Cermin Cermin di Dinding, Siapakah Yang Terbaik di Dunia ini ?

Posted on Updated on

Cermin, cermin di dinding, siapakah wanita tercantik di dunia ini ?”

Ada yang merasa familiar dengan kalimat di atas ?

Yup, itu cuplikan dialog seorang tokoh ratu jahat kepada cermin ajaibnya dalam salah satu cerita favorit masa kecilku (mungkin masa kecilmu juga ya terutama yang perempuan ūüôā ; Snow White.

Kalimat yang menjadi bagian penting cerita karena kekhasannya yang tak pernah ada dalam cerita-cerita lain sesudahnya dan tentu saja menjadi lekat dalam benak saya sejak saya membaca kisahnya pertama kali sampai sekarang dimana riwayat itu sudah bermutasi berkali-kali ke dalam karya-karya tulis dan cynema dalam berbagai versi sekarang ini.

Yang ingin saya telisik dari penggalan dialog antara sang ratu dan cermin ajaib itu bukan pada isi percakapannya yang berkisar hanya pada update berita tentang siapa wanita tercantik di dunia saat itu menurut versi si cermin, saya justru penasaran dan pada akhirnya mengagumi cara berfikir Brothers Grimm, penulis film animasi Walt Disney yang pada tahun 1937 bertajuk Snow White and the Seven Dwarfs itu.

Screenshot_2014-10-10-22-30-30

 

Penasaran, mengapa diperlukan session dialog antara seseorang yang sedang bercermin dengan cerminnya tentang kecantikannya.

Menurut saya ini bukan sekedar karena : “Namanya juga cermin ajaib, apapun bisa terjadi kalau sesuatu disandingkan dengan kata ajaib.”

Atau “namanya juga dongeng, kalau nggak ada yang aneh namanya bukan dongeng”.

Dan kekaguman saya muncul saat memahami bahwa point of interest percakapan antara sang ratu jahat dan cermin itu sesungguhnya bukan pada keajaiban cerminnya, tapi justru pada keajaiban si penulis menuntun saya untuk memahami hakikat bercermin.

Sebetulnya untuk apa sih saya bercermin selama ini ? Apakah supaya terlihat rapi di depan orang lain ? Apakah supaya terlihat pantas di mata orang lain ?

Apakah ini selalu tentang pandangan orang lain ? Kenapa saya tidak bercermin untuk diri saya sendiri ? Untuk memahami siapa saya sesungguhnya. Benarkah saya sebaik yang selalu saya kesankan kepada khalayak ? Benarkah apa yang selalu orang-orang percaya tentang diri saya ?

Tak terbayangkan, seandainya cermin di rumah saya bisa berkata-kata seperti dalam cerita, pasti pingsanlah saya mendengar semua kekurangan saya.

 

Cermin Sejati

Cermin, semungil apapun ukurannya, bahkan walau hanya serupa serpihan sekalipun, selama dia miliki sifat-sifat kecerminannya adalah benda paling jujur yang kita miliki.

Dengan cerminlah kita bisa melihat diri kita sebenarnya. Menelisik segala kekurangan dan kelemahan pribadi, dan karenanyalah, kita jadi bisa memperbaiki diri.

Ya, cermin memiliki kemampuan untuk membantu kita mengevaluasi penampilan ragawi. Maka ialah pula yang paling berjasa ¬†kepada kita dalam membentuk “kesempurnaan” jasadi, setuju ? ūüôā

Tetapi, cermin apakah yang sanggup memantulkan bayangan diri kita paling sejati ?  Yang bisa mengabarkan kekurangan ilmu dan kesuraman hati ? 

Sebelum mencari jawabannya, baiklah kita mencari dulu tanda-tandanya. Tak sulit mencarinya, belakangan ini melalui kemajuan media kita dengan mudah bisa menemukannya.

Hari ini kita berhidup di dunia yang tiada sehari berlalu tanpa konflik. Dari yang terdahsyat berupa peperangan antar negara antar kelompok ideologi hingga peperangan gagasan dalam dunia maya dunia komunikasi.

Yang masih tertinggal dalam ingatan sekarang adalah vandalisme narasi dan anarkisme kata-kata berkaitan persaingan pilpres 2014 Jokowi – Prabowo, perseteruan KMP – KIH, perdebatan ibu bekerja/working mom – ibu rumah tangga/SAHM (stay at home mom), konflik ide ASI – SuFor dsb. Banyak alasan kita untuk bertengkar ya. Padahal didalam sana, sebelumnya adalah jiwa-jiwa baik yang saling menyapa, saling berbagi, saling tertawa.

Semua berawal dari hal yang mulia sebenarnya. Bermula dari kebanggaan atas sesuatu yang kita pilih atas nama tanggung jawab dan penghormatan pada apa dan siapa yang kita cintai.

