Medsos dan Narsisme Kemesraan

Posted on Updated on

Tak sedang mengherani foto-foto selfy yang bertebaran di jejaring sosial, twitter, Path ataupun Instagram. Sudah terlalu biasa untuk dijadikan bahasan mungkin ya πŸ™‚

Tapi ada yang cukup mencuri perhatian saya melihat fenomena lain dari narsisme di medsos.Ini terjadi pada kalangan pasangan calon atau yang sudah menjadi suami istri.

Dulu pernah jadi bahan bercandaan kalau melihat teman yang suami istri saling balas komen di medsos. Terasa lucu aja, koq ngobrolnya di medsos ? padahal banyak teman tahu kalau mereka itu nggak LDR-an. Bahkan mereka sendiri (suami istri itu) mengaku, kalau sebenarnya mereka duduk bersebelahan ^_^. Yang lebih mengherankan kalau sudah menampakkan kemesraan, kerap muncul pertanyaan :”Masih kangen kali ya ? hehe”

Kali yang lain melihat juga pasangan akan menikah saling berbalas kalimat puitis di medsos. Sebagai penikmat puisi, saya memaklumi suasana hati dua sejoli itu. Perasaan yang terbentuk dari kedekatan hati mereka yang sebentar lagi akan dipertemukan dalam ikatan pernikahanΒ  mungkin membuat ada semacam ketak pedulian pada sekitar. Mau orang lain baca atau tidak, yang penting luahan rasa terluapkan.

Hingga akhirnya mereka menikah,Β  masih ditemukan status-status bernada pujian, ataupun kerinduan. Sesekali ada juga status beraroma merajuk namun besoknya status kerinduan lagi, jadi buat saya senyum-senyum lagi.

Yang paling membuat heran kalau membaca postingan teman yang kira-kira bernuansa sama. Semacam show off kebahagiaan dan kemesraan di ruang public bernama facebook, tapi yang komentar masih suami istri itu juga.

Tak ada sesuatu yang dipost oleh salah satunya (suami atau istrinya) kecuali pasti ada like atau komen pasangannya. Sepertinya sangat tak terpisahkan ya. Jujur, saya sering merasa kagum jika perhatian semacam itu masih diberikan dan dinampakkan mengingat hubungan mereka sudah bukan pasangan pacaran atau pengantin baru lagi.

Tapi di sisi lain, sering juga muncul pertanyaan (tepatnya kepo kali ya :D) ; “Apakah benar seperti yang ternampak di permukaan ? Karena memang betapa rahasianya ketulusan itu”.

Mungkin bagi kebanyakan yang mellihat akan menilai, betapa guyubnya dan romantisnya pasangan ini kala salah satu memasang foto, terus pasangannya berkomentar :”ILU” or “I miss You” atau yang sebagainya.

Mungkin orang-orang akan takjub saat seseorang mempost di medsos sesuatu untuk suami atau istrinya yang tinggal serumah sepanjang tahun quotes-quotes bernada compliment atau rayuan ataupun kerinduan. Apalagi jika pasangan itu sudah bukan pasangan muda lagi. Saya sendiri kagum koq πŸ™‚

Namun terlepas dari keberadaan dan kemajuan dunia maya sekarang, terkhusus media jejaring sosial misalnya seperti facebook ataupun twitter yang sering menggoda orang untuk bernarsis ria. Menjadi ajang pencitraan diri yang sangat efektif bagi hasrat menampilkan figur diri kepada publik. Tapi bagi saya pribadi, entah untuk orang lain (sikap orang kan berbeda-beda ya), kemesraan yang ditampilkan di depan umum secara berlebihan baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya (walaupun mereka sudah suami istri) itu terasa “it’s not the place”.Β  Apalagi kalau yang menanggapiΒ  ILIL (itu lagi itu lagi hehe) maksudnya pasangannya sendiri dan tak ada yang lain. Padahal teman medsosnya segambreng. Tapi memang wajar, orangΒ  akan cenderung menjauh jika merasakan suasana yang private kan. Nanti ganggu lagi hehe πŸ™‚

Entah apakah keheranan saya ini karena terlalu membandingkannya secara garis lurus dengan dunia nyata mungkin ya. Karena di dunia nyata, saya memang sering merasa risih jika melihat pasangan yang menampakkan kemesraan secara over.

