My Most Unforgettable Journey : Serenada di Langit Miftahul Huda

Posted on Updated on

Aku pecinta kenangan, tapi  jarang  mencatat angka peristiwa dalam lembaran-lembaran, pun termasuk diary dimana banyak catatan-catatanku tersimpan.  Tak ada alasan spesial, aku hanya lebih senang mengenang sesuatu cukup dalam bangunan bayang-bayang, tak terlalu  memusingkan tahun, bulan terlebih-lebih tanggal. Termasuk pengalaman yang akan kuceritakan sekarang, padahal ia kenangan yang tak terlupakan.

Saat itu aku sudah menjejak usia remaja, di SMAN 6 Bandung kelas 3. Masa-masa dimana aku aktif berkegiatan di program ekskul sekolah dan mulai “berpakaian muslimah”.

Adalah hal yang tak mudah mengekspresikan diri termasuk cara berpakaian sesuai dengan perintah agama saat itu.  Tapi, karena kemurahan Allah, ada banyak sekali pelipuran yang terus menguatkan hati. Berlangsung cukup lama hingga memasuki masa perkuliahan, cobaan dan nikmatNYA hadir silih berganti. Hanya saja, di bangku kuliah, masalah berbusana sudah tak menjadi persoalan besar lagi. Disinilah aku menemukan passion baru. Mengenal indahnya berteman banyak dalam organisasi.

Pada akhir masa perkuliahan tahun pertama, unit kegiatan mahasiswa kami di bidang keputrian dan kerohanian bersepakat untuk melakukan perjalananan ke daerah dan mengikuti pendidikan singkat di sebuah pesantren, atau waktu itu lebih populer dengan istilah pesantren kilat.

Pesantren yang pada akhirnya terpilih untuk kami menimba Ilmu disana adalah Pondok Pesantren Miftahul Huda di kecamatan Manonjaya kabupaten Tasikmalaya. Maka dimulailah persiapan, dan bertepatan pada saat itu aku ditugasi untuk mengkoordinir teman-teman putri dari kampus kami.

Belum hilang dari ingatan,  perjalanan menuju pesantren saat itu sangat seru. Meski melelahkan, tapi secara pribadi aku sendiri merasa sangat riang, disamping karena bisa berkumpul dengan sahabat sekegiatan, juga itu akan menjadi pengalaman pertamaku memimpin kawan sekampus meskipun hanya untuk kelompok putri. Kelompok putra, sudah ada koordinatornya sendiri.

Singkat kata, sampailah kendaraan yang membawa kami ke tempat yang penuh romansa religi, yang desir anginnya tak saja mengusap-usap lembut tudung dan perasaan kami tapi juga menghantarkan rasa yang damai di tengah ramainya lalu lalang ribuan santriwan dan santriwati seperti khasnya di sebuah kota santri.

Menurut berita yang kuterima, saat itu pesantren Miftahul Huda menampung sekitar enam ribu santri, entahlah berapa  jumlah sebenarnya. Yang pasti, hanya takjub saja  saat menyaksikan bangunan sekolah dan asrama putra putri serta sebuah masjid raya yang berdiri megah dengan kolam besar tempat jama’ah membersihkan kakinya sebelum menginjak pelataran masjid berkubah hitam nan megah.

Aduhai, belum apa-apa sudah luluh hatiku di tempat itu, jatuh cinta pada syahdu yang berkelindan di sekeliling kami. Di arah depan kiri dan kananku berdiri bangunan asrama putri yang “katanya” menampung sekitar tiga ribuan santriwati yang berasal dari berbagai provinsi di seluruh penjuru Indonesia. Sedang asrama untuk tiga ribuan santri putra berdiri di lahan yang lain, terpisah cukup jauh oleh beberapa bangunan yang entah berfungsi untuk apa, perkiraanku mungkin kantor dan dapur umum.

Dari balik bangunan yang  megah nampak  pepucuk pohon-pohon kelapa memagar sekeliling gedung, anggun dan berwibawa. Meski lupa cuaca persis saat itu, tapi yang pasti tak berhujan dan sejauh ingatanku, aku merasa benar-benar berada di tempat paling teduh di dunia. *Jadi kangen ^_^*

Beberapa santri memperhatikan kami, rupanya rombongan yang memang agak berisik ini (hehe) dan pakaian yang tak selazim pakaian para santri disana cukup mencuri perhatian mereka.

