Fajar 26 Desember

Posted on Updated on

Saya tak terlalu suka berenang, jadi setiap mengantar krucils, saya lebih senang duduk di meja kopi, membuka notebook dan mulai menulis. Memang bukan waktu yang tepat untuk mengetik, karena fikiran terpecah ke kolam. Tapi setidaknya bisa menyibukkan diri sekitar dua sampai tiga jam dengan membuka facebook file word sekedar mengedit naskah atau menyimpan draft tulisan di blog.

Bogor sudah dipeluk musim hujan beberapa lama, dan itu membuat saya tak bisa menikmati pemandangan Gunung Salak yang melatari jejeran pepohonan dan hamparan kolamnya. Tapi alam tetap jelita, cuaca mendung bahkan melimpahkan suguhan pemandangan yang lebih dramatis dengan performa awan-awan yang keperakan lalu disaput kelabu perlahan seiring gerimis yang rintik diam-diam.

Hari ini 26 Desember 2013, masih tertinggal dalam bayangan saya ramainya lalu lalang narasi di jejaring sosial sepanjang hari kemarin. Tema perbincangan yang sudah saya duga tapi tak saya harapkan sebetulnya. Perdebatan virtual, minoritas syndroma, ketaknyamanan atas cara-cara tak bijak dalam menyampaikan pendapat dan semacamnya.

Dalam atmosfir semendung itu mungkin sulit untuk kita melihat jelas. Semua merasa punya alasan untuk berdiri dengan sikapnya masing-masing. Entah karena apa. Mungkin karena ada momentnya. Dan setiap moment tentu memang berbeda tingkat kekhususannya bagi setiap orang.

Kita jadi seperti kembang api bersumbu pendek, seringkali mudah tersulut. Lupa meraba hati, bahwa orang lainpun sejatinya ingin berada pada lajur yang benar. Bahwa setiap manusia esensinya bersifat hanif (cenderung pada kebenaran). Mengharapkan kebaikan, mengharapkan kedamaian.mengharapkan kebahagiaan yang disesap bersama-sama.

Tapi acapkali prasangka baik hadir lebih lambat dari asumsi-asumsi yang sama sekali tak mendekati kebenaran. Jadilah kebanyakan kita distir ego yang tak mengingat lagi bahwa sesungguhnya kita adalah karib dan hidup berdampingan dengan baik selama ini.

But somehow, di sisi lain saya merasakan binar ketakjuban. Dalam gegap perbedaan pendapat itu juga tumbuh rasa empati, saling melipur satu sama lain.

Bahwa apa yang terjadi adalah romantika seperti yang biasa terjadi dalam keluarga. Mungkin ada kesalah fahaman, mungkin ada kekurang pantasan menunjukkan idealisme meski ada juga ketak bijakkan merespon keadaan, sensitif yang berkadar lebih.

Tapi pada akhirnya semua reda, saat fajar 26 Desember naik, terbit pula senyuman. Di bbm bermunculan hangat status-status  sapaan lagi. Bak kemarau setahun, lantis sekejap oleh lebatnya hujan.

Itu sebabnya saya yakin kita bisa selalu optimis, kapanpun kita terjebak pada situasi menyedihkan, ada banyak jalan menuju penyelesaian yang membahagiakan.

Seperti mendung dan rintik gerimis yang menemani kami sepanjang siang ini, tak lama berganti cerah cuaca  lagi. Alampun seperti tersenyum kembali.

*Hari ini, sembilan tahun yang lalu bumi Aceh terlanda gelombang Tsunami. Semoga tiada lagi bencana yang memilukan hati.

Iklan

One thought on “Fajar 26 Desember

    Tiyo Kamtiyono said:
    31/12/2013 pukul 2:55 am

    Kalau ragu, lebih baik diam. Itu yang saya ambil mbak, daripada ikut perbincangan yang kadang mengotori hati. Hehehe…

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s