Menurut saya romantisme sebuah hubungan justru nampak nyata saat melihat pasangan yang menjaga sikapnya di muka publik tetap sopan namun saya atau orang lain tahu sebenarnya mereka saling mencinta. Saya sering berdebar-debar sendiri jika melihat pasangan yang “pura-pura_ seru atau “pura-pura” cuek tapi saya tahu mereka sebenarnya saling menyayang. Ini tentu terjadi hanya pada pasangan yang saya kenal ya.

Saya merasa bisa melihat romantisme itu misalnya pada pasangan Pak Habibie dan almh Ibu Ainun, atau pasangan mas Pepeng Subardi dan mbak Utami.

Pasangan yang satu dengan gaya cool-nya,saya sangat suka gaya mereka menampakkan kedekatan hatinya secara sederhana. Ibu Ainun dan Pak Habibie itu jika ada momentumnya sering nampak saling memandang dan tertawa bersama.

Sedang pada pasangan mas Pepeng dan mbak Utami, karena karakter mas Pepeng sendiri yang jenaka, romantisme itu saya lihat justru pada saat beliau sedang membercandai istrinya. Tapi jika sudah diwawancara media atau host pada acara talk show, mbak Utami dipujinya setinggi langit sebagai istri yang mulia. Itulah romantisme versi saya. Kemesraan yang sederhana, natural dan malu-malu di hadapan umum.

Ada sepasang suami istri teman dunia maya saya di medsos maupun blog yang kini sedang terpisah jarak yang begitu panjang. Istrinya di Indonesia, suaminya sedang menuntut ilmu di negeri matahari terbenam. Mereka pasangan muda yang belum lama menikah, tapi harus teruji long distance relationship.

Terbayang bagaimana kerinduannya, terbayang bagaimana tersiksanya menahan rasa ingin bertemu, terbayang bahagianya saat berjumpa meski hanya di dunia maya. Tapi sejauh ini saya tak pernah menemukan luahan rasa yang terlalu di area publik jejaring sosial itu, kecuali hanya panggilan sayang dan selebihnya komentar-komentar yang wajar menanggapi postingan yang terunggah.

Saya akan berfikir : “Ah, mungkin mereka memang bukan pasangan yang romantis. Karakternya kaku, pemalu dan sebagainya” kalau saja saya tak mengetahui bahwa mereka keduanya adalah sama-sama penulis dan orang yang sama puitis.

Kami berteman di blog dan saya mengenal sang wanita sebagai penulis yang sangat kaya dalam perbendaharaan kata, begitupun sang pria, beliau adalah ahli dari lebih tiga bahasa. Sangat santun dan tulisan-tulisan di blognya sering memukau hati.

Adalah godaan besar pencinta untuk mempersembahkan yang terbaiknya pada yang dikasihinya meski hanya berupa tutur kata. Namun mereka tak menampakkannya dengan “terlalu”di muka publik. Kita yang melihat hanya mafhum saja dan tergelitik dengan dugaan-dugaan, sedahsyat dan seindah apa madah yang tergores di balik inbox/bbm/email mereka. Namun justru itu yang mengundang rasa kagum sekaligus respect khalayak kepada pasangan seperti ini. Toh, ketulusan cinta bukan untuk dipamerkan.

Oya, ada satu pasangan lagi yang mencuri hati. Mereka sepasang blogger muda dari Jember. Saya rasa mereka juga menjadi favorit banyak teman-teman blogger lain. Romantisme yang menggelitik hati. Tak akan saya jelaskan seperti apa, hanya saja saya jatuh cinta dengan pasangan ini sejak melihat tulisan sang suami R.Z Hakim tentang istrinya Zuhana Prit Api Kecil yang salah satunya saya baca disini.

Tapi, sekali lagi, pendapat orang berbeda-beda bukan ? Medsos mungkin bagi saya adalah arena berkreasi dan berkespresi dalam bentuk A, tapi bisa jadi untuk orang lain berfungsi untuk berkreasi dan berekspresi dalam bentuk B/C/D dan lain-lain.

So, hidup memang tentang memilih ya.

