Sang Cinta Tak Bertepi

Posted on Updated on

Seorang anak mungkin bisa menerima cinta ibunya bahkan dari sejak ia belum tercipta. Banyak perempuan yang telah merindukan keberadaan anaknya hanya dari impian-impian kecilnya.

Tapi seorang anak mungkin baru sanggup menghayati kasih ibu jauh sesudah segalanya berlalu. Misalnya, saat iapun telah menjadi seorang ibu. 

Mamaku dulu seorang guru, seperti juga Papaku dan nenekku. Sejak kecil, aku dan dua adik terbiasa dengan anak-anak didik orang tuaku dan buku-buku.

Tak ada yang terlalu bagiku dalam memandang kehidupan kami waktu itu. Sebagai keluarga guru lain sewajarnya begitupun juga keadaan keluarga kecil kami. Kadang menikmati kelapangan bisa ikut Mama mendampingi murid-muridnya berwisata sambil belajar, di waktu lain ikut juga menikmati saat-saat kesulitan menemani Mama membungkus singkong balado untuk dijual sekedar menambah penghasilan.

“Allah Maha Baik, kita dikasih sehat aja harus bersyukur. Kalau belum bisa seperti temanmu punya sesuatu (Mama menyebutkan barang-barang yang kuanggap mewah milik orang tua temanku orang kaya sebelah rumah yang sering aku sebut-sebut di hadapan beliau) mungkin cuma soal waktu. Teteh (panggilan Mama kepadaku) terima kasih dulu sama Tuhan, dikasih sakit aja harus terima kasih apalagi dikasih sehat. Kan kita jadi bisa berbuat baik”

Kebaikan dan kesehatan, hanya itu kira-kira kata yang paling sering kudengar dari Mama. Beberapa dari sekian hal penting yang kemudian aku merasa harus dekap erat dan selalu syukuri.

Sebagai anak guru yang sederhana dan tinggal di lingkungan rumah orang-orang berkecukupan, terkadang aku atau adikku pulang dalam keadaan menangis karena disakiti teman. Tapi yang kuingat Mama hanya memeluk kami lekat, tak pernah ia mempersoalkan perlakuan orang lain. Dan membiarkan kami lupa dan bahagia lagi dengan buku-buku yang beliau pinjam dari perpustakaan sekolah.

Ahh, Mama dimanapun memang selalu menjadi penyebab rindu. Saat sedang hari hujan dan di rumah bersendirian, pastilah sosok  Mama dahulu muncul dalam ingatan. Melindungi tubuh kecilku rapat-rapat dari percikan hujan bermantelkan tangan dan perutnya yang dahulu juga pernah kusesak sempitkan selama sembilan bulan. Kenangan-kenangan kecil yang masih selalu berkelindan hingga di kehidupanku sekarang.

Mama mungkin tak sekuat wanita manapun yang pernah dikisahkan orang. Ia hanya seorang ibu biasa, tak ada kisah heroik yang mungkin sebanding dengan milik ibu-ibu temanku lainnya yang bisa kutuliskan. Yang kutahu, Mama hanya setulus itu. Semisal disaat-saat kerudungku tak diterima oleh sebagian besar orang. Saat mana remaja yang ingin mulai menutup auratnya dianggap radikal dan pemberontak nakal.

“Winny kan masih SMA, kenapa pake jilbab ?. Tunggulah sampai kuliah, atau nanti kalau sudah menikah”

Itu salah satu bentuk “keprihatinan” halus yang kerap disampaikan keluarga besarku bahkan juga dari Papa di masa itu, disamping teguran halus lain yang rutin kuterima juga dari fihak sekolah. Pernik-pernik peristiwa yang kerap membuatku menangis dan gelisah.

Mamalah yang kemudian laju menjadi penengah. Memberi pengertian kepada mereka dalam usahanya yang sebenarnya juga terus mencoba memahamiku. Mama tahu, aku sulit diubah.

