Diantara Tabir Ikhlas dan Pelita Kesabaran

Posted on Updated on

Jujur, bukan hal yang mudah untuk saya memulai tulisan ini. Beberapa kali terpekur, mencoba merenung, beberapa kali pula saya gagal mendapatkan apa yang saya inginkan.

Begitu banyak nama, tak sedikit figur membayang di ingatan saya. Lalu saya bertanya, bagaimana saya akan menuliskan tentang kisah mereka ? Bagaimana saya akan menuliskan tentang keikhlasan seseorang, sedang keikhlasan itu adalah hal paling tersembunyi setiap kita ?

Saya terus berada dalam  keadaan itu, beberapa sosok melintas,beberapa diantaranya  pernah saya tuturkan keluhuran sifatnya. Sampai saya berhenti pada ingatan tentang seseorang yang  saya kagumi karya-karyanya sejak lama. Bahkan saya kagumi pula figurnya disebabkan langka dan sulitnya menemukan pribadi seluhur pribadinya.

Ini tentang seseorang yang dahulu pernah duduk di sepetak sempit ruang. Yang tak ada cahaya melainkan yang disisakan celah-celah teralis penjara. Cahaya yang menyentuh lembaran-lembaran yang ditulisinya. Tulisan yang setia ia goreskan dalam dua tahun lebih keterasingannya di pinggiran kota Sukabumi.

Terasing bukan karena ia mencuri, bukan pula karena kerakusan atas hak orang lain. “Kesalahannya” hanya satu, ialah tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partai Negara…” teriak lelaki ini menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara.

Tak lama kemudian, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai tempatnya bernaung dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap,dan dijebloskan ke dalam penjara

Perbedaan pandangan politiknya dengan Soekarno kian melebar seiring penangkapan dan pemenjaraan rival-rival politik sang presiden. Meski demikian, tak ada sumpah serapah yang keluar dari mulut dan hatinya kepada sang proklamator, saat dijemput paksa untuk  dijebloskan ke dalam penjara tanpa proses pengadilan.

Adalah Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah)  orang yang sedang saya bicarakan ini. Seorang ulama besar yang pernah bangsa ini miliki. Didesak untuk mengemban amanah sebagai menteri agama pada pemerintahan Soekarno, namun yang mengangkatnya menjadi menteri pula lah yang jerumuskannya kedalam jeruji penjara atas tuduhan makar.

Sejak itu hari-hari sang ulama terkungkung, namun tidak jiwanya, tidak pula alam fikirnya. Penjara menjadi mihrabnya, tempat ia semakin karib bermesra dengan Tuhannya. Tempat ia menjaga hafalan Qurannya. Penjarapun menjadi tempatnya berkarya. Disanalah ia lahirkan tafsir 30 juz Al-Qur’an yang kelak bertajuk Tafsir Al-Azhar.

Dua tahunnya bukan seperti dua tahun orang yang membuangnya sia-sia. Dua tahun Buya Hamka adalah dua tahun penuh cahaya dan keberkahan.

Asyik bekerja membuat Buya Hamka lupa. Lupa kepada penderitaan yang sesungguhnya menderanya. Lupa kepada siapapun yang mendzaliminya. Hingga datang rezim penguasa yang baru, yang membebaskannya dari segala tuduhan.

Berapalah lama waktu di dunia. Dalam udara kebebasannya, tiba-tiba datang ajudan presiden Soeharto, Mayjen Soeryo membawa secarik kertas berisikan pesan untuk sang Buya. Sebuah pesan yang dikirim oleh seseorang yang telah menjadi penyebab dirinya  bertahun-tahun dipenjara.

Dipandangnya lamat-lamat nama sang empunya pesan dalam genggamannya

 ‘Soekarno’

Dan menitislah air matanya demi membaca apa yang tersurat di dalamnya :

“Bila aku mati kelak. Minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku”

 

Tak pernah ada dendam di hatinya kepada sang proklamator. Bagaimanapun Soekarno pernah menjadi kawan seperjuangannya mempertahankan kemerdekaan negara. Persaudaraan karena Allah telah lebih dahulu mengikat mereka jauh sebelum segala coba dan goda dunia menghantam ukhuwahnya.

Maka inilah dia, ratusan pasang mata dan isak tangis para pelayat menjadi saksinya. Buya Hamka mengecup jenazah sang proklamator dengan setulus hatinya. Dan penuhi permintaan terakhirnya tuk  menjadi imam shalat bagi jenazahnya.

Seseorang pernah bertanya kepada sang Buya sesudahnya :

“Apakah Buya tidak marah dan dendam kepada orang yang telah memenjarakan Buya ini bertahun-tahun?”

Maka demikianlah jawaban Buya Hamka :

“Mengapa saya harus dendam ? Tak ada yang mengetahui isi hati seseorang selain Penciptanya sendiri. Bagi saya beliau tetap seorang muslim. Dan tentang penjara, disana saya punya waktu menyelesaikan banyak hal. Di penjara juga Allah izinkan saya menulis 30 juz tafsir Al-Qur’an.”

 

Betapa mulianya pribadimu Buya. Saya masih meneteskan air mata setiap mengingat peristiwa ini. Semoga alm Buya Hamka selalu bahagia dalam dekap cinta Tuhannya, aamiin.

 


Foto dipinjam dari sini

Betapa rahasianya keikhlasan itu. Ia kemesraan seorang hamba dengan Tuhannya. Namun, beruntunglah kita dapat memandang cahayanya, melalui orang-orang yang bersinar karena kesabarannya.  Disebabkan kesabaran itu nampak adanya. 

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS

Iklan

8 thoughts on “Diantara Tabir Ikhlas dan Pelita Kesabaran

    masdecoz said:
    21/05/2014 pukul 10:28 pm

    ikhlas itu memahami keberagaman apa adanya

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/05/2014 pukul 10:32 pm

      Aih, ada tetangga jauh hehehe.

      Makasih mas 🙂

      Suka

        masdecoz said:
        23/05/2014 pukul 7:59 pm

        criiing..hehe

        Suka

        Bang Deco said:
        29/08/2016 pukul 10:27 am

        sip sip.. salam criing heheh

        Suka

    jampang said:
    22/05/2014 pukul 8:01 am

    contoh ulama yang harus dijadikan panutan

    Suka

    sweety said:
    22/05/2014 pukul 11:41 am

    Dan saya pun kagum dengan Buya Hamka…

    http://chemistrahmah.com

    Suka

    ndutyke said:
    08/06/2014 pukul 9:57 pm

    waow cerita yg sungguh menyentuh. bener kata bang jampang: contoh manusia yg layak dijadikan panutan. salam kenal jeung winny.

    Suka

    ade anita said:
    14/06/2014 pukul 10:41 pm

    makasih sudah ikutan give awayku

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s