Oya, ada yang membuatku heran, mungkin  lebih tepatnya terpana. Iya terpana, begitu melihat pemandangan di depanku, beberapa bak air besar yang mereka menyebutnya dengan kulah. Di kulah-kulah itu mereka berwudhu, masalahnya bukan soal wudhlunya, tapi kulah itu nampak dari tempatku berdiri hanya berupa genangan air mati yang tak mengalir. Rupanya, sumber air dari kulah itu adalah air hujan. Sepanjang rombongan kami melangkah, aku sibuk menenangkan teman-teman yang ribut mempertanyakan soal itu.

“Serius ?  kita nanti wudhu di tempat situ ?”

“Duh nggak hygienis ya”

Dan rupa-rupa ungkapan kecemasan lain. Aku sendiri rasa  merinding, tak bisa membayangkan harus berwudhu apalagi gosok gigi dari kulah itu. Untunglah,  selama satu minggu “berguru” di pesantren itu, aku dan beberapa teman, bisa  selalu berwudhlu di toilet/ kamar mandi, meskipun hal itu jadi lebih menyusahkan saat harus shalat di luar kamar asrama kami karena waktu shalat yang bersambung dengan waktu belajar kami di tempat yang jauh. Masih ingat kan, kalau area kompleks pondok pesantren itu sangatlah luasnya.

Tak sampai setengah jam kami menunggu, seorang ustadz mempersilakan rombongan kami untuk berkumpul di ruang semacam ruang sektretariat  untuk diterima oleh pimpinan pesantren yang saat itu dijabat oleh KH. Khoer Afandi (Allahu yarham, saat ini beliau sudah menghadap Ar Rahman, semoga Allah mengampuni dan membahagiakannya ya sahabat, aamiin).

Satu persatu kami duduk di kursi yang telah disediakan, tak ada yang berani berkata-kata, bagaimanapun banyak diantara kami yang baru pertama kali itu mendatangi pesantren. Suasana hening dan udara yang sejuk yang masuk melalui pintu dan jendela-jendela berukuran besar membuat hati tenang.

Aku memperhatikan dinding di ruangan. Beberapa foto berbingkai hitam tersemat menggambarkan penghargaan  institusi pada sejarahnya. Dari sejak pendiri, jajaran pendidik (para ustadz dan ustadzah) dari tahun ke tahun, hingga kegiatan para santriwan dan santriwati dan prestasi-prestasi mereka berbanjar begitu rapi menghiasi ruang bercat putih dan abu-abu dengan furniture sederhana itu.

Tiba-tiba bisik-bisik  menghilang, seiring hadirnya sesosok laki-laki sepuh berwibawa memasuki ruangan dan mengucapkan salam. Kami menjawab salamnya dan tiba-tiba tenggelam dalam percakapan yang begitu hangat dan dekat. Aah, jauh dari kesan pertama, ternyata beliau seorang pimpinan yang sangat lembut dan  ramah tanpa kehilangan kesan wibawanya. Beliau menanyakan maksud kedatangan kami, meskipun team surveyor  dari kampus kami telah menyampaikannya jauh hari sebelumnya. Kami berbincang cukup lama, dan semua di ruangan itu merasakan kehangatan sang tuan rumah.

Hari itu kami dikenalkan kepada beberapa orang kepala santri dan ditunjukkan kamar di asrama untuk tempat kami menginap, berbaur bersama santriwati-santriwati lainnya. Dan sesuai jadwal yang telah dirancang, sore hingga malam harinya kami mengikuti beberapa kajian, dan baru beristirahat jam 11 malam untuk bangun kembali pukul 3 dini hari. Demikian seterusnya selama 10 hari kami berada disana.

Ada satu tempat favoritku selama belajar di pesantren Miftahul Huda,  yaitu lantai paling atas asrama yang berupa dataran beton tanpa atap. Jika siang hari para santriwati sering menggunakannya untuk tempat menjemur pakaian, tapi saat hari sudah petang sampai malam hari, tempat itu bagiku menjadi tempat yang sangat lapang dan indah.