“Mama belum mengerti soal kewajiban jilbab. Kalau Teteh mau terus memakainya, boleh. Tapi ajarin Mama ya, dan jangan buat Papa sedih. Ngobrollah sama Papa. Papa begitu kan sebenarnya karena kasihan sama Teteh”

Ya, aku tahu Papa sayang padaku. Kekurang bijakanku melihat waktu membuatnya tak siap melihat perubahanku. Namun karena Mama, lambat laun sikap Papa melunak, semakin hari semakin pudar keraguannya padaku dan jilbabku. Karena Mama Papa tahu, ia tak akan kehilanganku.

Namun dari Mama pula aku kenal kemandirian. Aku tak punya cerita  didampingi Mama saat jelang hingga detik-detik melahirkan. Aku juga bergulat dalam ketidaktahuan  mengurus keluarga tanpa bantuan.Tapi aku tahu Mama selalu ada mendoakan disaat aku dalam apapun keadaan.

Akupun dididiknya tak mengumbar masalah apapun termasuk rumah tangga kepada siapapun bahkan kepada dirinya. Menunjukkan padaku bukan rumahnya tempatku merajuk saat ada kesulitan.

“Setelah menikah, suamilah sahabat dan rumah terbaikmu. Bicarakan semua cukup dengan dia”.

IMG02168-20130606-1813

Jika segala sesuatu harus berlalu maka demikianpun dengan waktu.

Disaat semua terasa baik-baik saja. Dikala Mama dan Papa sedang nikmati masa pensiunnya berdua. Disaat kebahagiaan terasa lengkap sempurna dalam saling mengunjungi anak cucunya. Tiba-tiba kabar itu menghantam kami semua.

Setelah satu tahun melintas dan Mama baru saja pulih dari penyakit stroke-nya, seorang dokter bermimik dan berintonansi suara dingin sampaikan kabar duka; Mama mengidap Leukemia stadium empat.

Tak ada yang tak menangis di antara kami putri-putrinya mendengar kanker darah kini telah menggerogoti tubuh Mama. Papa segera mengumpulkan kami anak menantunya tanpa sepengetahuan Mama dalam hening dan mata berkaca-kaca, menyampaikan ulang vonis dokter dengan tutur yang lebih santun tentang penyakit yang sedang diemban istri yang dicintainya. Mengajak kami semua menemani Mama dalam pengobatannya.

Sejak itu kami semua berjuang mencari pengobatan yang tepat untuk Mama. Dalam diam dan dugaannya Mama pada akhirnya menemukan firasatnya bahwa penyakitnya bukanlah penyakit biasa. Mama menolak tahu detail penyakitnya hanya karena ingin tak terlalu banyak mengeluh dan mengasihani diri. Mama juga menolak kemoterapi dan segala test medis yang menyakiti. Mama hanya ingin menjalani waktunya dengan pengobatan alternatif yang dipercayainya.

Berbulan-bulan kami berjuang dalam kebersamaan demi kesembuhan Mama. Aku rasa Papalah yang paling tegar, Namun nyatanya Mamalah yang paling sabar.

Setelah sekian lama Papa menjadi nakhoda perkasa nan tabah, setiap hari dan malam mendampingi Mama dimanapun. Berselancar di internet berinvestigasi, menelpon sana sini mencari informasi, mengunjungi siapapun pengobat terprediksi. Hingga suatu saat beliau limbung, disebab kecemasan yang terlampau. Mamalah lalu yang usapkan belai ketegaran. Ingatkan suami dan kami semua bahwa itulah ujian kesabaran.

Sering aku mendengar malam-malam Mama menguat teguhkan Papa sambil mengelus punggungnya. Mama tahu belakangan Papa sering termenung sendirian. Mama juga yang mengingatkan, agar aku dan adik-adik juga memperhatikan Papa.

“Mama kan sedang berobat, Papa yang harusnya diperiksa juga ke dokter Teh. Jangan-jangan Papa juga sakit. Jangan terlalu fokus sama Mama”.

