Surau Kenangan

Posted on Updated on

banner

Kalau bukan karena GA, mungkin kisah ini tak pernah saya simpan disini. Selain itu bisa jadi, menuliskannya di blog memang  lebih baik daripada di tempat lain, hati misalnya #eh. ^_^

Somehow it’s happened so long ago.

***

Kalau diingat-diingat, jatuh cinta apalagi pacaran tidak termasuk dalam list perencanaan saya dulu saat remaja. Saya lebih asyik dengan kegiatan-kegiatan di sekolah dan menekuni hobi.

Menurut penerawangan ngasal, dulu sampai sekarang ding saya termasuk orang dengan kepribadian introvert banget . Semacam agak kalem cenderung kurang gaul begitu. Di era saat teman-teman seusiaku senang jalan di mall, makan dan nonton bioskop bareng sahabat-sahabat, saya tidak termasuk mereka yang ikut di dalamnya. Merasa kurang nyaman saja dan agak pemborosan juga untuk ukuran uang saku saya waktu itu hehe.

Jujur, kalau dihitung-hitung saya baru merasakan menonton film di bioskop  hanya tiga kali seumur hidup. Dua kali bersama ortu dan sekali bersama sahabat saat SMA. Saya dan juga keluarga lebih suka nonton film bagus di rumah yang bisa bebas duduk selonjoran sampai tiduran tanpa ribet dengan segala hal seperti biasanya orang yang akan hang out.

Sekitar masa-masa SMP akhir sampai pertengahan saat kuliah dulu itu saya lebih senang jalan-jalan di tempat / alam terbuka.  Lebih semangat memenuhi ajakan teman untuk mendaki gunung, menjelajah hutan atau merambah pedesaan di luar kota. Di luar itu tak ada lagi selain karena memang saya mulai sibuk aktif di organisasi remaja.

Mungkin karena beberapa pertimbangan keamanan *ups* dulu saya acapkali menjadi tempat curhat teman. Aman, karena yang suka curhat itu kebanyakan teman saya dari kelompok pecinta nge-mall garis keras. Sedang saya yang dicurhati adalah pendukung naik-naik ke puncak gunung radikal. Jauh memang. Jadi aman, potensi curhatan mereka bocor keluar sedikit sekali. 😉

Dari curhatan-curhatan teman itu saya kemudian menjadi skeptis dengan yang namanya pacaran. Memang manis, sampai saya aja kadang ikut melayang dengar cerita yang lagi naksir-naksiran. Tapi alamak, cinta yang katanya sejuta rasanya itu koq bikin banyak teman saya jadi galau. Wah jangan sampai begitu deh. Bersyukur, selama sekolah tak sampai tergoda. Jikapun dekat dengan orang, saya lebih nyaman kebersamaan yang tanpa pernyataan. Saling suka dalam diam dan benak menduga-duga saya fikir itu lebih manis dan memang hanya sekian hak terbesar anak-anak seusia kami saat masa SMA dulu.

Tapi nyatanya, taqdir sering kadang tak mengikuti kata hati. Apa yang sudah dijaga, bisa lepas juga. Terkhusus soal rasa.

Suatu hari, unit keputrian dari sekolah saya mengadakan kunjungan ke sebuah pesantren di daerah Tasikmalaya Jawa Barat dalam rangka menjalankan program belajar agama selama sepuluh hari di bulan Ramadhan.

Semuanya lancar dan baik-baik saja selama berada di pesantren. Saya dan teman-teman putri menempati satu kamar yang sering disebut dengan istilah kobong bercampur dengan santriwati lain untuk menginap.

Namun mulai hari ke tiga dan hari-hari berikutnya semuanya jadi terasa “lain”. Sejak hari itu ada seseorang yang selalu duduk di belakang Kyai pimpinan ponpes di setiap beliau memberikan taujihnya di masjid setiap habis shubuh dan maghrib. Saya sendiri tak tahu apakah sang pendamping itu santri senior atau seorang ustadz juga yang rutin mengisi jadwal muhadharah di mesjid raya. Yang pasti, dia hampir selalu hadir di setiap dua waktu belajar itu. Dan karena mulai terbiasa, ada rasa kehilangan jika dia tak nampak di sekitar sana. Baru belakangan saya tahu, ternyata dia adalah salah satu santri senior yang sedang menjalani masa pengabdian di almamaternya sebagai tenaga pengajar.

