Menerima dan Cinta

Posted on Updated on

That which doesn’t kill us, will makes us stronger”. (Friedrich Niezcth).

Ya, apa yang tak membunuh kita (seberat apapun kesulitan), itulah yang akan membuat kita lebih kuat. Berapa banyak orang-orang hebat yang kita tahu pastilah pernah melalui hal-hal berat dalam hidupnya. Dan lebih dari itu, bukanlah hidup yang sesungguhnya jika berjalan mulus saja tanpa cobaan dan rintangan bukan ?

Keyakinan ini selalu saya genggam erat sejak saya mulai merasakan banyak pengalaman tak menyenangkan bahkan meluka perasaan. Saya menunggu saat-saat baik dan melawan ketidak nyamanan dengan penerimaan dan percaya bahwa Tuhan tak pernah mengabaikan.

Rintangan dan Beban Berat

Bermula dari saya mulai berjilbab saat kelas 3 SMA. Di masa itu gadis remaja berpakaian muslimah  untuk kesehariannya masih belum banyak. Masa dimana pelajar berpakaian muslimah dianggap asing oleh lingkungan sekitar karena saat itu, orang berpakaian kurung dan berkerudung hanya ada di pesantren-pesantren atau sekolah-sekolah berbasis agama. Masa dimana gadis yang ingin mempertahankan jilbabnya bisa terusir dari sekolahnya sendiri.

Saya tak hanya mendapat tekanan dari sekolah, tetapi juga dari keluarga besar untuk menanggalkan kembali jilbab yang saya mulai yakini sebagai sebuah tuntutan agama.

Seringkali saya berangkat sekolah dengan mata sembab karena mendapat tekanan dari beberapa fihak.

Dalam keadaan seperti itu, seorang teman menawarkan persahabatan yang dengan senang hati saya sambut hangat. Menemukan teman yang sama berjilbab kala itu seperti menemukan oase di tengah gurun sahara, lega dan bahagia.

Singkat kata, lalu saya dikenalkan dan diajak beraktivitas di sebuah kumpulan yang saya kira hanya kumpulan pengajian remaja biasa. Tapi, ternyata itu bukan kumpulan seperti yang saya duga sebelumnya, melalui bai’at dan segala doktrinnya saya terikat selama bertahun-tahun di dalamnya. Meski  pada awalnya saya rela menjalaninya sebagai sebuah penyerahan total kepada Allah dan RasulNYA, namun di tengah perjalanan saya mulai boleh tahu apa sesungguhnya yang saya masuki dan menemukan banyak kejanggalan dan ketidaksesuaian antara apa yang selalu mereka tanamkan dengan prakteknya di intra organisasi dan hal-hal kurang pas kepada masyarakat umum di luar lingkaran kami. Hati saya mulai berontak, tapi fisik dan lisan seolah terkunci.  Bagaimana kau bisa berontak jika keluar dari ikatan mereka dianggap kemurtadan dari Islam seluruhnya ? Saya takut, dan terus berada di sana meski akhirnya saya harus kehilangan hak untuk menentukan sendiri arah masa depan saya. Kehilangan hak untuk memilih dan memutuskan hal-hal penting dalam hidup saya.Bahkan kepada orang tuapun saya tak berani mengadukan semua itu karena bicara kepada orang tua dianggap pengkhianatan.

Masa remaja saya dihabiskan untuk mengabdi di sana hingga diperjodohkan dengan sesama anggota organisasi dan dikarunia keturunan.

Setelah melahirkan anak pertama, ujian semakin berat. Atas nama tanggung jawab kepada organisasi dimana saya diserahi tugas membina beberapa anggota wanita, dengan terpaksa harus berpisah kota dengan suami yang bekerja di Jakarta dan seminggu sekali pulang, itupun waktunya untuk kami harus terbagi dengan kewajibannya beraktivitas di organisasi.

Bertahun -tahun dalam keadaan seperti itu saya jalani tanpa bantuan siapapun. Sering tiba-tiba terbangun tengah malam karena sesak nafas dan jantung berdebar-debar, namun saat diperiksa oleh ahli medis semua organ saya dinyatakan baik-baik saja. Menurut dokter saya mengidap psikosomatic, yakni gejala faal yang disebabkan kecemasan atau beban fikiran.

