Patriotku dalam Diam

Posted on Updated on

Jika ini tentang kepahlawanan, tentang orang-orang yang pernah, sedang dan akan selalu menginspirasi, menolong  “membangunkanku dari jatuh” berkali-kali, mengubah air mata menjadi tekad yang baru, ada banyak sosok yang melintas di hatiku. Begitu banyaknya, hingga tak mungkin kutuliskan satu persatu. Bahkan aku tak punya barang sesuatu di tulisanku malam ini untuk menunjukkan rasa hormatku.

Tapi sebelum segalanya bermula, aku selalu terkenang kepada Papa. Katanya, seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya dan selamanya ia akan selalu lebih dekat kepada putrinya dibandingkan kepada putranya  (Papa tak punya anak laki-laki, tapi aku tetap percaya peribahasa itu).

Satu so’al, papaku seorang pribadi pendiam. Beliau seorang pensiunan guru sekolah dasar. Jabatannya sebagai kepala sekolah dan kepala koperasi serta beberapa tugas di lingkungan rukun warga tak mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda. Beliau tetap pendiam dan selalu berwibawa di mataku.

Di rumah masa kecilku, Mama adalah sosok yang hangat dan melegakan hati. Seakan semua yang menyenangkan hati kanak-kanak hingga keremajaan kami, dan segala yang boleh, Mamalah pintunya.

Sebaliknya, dari Papa aku dan adik-adik lebih banyak menerima wejangan. Seakan-akan Papa berbicara hanya jika ada sesuatu larangan. Tak boleh bersuara tinggi kepada orang lain, harus selalu santun dan banyak tersenyum, mengajarkan kata-kata yang sopan saat memintaku mengantarkan sesuatu ke rumah tetangga, tak boleh menyusahkan tuan rumah jika sedang bertamu, perempuan harus duduk merapat lutut, tak boleh bernyanyi di dalam toilet dan banyak perihal lainnya.

Pernah di suatu hari, aku mentertawakan nama seseorang yang terdengar aneh dan lucu di telingaku bersama adik. Ada kata-kata Papa yang membuat kami langsung terdiam dan lalu tak pernah kulupakan hingga sekarang :

“Tak boleh mentertawakan nama orang. Seperti apapun, nama seseorang itu pemberian orang tua mereka yang dihadiahkan kepada anaknya sebagai do’a. Kalianpun do’a-do’a Papa dan Mama yang dikabulkan Tuhan”.

Sejak itu, kami tak lagi berani  mentertawakan apapun milik orang lain.

Suatu hari, aku pernah terjatuh dari sepeda dan terluka, aku menangis memeluk Mama, tapi aku tahu Papalah yang cepat-cepat mencari obat merahnya.

Saat aku mulai menginjak bangku SMA. Dalam opspek hari-hari pertama aku tunjukkan kepada Mama daftar segala yang harus kubawa. Hingga terkantuk-kantuk semalaman menggunting karton, menghitung butir kacang hijau atau memasang pita-pita hingga putus asa dan terlelap akhirnya. Tapi takjubku di keesokan harinya, benda-benda opspek telah tersedia sempurna, rupanya Papa tak tidur semalaman menyelesaikannya.

Dan inilah saat-saat menjelang hari pernikahanku, saat-saat dimana Mama menjadi orang yang paling sibuk dan gelatak melakukan persiapan. Menghitung ini, memastikan itu, menasehatiku tak putus-putus. Tapi dimana Papa ? Kucari-cari, hingga kudapati suatu kali, Papa di dalam kamar sendiri, sedang memandangi foto keluarga dan meneteskan air mata.

 

Papa patriotku dalam diam, hingga kini kami terpisah oleh jarak, Papa di Bandung, dan aku di Bogor. Tak pernah lebih dari lima belas menit bisa berbincang dengan beliau di line telepon. Bukan apa-apa, tapi sejak Papa mengidap suatu penyakit dan mengkonsumsi obat-obatan yang terlalu “keras” untuk organ tubuhnya, Papa kehilangan sebagian daya pendengarannya. Tapi melalui adikku aku tahu, di Bandung, Papa selalu menyebut-nyebut namaku kepada tetangga atau saudara jika beliau berbincang dengan mereka.

Bahkan lebih dari itu, saat aku atau adik-adikku sakit, saat aku tengah kesusahan,saat aku akan berjuang melahirkan, di tempat yang tak terjangkau lagi oleh pengawasan dan sentuhannya, Papa selalu mengajak semua keluarga berwudhu, mengakkan shalat dan mendo’akanku.

Papa jarang berkata-kata, tapi dari balik dinding di masa kecilku, di pertengahan malam yang bisu, aku bisa mendengar deru dadanya dalam sujudnya, menangis menyebut nama anak-anaknya.

Hingga kini, dimanapun aku menemukan sosok seperti Papa, bahkan sampai ke pedagang-pedagang sepuh yang kerap melintas atau termenung di tepian jalan, hingga buku-buku dan koran kesukaannya, sungguh ingatan dan hatiku akan selalu terpaut kepadanya. Dan lalu kutahu, setiap ayah adalah patriot bagi anak-anaknya, meski cintanya terkadang tersembunyi dibalik perjuangannya melindungi dan menaungi keluarganya.

