Da Aku mah Apa Atuh

Posted on

Saya sedang membaca sebuah artikel milik mas Agus Mulyadi dan asyik dengan cara dia membawakan suasananya, hingga di paragraf pertama ada kalimat seperti ini :

“Ingat ndak mbak ? Ah, sampeyan pasti ndak ingat ya mbak ? Tak apa, saya memang sudah biasa dilupakan. Apalah saya ini mbak, hanya penjepit handuk pramuka yang hanya penting saat dibutuhkan, dan  selebihnya dilupakan begitu saja”.

Harusnya saya tertawa, karena memang keseluruhan tulisan itu bahkan hampir seluruh konten blognya mas Agus Mulyadi itu sangat kental dengan humor dan penuh dengan gambaran personalitynya yang jenaka. Saya sering tergelak sendirian jika membaca jurnal-jurnalnya. Tapi kali itu saya tertegun, kalimat itu terasa sangat satir, mengingatkan saya pada kata-kata seorang teman yang memang benar-benar merasa keberadaannya hanya diakui saat orang lain membutuhkan bantuannya.

Suatu hari, dari news feeds bbm di smartphone, saya membaca status bbm si sulung (Zahra) mengguratkan kekesalan :

”Kadang CAPEK Cuma aku yang PEDULI !!.”

Kalimat kemarahan yang diikuti emoticon kegusaran. Saya tak terkejut, seberapa kali sulung saya ini membuat status bbm yang bernada keluhan atau kegusaran, sekian kali pula saya akan mengingatkannya untuk hanya membagi status-status yang baik saja. Berusaha mengingatkan bahwa status di akun publik apapun tak elok jika digunakan untuk mengekspresikan hal-hal yang negatif,

“Menyindir atau ngomel-ngomel di status itu bukan kita banget lho teh. Bagusnya buat status yang bikin teteh atau yang baca jadi semangat, kan jadi amal shalih ya”. Biasanya saya akan menuliskan hal-hal seperti ini segera setelah membaca status bbm-nya (untungnya Zahra tak aktif di facebook ataupun twitter meskipun dia memilikinya).

Tapi, tentu saja di luar chatting bbm dengan Zahra saat gadisku itu sedang jauh, akan berlanjut di rumah dalam suasana yang lain. Dari lisannya saya mendapati  ternyata ada saatnya Zahra “lelah” dan merasa ‘dimanfaatkan’ bahkan dieksploitasi oleh teman-temannya saat mengerjakan tugas kelompok dari sekolah.  Sebenarnya saya sudah mengingatkan Zahra,  walaupun ia kerap menjadi ketua di kelompok belajarnya, tapi itu tidak berarti semua tugas harus dikerjakan olehnya seorang diri.

“Adanya kelompok belajar berarti ya semua tugas harus dikerjakan secara team, teh. Bukan sama teteh sendiri”

kata-kataku yang jika Zahra sedang bersemangat  hanya akan dijawabnya dengan kata-kata :

”Gapapa Mi, mereka pada bilang nggak bisa, jadi gimana lagi daripada nggak dapat nilai, ya udah teteh aja yang kerjain”.

Saya sering hanya bisa menghela dan hembuskan nafas, satu sisi hati  iba melihat kerja kerasnya yang sering mengurangi waktu istirahatnya di tengah menumpuknya jadwal dan tugas sekolahnya, sisi yang lain ingin melihat juga kesabaran dan keikhlasannya tumbuh. Bagaimanapun, saya percaya  dengan kemampuan Zahra selama ini, dan kepercayaan yang diberikan oleh guru dan teman-teman di sekelilingnya adalah baik untuknya. Tinggal menanamkan nilai apa yang harus dipegangnya sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapinya.

 

***

Dalam alam pergaulan kita sebenarnya bisa tak henti-hentinya menemukan hal seperti ini, karena memang sebagai bagian dari entitas sosial, tak dipungkiri kita manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Dari lingkungan terdekat kita belajar saling membantu dan menolong secara alami. Ayah dan ibu menolong kakek dan nenek, orang tua membantu anak- anak, kakak membantu adik, adik menolong kakak, anak menolong orang tua, dan sebagainya hingga meluas ke lingkungan yang lebih jauh.

Sayangnya, mungkin  kita sudah banyak kehilangan kepedulian, memaknai syukur kepada Tuhan hanya  sebatas ucapan, lupa berterima kasih, lupa menengok ke belakang, ada orang-orang yang punya andil dalam kebaikan hidup kita sekarang.

Seorang ibu bisa jatuh dalam kesedihan manakala melihat anak-anak yang selama ini selalu ia prioritaskan dalam hidupnya  lebih mengutamakan teman-temannya.  Seorang istri bisa jatuh dalam kekecewaan saat melihat suami yang ia percayai ternyata tak sebaik persangkaannya.  Seorang suami bisa  jatuh dalam kegusaran saat melihat istrinya tak seusai dengan keinginannya. Seorang ayah bisa jatuh dalam kemarahan saat mengetahui anak yang dibanggakannya melakukan sesuatu yang memalukan. Seorang teman bisa jatuh dalam kedukaan kala sahabat yang selalu ia bantu dalam banyak urusan ternyata kerap mengabaikannya.

