Bunga-Bunga Silaturahmi

Posted on Updated on

Manisnya Kopdar 

Diantara keasyikan bertemu dengan teman-teman di era kemajuan teknologi sekarang ini adalah terlibatnya gadget dalam keriaan pertemuan . Hampir tak ada moment perjumpaan yang tak “terabadikan”. Sessi selfie, welfie, narsis atau apapun istilahnya pasti menjadi bagian paling seru dan menyenangkan ya. Ruang maya segera menjadi galery foto-foto kopdar dalam bingkai bermacam ragam event. Dan kita yang memandang, sekejap pula larut dalam nikmat kegembiraan itu.

Yang lain dari itu, dan hampir pasti mewarnai setiap jumpa adalah menikmati hidangan, meski tak jadi soal apa yang menjadi kudapan, pertemuan akan selalu mengesankan. Aneka santapan ini biasanya juga akan menjadi bahan favorit pemotretan.

Apapun bentuknya, silaturahmi selalu menjadi hal yang mengesankan. Setidaknya untuk saya. Apalagi jika ia disebabkan karena alasan kerinduan bertemu orang tua, keluarga ataupun teman-teman. Tak masalah dimanapun tempatnya, seberapa lamapun waktunya. Mungkin saya tak berbeda dengan kalian, silaturahmi dengan segala keramaian canda dan tawanya, membuat kita sadar bahwa begitu banyak orang- orang baik yang kita “punya” di sekeliling kita yang kita sayang dan menyayangi kita lalu itu semua membuat kita merasa begitu “kaya”.

Kalau nggak foto bareng dulu itu rasanya ada yang kurang ^_^
Silaturahmi komunitas penulis KEB (Kumpulan Emak Blogger). Foto milik Tri Sapta M.
Makan bersama sambil lesehan di teras rumahpun hayu aja

Sayangnya, saya bukan orang yang memiliki kesempatan luas untuk bisa bersilaturahmi seperti itu sesering yang diinginkan. Dalam satu bulan kemungkinannya hanya satu atau dua kali saja saya bisa mengikuti suatu event bersama teman/keluarga.

Tapi itu bukan masalah, selama jaringan internet lancar, komunikasi masih bisa dijalin, atau setidaknya saya masih merasa terhubung dengan mereka hanya dengan WA, BBM, atau melihat aktivitas online mereka di path, instagram, blog ataupun sosial media. Dengan memandang foto atau bahkan deretan status saja saya sudah bahagia. Saya fikir itupun bunga-bunga silaturahmi yang penting untuk disyukuri.

Bunga-Bunga Silaturahmi 

Silaturahmi tak selalu bermakna bersua muka dan perbincangan antar keluarga atau sahabat. Acapkali saya mendapati silaturahmi sejati justru pada orang-orang yang tidak saya kenali.

Jika sedang ada rezeky, saya lebih cenderung berbagi bukan dengan pengemis. Saya memang tidak berhak menghakimi, tapi saya merasa diizinkan untuk berpendapat, bahwa selagi kita dalam keadaan sehat, sepantasnyalah kita bekerja jujur dan keras untuk mendapatkan nafkah.

Untuk itu, betapa tinggi kekaguman dan rasa hormat saya kepada orang-orang yang betapapun sulitnya keadaan, namun mereka tetap berjuang menjemput rezekynya dengan kekuatannya sendiri. Kepada merekalah seringkali perhatian saya berlabuh. Terkhusus para lanjut usia yang di masa-masa terlemah hidupnya masih bekerja siang dan malam untuk menafkahi keluarganya.

Manula-manula ; penjual snack di pom bensin, pedagang kue atau es dengan gerobak dorongnya, penjual pisang dan pepaya, pedagang sayuran keliling ataupun di pasar-pasar, penjual ikan, penjual cobek batu pikulan, penjual bunga dan sebagainya yang sedikit bicara namun sarat pengalaman menghadapi tantangan hidup. Orang-orang yang di sepanjang usianya mungkin paling jauh dari kemewahan namun paling dekat dengan kesyukuran.

Salah seorang ibu penjual sayuran dan rempah di pasar kecil kami Ciomas Bogor

Selama beberapa tahun terakhir ini, saya sering mendapati di teras rumah saya tergeletak  dua atau tiga sisir pisang dari jenis kesukaan keluarga saya. Kadang-kadang buah pepaya atau yang lainnya. Entah siapa pengirimnya, tapi belakangan saya tahu, ternyata itu pemberian dari penjual buah-buahan keliling yang sering saya beli dagangannya. Bingkisan manis yang mengharukan.

Saya tak menyangka itu adalah cara mereka berterima kasih. Membalas sesuatu yang barangkali mereka anggap kebaikan atas setitis perhatian. Perhatian yang sesungguhnya tak pantas mendapatkan balasan seberarti itu. Saya kerap meneteskan air mata atas budi baik yang kerap saya terima dari orang-orang sesederhana mereka.