Selamat tahun baru teman-teman, semoga kita bisa menjadi insan yang lebih baik lagi ya, aamiin πŸ™‚

Iklan

23 thoughts on “Medsos dan Narsisme Kemesraan

    Mira Sahid | @mirasahid said:
    01/01/2014 pukul 11:44 pm

    Benar, mak. Kita hidup dihadapkan pada sebuah pilihan. Akan ada yang nyaman dengan pilihan kita, dan sebaliknya. Namun, tak salah juga kita mengungkapkan apa yang menjadi unek2 kita, sekedar melepaskan yang terasa. Met tahun baru juga, mak. Salam hangat πŸ™‚

    Suka

      winny widyawati responded:
      01/01/2014 pukul 11:50 pm

      met tahun baru juga makpon sayang, semoga tambah semangat lagi kedepan ya πŸ™‚

      Suka

    lovelyristin said:
    02/01/2014 pukul 12:30 am

    Setuju mbak… Media ssosial untuk menunjukkan citra mesra di media sosial bukan temppatnya mnurut aku, risih aja sih.. Buukan maksudny ga suka, suka2 aja mrk mesra di dpn umum asal msh wajar, tp klo terus menerus dan dia lagi dia lagi, malah jd ilfil ya hehehe… Kemessraan suami istri sebaikny ya cukup untuk kita dan pasangan aja.. Klo diumbar jg siapa tau malah sbnr nya tanpa sadar mengumbar aib secara halus… Yg sbnr nya dilarang.. Hehehe.. Sekali lg ini pendapat saya, org lain mgkn pny pendapat lain. Happy new year ya! πŸ˜‰

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/01/2014 pukul 12:57 am

      yaa contoh perbedaan sikap dan pendapat mungkin mbak Ristin ya hehehe.
      Selamat tahun baru jg sayang πŸ™‚

      Suka

    edi padmono said:
    02/01/2014 pukul 6:05 am

    Beruntung saya mempunyai istri yang nggak punya akun medsos apapun jadi ya nggak pernah mesra mesraan di sana. Melihat orang yang suka narsis atau pamer apapun di dunia maya bahkan dalam rangka ibadah seperti umroh dan sebagainya adalah satu alasan kenapa saya sempat meninggalkan dunia maya seperti FB, hingga akhirnya ketemu bidadari tak bersayap Winny Widyawati May 2012 itupun hanya sekedar membaca link blog nya sampai akhirnya mulai aktif Agustus 2013 lalu.
    O ya tahun sudah berganti ya? bagi seorang suami pekerja yang terpenting adalah bulan yang berganti karena ada gajian disetiap pergantian bulan itu πŸ˜€

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/01/2014 pukul 7:22 am

      hehe nah soal narsis bertema ibadah ini juga suka jadi bahan perbincangan yg menarik mas.
      Lho, soal gajian itu penting juga buat saya koq *Eh

      Suka

    Beny B said:
    02/01/2014 pukul 9:05 am

    Itulah makanya kalo saya sangat membatasi friends di akun FB … ambil friends dari kalangan terbatas dan tentunya family utamanya, itu salah satunya agar tidak saling mengganggu “kenyamanan” orang dengan berbagai postingan yang mungkin “tidak sejalan” ….
    jadi kalo misalnya ada friends yang postingannya sangat mengganggu saya tinggal unfriends saja khan ya hehehehe … dan sebaliknya mo di unfriend juga gak masalah kwkwkw, … btw so far sih blom ada yg sampe bgitu sih Win πŸ˜€

    nice post (y)

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/01/2014 pukul 10:34 am

      wah jadi saya termasuk dari kalangan terbatas itukah ?, makasih ya sdh menjadi teman selama ini khususnya di FB πŸ™‚

      Teman2 saya di FB juga saya usahakan dari kalangan yang saya kenal di dunia nyata meskipun belakangan jumlah teman2 baru yang bertambah, kebanyakan dari teman yang sehobi atau dari komunitas profesi.
      Makanya saya agak susah kalau soal unfriend, pertemanan di dunia maya sama berharga dengan pertemanan di dunia nyata, Perbedaan /pandangan itu kan biasa ya Ben, mungkin dari sana kita bisa belajar lebih bijak. Semua teman (maya/nyata) adalah guru saya juga πŸ™‚

      Makasih sharing pendapatnya Beny πŸ™‚

      Suka

    rodamemn said:
    02/01/2014 pukul 11:54 am

    setuju mak… “hidup memang tentang pilihan” dan selalu ada pilihan terbaik jika kita mengetehuinya….Semoga…. πŸ™‚

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/01/2014 pukul 11:56 am

      Semoga hanya yang baik2 saja yg dipilihkan utk kita ya πŸ™‚
      Mak Dame apa kabaaar ? πŸ™‚

      Suka

    RZ Hakim said:
    02/01/2014 pukul 3:50 pm

    Mbak Winny yang baik, terima kasih telah memampang nama saya dan istri di akhir tulisan πŸ™‚ Terima kasih apresiasinya.

