Hujan Itu Rahmat

Posted on

Tugas matahari hampir selesai, namun hujan di kotaku belum juga usai. Rintik ini menjadi medley tak bersudahan yang manis dinikmati kala segalanya “baik-baik” saja. Bukankah hujan itu rahmat ?

Benarkah hujan itu rahmat ? Menjadi pertanyaan kala kalimat itu disodorkan pada mereka yang sejak malam tadi wilayahnya dikepung air yang merendam seluruh isi rumahnya. Entah lagi malam nanti karena hujan disini belum henti, sedang kontur Bogor yang lebih tinggi dari beberapa kota lain sering ditunjuk menjadi salah satu sebab terjadinya banjir dimana-mana.

Menjadi pertanyaan, saat kalimat :”Tuhan Maha Penyayang” dihidangkan pada orang yang sedang dibalut penyakit berat, yang membuatnya tak bisa tidur walau hanya sekejap, yang membuatnya sulit bernafas meski hanya sehela, yang tak peduli sehaus apa, membuatnya tak bisa mereguk air walau hanya setetes.

Maka betapa hati ini mengagumi mereka yang terus menampakkan senyuman di tengah kesulitannya.  Sungguh-sungguh bukan orang yang berhati lemah yang sanggup menutupi kesakitannya. Mampu menaungi kesusahannya dari tatapan massa. Tak mengeluh, namun pun tak pongah menunjukkan pada “dunia” ketabahannya.

Orang-orang yang antara senang dan susahnya tiada beda. Sama-sama berpendar cahaya. Seolah-olah teramat mudahnya memindah-mindah channel rasa, jika tak bersyukur pastilah sedang bersabar ia.

Orang seperti ini  tak hendak menarik seluruh dunia agar memperhatikannya, sebaliknya ialah sang penyimak hikmah yang ingin hidupnya bermakna untuk semesta. Terus mengabdikan dirinya pada cita-cita luhurnya, bersibuk hanya dengan karyanya dalam kerendah-hatiannya.

Kalaupun ia sampai bercerita, kisahnya selalu menjadi pustaka ilmu nan berguna bagi sesama , menjadi telaga bagi para nestapa yang sedang haus akan harapan-harapan, menjadi penghiburan bagi yang sedang kehilangan  keceriaan.

Orang-orang yang tulus, yang memang berkata dengan hatinya :

“Hujan itu rahmat”, “Sakit itu pengingat”, “masalah itu mendewasakan kita”, “kepayahan itu  cintaNYA”.

Sungguh, betapa rahasianya keikhlasan itu, ia adalah kemesraan hati dengan Tuhannya. Namun syukurlah, meski tak banyak, tapi Allah selalu menampakkannya pada diri-diri kekasihNYA. Semoga ku disanggupkan tuk meneladaninya.

Masa berhujan telah menembus dinding malam. Belum nampak tanda untuk reda. Semoga Allah melindungi saudara-saudaraku di belahan mana saja, menaungi kita semua dengan kasihNYA. Sebagaimana sabda NabiNYA ;

“Hujan itu rahmat”

Iklan

12 thoughts on “Hujan Itu Rahmat

    Gusti 'ajo' Ramli said:
    12/01/2014 pukul 8:49 pm

    Hujan adalah salah satu anugrah tuhan.. Hujan menjadi sebab tanah yang gersang menjadi subur…

    Salam
    Ayo ikutan GA kolaborasi tentang impian di http://www.garammanis.com/2014/01/01/giveaway-kolaborasi-apa-impianmu/

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/01/2014 pukul 9:12 pm

      Terima kasih telah singgah.
      Segera meluncur ke GA-nya

      Suka

    Tita Bunda Aisykha said:
    13/01/2014 pukul 8:05 am

    aduuuhh,,mba winny,,baca tulisannya mba winny aku jd terbuai,,ngga tau knapa,,enak bgt dibacanya,,jd pngen ikutan bilang,,iyaa hujan itu rahmat,,buarpun kdg agak repot klo nganter si kecil skolah he he tp jd inget lg,,kepayahan kn jg bagian dr cintaNya,,ikhlas dn bersyukur,,insyaAllah jd lbh mudah,,tengkyu mba winny,,

    Suka

      winny widyawati responded:
      13/01/2014 pukul 9:01 am

      sama2 mbak Tita sayang. Iya, sampai pagi ini Bogor masih hujan aja nih, di tempatku baik2 aja, yg aku khawatir di tempat2 lain yg biasanya kalo Bogor hujan 2 hari aja jadi kebanjiran.
      Makasih banyak kunjungannya ya 🙂

      Suka

    Julie Utami said:
    13/01/2014 pukul 1:38 pm

    Ananda sayang, hujanilah aku dengan cinta mu lewat doa-doa yang tak pernah putus itu. Insya Allah kita bisa ketemu lagi dalam suasana bahagia seperti biasanya, 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      13/01/2014 pukul 1:44 pm

      Ibu Julie adalah ibuku juga dalam seluruh do’a2ku. Mohon maafkan winny yg baru hanya bisa mengunjungi Ibu di SoJ saja ya Bu. Setiap hari winny menengok Ibu disana, dan sering hanya bisa menjadi silent reader saja karena bingung entah komentar apa yg baik utk ketegaran Ibu.
      Ibu jg jangan lupakan winny di do’a2 Ibu ya *peluk*

      Suka

    capung2 said:
    13/01/2014 pukul 2:35 pm

    Sya nyimak aja tulisan mb @winny..

    Suka

      winny widyawati responded:
      13/01/2014 pukul 2:41 pm

      padahal tulisan gak jelas ya mas, terima kasih sudah mau nyimak ya 🙂

      Suka

    novaviolita said:
    13/01/2014 pukul 7:28 pm

    sungguh luar biasa orang yang bisa tersenyum.. ikhlas.. sabar dan tetap bersyukur, walau kepayahan menyelimutinya.. 🙂

    Suka

    Ani Rostiani said:
    13/01/2014 pukul 9:00 pm

    hujan itu bentuk cinta Allah, manusialah yang kemudian megubahnya menjadi selain itu. Selalu sedih dan haru melihat mereka yang dalam banjir dan kesulitan masih tetap bisa bercahaya, dan tak tergoda turut menyumpah. tulisanmu selalu teduh, neng …

    Suka

      winny widyawati responded:
      13/01/2014 pukul 11:34 pm

      ya teh, setiap bencana, kita sendiri yang membuatnya ya. Di kampung halaman saya dan kebanyakan tempat di Indonesia mungkin ya, faktor utama banjir adalah masalah sampah dan drainase yang kurang layak. Sedih liat yang kebanjiran lagi kampungnya 😦
      Terima kasih sduah berkenan singgah ya teh :),

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s