[Hijabku Karena …] Cinta

Posted on Updated on

Suatu waktu, pada musim pemilihan presiden di negeri antah berantah sedang hangat-hangatnya dibicarakan di berbagai media, saya membaca  status seseorang di facebook (FB) berikut komentar-komentar dari teman-temannya yang bernada sinis kepada seorang tokoh wanita terkait pakaiannya (yang belum berhijab, kecuali sesekali saja dalam beberapa event tertentu).

Saya merasa heran dan prihatin dengan caranya memilih diksi untuk membuat kesimpulan negatif tentang cara berpakaian seseorang, terlebih karena lama di waktu-waktu sebelumnya, saya cukup terkesan kepadanya karena kesantunan kata-katanya pada status-statusnya yang sebagian besar begitu relijius.

Saya kerap bertanya pada diri sendiri, bagaimanakah perasaan orang yang sedang dibicarakan  dengan nada skeptis bahkan sinis itu jika mengetahui dirinya sedang “dipertanyakan” akidahnya oleh orang-orang yang tak dikenalnya karena pakaiannya yang walaupun belum sempurna berhijab namun juga tak mengumbar auratnya ? Saya seringkali penasaran, apakah yang terjadi pada itikad orang yang sedang dibicarakan, seandainya pada saat itu ia sebenarnya sedang dalam proses belajar untuk berpakaian muslimah ? Saya tak habis fikir, apakah orang-orang yang mencela itu tak pernah mengalami masalah, menemukan onak cobaan dalam perjalanan beragamanya ? Mengapa begitu mudahnya menista orang lain yang belum apalagi tak pernah bisa sama seperti dirinya ?

Saya lalu teringat pada apa yang menimpa diri saya sendiri bertahun-tahun yang lalu, saat mana saya sedang menempuh jalan “pencarian” yang sama dengan para calon hijabers sekarang ini.

Sebetulnya saya sudah berjilbab pada saat-saat masih suka mengaji sejak kecil hingga menerima amanah membantu mengajar adik-adik kelas belajar membaca Al-Qur’an di masjid perumahan tempat saya dan orang tua tinggal. Tapi, hanya pada saat-saat seperti itu saja saya berkerudung, lainnya saya berpakaian seperti teman-teman saya kebanyakan. Tentu saja tak ada rasa bersalah, karena memang saat itu pengetahuan saya akan kewajiban berjilbab tak ada. Bertudung dan berbaju kurung di masjid saya fahami hanya sebagai sebuah kepantasan saja.

Saat memijak kelas 3 SMA, saya perlahan mulai mengetahui kewajiban ini melalui berbagai jalan, diantaranya dari membaca buku, dari diskusi dengan teman atau dari pemaparan guru-guru mentoring di kegiatan ekstrakulikuler sekolah. Mungkin hati saya pernah tergerak, tapi nyatanya tidak dahsyat. Saya bahkan selalu merasa terintimidasi dengan ancaman-ancaman menyeramkan, tentang neraka, tentang api yang membakar seluruh badan, tentang rambut yang dirantai dengan bara menghanguskan. Semua pintu yang saya ketuk untuk mencari hal indah tentang jilbab lebih banyak menjelaskan hukuman daripada menawarkan harapan. Namun begitu, saya tak berhenti bertanya.

Di sisi lain, diam-diam saya mulai berempaty, pada kawan-kawan perempuan saya yang alih-alih ingin membeli buku tentang hijab sebagai sebuah kewajiban, bahkan dipinjami pun mereka tak berkenan.

“Takut ah” kelitnya.  Amboi, Tuhan, saya pun pernah setakut itu.

Namun, Sang Maha Pengasih sangat pandai mengatur perjalanan. Saya lalu terpesona dan begitu saja mengagumi seorang ibu, istri dari seorang ulama di Bandung, bukan karena narasinya tentang kewajiban menutup aurat, bukan pula karena buku-buku yang dipinjamkannya tentang pakaian dan hijab syar’i apalagi sindiran atau cara menatap yang aneh mengukur setiap centi rok atau kaki yang tak berkaus kaki.

Saya jatuh hati karena senyumnya, mendapat keteduhan dari keramahannya, memperoleh kejelasan tanpa penjelasan hanya karena sesuatu yang terpancar dari dalam figurnya yang di mata saya begitu agung namun meneduhkan dalam balutan kain hijab yang melindunginya. Perlindungan yang membebaskannya dari penilaian orang tentang tubuhnya, tentang kekurangan ataupun kelebihan raganya. Saya membayangkan,  betapa tentramnya beliau yang merdeka dari merasa dijajah oleh fikiran orang tentang dirinya.

Saya tersentak, merasa menemukan jawaban yang selama ini saya inginkan. Betapa baiknya Sang Maha Kasih, yang menjadikan hijab sebagai pelindung yang lekat sekaligus hiasan nan indah agar kaum muslimah senantiasa selalu terjaga dan mudah dikenali. Sejak itu berhijab bagi saya adalah tanda bakti seorang mukminat kepada Tuhannya, sekaligus pembebasan tanpa harus kehilangan kecantikannya yang “surga”.

Sudah fitrahnya setiap perubahan akan meminta alasan. Dan jika alasan tak memenuhi harapan sang peminta jawaban, bersiaplah untuk bertahan. Masa itu saya berhijab di saat orang berjilbab masih sangat langka. Di waktu seorang remaja berhijab disalah fahami sebagai seorang yang radikal bukan penemu kebahagiaan. Di kala seorang siswa yang bersikukuh dengan jilbabnya di sekolah maka ia akan berhadapan dengan teguran bahkan pengusiran.  Dan yang terberat adalah jika keluarga sendiri yang turut memasang rintangan.

