Mengutip Kuntum Hati di Jalanan

Posted on Updated on

Jika bukan pagi, saya akan mencari senja hari hanya untuk sekedar berjalan kaki. Saya senang rekreasi diri serupa ini. Menemukan kembali jalan baru yang pernah dilalui bersama suami, adalah tantangan tersendiri. Dan jika berhasil, itu menurutku prestasi. Tak tersesat itu melegakan hati. (Huffftt …)

Kadang seorang teman bertanya :”Ndak capek jalan jauh-jauh begini ?”

Saya tersenyum dalam hati, padahal, sejak kecil saya terbiasa berjalan kaki lebih jauh lagi. Ya memang waktu masih duduk di bangku SD dan SMP saya pergi dan pulang ke dan dari sekolah dengan berjalan kaki setiap hari karena tak ada kendaraan yang melewati rute perjalanan. Malah senang, waktu dulu itu sepanjang perjalanan ke sekolah selalu disuguhi pemandangan sawah, kebun singkong, burung dan awan-awan.

Tapi kebiasaan senang berjalan kaki saja untuk pulang berulang saat saya duduk di bangku SMA.Kebetulan, jadwal sekolah saat di SMA kerap membuat siswi dan siswanya pulang menjelang petang. Dan adakah yang tahu ? Sepanjang jalan Pasir Kaliki tempat SMAku berdiri adalah jalan teramat romantis untukku kala itu. Tak cuma pemandangan luas membentang karena jalanan itu lebar dan panjang, tetapi juga terdapat satu area jalan  berupa jembatan besar yang di bawahnya terhampar tanah nan lapang tempat rel-rel kereta api berbanjar.

Jembatan dengan pagar-pagar berpilar apik dan lampu jalan bergaya klasik, acapkali membuat langkah saya terhenti hanya untuk merasakan angin, menatap cakrawala senja hari atau sekedar membeli sebungkus keringan mie. Hmmh kangennya ….

Berjalan kaki berteman ataupun sendirian, sungguh memberi kita kesempatan lebih untuk menikmati perjalanan. Mendengarkan suara kejujuran dalam bising keramaian bahkan memberikan kita kedamaian. Apakah lagi jika ia dalam kesunyian petang, saya merasa kehidupan ini sudah lebih dari cukup, lebih dari sempurna. Alhamdulillah.

Itulah pula yang saya rasakan hari kemarin. Saya menelusuri petak-petak dan persimpangan jalan lain. Serupa membuka lembar demi lembar halaman dalam sebuah buku, hati saya bertanya-tanya, hal baru apakah yang akan saya temukan.

Dan pemandangan yang saya lihat kemudian sejenak membawa ingatan saya pada sisi lain dunia kita. Sisi dimana orang-orang saling berdebat tentang kebenaran. Sisi dimana manusia-manusia yang mengaku pandai mengaku paling beriman itu saling menyalahkan saling menindak saling menyerang. Sisi dimana kata-kata tak lagi seiring sejalan dengan apa yang terbuktikan.

Dan lalu saya bertanya-tanya, dalam keadaan seperti itu adakah kita ingat kepada orang-orang seperti dia ? Adakah ?

Seorang bapak tua berjalan menuju sungai. Saya kira beliau sedang membungkuk, ternyata tidak, tapi (maaf) kondisi punggung beliau memang dalam keadaan menyudut 90 derajat, dan semakin saya perhatikan, barangkali beliau seorang tukang suruhan untuk membersihkan kebun orang. Mulanya saya tak mengerti mengapa bapak tua turun ke sungai berair dangkal itu ? Saya khawatirkan beliau tergelincir, tetapi sesudah mengerti berdesiran di hati semakin bertambah lagi. Beliau hanya ingin mencuci pisau dan kakinya yang tak muda lagi.
Seorang bapak tua berjalan menuju sungai. Saya kira beliau sedang membungkuk, ternyata tidak, tapi (maaf) kondisi punggung beliau memang dalam keadaan menyudut 90 derajat, dan semakin saya perhatikan, barangkali beliau seorang tukang suruhan untuk membersihkan kebun orang. Mulanya saya tak mengerti mengapa bapak tua turun ke sungai berair dangkal itu ? Saya khawatirkan beliau tergelincir, tetapi sesudah mengerti berdesiran di hati semakin bertambah lagi. Beliau hanya ingin mencuci pisau dan kakinya yang tak muda lagi.
Ketika sebutan orang-orang seperti mereka diatas namakan dalam setiap perdebatan, nyatanya sebelum dan sesudahnya kehidupan mereka tetaplah dalam kenestapaan. Siapa jika begitu yang sungguh-sungguh kan memuliakan ?
Ketika sebutan orang-orang seperti mereka diatas namakan dalam setiap perdebatan, nyatanya sebelum dan sesudahnya kehidupan mereka tetaplah dalam kenestapaan.
Siapa jika begitu yang sungguh-sungguh kan memuliakan ?

 Ini tentang sekelumit petang, saat mengutip kuntum hati di jalanan.

Iklan

2 thoughts on “Mengutip Kuntum Hati di Jalanan

    jampang said:
    30/09/2014 pukul 4:23 am

    hiks…. semoga kakek itu sehat selalu

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/10/2014 pukul 7:48 am

      Aamiin semoga ya bang. Saya nggak tahu musti gimana waktu melihat bapak itu disana. Smg Allah selalu menolong dan melindunginya.

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s