Kita bisa menyaksikan bulan dan bintang-bintang tanpa sekat. Sesekali aku dan dua orang teman ngobrol di tempat itu, tapi lebih sering aku datang menyendiri untuk sekedar menatap langit dan berbisik-bisik dengan Tuhan (^_^)

Ada satu kejadian di suatu malam yang sangat mengesankan, aku sedang sendiri di atap beton itu, kangen orang tua dan adik-adik di rumah dan sedikit mendo’akan mereka. Tiba-tiba, aku melihat cahaya melesat di udara. kukira itu sebuah meteor. Ada jutaan peristiwa “bintang jatuh” yang melintasi planet bumi kita, tapi baru pertama kali itu aku sempat melihatnya dengan sempurna. Subhanallah.

Aku meneteskan air mata, bukan karena meteor itu, kita mungkin kerap tak memerlukan alasan untuk merasa terharu dan bahagia. Aku hanya merasa sangat dekat saja dengan Tuhan. Melihat hal-hal yang tak bisa terlihat pada keadaan lain dalam rutinitas kita, sungguh luar biasa. Tak bisa membayangkan,bagaimana kalau berada di multazam atau raudhah ya, menyaksikan Ka’bah dari dekat, apalagi memandang Allah secara langsung kelak. Ahh, sudahlah … T_T

Sebagai koordinator putri perwakilan kampus kami, aku tentu sering berurusan dengan fihak kesekretariatan pesantren, disanalah saya kenal beberapa orang ustadz, ustadzah, juga santriwan dan santriwati yang terlibat dalam pengisian kegiatan rombongan kampus kami. Salah satu dari mereka yang paling sering bertemu denganku untuk sekedar menyampaikan jadwal baru ataupun alat bantu pengajaran berupa copy beberapa point kajian namanya (kusingkat saja) AHD , seorang santriwan senior.

Tak ada rasa yang spesial, hanya kekaguman saja seperti aku mengagumi banyak santri lain disana yang rajin dan pandai ilmu agama. Tapi, seringnya pertemuan itu menggoda teman-temanku untuk membuat semacam gosip baru. (“Heii, ini pesantren, bukan kampus kita *uhuk*).

Aku tak terlalu pedulikan godaan teman, meskipun lama-lama kepikiran juga (hehe).  Bertahun-tahun kemudian, jauh setelah kegiatan pesantren kilat itu, saat aku sudah bekerja di sebuah rumah sakit islam di Bandung, aku bertemu lagi dengan  AHD yang sedang mengantarkan keluarganya berobat. Kami sama-sama terkejut, lalu saling bertanya kabar. Dari percakapan dengannya saat itu aku baru tahu rupanya dia sudah dijodohkan dengan putri seorang ustadznya. Hmm.

Kembali ke laptop, ini masih tentang cerita di atas atap *jangan bosan yaa :). Suatu petang (setelah kajian ba’da ashar kami memiliki sedikit waktu beristirahat sebelum mengikuti kegiatan yang penuh dari sejak maghrib sanpai malam hari), aku melihat pemandangan yang unik dari satu sudut tempatku berdiri. Aku melihat sepasang pria dan wanita uzur berjalan di pematang sawah, aku mengenali sosok itu.

“Pak Kyai !” pekik hatiku.

Mataku mengikuti mereka berdua sedang berjalan menyusuri sepetak jalan di sawah yang semakin lama semakin menanjak. Mereka tak bisa berjalan beriringan karena jalan begitu sempitnya, Kyai berjalan di depan, istrinya di belakang. Saat jalan semakin menanjak, kulihat sang istri memegang punggung suaminya dari belakang, seakan membantu beliau untuk lebih kuat berjalan.

Memang, pak Kyai berjalan dengan menggunakan tongkat. Kuperhatikan arah yang sepertinya mereka tuju di depannya, di sebuah bebukitan yang berumput hijau dan penuh dengan pepohonan. Ada sebuah rumah kecil berupa saung sederhana khas rumah-rumah panggung di pedesaan. Hendak ke rumah siapakah pak Kyai ? Hatiku selalu bertanya tentang hal yang sama setiap melihat pemandangan itu di hari-hari yang lainnya.

Barulah, rasa penasaranku terjawab saat rombongan kampus kami telah selesai mengikuti proses belajar di pesantren. Saat itu kami hendak berpamitan pulang, dan seperti hari pertama datang, kami juga singgah di kantor sekretariat untuk menemui para pimpinan pesantren dan khususnya ingin berpamitan dan memohon do’a dari bapak Kyai.