    Saya adalah orang yang pelupa, itulah kenapa saya memutuskan untuk menulis, hanya karena ingin menolak lupa pada banyak hal. Kadang, saya juga mencatat beberapa undangan yang masuk seperti undangan nikah dari teman. Hal lain yang menjadi favorit tema tulisan adalah hari-hari di masa kecil saya. Ingat sedikit saja, saya segera mencatatnya. Kemudian saya tanyakan itu pada orang-orang terdekat, kadang ke satu dua tetangga. Apa benar dulu saya seperti ini? dan sebagainya.

    Pada 15 November 2011 yang lalu, saya menikahi seorang perempuan yang biasa saya panggil Prit, dengan Mahar seperangkat alat shalat dan sebuah lagu. Lalu kami menghadapi hari-hari selayaknya pasangan yang lain. Saya banyak belajar pada orang-orang sekitar yang sudah menikah, dan juga sahabat blogger. Kami juga memiliki koleksi pertengkaran-pertengkaran kecil. Misal, saya lupa menaruh kontak motor, kemudian sibuk mencarinya, kemudian saya memaksa Prit untuk turut mencarinya. Lalu kami uring-uringan. Ketika menyadari bahwa kontak motor itu nongkrong di saku jaket yang saya kenakan, saya tertawa. Prit berwajah masam. Rupanya dia marah. Jadi, kami sama saja seperti pasangan rumah tangga pada umumnya.

    Memang, sesekali dalam blog acacicu, saya mengisahkan tentang keseharian kami. Senang bisa menulis di blog, di sini saya bisa menulis panjang. Tidak seperti biasanya, ketika menulis lirik lagu, saya dibatasi space dan nada. Blog membebaskan saya untuk menulis lebih leluasa, lebih awet, lebih sepi dibanding jejaring sosial, dan tetap bisa menulis dengan sebenar-benarnya, bukan yang seindah-indahnya.

    Saya senang menulis, dan Insya Allah akan menghabiskan sisa usia dengan tetap menulis. Memang, ada harga yang harus kita bayar ketika kita menuliskan sesuatu, meski sesederhana menuliskan orang terdekat kita sendiri.

    Wah, jadinya panjang komentar saya. Padahal tadinya saya bingung mau berkomentar apa. Malu, hehe. Sekali lagi terima kasih ya Mbak πŸ™‚ Main-mainlah ke Jember, ke rumah kecil kami.

    Ohya, ketika berkunjung ke blog ini, saya selalu suka motto, “Menulislah dari hatimu, kau sedang memahat sejarah hidupmu.” Itu kalimat yang keren.

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/01/2014 pukul 7:55 pm

      satu kehormatan untuk saya mas Hakim berkenan singgah dan meninggalkan kesan di rumah sederhana ini, semakin panjang semakin baik mas, karena saya termasuk penggemar komen teman2 hehehe. Terima kasih ya mas πŸ™‚

      Ya, salah satu ciri khas tulisan2 mas Hakim itu lengkap dengan data. Saya sering terpana, dengan daya ingat mas di postingannya. Rupanya saat ingat satu peristiwa, mas Haim cepat dan banyak bertanya sama orang yang mengetahui peristiwanya ya #catet.

      Insya Allah semoga sayapun diberi kesanggupan utk terus menulis sampai akhir hayat, walaupun memang benar apa yg mas Hakim tuliskan bahwa ada harga yang harus kita bayar saat kita menuliskan sesuatu. Tapi saya berusaha utk bisa selalu jujur, dan utk jujur itu ternyata membutuhkan keberanian. Semoga sayapun dikarunia keberanian yang tak melahirkan kepongahan. Smg kita semua dilindungi dari sikap2 tidak baik.

