Sedekah, Keajaiban Hati

Posted on Updated on

Jujur, saya selalu mengagumi para orang tua dahulu yang telah menggenapkan seluruh usianya dengan sifat pemurah kepada sesamanya. Bersedekah bukan sekedar hiasan, sebaliknya ia mengiringi setiap hembus dan hela nafasnya dengan selalu berbagi, seolah tak bisa hidup jika tanpanya.

Di masa kecil, saya sering melihat ibu saya menyisihkan uang logam recehan ke dalam kaleng bekas kornet untuk sewaktu-waktu diperlukan semisal memberikannya kepada pengemis-pengemis yang datang ke rumah.

Jika uang recehan dalam kaleng sudah cukup banyak, ibu saya menyodorkannya kepada saya dan adik saat akan pergi mengaji dan berpesan :

Beli keripik singkong yang banyak ya. Bagi semua teman-temanmu, jangan sampai ada yang kecewa”

Dan jadilah sesorean itu kawan-kawan saya girang mengudap keripik singkong gratis. Dari moment-moment seperti itulah Winny kecil tahu, betapa bahagianya bisa berbagi rejeky.

Mungkin itu jugalah yang ibu saya rasakan, selama hidup hingga akhir hayatnya tak putus bersedekah meski kadang hanya dengan tak seberapa nominal rupiah. Diantara keluarga besarnya, ada saudara-saudaranya yang meski sudah berumah tangga tapi belum sepenuhnya mandiri. Kepada ibu sayalah tempat mereka mengharap bantuan. Hingga ibu saya wafat, hanya kebaikan mendiang ibu sayalah yang selalu menjadi kenangan indah untuk dipercakapkan setiap kali kami bertemu.

Adalah salah seorang ulama di Lombok Nusa Tenggara Barat pimpinan sebuah pondok pesantren putri Nurul Haramain telah mencuri perhatian saya.

Dengan uang tabungannya beliau membeli ribuan hektar tanah Lombok yang tandus secara bertahap untuk kemudian beliau tanami dengan aneka jenis pepohonan hingga padang gersang berubah teduh dan sejuk menjadi hutan dan savana hijau nan rimbun dan subur.

Tak hanya petak kebun, pinggiran jalan yang masih kosongpun tak luput dari kemurahan tangannya, menanaminya dengan pohon buah-buahan agar bisa dimanfaatkan dan dimakan penduduk desanya.

Saya masih ingat sari wajah istrinya kala diwawancara sebuah TV swasta :

Tak ada yang saya khawatirkan dari Tuan Guru (ustadz) kecuali beliau sering jadi lupa makan kalau sedang mengurus bibit-bibit tanamannya. Tuan guru tak pernah menolak siapapun yang meminta bibit-bibit tanaman yang beliau pelihara. Ia sedekahkan dengan ikhlas berapapun banyaknya bibit yang susah payah dipelihara. Jika ada orang yang berkeras membayar bibit tanamannya tuan guru hanya berkata : Pertemukanlah mereka dengan bumi. Jika mereka terus hidup dan tumbuh, kelak mereka yang akan mendo’akan saya”

Air mata saya tak terbendung jatuh mendengar ucapan berharga itu. Tak terpikir oleh saya bersedekah dengan tanaman diantara sekian banyak sedekah-sedekah orang selevel beliau seorang tuan guru, pimpinan pondok pesantren dengan bergunung-gunung pengabdian tetapi masih ingin didoakan. Hebatnya, yang diharapkan mendoakan adalah tanaman-tanaman yang pernah beliau rawat besarkan.

Tapi, ada sesuatu yang menggelitik rasa penasaran saya. Diantara sekian taujihnya saya kemudian mengetahui sedikit kisah ayah beliau yang seorang ulama juga ; Tuan guru Juaini.

Tuan guru Juaini ini adalah seorang pendidik dengan penghasilan tak seberapa. Selain harus menafkahi istri serta anak-anaknya, beliau juga harus menanggung biaya hidup saudara-saudara serta beberapa santri yang tinggal di rumahnya. Tak terhitung berapa banyak pengorbanan dalam sedekahnya kepada keluarga dan para santri serta penduduk desanya selama beliau berjuang mengelola pesantrennya.

Disini saya sering merenung, begitu banyak pertanyaan di dalam benak. Mencermati kehidupan tuan guru Juaini serta keluarganya yang rasanya tak henti-henti didera kesulitan dan penderitaan.

Di masa muda mereka, ebagai pasangan menikah tentu suami istri ini menghendaki memiliki keturunan. Namun dari sejak anak pertama hingga ke enam yang dilahirkan, seluruhnya meninggal dunia di usia masih bayi. Hingga sang istri hampir saja jatuh pada keputus asaan tak menghendaki hamil dan melahirkan anak lagi jika harus tersakiti dengan kematian mereka disaat mereka sedang lucu-lucunya.