Saya misalnya, bahkan sejak usia kanak-kanak cita-cita duniawi saya tertinggi diantara cita-cita lainnya adalah menjadi ibu rumah tangga. Tentu dengan segala latar belakang dan alasannya.

Pada saat mimpi itu menjadi nyata, tentu menjadi sangat wajar pabila saya merasa bangga dengan apa yang telah saya capai. Tetapi, menjadi tidak baik manakala diatas kebanggaan saya itu, saya lalu “mencibir” bahkan merendahkan orang lain yang memiliki pilihan hidup berbeda meski cibiran itu hanya saya pendam didalam fikiran saya. Bahkan, menjadi hal yang nista, saat saya kemudian mengungkapkan kebanggaan dan cynical/sinisme itu di muka khalayak.

Semua baik-baik saja manakala kebanggaan itu bahkan pencibiran itu berhenti hanya didalam fikiran. Ia hanya akan menjadi masalah, saat mulai dipublikasi dan diungkapkan.

Sayang disayang. Justru ini yang sedang menjadi trend sekarang. Alat komunikasi intra umat serupa jejaring sosial yang sejatinya netral kini menjadi ajang perseteruan.

Dan sungguh-sungguh teramat sayang, saat ada yang mengingatkan justru ialah yang paling diserang. Kini orang lebih suka membela diri dibanding merunduk dihadapan nasihat. Tak kuat kritikan, lebih senang memutus pertemanan.

“Kalau tak suka, ya sudahlah tak usah melihat”.¬†

“Kalau tak senang, silakan unfriend !”

“Kalau benci, pergilah cari negaramu sendiri”

“Kalau muak, blokir sajalah !”

Aduhai tak terasakah betapa banyak waktu dan besar upaya untuk menjalin persahabatan ? Hanya dengan setitik culas dan sesentuh jemari kita jadi kehilangan kawan yang nilainya bisa jadi lebih mahal dari seisi dunia ?

Padahal nasehat dan kritikan itulah cermin sejati kita. Cermin paling jujur paling berharga kita. 

Dari cermin itu kita menjadi tahu, bahwa senyum dalam selfie-selfie kita ternyata aslinya hanya cibir dan kerut kebencian pada sesama. Bahwa segala kerupawanan, ilmu dan kekayaan kita menjadi tak bernilai saat dicemari dengki dan hasut kepada fihak yang dianggap mengusik kita.

Kita memaki para pembully, tak sadar diri kita sendiripun aslinya hanyalah seorang pencaci.

Kalau hanya seperti ini, kapan ya kita bisa berbahagia ? Sedang bahagia itu ada pada hal-hal yang sesungguhnya sederhana. Dimulai dari tulus menerima. Bersangka baik atas apapun yang ada.

Life is short, so love your life, be happy, and keep smiling. Just live for yourself and always remember: 

¬†Before you speak… Listen

¬†Before you write… Think

¬†Before you spend… Earn

¬†Before you pray… Forgive¬†

¬†Before you hurt… Feel

¬†Before you hate… Love

¬†Before you quit… Try

¬†Before you die… Live

(By Shakespare)

Betapa dahsyatnya cermin sejati, tempat berkontemplasi, ruang berintrospeksi.

Kini saya tak perlu bertanya lagi seperti ini :

Cermin cermin sejati siapakah yang paling baik di dunia ini ?

Saya hanya harus dan hanya wajib peka pada sesiapa yang berkenan mengkritisi, rela menerima nasehat baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Mungkin tak semudah yang tertulis, tapi saya dan kita semua bisa belajar melatih diri. Karena saya percaya, secara default kita semua tercipta sebagai pribadi teramat mulia.

*So dear me, be sweet.*

‚̧

 

 

 

 

 

 

Iklan

6 thoughts on “Cermin Cermin di Dinding, Siapakah Yang Terbaik di Dunia ini ?

    lazione budy said:
    13/10/2014 pukul 6:45 pm

    ibaratnya bilang, ini lho gue yang paling cantik sedunia.
    haha…

    Suka

      winny widyawati responded:
      13/10/2014 pukul 6:55 pm

      Hehe kalo bisa ya gapapa, tapi di atas langit ada langit tah ? ūüôā

      Suka

    jampang said:
    14/10/2014 pukul 5:11 am

    orang-orang di sekeliling kita bisa juga jadi cermin buat diri sendiri

    Suka

    bukanbocahbiasa said:
    24/01/2015 pukul 7:17 am

    Duh duh duuuuh, sukaaaa banget ama tulisan ini. Santun, tapi makjleeeb, tepat mengena sasaran! :))

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/01/2015 pukul 7:59 am

      Duh duuuh senengnya dikunjungi mak Nurul. Satu kehormatan sekaliii. Makasih yaaa ^_^

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s