Sayang, bapak Kyai tak ada di tempat, datang berita bahwa pak Kyai sedang sakit. Kami lalu diantarkan oleh seorang santri untuk mengunjungi rumah beliau.  Hatiku berdebar, ini memang yang sepatutnya kami lakukan. Kamilah yang sepantasnya datang ke rumah beliau untuk berpamitan.

Dituntunlah rombongan menuju rumah pak Kyai dengan diantar oleh seorang ustadz. Masya Allah, aku benar-benar tak menyangka.

“Bukankah ini jalan yang sering aku lihat Pak Kyai dan istri beliau melintasinya ?”

Dan benarlah, ternyata rumah panggung sederhana ini milik sepasang suami istri yang sudah sepuh ini. Aku meneteskan air mata sekali lagi, bukan, bukan tangis kesedihan. Aku hanya teringat kisah Rasulullah, beliaupun seorang Nabi yang hidupnya sederhana. Yang bajunya penuh dengan tambalan dan tempat tidurnya hanya beralas pelepah daun kurma. Dan rumah Kyai tak jauh dari teladan Nabi. Rumahnya berlantai papan dari kayu, dapurnyapun berlantai tanah dan pembakaran dari tungku. Allahu, padahal beliau adalah pimpinan tertinggi pesantren yang begitu indah dengan enam ribu santri, namun kehidupan pribadinya sesederhana ini.

Hening meliputi suasana kami, pak Kyai duduk di lantai bersama tamunya para mahasisiwi dengan ilmu seujung  jari. Beberapa taujihnya menyirami hati kami, namun tetap dalam santun dan kerendahan hati.

Terakhir, satu persatu kami menghampiri beliau untuk berpamitan, satu persatu pula kami dido’akan. Aku mendengar do’a beliau untuk teman-teman yang bersisian, dan untukku ada do’a beliau yang hingga kini tak pernah kulupakan.

“Semoga Allah merahmatimu, dan memberimu keluarga yang shalih”

Aku masih menitiskan air mata saat menuliskan kisah ini, kisah yang sudah lama berlalu, namun terus menetap di hatiku. My most unforgettable journey.

Apa yang kudapatkan sekarang dalam kehidupan, kuyakini adalah bagian dari perwujudan do’a-do’amu. Semoga Allahpun merahmatimu “disana” Bapak Kyai Khoer Affandi.

Terima kasih untuk Rahma kecilku, yang saat ku menuliskan ini selalu ingin duduk di pangkuanku.

momtraveller giveaway

“Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Unforgettable Journey Momtraveler’s Tale”

Iklan

24 thoughts on “My Most Unforgettable Journey : Serenada di Langit Miftahul Huda

    Nchie Hanie said:
    22/03/2014 pukul 1:17 pm

    betuul mak perjalanan yang sangat istimewa ini..
    bareng orang istimewa, pemandangannya pun menyegarkan

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/03/2014 pukul 1:35 pm

      iya mak Nchie, kangen banget sama suasana pesantren itu …hiks

      Suka

    Ade Anita said:
    22/03/2014 pukul 8:27 pm

    AhD itu siapa ya? (*xixxi malah salah fokus.. eh.. jangan2 dia yang jadi suamimu ya? Walah.. malah bikin dugaan).

    Btw.. aku juga sukaaaaa banget liat bintang2 dan bulan..

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/03/2014 pukul 8:47 pm

      Bukaaan mbak, Ahd dijodohkan sama putrinya ustadz disana. hehehe, (menurut ceritanya waktu di RS) ^_^

      Suka

    Efi Fitriyyah said:
    22/03/2014 pukul 8:56 pm

    Adem baca ceritanya, nih. Sepanas apapun hari, kalau ada di dalam masjid bawaannya adem selalu, ya, mak.
    Eh tapi kalau wudhu dan segala macam di kulah itu, ehm… aku juga bingung, hehehe, ga biasa euy.

