said:
    11/03/2015 pukul 7:16 am

    Bahkan saat ini di kampung sudah tidak saya temui anak anak bermain petak umpet, mereka lebih suka menonton tv daripada bermain bersama teman-temannya.

    Suka

    jampang said:
    11/03/2015 pukul 7:58 am

    zaman sudah berubah

    Suka

    Ani Rostiani said:
    12/03/2015 pukul 10:29 am

    jadi ingat masa kecil saat berlarian di bawah bulan purnama. aaah … sekarang pasti anak2 dilarang seperti itu, seringkali bukan karena orangtua tak mengizinkan tapi karena sekarang banyak kejahatan mengintai

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s