Ya, siapalah yang paling mengenal Papa selain Mama. Ternyata Mama benar, Papa yang tak pernah menampakkan derita apapun selama ini sedang mengidap sakit serius di daerah perut dan harus menjalani operasi besar. Mamalah lalu yang tiup sulutkan bara selalu agar semangat kamipun tak ikut surut.

Dan kalau bukan karena kanker yang mencabik kekuatannya, kamipun tak akan tahu ketabahan Mama. Dalam tubuh ringkihnya, Mama selalu berusaha penuhi panggilan shalat ke masjid, tertatih dituntun adik, Mama juga masih bersedia hadir di forum pengajian ibu-ibu lingkungan rumah kami. Dalam tatap dan tetes air mata semua yang hadir Mama sholat berjamaah duduk sendiri di sebuah kursi.

Hingga jarum detik menunjuk waktu. Mama dan Papa sedang ingin pulang, berada di rumah mereka sendiri di Bandung setelah sekian lama tinggal di rumahku untuk menjalani pengobatan. Bersama keluarga adikku Mama dan Papa ingin menjenguk kampung halaman.

Di senja 12 Juli 2011, datang berita Mama dibawa ke rumah sakit. Aku gegas menyiapkan diri dan keluarga yang akan kutinggal di rumah untuk menemani Mama selama beliau di rumah sakit. Entah apa yang menimpa Mama adikku tak banyak menyampaikan kata.

Dalam tak separuh perjalanan, aku menerima kabar lain. Rupanya itu bukan perjalananku demi merawat Mama terkasih. Itu perjalanan panjang tanpa ujung, untuk akhir pertemuan tanpa salam perpisahan.

“Mama sudah meninggal, Teteh”

Seketika aku lesap ke jurang hampa terdalam. Suara adikku terisak dalam telfon masih terngiang di ruang pendengaran. Dan seakan seluruh percakapan dengan Mama di sejak kecilku hingga telfon terakhirnya diputar ulang tanpa jeda.

Allahumaghfir ummii, warhamhaa, wa ‘afihaa wa’fu anhaa …

***

Kadang seorang anak baru menghayati cinta ibunya setelah ia pergi. Dan lalu merindukannya, di setiap derik nafasnya hingga kelak ia berhenti. Menyaksi bahwa ia lah sang cinta tak bertepi.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.

  

Iklan

29 thoughts on “Sang Cinta Tak Bertepi

    Nurliah kartohadiprodjo said:
    03/12/2014 pukul 8:11 am

    Neng Winny leres ka Ibu mah,tambih lami tambih karaos kanyaahna sanaos tos teu aya,sejalan sareng peran urang nu janten ibu oge….anu sederhana,nu pinter,nu kumaha wae.moal aya nu sapertos ibu nyalira…margi kanyaahna nu teu kagentosan teh….

    Disukai oleh 1 orang

      winny widyawati responded:
      03/12/2014 pukul 12:54 pm

      Hiks janten nangis deui maos seratan ibu. Emut ka Mamah nu mikanyaah. Hatur nuhun ibu.

      Suka

    adeanit4 said:
    03/12/2014 pukul 8:12 am

    Uwaaaa…… SEDIHH…
    Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. .. semoga mamammu memperoleh tempat terbaik di sisi Allah

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/12/2014 pukul 12:55 pm

      Aami ya Rabb. Terima kasih do’anya buat mamaku mbak Ade sayang

      Suka

    Hastira said:
    03/12/2014 pukul 9:51 am

    sedih ya, jadi ingat waktu bapakku meninggal juag, sehari sebelumnya beliau datang lewat mimpi untuk jaga ibuku baik2. Maam selalu ada di setiap langkah kita

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/12/2014 pukul 12:58 pm

      Semoga alm Bapak sudah bahagia sekarang ya mak, dan moga Ibu selalu dalam penjagaan Allah ya, aamin

      Suka

    Kakmoly said:
    03/12/2014 pukul 10:18 am

    Allahummaghfirlaha, warhamha wa’afiha wa’fu anha. Semua yang bernyawa pasti mati. Semoga ibunya teteh dikasih kelapangan kubur, dikasih penerangan disana dan diberi tempat terbaik sama Allah di surga. Aamin.

