[Mozaik Blog Competition 2014] Tentang Menulis

Posted on

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id

Menjadi seorang penulis pada saat ini bukanlah hal yang asing, bahkan ia telah menjadi semacam kebutuhan sebagian besar orang yang kini hidup dalam kelindan gadget beserta rupa-rupa warna media sosial, blog, maupun narablog di berbagai platform.

Menjadi penulis bukupun kini dapat dikatakan tak sesulit dahulu. Di kurun sebelum abad 21 datang, penulis-penulis buku adalah kumpulan ekslusif bak oase ditengah-tengah gurun sahara. Kini, penulis-penulis buku datang seperti gelombang dari berbagai kalangan dengan beragam motivasi. Mengaktualisasikan diri, bukan masalah besar lagi.

Saya tak lebih dari hanya seorang yang ikut hanyut dalam pusaran zaman. Senang mencurah rasa dan fikiran seperti orang-orang kebanyakan. Menyukai bertemu dan berkawan dengan orang-orang yang sama dalam kegemaran. Dan kehadiran media menulis onlline, nyatanya saat ini memang menjadi tempat berdiary yang nyaman.

Mulanya hanya sebaris dua baris, semakin lama semakin saya nikmati berselancar dalam riak romantika menulis. Apa yang terkunci oleh lisan saya di dunia nyata, terbebaskan oleh jemari saya di dunia maya. Mungkin ini memang bukan candu, tapi kegiatan menulis adalah hasrat yang tak habis-habis.

Saya sangat menikmati perjalanan di kota-kota penuh kalimat dan makna. Belajar banyak hal dari sana. Tentang alam, orang-orang, budaya, agama, apapun pernik peristiwa. Membaca tulisan-tulisan teman saya menemukan keunikan-keunikan yang mungkin tak akan didapatkan dalam perjalanan pendek keseharian saya.

Pengalaman hati yang kadang hanya melintas begitu saja, tapi lebih banyak yang menetap dalam ingatan. Dari sana saya merasakan efek dahsyat sebuah tulisan. Meski kadang, itu lahir hanya dari sebuah status facebook orang.

Sayang, belakangan ini  kita lebih siap menulis semata. Kita lebih senang mengungkapkan apa yang dirasa saja. Daripada membaca dalam-dalam. Daripada menyimak lama-lama.

Bermunculan tulisan-tulisan keluhan, sindiran hingga kemarahan hanya karena tak sepakat dengan pendapat orang lain. Begitu mudahnya menumpahkan perasaan di media online membuat kita menjadi masyarakat dunia maya yang terkesan anti kritik dan rentan dengan gagasan-gagasan yang tak sesuai dengan pilihan hidup. Seakan kehormatan diri tercincang oleh sebuah tulisan yang bisa jadi bahkan tak berhubungan dengan diri kita. Lho, tak semua selalu tentang kita bukan ?

Di kurun yang serba ekspresif ini, mungkin kita telah diluaskan untuk lebih banyak “bicara” daripada “mendengarkan”.
Saat-saat diri lebih ingin “terlihat” daripada “memperhatikan”.
Ketika kecepatan diri untuk reaktif lebih tinggi daripada segera “berkaca diri”
Masa dimana diri lebih memilih untuk tersinggung daripada berlapang dada

Sebuah tamparan untuk diri saya sendiri. Untuk  lebih banyak “mendengarkan” sebelum “berkata-kata”. Lebih banyak “membaca” sebelum menulis. Lebih banyak bekerja sebelum menebar gagasan.

Ini yang saya perhatikan dari penulis-penulis berlatar belakang pejuang kehidupan dari kalangan manapun. Beberapa diantaranya yang menjadi inspirasi bagi saya adalah Tuan guru Hasanain Juaini, BJ. Habibie, dan banyak teman-teman menulis saya diantaranya adalah almh Bunda Juli. Seluruh tulisan-tulisan mereka bagi saya menjadi mutiara tak ternilai yang digoreskan oleh pribadi-pribadi yang luar biasa.

Menulis menjadi pekerjaan terakhir setelah sebelumnya makna-makna besar itu dibuktikan dalam kehidupan nyata mereka. Mereka tak membutuhkan pengakuan orang. Tulisan hanya dipersembakan semata-mata bagi memuliakan kehidupan dan memberikan sebesar-besar manfaat bagi banyak orang. Tak akan kita temukan apapun keluhan apalagi kemarahan dalam tulisan-tulisan mereka meminta pernghormatan orang.

Saya merasa menemukan lentera, mendapatkan alasan mengapa saya ingin terus melanjutkan perjalanan. Meski tak sehebat pribadi-pribadi yang saya sebutkan (siapalah diri ini yang banyak kekurangan), namun semoga menulis dapat menjadi jalan kebaikan, setidaknya untuk diri saya sendiri sampai Tuhan berkenan menghentikan.

Karena menulis tak hanya tentang mengungkapkan gagasan, ia adalah penerimaan hidup yang disampaikan.

Iklan

7 thoughts on “[Mozaik Blog Competition 2014] Tentang Menulis

    lazione budy said:
    01/03/2014 pukul 1:04 am

    yup, menulis harus dalam kebaikan. semua tergantung niat.
    mudah-mudahan dinilai ibadah…

    Suka

    adeanit4 said:
    01/03/2014 pukul 7:50 am

    Yup. Menulis itu ekspresi jiwa yang bisa dijadikan jembatan utk menyampaikan kebaikan.

    Suka

    catatan kecilku said:
    14/03/2014 pukul 6:23 pm

    Teruslah menulis Mbak Winny dan semoga saja suatu saat tulisan mbak Winny bisa dibukukan. Aku berdoa untuk itu 🙂

    Suka

    Uniek Kaswarganti said:
    18/03/2014 pukul 9:11 am

    Ingin sekali bisa seperti tokoh2 yg Mb Winny sebutkan di atas, menulis utk menginspirasikan kebaikan. Semoga kita diberi jalan utk menjadi orang yg kaya arti ya Mba, paling tidak untuk diri sendiri dululah klo blm sanggup utk orang lain 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      20/03/2014 pukul 6:18 pm

      Aamin iya mbak Uniek, semoga bisa jadi orang yg berguna di sisa usia kita ya, meskipun cuma dengan menulis 🙂

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s