Saat Lomba Menulis Xenophobia Dulu Itu Diuji [Sebuah Kontemplasi]

Posted on Updated on

Ada banyak sekali hal yang dengan diam dan membiarkannya lesap ke dalam pemahaman diri akan jauh lebih baik daripada mengurainya untuk terbaca orang lain lalu ditafsirkan dengan ragam dugaan.

Namun lebih banyak orang memilih menebarkan gagasannya. Mencecerkan jejak pemikirannya yang entah keakuratan dan kejujurannya kemana-mana, tanpa data yang shahih, tanpa hati yang jernih, tanpa cara yang fasih. Lalu tak bersedia menanggung akibat dari apa yang ditinggalkannya.

Sudah sekian lama ide hanya menari-nari di benak saya tanpa tulisan, dan blog ini dibiarkan bisu dari gempita sejarah yang saya saksikan selama berbulan-bulan.

Saya berhenti menulis cerpen dan sama sekali tak tertarik mencatat jurnal atau artikel apapun pada masa pileg dan pilpres 2014 kemarin. Dahaga saya puaskan hanya dengan membaca dan membaca. Sayangnya semua yang saya baca tak lagi jenaka apalagi puisi. Banyak kawan yang saya sayangi tiba-tiba tak lagi saya kenali.

Keberfihakan yang dideklarasikan telah mencacah persahabatan, satu sama lain rela tak lagi saling menenggang rasa pada yang berlainan pilihan bahkan ikhlas saling memutuskan pertemanan. Dunia maya telah berubah menjadi ajang penghakiman. Opini pribadi liar mendampingi link-link tendensius penuh dakwaan.

Tapi saya berusaha tetap mengeja dan sekuat tenaga berupaya tetap bersikap skeptis dengan segala yang bertebaran di ruang wacana baik media massa maupun maya. Hanya itu yang menjaga saya agar tak mudah percaya pada kabar-kabar yang tersebar rata. 

Lalu saya teringat pada sebuah lomba menulis blog yang dahulu pernah diselenggarakan seorang kawan di sebuah platform. Sebuah lomba menulis yang luar biasa dalam pandangan saya mengingat tema yang diangkat dan penyelenggara juga juri yang terlibat serta jumlah peserta yang begitu banyak yang mengindikasikan bahwa banyak sekali yang pernah merasakan atau bersentuhan dengan tema yang dilombakan.

Lomba menulis blog itu mengangkat tema tentang Xenophobia. Dalam Wikipedia versi bahasa Indonesia Xenophobia berarti ketidaksukaan atau ketakutan terhadap orang-orang dari negara lain, atau ketakutan/ketidak sukaan terhadap sesuatu yang dianggap asing / berbeda.

Beberapa definisi menyatakan xenofobia terbentuk dari keirasionalan dan ketidakmasukakalan. Berasal dari bahasa Yunani ξένος (xenos), artinya “orang asing”, dan φόβος (phobos), artinya “ketakutan”).

Dari sedangkal pemahaman saya, fenomena perdebatan di ruang maya tentang pilpres hari ini memiliki sambungan akar pada teori xenophobia ini. Perseteruan kata-kata di ruang komentar akan lebih cepat tersulut jika ia mulai mengusik ruang isme dan ideology yang tak sama. Dan pertikaian di arena nyata dengan mudah diletupkan hanya dengan memantik issue-issue ini.

Sudah tak jelas lagi mana sang provokator pertama kali. Yang pasti, skeptisme yang ditulis dalam selimut keluhan ataupun sindiran hingga memekak dalam hujatan dan makian pada kandidat lawan dan pendukung-pendukungnya bagai tsunami melanda dan menggulung hari-hari kita dalam tabloid, koran-koran dan laman-laman online. Mencabik-cabik jalinan guyub dan kerukunan bangsa ini yang sebelumnya pernah saling tersenyum dalam berbeda-beda warna kita.

Pada ramadhan saya tadharu, “Bahkan pada kekudusan bulanmu kami semua tak malu”.

Kemanakah hati nurani para cerdas cendekiawan serta semua yang merasa berilmu ? Semua merasa menggenggam erat kebenaran, serupa semua orang yang melihat purnama bulan dan berkata “Bulan itu tersenyum kepadaku”. Padahal, bulan tersenyum pada semua orang.

Bukankah setinggi-tinggi ilmu seharusnya adalah yang membuatmu semakin merunduk ? (Ibnu Atha’illah).

Sikap-sikap ekstrim ini muncul pada waktu dan tempat yang tak biijaksana. Disaat mana orang-orang di negeri ini haus dan kelelahan menghadapi nestapa akibat dari ketidak adilan berwarsa-warsa.

Saatmana yang menjadi korban bukan hanya dari kalangan miskin papa yang jumlahnya berjuta-juta, melainkan juga para hartawan dan penguasa yang telah kehilangan maru’ah/ harga dirinya.

Saatmana banyak orang muak kepada sosok-sosok yang dengan seenak telunjuknya menunjuk pada kening selainnya  dan berteriak :

“Kamu salah/ kamu terlarang/ kamu harus begini dan begitu”

Saatmana tak terhingga insan merindu pribadi-pribadi yang tulus, yang tersenyum bukan hanya bibirnya melainkan pula dengan mata dan hatinya, seraya berkata :

“Mungkin saya yang salah, apa pendapatmu tentang masalah ini/ Sebaiknya kita begini/ mari kita bekerja bersama-sama/ini bantuan sederhanaku/ Aku peduli kepadamu”

Sungguh, merendahkan orang lain untuk meninggikan diri/kelompoknya sendiri tak pernah menjadi cara yang elegan. Hanya kerja keras dan ketulusan yang akan selalu menjadi pemenang hati siapapun, dengan label atau tag apapun kita disebutkan.

Ada yang tertinggal dari ramadhan tahun ini, sebuah ingatan tentang sebuah lomba menulis blog di masa lalu bernama xenophobia.

 

 

Iklan

5 thoughts on “Saat Lomba Menulis Xenophobia Dulu Itu Diuji [Sebuah Kontemplasi]

    anggarafd said:
    04/08/2014 pukul 11:37 pm

    Bagus tuh 😀
    Jangan lupa kunbalnya ya 🙂

    http://blog-anggara.blogspot.com

    Suka

    [uth] said:
    05/08/2014 pukul 12:45 am

    Begitulah mbak,
    mungkin memang sedang dikasih kesempatan untuk kita diam, agar lebih bisa memahami kesalahan diri dan mengendalikan diri pula, sambil melihat orang lain yang pongah dengan pembenaran

    Agar kita semakin paham (meski tak harus sepaham) tentang ketidakmauan orang lain dalam memahami sesama, sehingga menjadi xenophobic adanya.
    Pada akhirnya kita juga makin bisa mengerti manusia primordial pun chauvinisme. Manusia yang telah merasa bergolongan paling apik, padahal sejatinya hanya msmh belum begitu mengenal keapikan pihak lain (atau tak mau mengenal keapikan dan lebih mau mencerna keburukan -meski itu fitnah sekalipun-

    Suka

    Susanti Dewi said:
    11/08/2014 pukul 10:58 am

    para petinggi memang seharusnya bisa memberikan contoh yg baik pada rakyat bangsa ini

    Suka

    MartoArt said:
    16/09/2014 pukul 10:29 pm

    Ketenangan yg ‘ngangeni’. Trims tulisannya Winny.

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s