    Suka

    Pakde Cholik said:
    03/12/2014 pukul 11:17 am

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/12/2014 pukul 1:01 pm

      Terima kasih sudah berkunjung dan didaftarkan sebagai peserta pakde

      Suka

    Pakde Cholik said:
    03/12/2014 pukul 11:18 am

    Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    Suka

    jampang said:
    03/12/2014 pukul 1:11 pm

    mamah yan sungguh luar biasa

    Suka

    Melly Feyadin said:
    03/12/2014 pukul 2:29 pm

    Hiks, semoga mamah tenang disana, ya mbak 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/12/2014 pukul 7:17 pm

      Aamiin terima kasih doanya Melly sayang. Semoga Melly juga sehat terus ya, aamiin. 🙂

      Suka

    Diah Woro Susanti said:
    03/12/2014 pukul 6:55 pm

    Mbrebes mili lagi, aku. Mama memang makhluk luar biasa. Semoga mama selalu memdapat rahmat-Nya #peluk

    Suka

    winny widyawati responded:
    03/12/2014 pukul 7:21 pm

    Terima kasih mak Diah. Aamiin ya Rabb.

    Suka

    desinamora said:
    03/12/2014 pukul 11:26 pm

    ahhhh berlinang juga nih mata Bunda, sedih niaann. allohummagfirlaha warhamha waafiha wa’fuanha.. peluk Bunda winny 🙂

    Suka

    lozz akbar said:
    04/12/2014 pukul 10:57 pm

    Semoga amal ibadah Mama mbak Winny di terima di sisi Allah aamiin..

    yakin deh.. tulisan ini juaranya.. sukses mbak WIn

    Suka

    nh18 said:
    07/12/2014 pukul 9:28 am

    Kita sama-sama anak guru ya Teh … 🙂

    Semoga Mama tenang di sana ya Teh …

    Salam saya
    (7/12 : 1)

    Suka

      winny widyawati responded:
      18/12/2014 pukul 1:04 pm

      Aamiin, terima kasih do’anya Om Nh. Semoga yg lebih baik jg teruntuk orang tua Om.

      Suka

    edi padmono said:
    15/12/2014 pukul 9:04 pm

    Sebesar apapun kasih seorang ibu dan bapak tidaklah begitu dirasa oleh anak anaknya karena anak anak hanya bisa meminta dan meminta serta membandingkan dengan yang ia rasa lebih beruntung. Ketika anak itu dewasa maka barulah akan sadar atas besarnya kasih sayang orang tuanya dan akan terus merindukannya.

    Suka

    Reni Judhanto said:
    18/12/2014 pukul 12:51 pm

    Wah Mbak Winny bisa menggambarkan sosok Mama dengan cukup detail. Sementara aku kemarin ~karena terburu-buru~ hanya bisa menggambarkan sedikit sekali sosok Ibuku. Hikss…..

    Suka

      winny widyawati responded:
      18/12/2014 pukul 1:52 pm

      Nggak bisa detail kayaknya mbak kalo nulis ttg mama. Kalo dibaca lagi, jauuh banget dr yg sebenarnya lebih hebat (dalam pandanganku sebagai anaknya) dr mamaku. Mungkin memang kita nggak akan pernah bisa menggambarkan cinta ibu kita bahkan sekedar mendekati aslinya ya mbak. Tapj dari tulisan mb Reni, aku jadi sedikit mengenal hebatnya ibu nda mb Reni, padahal mbak bilang mbak nulisnya kurang detail ya mbak.

      Suka

    Lusi said:
    20/12/2014 pukul 5:56 pm

    Al Fatihah untuk Mama.:)

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s