Giveaway : Mendidik Anak dengan Mendongeng

Posted on Updated on

 

Sebagai manusia, meskipun dianugrahi kehanifan (kecenderungan untuk berbuat baik), tapi kita tak terluput dari berbuat kesalahan bukan ?. Untuk itu kita selalu membutuhkan nasehat orang lain, ingatan yang akan mengembalikan kita pada alur yang benar.

Tapi masalahnya, banyak orang tak suka dinasehati, terutama karena tak sedikit kini orang menasehati sesamanya dengan cara-cara yang jumawa. Hal ini membuat orang yang dinasehati merasa tersudut atau dipermalukan.

Hal ini dulu pernah menjadi kekhawatiranku. Sebagai ibu, duniaku tak jauh dari mendidik anak-anak-anak untuk menanamkan azas yang baik kepada mereka. Masalahnya setiap anak memiliki karakter yang unik. Kepada mereka perlu bentuk-bentuk mendidik yang tepat sesuai dengan usia dan karakternya. Terkadang pada anak dengan karakter tertentu kita memerlukan ketegasan yang lebih Pada anak yang lain cukup diingatkan saja dia sudah faham.

Banyak hal yang bisa membantu orang tua dalam mendidik anak-anaknya, salah satunya misalnya dengan menyediakan untuk mereka buku-buku cerita. Membaca adalah pintu masuknya pengetahuan yang demikian luas. Dan hal ini sangat baik dibiasakan sejak dini.

Tapi, jika hanya mengandalkan buku-buku cerita mungkin saja anak-anak terpenuhi rasa keingtahuannya yang besar akan segala, apalagi sekarang banyak tersedia buku-buku dengan konten yang mengakomodasi kebutuhan anak-anak sesuai usia. Tapi tanpa “kehadiran” orang tua, kita tak bisa melihat proses apa yang sedang terjadi di dalam dirinya saat dan sesudah membaca itu.

Di rumahku sendiri tak memiliki terlalu banyak buku cerita anak-anak. Aku lebih suka mereka mendengarkanku mendongeng. Ya, Mendongeng adalah caraku “menyentuh” benak dan hati anak-anak. Menyisipkan pesan dan nasehat diam-diam melalui cerita dan suara ibunya.

Mendongeng tak bermakna selalu berkisah tentang tokoh-tokoh khayalan. Aku lebih suka membangun imajinasi mereka dari figur pahlawan-pahlawan yang nyata dalam sejarah dunia. Walaupun mungkin ini juga karena keterbatasan list bacaan dan pengetahuanku. Mendongeng dari latar dan tokoh yang lebih beragam tentu akan lebih memperluas wacana. Tapi tetap saja, akhirnya kisah-kisah tertentu yang bisa mengundang reaksi mereka.   Kecuali kepada Rahma yang masih berusia enam tahun, terkadang aku masih perlu menggunakan buku-buku bergambar yang terkadang berupa fabel.

Ada saat-saat yang kusukai untuk mendongeng, ialah kala mereka memintanya. Ya, tak ada waktu-waktu khususku untuk bercerita, misalnya mendongeng setiap sebelum anak-anak berangkat tidur. Aku menunggu mereka memintanya saja, karena jika mereka memintanya, itulah saat mana mereka membutuhkannya, dan itu berarti, mereka dalam keadaan siap mendengarkan.

Dan saat yang kusukai itu biasanya datang pada saat sesudah maghrib. Selesai mengaji anak-anak duduk atau berbaring santai di pangkuan atau di atas sajadah. Kalau sudah seperti itu, biasanya aku menanyakan kabar mereka di sekolah atau  tempat bermainnya. Ada-ada saja pengalaman mereka seharian, dan dari peristiwa yang mereka hadapi hari itu, banyak ide cerita bermunculan.

Tak selalu ide itu datang dari pengalaman anak-anak, sering pula aku sharing tulisanku sendiri di blog untuk mereka. Misalnya kisahku tentang Nabi Yusuf yang kutulis disini edisi 24 Maret 2014 lalu.

Meskipun kisah Nabi Yusuf sudah tak asing lagi di telinga mereka, tapi aku selalu senang melihat reaksi mereka saat mendengar cerita itu lagi. Kata-kata seru seperti “wiiihh”, “woooww” atau senyum dan binar di mata mereka dan juga pertanyaan-pertanyaan yang muncul di tengah-tengah cerita menunjukkan betapa antusias itu hadir saat mereka mendengarkan cerita. Lain jika cerita itu mereka dapatkan dari membaca saja.

Padahal aku bukan pendongeng yang ekspresif, cara bicaraku tak seperti yang direkomendasikan pakar di seminar parenting yang  menganjurkan berkisah dengan dramatis. Suara yang dibuat meninggi, mengapung atau kadang berbisik merendah  sesuai suasana kisahnya.

Tak seperti itu. Rima bicaraku biasa-biasa saja, seperti berbincang dengan anak-anak setiap harinya. Itu sebabnya, aku sering takjub sendiri, betapa Maha Besarnya Tuhan yang membuat kemampuan anak menerima informasi sebegitu dahsyatnya dari media yang demikian sederhana (cerita ibunya).