Pernah di suatu malam, saya hanya berdua dengan zahra yang masih bayi, tiba-tiba saya terbangun karena sesak nafas dan mual berkepanjangan. Segera saya menghubungi suami yang sedang di luar kota bukan untuk meminta bantuan karena sadar jarak yang jauh memisahkan tak memungkinkan dia bisa segera datang. Saya menelfonnya untuk memohon maaf dan berpamitan serta menitipkan Zahra kecil karena saya merasa tak lama lagi saya akan meninggalkan dunia fana ini. Tapi, suami bertindak cepat dia hubungi orang tua saya yang lalu melarikan saya ke rumah sakit. Orang-orang di organisasi tak pernah mau tahu segala kesulitan itu. Dan saya tetap terbelenggu.

Yang Dekat Lalu Pergi

Sejak saya aktif di organisasi yang saya ceritakan di atas, saya dituntut untuk selalu menjaga agar keberadaan kami tetap rahasia . Tapi saya berusaha tetap menjaga silaturahmi dengan orang tua meski dalam keadaan terbatas .

Dulu saya merasa antara idealisme dan keseharian bisa saya handle dengan baik. Namun tetaplah rahasia besar yang dijaga telah membentangkan jarak antara saya dan Mama. Mama tahu ada yang tak beres dengan saya tapi saya terlalu kuat menjaga rahasia. Kami sering berdebat terutama tentang kenapa saya bertahan di Bandung sedang suami di Jakarta. Bukankah itu jarak yang tak seberapa menurut beliau. Saya kebingungan menghadapi dilema antara nasehat orang tua yang mengharuskan tinggal bersama suami dan perintah pimpinan organisasi unuk tetap tinggal terpisah. Entah kenapa dulu saya dan suami lebih mendahulukan kepentingan organisasi daripada nasehat orang tua meski terasa berat di hati.

Hingga pada akhirnya Allah memberikan jalan, DIA membuka hati suami untuk bersama-sama berlepas diri dari keadaan itu. Dan akhirnya suamiku memutuskan untuk hijrah ke kota Bogor memboyong kami sekeluarga dari segala tekanan. Meski beberapa fitnah sempat menimpa disebabkan keluarnya kami dari organisasi itu, tapi kami menerimanya sebagai sebuah konskuensi. Kami anggap itu adalah tanda cinta mereka karena bagaimanapun kami telah berada di dalamnya selama bertahun-tahun.

Sayang, kemerdekaan kami tak diiringi kabar gembira dari keluarga besar. Di saat saya sedang dekat-dekatnya dengan Mama, beliau divonis mengidap Leukemia (kanker darah). Masa kecil yang bahagia dengan Mama yang  sempat tercuri di masa remaja karena organisasi itu kembali terampas saat pada akhirnya Mama tak bisa lagi bertahan. Di senja 12 Juli 2011, Mama menghela nafas terakhirnya.

Penerimaan

Tak ada bahkan setitis airpun yang jatuh ke bumi di kegelapan malam  melainkan dalam sepengetahuan Tuhan. Segenap diam dan gerak semesta ini tak terkecuali berada dalam kuasaNYA.  Demikian pula yang terjadi pada saya, tak saya tepiskan adalah qadarNYA semata. Maka karenanya saya menerimanya sepenuhnya.

Saya percaya, jika Allah yang menggiring semua ini kepada saya maka itu pasti baik untuk saya.

Sejak dulu, jika merasa sedang melintasi masalah yang berat dan terjal, saya selalu mensugesti diri :

“Aku wanita yang baik, aku wanita terhormat, aku disayangi, aku bersama Allah, Allah menjagaku”.

Atau salah satu do’a yang selalu menjadi senjata dan perisaiku :

“Bismillahilladzii laa yadhurruhu ma’a ismihi syai’un fil ardlhi walaa fissamaa’i wahuwas samii’ul ‘aliim”.

Dengan membawa do’a dari Nabi itu kemanapun aku tenang. Sebuah do’a yang kuhafal baik-baik karena iapun do’a andalan seorang pejuang Afganistan bernama Ahmad Pana saat sedang menghadapi agresor Rusia pada perang dunia dulu kala.

Meski kadang terselip kesedihan, namun saya tak menyesali apa yang sudah terjadi. Kini saya merasakan damai dan mencintai segenap hidup saya.

Bahwa kesukaran bagaimanapun beratnya tak bisa membunuh cinta dan kebahagiaan saya selama saya menerimanya dengan lapang dada dan terus melangitkan harapan akan kehidupan yang lebih indah, tak hanya didunia ini melainkan juga kelak di SyurgaNYA. Aamiin.