Hanya sebatas itu saja saya mengenalnya. Tahu nama, tapi tak berarti apa-apa karena rombongan dari sekolah kami akhirnya selesai mengikuti program pesantren kilat itu dan harus kembali ke Bandung.

***

Times flies, saya bahkan sudah lupa kenangan di Tasikmalaya. Sampai sebuah pesan pendek di yahoo messenger (YM) datang dengan nama pengirim yang membuat saya terkesiap. Sebuah nama yang dulu pernah saya kenal. Saat itu saya sudah bekerja di sebuah rumah sakit di Bandung di bagian finance. Saya masih bertanya-tanya, bagaimana orang ini bisa menemukan saya disini. Tapi belum lagi pertanyaan saya terjawab, dia mendahuluiku bertanya kabar dan menyampaikan bahwa ia sudah bekerja di sebuah institusi di Surabaya. Tak lama ia menyapa, namun selanjutnya ia rutin bertandang dalam email walau hanya sekedar mengucapkan salam semata.

Tak ada harapan berlebih, meski tak dipungkiri selalu senang saat kami berbincang,  saya tetap mensikapi hubungan itu hanya persahabatan biasa. Ada satu kondisi yang membuat saya merasa tak mungkin menjalin rasa dengan orang yang saya sukai. Maka akhirnya saya selalu menolak jika dia berhasrat untuk berkunjung ke rumah.

Hingga suatu saat saya dikejutkan dengan emailnya yang lain yang mengatakan dia ada tugas pelatihan di Bandung selama seminggu dan meminta untuk bertemu. Saya bingung dan merasa tak punya alasan lagi untuk menghindar. Selain memang, sisi lain hati sayapun menginginkannya. Akhirnya sayapun  menyetujuinya, kami akan bertemu tak lama lagi

***

 Langit senja yang membentang di atas taman kota saat itu entah seperti apa rupanya. Saya lupa memperhatikanya, mungkin karena saat itu taman cukup ramai didatangi pengunjung atau mungkin juga karena saya gugup, terlalu sibuk mengatur nafas dan jantung  berdegup.

Pandangan saya menyapu seluruh taman yang begitu luas, tak nampak sosok orang yang saya kira tak akan terlalu jauh berbeda dengan yang pernah saya lihat dulu di pesantren.

Beberapa detik kebingungan, mulai ragu, apakah ini keputusan yang benar untuk menemuinya. Sampai sebuah figur nampak mendekat. Langkah dan matanya mantap tertuju kepada saya, entah kenapa tiba-tiba rasanya lutut saya lemas.

Dia memilihkan tempat duduk yang masih tersisa kosong di taman dan kami perlahan mulai asyik dalam percakapan.

Tak terasa, hari makin menyenja. Suara adzan maghrib mulai menggema. Dia menunjuk ke arah surau mungil yang berada di seberang tempat duduk kami mengajakku shalat bersama.

Surau kecil itu nampak agak sepi, hanya beberapa orang yang melaksanakan shalat disana. Meski menjadi penduduk Bandung sejak lahir, tapi itu kali pertama saya sembahyang di surau taman kota ini. Masih sedikit tak percaya, beberapa meter disana seseorang yang dulu melintas dalam fikiran saya sedang menghadap Tuhannya dan setelah itu kami akan kembali berjumpa.

Saya selesai shalat lebih mula hingga bisa melihat punggungnya saat ia mengucapkan salam. Allahu, benarkah ini nyata? Diakah pria yg dulu hanya bisa saya pandang dari shaf belakang mesjid pesantren ?.

Tak lama kemudian ia sudahi shalatnya lalu keluar meninggalkan surau. Saya mengikutinya, dan tunggui ia mengikat tali sepatunya. Aduhai betapa sederhananya cinta, hayati hening di serambi surau bersama.

Sisa waktu yang sangat berharga. Percakapan terakhir hanya sekian menit lagi. Detik-detik senilai jutaan tahun cahaya.

Saya menepis beberapa permintaanya, salah satunya berkenalan dengan keluarga saya. Saya tak berani membawa ini lebih jauh. Dan lalu esoknya adalah penyesalan selamanya. Dia kembali ke kotanya tanpa harapan lebih.

Saya sendiri tak bisa mengantar kepergiannya. Tapi dia telah membawa sepotong hati saya. Saya masih berharap suatu hari dia akan kembali. Kembalikan separuh milik saya paling berharga. Dan mungkin kita bisa berbincang lebih lama. Saling memandang lagi pendam rasa yang tertera di bola mata.