Adalah seorang bapak penjual pisang bersosok renta yang dianggap warga lingkungan rumah sedikit “unik” disebabkan keterbatasan beliau dalam berbicara (tuna wicara) dan sikap berlebihannya saat menawarkan dagangannya. Diam-diam saya mengaguminya, dalam keadaannya serupa itu ialah sang penopang keluarga. Pabila ia mendapatkan pemberian orang, sang pak penjual pisang itu kan tertawa kegirangan mirip sekali dengan kanak-kanak usia tiga tahunan. Tawa yang lirih dalam desak kegembiraan, padahal uang yang ia terima tidaklah seberapa banyaknya.

Inilah hal-hal membahagiakan yang menyentuh hati dan meruntuhkan air mata yang tak bisa saya dapatkan dalam silaturahmi-silaturahmi lainnya meski tanpa selfie, tanpa santapan di restoran.

Banyak sekali bapak tua seperti mereka di usia senjanya masih membuat dirinya berguna (foto dipinjam dari babansarbana.wordpress.com)

A picture is worth a thousand words ; sebuah gambar sepadan dengan ribuan kata. Banyak hal yang rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata namun bisa dilakukan oleh hanya sebuah gambar.

Ya, saya sepakati itu,  meski pepatah diatas berbicara tentang fotografi, namun bagi saya perumpamaan yang sama untuk menjelaskan teman-teman manula saya para pedagang kaki lima, bahwa gambaran kehidupan merekapun telah mewakili ribuan kata.

Tiada kalimat-kalimat bijak itu, mereka tak punya ungkapan-ungkapan menggurui. Para pedagang telah sepuh itu bahkan jarang sekali berbicara. Hanya runduk laku dan kesederhanaan saja. Mereka bukan penggemar popularitas, mereka hanya orang-orang yang sibuk melawan kekerasan hidupnya, tak hiraukan seberapa tinggi prestasi, tak pusingkan reputasi. Dalam kesenyapan, seluruh kegigihan dan kesabaran mereka adalah nasehat. Bagi saya, merekalah guru-guru kehidupan.

Betapa indahnya silaturahmi.

Menurutku, silaturahmi bukan hanya tentang seberapa banyaknya perjumpaan, ia juga tentang seberapa besar ketulusan yang ingin kita berikan, hingga terjalin ‘rahim’ (kedamaian dan kasih sayang) dimana tak peduli seberat apa, namun kehidupan nyatanya rahmat Tuhan paling berharga.

Terima kasih Tuhan, atas bunga-bunga silaturahmi ini.
Terima kasih, atas segala cinta.

Tulisan ini, diikut sertakan dalam”GiveAway Indahnya Silaturahmi, Lavender Art”

Iklan

13 thoughts on “Bunga-Bunga Silaturahmi

    irowati said:
    27/09/2014 pukul 4:49 pm

    Dari mereka kita bisa belajar tentang arti bersyukur yg sebenarnya ya mak…
    Terimakasih sudah berbagi cerita dan meramaikan GA saya…

    Suka

      winny widyawati responded:
      27/09/2014 pukul 6:36 pm

      Terimakasih sudah berkunjung mbak, semoga berkenan 🙂

      Suka

    MariaUlfa Binti TM said:
    27/09/2014 pukul 6:29 pm

    bagus banget cerita silaturrahmi nya mbak…

    Suka

      winny widyawati responded:
      27/09/2014 pukul 6:33 pm

      Terima kasih mbak Ulfa, hanya cerita keseharian kita. Senang ya kalo msh bisa silaturahmi 🙂

      Suka

    jampang said:
    28/09/2014 pukul 5:24 am

    wah udah lama banget yang namanya kopdar

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/09/2014 pukul 8:29 pm

      Jangan bilang kopdar terakhirnya yg waktu sama temen2 multiply di pejaten ya. Itu udh lama bangettt

      Suka

    HM Zwan said:
    29/09/2014 pukul 6:29 am

    banyak keberkahan dari silaturahmi ya mak….
    salam kenal mak winny^^

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/09/2014 pukul 6:31 am

      Salam kenal jg mbak, senang bisa bersilaturahmi dg mbak disini 🙂

      Suka

    edi padmono said:
    29/09/2014 pukul 7:59 am

    Silaturahmi itu menambah persaudaraan, melancarkan rezeki dan memanjangkan umur.

    Suka

    Intan said:
    29/09/2014 pukul 10:16 pm

    Terharu dgn tulisannya ummi winny w… smga silaturrahim kita senantiasa diridhoi Allah

    Suka

      winny widyawati responded:
      29/09/2014 pukul 10:48 pm

      Aamiin. Semoga ya dek. Terima kasih sudah berkunjung sayang. 🙂

      Suka

    Bukan Cinta yang Hilang | Diary Winny said:
    20/12/2014 pukul 10:40 pm

    […] “Bunga-bunga Silaturahmi” jurnal yang saya tulis sepenuh hati di medio bulan September 2014 karena mengingatkan saya pada […]

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s