Namun, merasa berdiri di atas kebenaran tak mengizinkanmu untuk memandang yang lain sepenuhnya berada bersama kesalahan. Sungguh, tiada kebaikan yang datang melainkan semata-mata hanya karena rahmat Allah (pemberian Allah yang baik). Tak ada hak saya untuk menilai orang lain apalagi menghakiminya. Jalani dan bahagia saja dengan proses yang sedang dijalani diri, membiarkan cinta turut tumbuh di dalamnya.

Seiring waktu, saya saksikan perlahan orang-orang yang sebelumnya tak menyetujui keputusan saya berjilbab mulai berubah. Keluarga mulai menerima  keberadaan saya dalam hijab, sedikit-sedikit mulai senang berdiskusi dan semakin lama kehangatan hubungan kembali ke pangkuan bahkan satu persatu adik-adik dan mama saya serta seluruh anggota keluarga yang perempuan mulai berhijab. Hmm ternyata kemarin kita hanya mengabaikan waktu dan proses yang dibutuhkan orang untuk menetapi sesuatu yang dicintainya. Kita hanya kurang bersabar saja melihat orang lain melewati taqdirnya dari kacamata buram kita. Biasanya, seseorang membenci sesuatu yang tak diketahuinya (Imam Ali ra).

Dan masya Allah, kini saya saksikan jilbab telah mendunia. Tak perlu lagi ada kekhawatiran apalagi ketakutan. Lagu Aisyah adinda kita seakan menggema, merupa setiap sudut semesta, para hijabers berbaur bersama-sama dengan kaum Hawa yang lainnya. Sama tersenyum sama tertawa. Meski sesekali boleh saja titiskan air mata, hanya untuk bersyukur karena mengenang nikmatNYA.

Semoga selalu, hijabku karena …. Cinta.

Hari ini mungkin dia tidak bertudung. Esok lusa mungkin dia yang paling ikhlas menutup auratnya.
Hari ini mungkin dia keras bicaranya, esok lusa mungkin dia yang paling lembut lisannya.
Hari ini mungkin dia seorang yang kasar, esok lusa mungkin dia yang paling indah akhlaqnya.
Tugas kita bukan untuk me-Nerakakan orang
Wajib kita hanya menghisab diri sendiri seraya mendo’akan siapapun agar baiklah semua perkara dunia dan agamanya
Jangan hinakan permulaan seseorang, karena kita tak pernah tahu bagaimanakah akhir kehidupannya.

Hijab_syar'i_story_ga[1]

Artikel ini diikutsertakan dalam “Hijab Syar’i Story Giveaway”

Iklan

11 thoughts on “[Hijabku Karena …] Cinta

    murtiyarini said:
    06/03/2015 pukul 6:15 am

    Tulisan yang indah dan menyentuh.

    Suka

    Oline said:
    06/03/2015 pukul 7:28 am

    So touchy…
    Sukses buat GA nya ya mak Winny…

    Suka

      winny widyawati responded:
      06/03/2015 pukul 7:50 am

      Thank you mbk Oline dear.
      Sukses juga bwt mak Oline ya 🙂

      Suka

    lazione budy said:
    06/03/2015 pukul 8:03 am

    hijab adalah pilihan..
    Nice artikel

    Suka

    desinamora said:
    06/03/2015 pukul 8:12 am

    Aahh jd ingat waktu aq pake kerudung dan diejekin ninja Mak 😦 sedih bgt dah

    Suka

    susanti dewi said:
    06/03/2015 pukul 9:52 am

    kalimat2 terakhirnya, menyentuh mba….. 🙂

    Suka

    Fikri Maulana said:
    06/03/2015 pukul 2:00 pm

    Baru mampir udah suka sama tulisannya 🙂

    http://www.fikrimaulanaa.com

    Suka

    nengwie said:
    06/03/2015 pukul 4:04 pm

    Berhijab adalah satu pilihan terbaik, dan semoga tetap istiqomah dan semakin manjadi pribadi yang lebih baik… aamiin..

    Tahun 80-an dimana awal-awal banyak yg berhijab, adalah waktu yang terasa cukup berat..alhamdulillah sekarang semakin dimudahkan .. ^_^

    Suka

    nengwie said:
    06/03/2015 pukul 4:05 pm

    Eeehh seperti biasaaa…tulisan teh Winny mah geuliiis… 😊

    Suka

    rita asmaraningsih said:
    07/03/2015 pukul 3:56 pm

    Hijab karena cinta… nice… semoga itu pilihan yang terbaik… Aku teringat saat pertama kali ke kantor menggunakan hijab.. Waktu itu aku datang ke acara rakor yang dihadiri banyak orang dari berbagai instansi… Beberapa orang melihatku dan menatap dari kejauhan.. Beberapa dari mereka seolah bertanya2 benarkah diriku kini telah berhijab? Alhamdulillah banyak yang suka dengan cara berpakaianku menggunakan hijab ke kantor.. Akupun merasa nyaman… Kekhawatiran akan panas dan gerah saat memakai hijab tak kurasakan…mungkin yg kurasakan ini lantaran cinta pada hijabku sehingga aku merasa nyaman saat mengenakannya…

    Suka

    Ahmad said:
    26/04/2016 pukul 2:24 pm

    Kalo aku sih….. yessss..!!!! keerreennnn…!!!

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s