Tak ada saling menghargai, tak ada saling memuliakan, tak ada saling menjaga perasaan dan kepercayaan, maka dimanakah jika demikian saling mengasihi dan saling menyayang ?

 

Dalam tak sedikit meme-meme di media sosial  hal ini menjadi satir yang dibercandakan.

“Da aku mah apa atuh, cuma bubuk rengginang di penggorengan”, “da aku mah apa atuh, cuma minyak jelantah bekas ikan asin”, “da aku mah apa atuh, cuma uang seribuan kertas udah sobek, diselotip sama plester terus dibuang”.

Kalau sudah membaca kalimat-kalimat kocak bernada minder nan pesimis itu, di situ kadang saya merasa sedih 😀 .  Tak sedikit orang yang kehilangan optimismenya hanya karena kurangnya empati dari orang-orang yang justru telah ia bantu dan paling dekat dalam hati dan hidupnya

“The person you love the most is mostly the one who can hurt you”

Orang yang paling kau cintai, adalah ia yang paling mampu menyakiti hati. Tentu saja, tak sesiapa yang hanya melintas sekejap di hidup kita yang sanggup menyakiti hati sebesar yang bisa dilakukan orang-orang terdekat kita.

Jika mereka berharga, maka merekalah seharusnya orang yang pantas dimuliakan. Keluarga, sahabat, tetangga, orang-orang yang pernah berjasa dalam hidup kita, kepada mereka sepantasnya diberikan setinggi-tinggi penghargaan, sehangat-hangat kemesraan, seindah-indah terima kasih. Setidaknya, jika tak bisa memberikan yang terbaik, jangan lukai perasaannya.

Tetapi, tak selamanya madu berbalas susu, kadang ia bertimpal tuba dan bisa (racun). Meski kebaikan terus menerus diberikan kepada orang yang tak bisa menghargainya akan mendidik sabar dan keikhlasan kita, namun jika dirasa telah merugikan tak salah untuk dilepaskan.  Dalam salah satu twitnya, seorang penulis sekaligus konsultan hak cipta dan intelektual Risa Amrikasari menulis :

“Saat menyadari bahwa kamu telah memperlakukan seseorang jauh lebih baik daripada yang selalu dilakukannya kepadamu, saatnya untuk memikirkan kembali “Apakah dia pantas mendapatkannya ?”. Jika tidak, lupakan dan tinggalkan. Setiap pengalaman yang datang dan pergi dalam hidup adalah pelajaran berharga.” (@RisaHart).

Karena kita berhak bahagia.  Karena kita sangat berhak bahagia.

Semoga jangan ada “Da aku mah apa atuh” di antara kita ya ^_^

Iklan

5 thoughts on “Da Aku mah Apa Atuh

    edi padmono said:
    02/03/2015 pukul 11:49 pm

    Hidup itu mengacu pada hukum aksi reaksi, memberi maka akan menerima, peduli akan dipedulikan dan percaya akan dipercayai. Nilainya akan sebanding jadi tidak usah dirisaukan tentang balasan apa aksi kita, karena reaksi yg sama besar akan kita terima. Jika ternyata tidak berbalas tanyalah diri sendiri seberapa besar kualitas aksi yg kita berikan.(komen membingungkan 😀 )

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/03/2015 pukul 11:56 pm

      Kenyataannya banyak reaksi yang tak sebanding dengan reaksi. Betul, maka tak usah merisaukan imbalan. Di sini kita jadi belajar ttg ketulusan. Sebetulnya, kasih tak pernah bertepuk sebelah tangan. Ada Tuhan yg Maha Membalaskan.

      (komen ngigau)

      Suka

    desinamora said:
    03/03/2015 pukul 10:05 am

    hmm.. agak kurang setuju dgn Risa Hart, memang tak mudah untuk selalu sabar atas perlakuan yang kurang baik dari orang lain. Namun, Tuhan sangat suka orang selalu sedia samudera maaf utk setiap insan yg berbuat salah, apalagi yang mengaplikasikannya. tapi beda untuk kasus zahra Mak Adem 🙂

    Suka

    Ani Rostiani said:
    03/03/2015 pukul 3:00 pm

    begitulah hidup, neng win … kadang kita sebagai orangtua dituntut untuk bisa memberi arahan yang positif buat anak2, tak selalu mudah tapi bagaimana lagi, itulah tugas kita, baik sbg ortu maupun sbg pribadi. Di situ kadang saya suka sedih hehe … Tak boleh lelah menanamkan kebaikan dan kebenaran, sebab bila kita lelah siapa yang akan lanjut menanam?
    (koment kamanawae hihi …)
    Salam sono ti Garut

    Suka

    itsmearni said:
    03/03/2015 pukul 5:53 pm

    Sukaaaa banget sama tulisan ini. Semoga kelak kita bisa menjadikan anak2 kita menjadi pribadi yang optimis memandang hidup tapi sekaligus bersahaja sehingga tak perlu merasa paling bisa dan paling benar

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s