Think Before Nyinyir

Posted on Updated on

Akhir-akhir ini saya suka terkaget-kaget sendiri, mengetahui sisi lain pribadi orang-orang yang selama ini saya kenal.

“Eh, dulu kayaknya beliau santun dan bijaksana, tapi kenapa status bbm sama fb-nya sekarang jadi suka nyinyir ya ?”

“Lho, koq bisa cowok suka drama korea ya ?”, atau

“Ternyata di balik kekalemannya, si anu gokil juga” atau

“Nggak nyangka deh, dia bisa bikin tulisan kayak gitu, sekarang kurang respect jadinya” dan sebagainya.

Meski penilaian-penilaian itu hanya berputar-putar di kepala, tak urung membuat saya terkejut lagi :

“Koq bisa sih kamu menilai orang segampang itu Win, cuma dari obrolan-obrolan singkat atau membaca status mereka sekilas pintas.”

Begitu cepatnya refleks ini bekerja, menilai seseorang dari selubang kunci intipan maya dan menghasilkan kesimpulan pendek tanpa riset tanpa data.

Apa ya sekarang ini yang nggak bisa dikomentari ? Dengan begitu banyaknya ragam media ; informasi maupun komunikasi, mudah sekali kini memantau dan mengetahui keadaan orang lain. Mulai dari hobi, profesi, aktivitas sehari-hari dengan begitu detail, bahkan dari hobi seseorang foto selfie kita bisa tahu persis berapa dan dimana letak andeng-andeng atau lesung pipinya secara persis.

Sejak para inventor narablog dan media (massa, elektronik maupun media sosial) memanjakan dunia dengan segala kemudahan mengunggah dan membagi informasi, sejak itu pula terjadi gelombang euforia exibishm dalam segala bentuk dan tingkatannya.

Namun dampak dari itu pun tak kalah hebatnya, orangpun menjadi begitu mudahnya bereaksi atas berbagai informasi yang diterimanya. Melalui media yang terus bergerak dengan segala latar belakang kepentingannya, orang kini bebas memberikan opini, persetujuan ataupun penolakannya atas suatu issue. Dunia cyber kini riuh dengan status dan gambar, bising oleh saling berbalas komentar.

Nyinyir, adalah istilah yang saya rasa paling familiar saat ini. Dipakai dalam banyak sekali opini baik dalam suatu thread maupun reply. Meski seolah telah disepakati bahwa si nyinyir ini tak disukai oleh para penggagas maupun obyeknya yang sedang dibahas, nyatanya dunia jurnalisme, blogging maupun socmed tak bisa lepas dari aktivitas itu atas nama “mengkritisi”.

Yang menyedihkan dari kemudahan bermedia ini adalah tatkala orang tanpa merasa bersalah dapat melempar opini secara sporadis dengan diksi yang tendensius kepada publik hanya berdasar pada info dari sumber berita yang datanya diambil tidak sesuai dengan prosedur jurnalisme yang benar hingga diragukan keakuratannya dan otomatis diragukan juga kebenarannya. Jika kemudian berita yang sudah terlanjur dilemparkannya itu terbukti salah dan menuai kecaman, lalu tanpa merasa bersalah juga ditinggalkannya tanpa konfirmasi, tanpa klarifikasi.

Letih sekali menyaksikan orang beradu kata bahkan kerap dalam bahasa yang tak berbudi. Perbedaan apapun akan menjadi pemicu perselisihan. Segala yang datang dari fihak bersebrangan akan dipandang apriori sejak awal. Dan apa yang terjadi pada akhirnya adalah penghakiman.

Betapa mengerikan saat sikap ekstrim tanpa malu-malu lagi ditampakkan. Meski kadang kebingungan, kala cadas pernyataan penuh sentimen kepentingan itu justru terunggah oleh pribadi-pribadi yang di dunia maya dikenal sering menebarkan kebajikan. Pesan-pesan agama yang mendamaikan tenggelam oleh provokasi saling memecah belahkan dalam semangat perbedaan. Xenophobia terasa benar kembali dikobar-kobarkan.

Bukankah Tuhan ciptakan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berpartai, berkomunitas, berbeda keyakinan, beraneka kegemaran, beragam kecenderungan adalah untuk saling mengenal ? Supaya semua hambaNYA tahu dan faham bahwa dengan segenap maha karyaNYA ini tandakan bahwa DIA sesungguhnya ada ?. Β Setidaknya itu yang saya tahu dari minimal dari sudut pandang kemusliman saya.

But there’s always oase in wild desert. Selalu ada pelipuran hati di tengah skeptisme melihat ruang baca yang terkungkung panas suasana ini. Selalu menemukan pribadi-pribadi rasional beraura penuh cahaya nan menyejukan. Orang-orang yang hanya sibuk dan sibuk dengan pekerjaannya nan penuh dedikasi dan berintegritas di berbagai bidangnya.