But it was so long ago.

***

Artikel ini diikut sertakan  dalam “My First Love Giveaway” Aprint Story 

Iklan

30 thoughts on “Surau Kenangan

    myfingerspeak said:
    29/01/2015 pukul 8:50 am

    It was so long ago. But the first love never go, deep in your heart.
    Kisah yang manis mbak Winny, sukses tuk GAnya..:)

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/01/2015 pukul 9:16 am

      Hehe semanis apa mbak ? Makasih udah mau baca ya 🙂

      Suka

    nh18 said:
    29/01/2015 pukul 8:50 am

    Ciya ciya ciyaaaa
    (Udah gitu aja komennya)

    Salam saya Teh
    (29/1 : 1)

    Suka

    Inda Chakim said:
    29/01/2015 pukul 8:58 am

    Cieeee mbak winny, bisa sehening itu ya mbak.. so sweet bgd dah. Ikut deg2an jg bacanya *loh?

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/01/2015 pukul 9:19 am

      Hihihi…iya hening banget, tambah suara jangkrik jadi krik krik krik krik …..
      :-p

      Suka

    jampang said:
    29/01/2015 pukul 9:29 am

    uhuyyyyyy…..

    Suka

    edi padmono said:
    29/01/2015 pukul 10:45 am

    Ikutan om NH ah……cie…cie…..eh putar lagu kahitna dulu lah biar makin syahdu……. 😀

    Suka

    susanti dewi said:
    29/01/2015 pukul 11:30 am

    maniiis….. banget mba… 🙂

    Suka

    Pakde Cholik said:
    29/01/2015 pukul 11:41 am

    Semula saya menduga di si doi adalah yang sekarang ini.
    Bukan ya ha ha ha ha
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/01/2015 pukul 12:56 pm

      Hihihi bukan pakdhe, gantung banget deh ceritanya. Tapi tapi tapi, ahh sudahlah ..

      ^_^

      Suka

    itsmearni said:
    29/01/2015 pukul 12:01 pm

    Aduh endingnya bikin penasaran
    Sekarang dimanakah dia?

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/01/2015 pukul 12:59 pm

      Hehehe asyiiik ada yg penasaran. Bisa buat bahan tulisan lagi nih xixixi. Tu bi kontinyu ya mbak Arnie ^_^

      Disukai oleh 1 orang

    selseya said:
    29/01/2015 pukul 1:04 pm

    Aduh mba winny sampe ikut2an deg2an hehe
    Cieee~ ahhaha
    Jd mbak winny dulu anak gunung? Wah keren 😀

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/01/2015 pukul 1:20 pm

      Ahaha sekarang masih degdegan gak mbak ? Wah baguslah berarti masih normal ehehehe

      Iya saya anak gunung lain bapak lain ibu ((^_^))

      Suka

    rizka said:
    29/01/2015 pukul 2:53 pm

    Jadi ikut merasakan cinta dalam diam..:)

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/01/2015 pukul 3:11 pm

      Psssttt …. gimana rasanya mbak ? Kasi tau dong ^_^

      Suka

    rodamemn said:
    29/01/2015 pukul 7:38 pm

    begini rasanya baca first love-nya orang-orang hihihi, koq aku yg deg deg an ya bacanya, endingnya masih bikin penasaran nih 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      30/01/2015 pukul 7:14 am

      Hihi aku juga degdegan lagi kadinya waktu nulis ini mak. Waduh GA yg ini sesuatu deh ya (^_^)

      Suka

        rodamemn said:
        30/01/2015 pukul 10:45 am

        hihi iya ya idenya ada aja 🙂

        Suka

    zaitunhakimiah said:
    30/01/2015 pukul 6:54 am

    Aaakkk… baca ceritanya jadi ikutan meleleh …

    Terus kelanjutannya gimana sekarang?

    Suka

    senjasusanti said:
    30/01/2015 pukul 8:53 am

    huhuhuuu…cinta petama yg syahdu teteh ^_^

    Suka

    Titik Asa said:
    31/01/2015 pukul 7:51 am

    Ah first love…
    Betapa indah, betapa menggetarkan…

    Salam,

    Suka

    yulia said:
    18/02/2015 pukul 9:30 am

    Hiks..terharu bacanya..top deh mak

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s