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/03/2014 pukul 9:10 pm

      itu dia, jadi perso’alan waktu itu. Nggak kebayang deh, so’alnya aku lihat santri2 waktu itu wudhlu disitu, langsung ciduk airnya pake tangan trus dibuangnya kesitu juga, aiihhh

      Suka

    pipit pitaloka said:
    23/03/2014 pukul 5:38 am

    Terharu baca yg terakhir, sukses ya lombanya semoga menang

    Suka

    rodamemn said:
    23/03/2014 pukul 8:53 am

    selalu ada cerita di balik perjalanan yang terlupakan ya mbak, salam cium buat rahma kecil 🙂 yg selalu setia menemani bundanya

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/03/2014 pukul 7:40 pm

      Terima kasih mbak Dame, sun sayang juga buat si kecil di rumah ya ^_^

      Suka

    Pakde Cholik said:
    23/03/2014 pukul 4:21 pm

    Seandainya waktu kecil dulu sudah ada pesantren kilat segala tentu saya bisa lebih dini memahami agama.
    Bagus tuh pesantrennya
    Lokasinya juga di daerah yang tak terlalu ramai
    Semoga berjaya dalam GA
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/03/2014 pukul 7:28 pm

      Iya pakdhe, ngangenin banget tempatnya. Sesudah itu, saya jadi hobi melakukan perjalanan ke pesantren2 termasuk pesantren di Jawa Timur, nggak tahhu kenapa pesantren itu tempat yg damai buat saya, suasananya khas. 🙂

      Suka

    Titik Asa said:
    24/03/2014 pukul 6:48 am

    Indah sekali tulisannya, Teh.

    Saya jadi membeyangkan suasana desa yang masih asri beserta kehidupannya yang sederhana. Tokoh Pak Kyai itu menegaskan arti hidup sederhana tersebut sbg tauladan.
    Membaca ini saya jadi inget kampung halaman kedua orang tua saya. Gak terlalu jauh dari Sukabumi, sekitar 40 km ke arah selatan. Biasa disebut daerah Jampang. Disana kehidupan masih banyak yg seperti digambarkan disini. Sederhana, rumah panggung…

    Semoga sukses dgn GA-nya, Teh.

    Salam kenal dari saya di Sukabumi,

    Suka

    nuzulularifin said:
    24/03/2014 pukul 11:26 am

    Di setiap jalan ada doa. Di setiap doa ada pengharapan. Di setiap pengharapan ada pengampunan. Tinggal hati kita, mau kah melantunkan doa dalam setiap perjalanan?

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/03/2014 pukul 4:18 pm

      Terima kasih tambahannya mas, smg selalu menjadi insan yang tak lupa berdo’a dan bersyukur ya mas 🙂

      Suka

    momtraveler said:
    25/03/2014 pukul 10:52 am

    pesantrennya bagus ya mbak, adem kayanya 🙂
    makasih mbak, sudah terdaftar sebagai peserta ya 🙂

    Suka

    Bai RUindra said:
    27/03/2014 pukul 12:57 pm

    Mantap ulasannya 🙂

    Mari berkunjung juga ke Berwisata di Bawah Bayang Syariat http://bairuindra.blogspot.com/2014/03/berwisata-di-bawah-bayang-syariat.html?showComment=1395825407620 Tks ya 🙂

    Suka

    Uniek Kaswarganti said:
    20/04/2014 pukul 3:57 pm

    maknyeeesss banget baca cerita Mb Winny… teladan yg luar biasa dari pak kyai pemimpin pesantren itu ya mba

    Suka

    […] dan memberimu keluarga yang shalih” sungguh mampu membuatku berkaca-kaca. Ya, kisah emak cantik Winny Widyawati ini saya pilih sebagai cerita favorit juri dan shohibul GA. Mak Winny berhak atas bingkisan […]

    Suka

      winny widyawati responded:
      09/05/2014 pukul 11:19 am

      Alhamdulillah, terima kasih makjur sayang, mohon maaf lama saya nggak bisa ngeblog krn charger laptopku rusak mak.
      Sekali lagi terima kasih atas penghargaannya. Horee dapet jola joli

      Suka

    Miss Fenny said:
    02/05/2014 pukul 1:16 am

    Gak kesempaian jadi anak pesantren jadi mupeng *ihiks

    Suka

      winny widyawati responded:
      09/05/2014 pukul 11:11 am

      Nanti putra putrinya moga2 ada yg sekolah di pesantren ya Miss 🙂

      Suka

    Pengumuman Pemenang Momtraveler Giveaway!! ^^ said:
    05/05/2015 pukul 10:41 am

    […] dan memberimu keluarga yang shalih” sungguh mampu membuatku berkaca-kaca. Ya, kisah emak cantik Winny Widyawati ini saya pilih sebagai cerita favorit juri dan shohibul GA. Mak Winny berhak atas bingkisan […]

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s