 

Tak ada ayah yang sempurna di dunia, tapi cintanya kepada anak-anaknya selalu sempurna

 

Papa

Syukuran di Bulan Maret : Sang Patriot di Kehidupan Kami

Iklan

23 thoughts on “Patriotku dalam Diam

    Pakde Cholik said:
    29/03/2014 pukul 8:19 am

    Hebat ayahanda ya Jeng. Begitulah orangtua berperan. Kasih sayangnya tiada tara terhadap anak-anaknya, dengan cara masing-masing.
    Ayah saya juga suka membuatkan prakarya,membantu menggambar dan mengerjakan PR.

    Semoga apa yang dikerjakan ayahanda bernilai ibadah.
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

      winny widyawati responded:
      30/03/2014 pukul 10:39 am

      Iya pakde, kapan-kapan pakde nulis tentang ayah juga dong ya
      🙂

      Aamiin, terima kasih do’anya pakde 🙂

      Suka

    rodamemn said:
    29/03/2014 pukul 10:52 am

    rindu bapak, patriotku 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      30/03/2014 pukul 10:40 am

      Bapak masih ada kan mbak ?
      Semoga Bapakmbak Dame dan juga Ibu selalu dalam nikmat sehat di kampung halaman ya , aamiin

      Suka

        rodamemn said:
        31/03/2014 pukul 8:38 am

        masih, aamiin ya rabbal alamin 🙂

        Suka

    ade anita said:
    29/03/2014 pukul 12:21 pm

    aku jadi inget ayahku. aku sayang sama ayahku. sayang pake banget jadi kalau baca tulisan tentang ayah orang lain pasti bikin aku terharu dan kangen dengan beliau. seperti ketika membaca tentang ayahmu ini.

    Suka

      winny widyawati responded:
      30/03/2014 pukul 10:41 am

      Semoga ayahanda kita selalu dalam nikmat sehat dan perlindungan Allah ya mbak 🙂

      Suka

    indahjuli said:
    30/03/2014 pukul 6:47 pm

    Daughter always princess for her daddy 🙂

    Suka

    jeng elnot said:
    31/03/2014 pukul 8:49 am

    dulu semasa kecil bpk lebih terkesan garangnya, smua pada takut, menginjak dewasa kami lebih bisa melihat cinta yang ada dibalik mukanya yang kaku…ah..saya jadi kangen bapak ^^

    Suka

      winny widyawati responded:
      31/03/2014 pukul 9:30 pm

      hehe iya mbak, kebanyakan bapak menunjukkan cintanya beda sama ibu kita ya, tapi yg tulus, pasti kasih sayangnya akan terasa meskipun nggk disampaikan dg lisan. Semoga Bapaknya mbak selalu dalam nikmat sehat ya 🙂

      Suka

    lozz akbar said:
    31/03/2014 pukul 7:30 pm

    Terima kasih sudah turut menyemarakkan Tasyakuran Sang Patriot ya mbak Winny

    Suka

      winny widyawati responded:
      31/03/2014 pukul 9:31 pm

      Terimakasih kembali bang AKbar atas kesempatannya 🙂

      Suka

    Lidya said:
    31/03/2014 pukul 9:12 pm

    dulu aku pikir bapakku galak, api sekarnag aku tau dibalik semuanya ternyata ada hikmahnya 🙂 good luck ya mbak

    Suka

      winny widyawati responded:
      31/03/2014 pukul 9:34 pm

      Sekarang tahu semua buat kebaikan kita juga ya mbak. Mb Lidya makasih udh mampir ya 🙂

      Suka

    RZ Hakim said:
    02/04/2014 pukul 9:21 pm

    Terima kasih atas partisipasinya Mbak. Tulisannya membuat saya terharu. Iya benar nama adalah bagian dari doa dan pengharapan. Salam hormat untuk Papa 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/04/2014 pukul 9:49 pm

      Terima kasih juga sudah berkenan singgah mas.
      Insya Allah saya sampaikan salamnya utk Papa 🙂

      Suka

    The Others said:
    03/04/2014 pukul 2:35 pm

    Bapakku juga tak banyak bicara Mbak.. beda dengan Ibu.
    Semoga sukses dg GAnya 🙂

    Suka

    Ani Rostiani said:
    04/04/2014 pukul 8:10 pm

    Sungguh, baca tulisan ini saya terharu. Betapa cinta dan kasih sayang seorang ayah sangat besar meski berbeda penyampaiannya dengan ibu. Nilai-nilai hidup, akhlaq dan sosial kita dapatkan dari mereka. Karena masa kecil saya dengan aki dan enin, nilai2 itu saya dapat dari mereka berdua tanpa mengecilkan cinta dan perhatian mamah dan bapa. Mengingat orangtua kerap membuat hati gerimis, betapa besar syukur saya namun betapa sedikit waktu untuk mereka.
    Selamat juga ya atas GA-nya. Benar, semoga kita bisa menulis review novelnya dengan baik. Nuhun tos sindang ka resonansi, ya, neng …

    Suka

    elyakim18 said:
    16/04/2014 pukul 3:45 pm

    salam lemper 😀
    mampir dan follow blog aku ya

    Suka

    ameliatanti said:
    21/04/2014 pukul 11:15 am

    ayahnya teh Winny luar biasa sehingga menghasilkan seseorang yang juga luar biasa! Buatku teh Winny sudah seperti saudaraku sendiri

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/04/2014 pukul 11:43 am

      Hiks, kenapa sih suka buat aku terharu mbaak …terima kasiih *peluk*

      Suka

    titintitan said:
    05/08/2014 pukul 2:23 pm

    T.T

    nyasar dan nemu cerita tentang ayah. ayah selalu luar biasa.

    salam kenal mba, ^^

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s