Semulia Namanya

Posted on Updated on

Tidak akan pernah selesai rasanya membicarakan wanita, selalu ada hal yang menakjubkan apabila mengisahkan dunia mereka. Makhluk  Tuhan yang kerap dinisbahkan pada kelemah lembutan namun sekaligus pula kekuatan dan ketabahan.

Tak perlu mencari sampai ke negri yang jauh, karena tak habis-habis wanita di negeri inipun yang membuat jejak juang dan pengorbanan yang mencengangkan dunia.

Pada alam yang kasat mata, acapkali kita menemukan mereka hanyalah pribadi-pribadi biasa yang sederhana. Semangat dan kegigihan itu tersembunyi dibalik senyum dan kerendah hatian mereka. Namun orang-orang baru tersentak, manakala mengetahui buah yang dipersembahkan ternyata hebat tak terkata. Wanita, memang luar biasa, seperti seseorang yang akan saya paparkan kisahnya ini.

I.Sebuah Teladan

Mulia Kuruseng namanya. Lahir kira-kira tahun 1942. Pada usia 14 tahun beliau dinikahkan kepada seorang pemuda bernama As’ad berusia 20 tahun, anak dari seorang pedagang kain yang tak genap meneruskan SMAnya karena harus meneruskan usaha ayahnya yang telah wafat.

Saya tak mendapatkan detail latar belakang pernikahan itu hingga tak tahu apa yang terjadi dengan hati mereka dan sesuatu yang dinamakan cinta. Yang saya tahu, masa-masa dimana orang tua kita hidup dahulu, cinta dan kebahagiaan dimaknai secara sederhana dalam wujudnya yang menerima norma dan kepatutan di masyarakat mereka dengan kebersyukuran.

Saya pun tak menemukan rinci romantika bagaimana mereka mengayuh bahtera rumah tangga dengan lima belas orang anak ,dimana jumlah anak yang berbelas-belas seperti ini sekarang merupakan hal yang luar biasa merepotkan yang bahkan bisa menjadi bahan cibiran orang. Namun yang pasti,  dalam wawancaranya bersama jurnalis dari majalah Hidayah, ibu Mulia mengatakan bahwa sejak awal menikah cita-cita mereka adalah menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya.

“Suami saya bilang, kamu tak sekolah karena kawin. Saya tak meneruskan sekolah kareana membantu orang tua, tapi anak-anak kita harus sekolah.“

Itulah mungkin sebabnya, saat As’ad sang kepala keluarga wafat pada tahun 1985, hanya menyekolahkan anak-anak yang menjadi cita-cita besar wanita sederhana ini. Di depan mendiang suaminya yang terbaring sakit, Mulia Kuruseng bersumpah, akan meneruskan cita-cita mereka untuk menyekolahkan semua putra-putrinya setinggi-tingginya.

“Setelah suami meninggal, saya jadi ibu dan bapak sekaligus, mengurus semua anak-anak sendirian. Saya tak ada waktu untuk mengeluh, pokoknya maju saja. Saya tidak capek, malah waktu yang ada terasa kurang. Belum selesai urusan, sudah datang malam. Sebelum shubuh saya sudah harus bangun. Selesai shalat saya langsung urus anak-anak untuk sekolah, pakaiannya, tasnya, makannya. Apalagi ada tiga anak yang jarak umurnya sangat dekat, perhatian kepada mereka haruslah sama, kalau tidak mereka bisa saling iri dan tidak gembira pergi ke sekolah. Saya tak mau itu terjadi. Itu sebabnya saya tak boleh terlambat bangun, kalau tidak semua tak bisa diurus”.

II. Jujur, Ikhlas dan Sabar

Ketiga point itulah yang menjadi bekal ibu Mulia mendidik putra-putrinya.


Prinsip saya mendidik anak-anak ada tiga hal, yaitu ikhlas, jujur, dan sabar. Kejujuran saya tanamkan sejak mereka kecil, ini turunan dari kakeknya. Kami dulu dididik untuk senantiasa jujur. Jika ada makanan di meja, tidak ada yang langsung mau makan, harus dibagi dulu. Jika ada uang di meja, mereka berteriak mencari siapa yang punya. Jadi, di rumah ini tidak pernah terjadi kehilangan uang.

Saya juga tidak pernah memukul mereka. Contohnya, si bungsu pernah mogok makan. Gara-garanya minta dibelikan sepeda motor karena temannya semua sudah beli motor. Saya tidak marah. Saya hanya bersabar. Tiba-tiba temannya yang punya motor tabrakan dan meninggal dunia. Saya sampaikan kepada dia, “Saya sayang kamu Nak.” Apalagi memang saya tidak punya uang.

Saya selalu mengeluarkan bahasa-bahasa yang sopan. Mereka tidak pernah dipukul, juga tidak pernah dibentak. Jika ada yang salah, saya tegur saat dia lagi sendiri agar tidak tersinggung, di saat adik atau kakaknya tidak ada.