Ada yang bergumul dengan pengolahan limbah menjadi barang recycle, ada yang berkutat dengan reboisasi, penghijauan kembali daratan dengan pepohonan dan tanaman pertanian/perkebunan, ada yang bergulat perjuangkan hak-hak anak dan wanita terabaikan, ada yang tenggelam di dunia pendidikan, ada yang terbang dengan prestasi-prestasi di dunia ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Menelisik aktivitas insan-insan menakjubkan itu jauh lebih mencerahkan dan membakar semangat positif diri bahkan menambah kadar kebahagiaan.

Instead of nyinyir, saya sekarang melihat tak ada yang aneh lagi dengan segala macam perilaku orang lain. Orang punya kesenangannya masing-masing, aktivitasnya masing-masing sesuai dengan keadaan dan kemampuannya. Masing-masing punya life style dan tak harus diselidiki apalagi dikomentari. Terlebih, jika komentar-komentar itu berpotensi meretakkan hubungan baik dan persaudaraan.

Then start sharing goodness, think first before nyinyir.

Screenshot_2015-01-11-20-42-29

Iklan

14 thoughts on “Think Before Nyinyir

    Lusi said:
    11/01/2015 pukul 11:56 pm

    Nice thought mak. Jadi semangat lagi nih habis kena nyinyiran sadis dari orang yg pernah sy support hingga skrg punya percaya diri. Meski no mention tp sy tau itu ditujukan pd saya. Quote terakhir itu bikin sy malah kasihan sama ybs. Menyuruh orang lain bercermin sementara dia sendiri kehilangan cermin. Jadi curhat πŸ˜€

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/01/2015 pukul 12:15 am

      *puk puk mak Lus
      πŸ™‚

      Alhamdulillah kalo mak Lus semangat lagi. Gapapa mak semoga kita dikasi lapang dada ya. Salah satu resiko bermedsos skrg yg sulit dihindari ya mmg dinyinyiri org. Tapi selama kita udh berusaha on the track ga usah sedih mak, semoga yg gak enak itu bisa jadi bahan memperbaiki diri lagi ya.

      Tadi sebelum nulis saya takut lho mak, jangan-jangan saya nulis ini lagi nyinyirin orang juga hehe. Nyuruh org bercermin tp saya sendiri kehilangan cermin seperti yg mak Lus bilang. Ah semoga nggak lah. Makasiih sudah mampir ya mak πŸ™‚

      Disukai oleh 1 orang

    nh18 said:
    12/01/2015 pukul 6:16 am

    Ini tulisan yang bagus Teh Winny …
    Bukan pemikiran yang baru …namun teh Winny berhasil menyampaikan pokok pikirannya dengan kalimat yang bernas dan pilihan kata yang efektif

    Terima kasih Teh …

    Salam saya
    (12/1 : 1)

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/01/2015 pukul 7:00 am

      Terima kasih kembali Om, senang sekali mendapat apresiasi tulisan dari seorang trainer keren. Semoga bisa menulis lebih baik lagi.

      Salam

      Suka

    buzzerbeezz said:
    12/01/2015 pukul 8:06 am

    Bener banget ini. Apalagi kalau nyinyirnya pake kata-kata kasar. Menunjukkan kualitas pribadi orang yg nyinyir itu malah

    Suka

    edi padmono said:
    12/01/2015 pukul 8:32 am

    Siapa teh, cowok koq suka drama korea………:D
    Memang sebaiknya tulisan tulisan yg provokatif dan tidak produktif itu dihindari, karena siapapun bisa mengakses tulisan tulisan itu.

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/01/2015 pukul 9:40 am

      Hehe ada tu temen saya cowok suka drakor, heran deh πŸ˜€

      Suka

    nengwie said:
    13/01/2015 pukul 4:59 am

    Teh Win…ini sayaaa.. πŸ™‚

    Suka

      winny widyawati responded:
      13/01/2015 pukul 5:52 am

      Iya Teteeeh makasih yaaa

      Suka

      lindddd said:
      29/04/2016 pukul 3:44 pm

      Berbicara yang baik, atau diam.

      Suka

        nengwie said:
        29/04/2016 pukul 10:46 pm

        Maksudnya ? πŸ™‚

        Suka

    Astin Astanti said:
    13/01/2015 pukul 10:08 am

    semoga, dijauhkan dari nyinyir…sedang belajar teh…bagaimanapun orang lain adalah yang terpandai melihat sisi buruk kita, juga sebaliknya. Semoga apapun jangan dinyinyirin ach…lebih baik sampaikan sebuah kritik yang membangun gitu y.

    Disukai oleh 1 orang

      winny widyawati responded:
      21/01/2015 pukul 4:50 am

      Iya mak, bacanya aja capek. Ternyata baca yg negatif itu menguras energi ya. Mending baca yg positif2 aja yg bikin happy ya mak astin πŸ™‚

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s