Namun taqdir menginginkan lain, istri tuan guru Juaini hamil lagi untuk ke delapan kalinya. Hingga si anak lahir ke dunia, dibiarkan Tuhan tumbuh dan hidup melebihi usia kakak-kakaknya. Namun cobaan belum lelah hinggap di pundak keluarga sederhana ini. Di usianya yang ke tujuh tahun, si anak wafat karena sebuah kecelakaan. Si ke delapan tertabrak mobil yang melaju tak terkendali pada saat sedang wudhlu dengan saudara sepupunya.  Dan bertubi-tubi lagi ujian berat lainnya sampai suami istri Juaini akhirnya memiliki putra putri 14 orang.

Apa yang saya gelisahkan adalah pertanyaan di hati ; “Bagaimana Tuhan masih memberikan cobaan berat kepada keluarga ahli sedekah ini ? Sedang saya sering melihat dari media-media yang saya baca, orang-orang banyak yang berbesar hati menduga kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya adalah disebabkan amal dan sedekahnya. Mengira seujung kuku infaq  sedekahnya telah dikembalikan Allah berlipat-lipat kali dalam wujud harta benda yang dimiliki ?”

Lalu bagaimana dengan tuan guru Juaini, tuan guru Hasanain, atau sesiapa para ahli sedekah namun hidupnya masih diliputi keterbatasan ? Dimanakah keajaiban sedekah yang sering kali digaungkan ?

Aduhai betapa dangkalnya pemahaman, betapa mahalnya kebijaksanaan. Sungguh, Allahlah Sang Maha Mengetahui segala. Saya telah lupakan apa yang pernah saya sendiri rasakan. Rasa bahagia saat bisa memberi, rasa gembira saat dimampukan berbagi. Sedekah adalah pembebasan !

Maka jika ditanyakan apakah keajaiban sedekah itu ? Bagi saya, keajaibannya adalah kemauan untuk sedekah itu sendiri sebagai rahmat dari Tuhan sang Maha Penyayang.

Hatimu tersentuh iba, tubuhmu bergerak menjumput bagian dari kepingan dunia yang kamupun menyukainya, namun kamu tak merasa berat memberikannya kepada orang lain yang membutuhkannya.

Betapa ajaibnya hati yang disentuh sifat luhur Ilahi. Tak semua orang dikarunia kemudahan memberi. Tak semua orang senang menolong dan berbagi. Saya rasa itulah anugrah yang sejati.

Tak menjadi soal apakah kehidupan masih terasa berat penuh jabaran. Jangankan kesenangan duniawi dalam lembaran rupiah ataupun benda berharga, sedang surga akhiratpun tak dikaruniakan Tuhan kepada hamba-hambaNYA melainkan semata-mata karena rahmatNYA.

Namun jikapun ada sebagian fihak yang meyakini bahwa segala kelapangan hidupnya disebabkan sedekah-sedekahnya dan amal-amal kebaikannya sayapun menghargai pendapatnya. Bisa jadi sedekah memang telah menjadi  jalan rejekinya.

Saya hanya sedang menakjubi hati sesiapa yang padanya Allah basahi indahnya pandai bersyukur dengan senang bersedekah sebagai pemberian yang baik dari sisiNYA.

Indahnya sedekah.

Screenshot_2015-01-28-04-52-05
Taken from google images
Iklan

8 thoughts on “Sedekah, Keajaiban Hati

    edi padmono said:
    28/01/2015 pukul 5:38 am

    Ingin bahagia? sedekahlah maka Allah akan membahagiakanmu

    Disukai oleh 1 orang

    Nunung Yuni Anggraeni said:
    28/01/2015 pukul 7:48 am

    Terima kasih atas partisipasinya ya. Terima kasih telah berbagi inspirasi 🙂

    Suka

    itsmearni said:
    28/01/2015 pukul 11:22 am

    Makasi sharingnya mbak
    Sungguh ya berbagi dengan ikhlas itu luar biasa

    Suka

    momtraveler said:
    28/01/2015 pukul 1:07 pm

    sedekah itu memang luar biasa ya mak, balasannya tu kadang bisa langsung lo, bahkan berkali2 lipat besarnya 🙂

    Suka

    Nefertite Fatriyanti said:
    28/01/2015 pukul 7:10 pm

    sedekah juga mengasah hati agar menjadi lembut

    Suka

    Inda Chakim said:
    31/01/2015 pukul 5:37 pm

    Kisahnya menyentuh bgd mak. Sangat inspiratif. Tfs ya mak winny n sukses yak

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/02/2015 pukul 5:08 pm

      Terima kasih ya mbak. Sukses iuga untuk mbak Inda 🙂

      Suka

    Murtiyarini said:
    03/03/2015 pukul 9:29 am

    Halooo juri numpang baca…goodluck

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s