Tentu saja, ini tak berarti aku mengabaikan pentingnya membaca, hanya saja, pada anak-anak balita hingga usia sekolah dasar, mendengarkan orang bercerita lebih mengasyikan dan lebih cepat meresap ke dalam ingatan dan pemahaman mereka.

Aku meyakini, seringnya kita berbincang dengan anak, menasehati mereka melalui kisah-kisah yang baik, ikut menyirami harapan-harapan indah mereka seperti terlukis dalam dongengan,  tanpa terkesan menggurui, tanpa terdengar menyindir kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan, itu sudah bermakna kita telah memberi anak-anak “akar” nilai-nilai kebajikan yang kokoh, sekaligus memberi mereka “sayap” untuk menerbangkan imajinasi dan cita-cita mereka sejauh yang mereka inginkan dalam cakrawala kehidupannya kelak.

 

Your children will become who you are

So be who you want them to be

(anonymous)

 

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway SEMUA TENTANG DONGENG ANAK

Iklan

10 thoughts on “Giveaway : Mendidik Anak dengan Mendongeng

    indahjuli said:
    28/03/2014 pukul 6:44 am

    Setuju, Winny!
    Semakin sering kita berbincang dengan anak, bercerita tentang hal-hal yang baik, akan tercapai kedekatan dan kasih sayang yang maksimal 🙂
    Sukses untuk GA-nya.

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/03/2014 pukul 7:19 am

      Soalnya aku malas kalau membacakan plek-plek kayak yang tertulis di buku mak hehe (ketahuan deh), bahasa di buku biarpun buku itu buku anak-anak kadang kurang kanak-kanak, seringnya kalau bacain anak2 buku cerita, aku malah harus berimprovisasi dengan bahasa yang mereka mengerti 🙂

      Suka

    rodamemn said:
    28/03/2014 pukul 7:26 am

    mendongeng memang memberi anak imajinasi berpikir ya mbak 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/03/2014 pukul 7:53 pm

      Betul mbak Dame, tanpa dongeng aja imajinasi mereka luas, apalagi kalo ditambah dongengan, seneng deh liat muka mereka kalo kita lagi mendongeng ya 🙂

      Suka

    Ade Anita said:
    28/03/2014 pukul 8:11 am

    Iya bener.. mendongeng itu juga bikin anak jadi terkembang imajinasinya. Dan imajinasi yg terkembang bikin anak kreatif.
    ah.. aku mau ikutan juga GA ini meski anak2ku dah gede2…

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/03/2014 pukul 8:17 am

      ayuuk mbak Ade, pengen baca artikel tentang mendongeng dari penulis novel juga nih

      Suka

    Ani Rostiani said:
    28/03/2014 pukul 1:45 pm

    betul, neng Win, melalui dongeng imajinasi anak akan lebih berkembang. Selain itu melalui mendongeng, ibu dan anak akan terbangun komunikasi yang hangat dan menyenangkan, disanalah muncul potensi2 besar di kemudian hari.
    Sukses dengan GA nya, yaa

    Suka

      winny widyawati responded:
      28/03/2014 pukul 7:55 pm

      Iya teh, sebetulnya saya nggak formil-formil amat juga kalo cerita, gradasinya haluuus hehe, jadi nggak terasa kalo lagi mendongeng, kadang kalo lagi ngobrol suka comot2 gitu dari kisahnya tokoh anu itu juga bisa ya teh.
      Makasi ya teh supportnya ^_^

      Suka

    Titik Asa said:
    28/03/2014 pukul 9:57 pm

    Jadi inget Bapak nih, Teh…
    Waktu saya kecil, sekitar thn 1970-an, sebelum tidur Bapak kerap suka mendongeng. Saya mendengarkannya dgn penuh perhatian. Biasanya mendongengnya di tempat tidur. Saya sering tidak ingat apa akhir dongengnya. Karena sebelum dongengnya selesai, saya sudah tertidur pulas.

    Waktu anak-anak saya kecil, suka juga mendongeng. Tapi sering jadi diskusi antara saya dengan anak-anak atas buku dongeng yang mereka telah baca.

    Teteh masih suka mendongeng ya sekarang? Pertahankan terus kebiasaan baik ini Teh. Selain dongengnya yg bermakna, juga kenangan akan mendongeng ini akan tetap terkenang berpuluh tahun kedepan, seperti saya yg tetap masih ingat waktu dahulu didongengin Bapak sebelum tidur.

    Salam,

    Suka

      winny widyawati responded:
      30/03/2014 pukul 10:48 am

      Iya pak, mendongeng jadi bagian pergaulan kita dengan anak. Saya paling banyak berinteraksi dengan mereka krn saya yg lebih banyak di rumah, biar nggk bosan isi obrolan dengan mendongeng. Ternyata nggak cuma anak kecil, yg udah SMP pun masih suka didongengin hehehe

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s