Jika ada yang mau saya tegur, saya carikan waktu khusus. Karena jika anak nakal satu, bisa jadi nakal semua. Anak-anak ini semua (sambil menunjuk foto-foto mereka) tidak ada yang pernah kena cambuk.

Kalau marah, saya pergi wudhu kemudian shalat sunah. Nanti setelah tenang baru saya nasihati mereka.

Saya juga tanamkan pada mereka untuk ikhlas dalam memberi. Jika saya minta mereka membantu adik-adiknya, harus betul-betul ikhlas, jangan dipaksakan. Saya bilang kepada yang punya istri, jangan bebani istrimu. Jika tidak setuju, jangan dilakukan. Tetapi justru menantu-menantu yang paling dulu memberi. Mereka bilang, “Kami ikhlas.”

 

III. Wanita Mulia

Semulia namanya, semulia itu juga darma baktinya untuk keluarga. Dalam segala kesederhanaanya,ibu Mulia Kuruseng membesarkan anaknya dengan cinta. Kini, jika kesuksesan itu dinisbahkan pada gelaran akademis inilah kelima belas putra putri sang pemilik cinta tak bertepi itu :

1. Dr Hasmi As’ad (48), alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin (Unhas), asisten manajer kesehatan PT Pertamina Perkapalan, Alumnus Fakultas Kedokteran Unhas.

2. Prof DR dr Hj Suryani As’ad, MSc, SpGK (46), profesor muda di Fakultas Kedokteran Unhas.

3. Dr Indriyati As’ad (44), MM. Dokter umum di LNG Bontang (Kalimantan Timur), meraih gelar master dari Universitas Mulawarman, Samarinda.

4. Dr Imran As’ad, SpD (42), dokter spesialis penyakit dalam alumnus Unhas, bertugas di Luwuk.

5. Ir Siswana As’ad (40), bekerja di Kantor Poleko Group, Makassar.

6. Ir Solihin As’ad, MT (39), sedang melanjutkan S-3 di Austria.

7. Wahidin As’ad (37), drop-out Fakultas Ekonomi Unhas, pengusaha sukses di Makassar.

8. Ir Suriasni As’ad (37), arsitek dari Unhas, kontraktor.

9. Ir Nurrahman As’ad, MT (34), alumnus ITB, dosen di Universitas Islam Bandung (Unisba).

10. Ir Rahmat Hidayat, MS (33), master dari ITB, kini sedang menempuh studi doktor di Jepang.

11. Ir Jabbar Ali As’ad (31), dosen Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Baramuli Kabupaten Pinrang.

12. Munir Wahyudi, SE, Ak, MM (29), magister dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, dosen beberapa perguruan tinggi di Bandung.

13. Ir Muhammad Arif As’ad, MM (27), alumnus Fakultas Teknik UGM, gelar masternya dari ITB, saat ini bekerja pada PT Indika Entertaimen Jakarta.

14. Sumarni Aryani As’ad, SKed (26), alumnus Fakultas Kedokteran Unhas.

15. Letda Kurnia Gunadi (24), alumnus Akademi Angkatan Laut, Surabaya.

Tulisan ini dibuat dalam rangka partisipasi dalam memperingati hari ibu bulan Desember 2013 yang lalu dengan tema #Arti_Perempuan yang diselenggarakan oleh Indosat.

Sumber referensi dan foto:

  1. http://paul2ibuindonesia.com/2012/01/mulia-kuruseng/
  2. http://ldkalqorib.blogspot.com/
  3. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=131980510325991&id=156341124419814&_mn_=9&_rdr
Iklan

6 thoughts on “Semulia Namanya

    Julie Utami said:
    05/01/2014 pukul 8:44 pm

    Subhanallah, anaknya berbelas-belas jadi orang semua! Mencengangkan tapi mau nggak mau kita percaya. Sungguh ibu hebat yang perlu ditiru.

    Inspiratif nih tulisannya. 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      06/01/2014 pukul 4:20 am

      iya Ibu, sekarang kayaknya udah jarang ya yg punya anak sampai belasan orang 🙂

      Suka

    faziazen said:
    10/01/2014 pukul 9:33 pm

    15 anak?
    di sini 4 anak aja udah rame benerr

    Suka

      winny widyawati responded:
      11/01/2014 pukul 10:42 am

      15 mbak, dan semuanya berhasil menamatkan sekolahnya, hanya “dalam asuhan “seorang ibu

      Suka

    Dyah Sujiati said:
    12/01/2014 pukul 8:52 am

    Huwaaa terharu
    Salam hormat untuk Bu Mulia Kuruseng 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/01/2014 pukul 9:46 am

      iyaaa hebaatt … semoga ibu Mulia baca post ini dan baca salam kita ya ^^

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s