 Postingan ini diikursertakan dalam giveaway Echaimutenan

Iklan

21 thoughts on “Menerima dan Cinta

    Iwan Yuliyanto said:
    03/02/2015 pukul 5:47 am

    Kalau sudah berada dalam organisasi yang kegiatannya penuh rahasia, apalagi harus tunduk dan patuh terhadap organisasi tersebut semenjak di-bai’at, … waah betapa seperti hidup dalam penjajahan. Terjajah akal dan pikiran.
    Alhamdulillah, mbak Winny sekeluarga bisa lepas dari pengaruh itu. Merdeka kembali. Tidak ada kata terlambat untuk membangun kembali pondasi-pondasi keluarga untuk bersama-sama berikrar menuju jannah-Nya.

    Dari pelajaran masa lalu itu, semoga kedepannya kita semua bisa menjadi peka dan kritis, bahwa sesungguhnya Islam itu tidak memberatkan umat-Nya.

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/02/2015 pukul 4:57 pm

      Aamiin. Iya betul mas Iwan, banyak sekali pelajarannya. Alhamdulillah semuanya sudah berlalu. Semoga Allah selalu menjaga kita semua ya.
      Terima kasih berkenan singgah mas

      Suka

    edi padmono said:
    03/02/2015 pukul 5:57 am

    Mudah mudahan kedepannya selalu diberikan kebahagiaan.

    Suka

    Maya Siswadi said:
    03/02/2015 pukul 7:32 am

    Badai pasti berlalu ya maaakk

    Suka

    Inda Chakim said:
    03/02/2015 pukul 7:54 am

    Deg deg an bacanya mak.
    InsyaAllah, buah dr perjuangan emak terasa manisssss sekali.
    Slm buat zahra ya mak 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/02/2015 pukul 5:00 pm

      Terima kasih mbak Inda sayang. Insya Allah salamnya nnti disampaikan. 🙂

      Suka

    senjasusanti said:
    03/02/2015 pukul 8:57 am

    Setuju teteh…pelukerat

    Suka

    rodamemn said:
    03/02/2015 pukul 10:14 am

    indah sekali pesannya 🙂 makasih sudah berbagi mak :*

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/02/2015 pukul 5:02 pm

      Kembali kasih mak Dame, semoga ada hikmahnya untuk yang baca. Setidaknya saya sekarang sudah lega.

      Disukai oleh 1 orang

    itsmearni said:
    03/02/2015 pukul 2:36 pm

    Ya ampun mbak, sesek rasanya saat membaca ini
    Untungnya sekarang mbak winny udah lepas ya 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/02/2015 pukul 5:04 pm

      Alhamdulillah mbak. Semoga bisa jadi manusia yg lebih baik ke depannya. Aamiin. Terimankasih ya mbak Arnie 🙂

      Disukai oleh 1 orang

    damarojat said:
    03/02/2015 pukul 10:53 pm

    oh…serem sekali mak. alhamdulillaah sudah merdeka ya mak.

    Suka

    Astin Astanti said:
    04/02/2015 pukul 3:27 pm

    Mak Winny, ceritamu sungguh indah, akhirnya apa yang membuatmu damai dan tenang kau ambil ya,Mak.sukses kontesnya

    Suka

    rita asmaraningsih said:
    07/02/2015 pukul 7:48 pm

    Syukurlah Mak sdh keluar dari aturan organisasi yg membelenggu hidup mak Winny.. Semoga kedepannya bisa lebih rileks menjalani lingkungan yg baru tanpa ada aturan2 yg mengikat..

    Suka

    echaimutenan said:
    03/03/2015 pukul 9:59 pm

    aku nangis :”)
    kita sama mak…aku pernah juga ikutan gitu…tapi g lama…:”)
    mungkin karena g sejalan sama gaya gilaku :”) sampai berantem sama ortu juga…

    peluk teh winny…semoga mama bahagia disana ya mak :
    btw, makasih dah iktan ga ku

    Suka

    momtraveler said:
    07/03/2015 pukul 7:00 am

    Duuuhh ngerinya mbak… syukur mbak winny udah gpp sekarang. Memang betul ya kata Allah setelah kesulitan ada kemudahan. Moga2 mb.winnie n keluarga bahagia selalu 🙂

    Suka

    bukanbocahbiasa said:
    07/03/2015 pukul 8:10 am

    Masya Allah, maaak… Merindiiiiing bacanya.
    Alhamdulillah, Allah selalu beri jalan dan perlindungan yaaa…

    Btw, congratssss yaaa… Menang GA-nya Mak Echa. Emang keren bingitsss!

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s