      Salam utk Prit ya Mas, insya Allah ingin sekali bisa main ke Jember, semoga terwujudkan. Terrima kasih atas penghargaannya mas πŸ™‚

      Suka

    ila rizky nidiana (@ila_rizky) said:
    03/01/2014 pukul 10:22 am

    hehe, kalo dulu ada temen yang baru nikah pasang foto hmm agak show off gitu, sementara text captionnya pun bikin yang lajang jadi panas dingin. haha. jadi abis itu dia kena tegur beberapa temen dan akhirnya tulisan itu masuk draft lagi. setelah itu udah ga pernah nulis ttg suaminya secara berlebihan di medsos. mungkin masih kalo foto dan becandaan, tapi udah bisa direm, mba.

    kalo aku sendiri berprinsip kalo udah punya pasangan enaknya kemesraan seperti itu buat privasi aja. toh ya orang lain cukup tau aja kalo misal si A memang pasanganku. kadang perlu nunjukin mesra2 gt, tp ya ga tiap hari juga. wehehe. moga aja dengan direm, jadi lebih mawas diri untuk secukupnya aja. takutnya juga kalo misal marahan juga di socmed, ntar heboh deh seluruh temen2nya.

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/01/2014 pukul 11:33 am

      postingan ini sebetulnya bukan untuk protes pada siapapun yang senang dan sering memajang foto2 kemesraan dengan pasangannya, sama sekali tidak. Itu hak kita semua di media manapaun pada rumah virtualnya masing2. Dan saya sendiri sering merasa ikut bahagia melihatnya.

      postingan ini hanya menjelaskan sudut pandangku saja, terutama tentang hal romantisme di mataku tanpa ingin mengusik siapapun.

      Tapi memang, pernah ada beberapa teman karibku yang sebaya denganku yg belum menikah curhat, kalo melihat postingan2 kemesraan suami istri itu jadi buat mereka “sedih”. Sedih bukan karena sirik ya hehe, tapi sedih melihat dirinya sndiri yg belum bisa merasakan kebahagiaan itu.

      Utk mereka sebisanya aku hanya mengajak utk terus menata hati melihat kebahagiaan org lain, tapi seyogyanya kita semua memang saling bertenggang rasa, meskipun di sisi lain bisa jadi yg sering pajang foto kemesraan itu bukan berarti tak tenggang rasa juga, hanya berbagi kebahagiaan saja. Selama tak berlebihan (itu point tulisanku ini), kemesraan di medsos baik-baik aja πŸ™‚

      Makasih banyak sharing opininya ya sayang πŸ™‚

      Suka

    Imazahra ^_^ said:
    03/01/2014 pukul 1:23 pm

    Tulisan yang arif dan ditulis dengan hati bersiiih πŸ™‚

    Suka

      winny widyawati responded:
      03/01/2014 pukul 1:54 pm

      hehe, aamiin. Tahu nggak mbak ? yg di paragraf2 tengah itu tentang siapa ya … *kedip2 ^_^

      Suka

    0mali said:
    03/01/2014 pukul 3:04 pm

    saya koq jadi ngerasa ya, soalnya kmrn saya posting ini

    http://supwortel.wordpress.com/2013/12/19/dalam-bisu-cinta/

    *sebenernya ini iklan* πŸ˜€

    Suka

    punyahannawilbur said:
    06/01/2014 pukul 12:08 pm

    Saya termasuk yang suka share tulisan sama suami lewat fb. Gak ada niat apa2 sih, tapi semoga org2 yg risih mengampuni sy heuheu… ^,^’

    Suka

      winny widyawati responded:
      06/01/2014 pukul 12:28 pm

      haha ya gapapa mak Hana, masa share tulisan sama suami dirisihin ^_^, biasanya yg orang suka risih itu bagian yg ada intimacy-nya kalo itu di ruang publik, tapii ya gapapa juga lah nanti saya dibilang sirik lagih hehehe

      Suka

    Ani Rostiani said:
    08/01/2014 pukul 9:59 am

    saya kadang berbagi koment juga dgn suami hehe .. tapi karena suamiku irit kata, ya sekedarnya saja, neng win. Lebay gak ya??
    Baca tulisanmu selalu menyejukkan, neng. Senang bisa kembali singgah di sini.

    Suka

    Arifah Abdul Majid said:
    08/01/2014 pukul 8:47 pm

    sama mak, aku juga suka risih kalo liat orang yg agak ‘lebay’ umbar kemesraan di sosmed :p
    kalau sesekali dan masih wajar sih ga apa lah, nah..kalau udah berlebihan gitu yg bikin ilfil

    Suka

    Dyah Sujiati said:
    10/01/2014 pukul 3:37 pm

    Tak ada sesuatu yang dipost oleh salah satunya (suami atau istrinya) kecuali pasti ada like atau komen pasangannya.–> Ahahaha kebayang deh

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s