Bersikap Smart Membuat Hidupmu Lebih Bernilai

Posted on Updated on

Pada suatu hari, bertahun-tahun yang sudah lalu, saat saya masih menjejak tahun usia antara empat atau lima. Ketika saya masih bersekolah di TK.

Hari menjelang petang, dan saya berjalan semakin kencang. Mengayun langkah setengah berlari, lalu hati sayapun mulai berdegup tak menentu.

Sebentar lagi saya melewati rumah itu, rumah milik seorang ibu tua berkebaya dengan sanggul di kepala. Setiap bertemu dengan saya dia selalu menyapa. Tapi entah kenapa dan sejak kapan, saya selalu sangat takut berpapasan dan beradu pandang dengannya.

Berkali-kali saya berusaha selalu menghindari melintasi rumahnya, saya selalu mencari jalan lain agar tak perlu bertemu dengan pemilik sapaan lembut itu. Dan saya berhasil, saya menemukan jalan lain menuju rumah. Memang jadi lebih jauh, memang jadi lebih melelahkan, tapi yang penting saya tak sampai bertemu, titik.

Tapi kini saya memutuskan untuk menghadapinya, saya letih bersembunyi. Dan sayapun merasa tak bisa selamanya bersikap tak sopan seperti ini.

Tak sopan, karena saya tahu, ibu tua itu tahu saya takut kepadanya. Bagaimana rasanya ditakuti seorang anak kecil seperti saya. Saya pasti sudah melukai perasaannya. Dan saya tak mau itu terjadi padanya, dia sudah sepuh dan tak punya siapa-siapa lagi di rumahnya.

Lalu apa yang terjadi saat saya benar-benar melintas di depan rumah itu ?, pada menit-menit dimana ibu tua itu memang selalu berdiri di terasnya , menikmati senja sambil merawat tanaman-tanamannya ?

Ibu itu tersenyum kepada saya, kedua tangannya dengan penuh kasih membelai tanamannya sambil menyemproti bagian dedaunnya.

Tiba-tiba saya tertarik dan memperhatikannya lebih lama. Ada kerutan yang lucu dan cukup banyak di wajahnya dan juga punggung tangannya. Seketika saya merasa iba, dia hanya seorang perempuan yang sudah tua. Mungkin ia teringat cucunya setiap kali melihat saya.

Heiii, sekejap mata saya merasa lain. Ada apa dengan saya ? Benarkah saya tak takut lagi kepadanya ? Ternyata dia tak seseram yang saya bayangkan sebelumnya. Jelas, beliau hanya seorang perempuan tua biasa, seorang nenek yang sama seperti nenek saya juga.

Sejak itu, saya tak takut lagi kepadanya, bahkan saya menganggapnya seperti nenek saya sendiri karena kebaikannya setiap saya bermain ke rumahnya. Saya merasa itulah sikap smart saya yang pertama kali, dimana saya telah berani merubah sikap negatif saya kepada sesama meski usia kami terpaut sangat jauh.

Pada saat saya beranjak remaja, tepatnya di usia dimana saya mulai menginjak sekolah menengah pertama, saya menghadapi keadaan yang lebih komplex. Saya bertemu kawan-kawan baru, disana saya mengenal bagaimana rasanya dibuly teman sesama perempuan.

Ada seorang teman yang saya mengharapkan bisa menjadi sahabat pertama saya di sekolah itu karena duduk sebangku justru menampakkan rasa tak sukanya. Entah dengan memasang wajah tak bersenyum atau selalu memilih teman lain untuk diajaknya makan di kantin saat jam istirahat. Memasukkan kecoa mati ke dalam tas atau mempermalukan saya dengan memamerkan surat cinta seorang teman laki-laki yang tak saya sukai.

Tapi anehnya semakin dia bersikap tak menyenangkan semakin saya ingin mensahabatinya. Saya penasaran, kenapa dia bisa berteman dengan yang lain sementara dengan saya sulit sekali.

Suatu hari, pada sebuah acara outdoor kelas, saya membawa gitar. Sebetulnya hanya gaya-gayaan saja, karena kemampuan memetik gitar saya baru sampai grip E minor, itupun saya dapat dari hasil membaca sebuah foto copyan teman mama yang berjudul “Belajar Cepat Bermain Gitar” ๐Ÿ˜€

Tak saya sangka, teman perempuan sebangku sayaย  sepanjang hari itu “nempelin” saya terus. Tanya ini dan itu tentang “ilmu gitar menggitar” *halah. Dan saya dengan sok tahunya menerangkan pengetahuan gitar saya yang baru 5 halaman foto copyan ituย  kepadanya.

Apa yang terjadi setelah itu ? Kami semakin akrab di sekolah. Tak lagi membicarakan soal pelajaran gitar, (kebetulan juga bahan saya sudah habis xixixi),tapi melebar ke soal pelajaran, atau tentang seorang teman laki-laki yang menaksirnya dan lain sebagainya.

Entahlah, tapi saya merasa saya sudah bersikap smart saat itu, tak membalas sikap negatifnya dengan hal yang sama. Bahkan saat kita bersikeras untuk tetap bersikap positif, ternyata balasan yang kita terima jauh lebih baik lagi.

Last but not least, saya merasa telah bersikap smart pada saat saya bercita-cita untuk menjadi ibu rumah tangga pada saat masih sekolah di bangku sekolah dasar dan memanifestasikannya saat saya telah menikah.

Saya merasa itu adalah pilihan terbaik saya untuk keluarga saya manakala saya memilih untuk sepenuhnya menjadi ibu untuk anak-anak saya.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada bentuk-bentuk darma bakti lain yang dipilih orang lain, saya merasa pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga memiliki konsekuensi yang spesial yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental.

Dari sisi fisik saja, meski sama-sama menjadi ibu, tidak sama bagi saya ibu tanpa anak, dengan satu anak, dua anak,tiga anak dan seterusnya sampai dengan belasan anak misalnya seperti orang tua orang tua kita dulu mengalaminya.

Kesibukan yang dihadapi, kelelahan yang dialami, tingkat tekanan bathin yang dipikul, kesabaran dan keikhlasan yang harus disiapkan, tentu berbeda.

Setiap pilihan ada konsekuensinya, dan ketika saya memilih untuk menjadi ibu sepenuhnya dan memutuskan untuk siap menjalani berempat putra dan putri adalah sikap yang smart.

Bagi saya orang yang smart adalah orang yang tahu tujuan hidupnya dan bersiap menghadapinya. Sehingga apapun rintangan yang menghadangnya dia mampu bertahan menghadapinya.

Tanpa menafikan segala kekurangan, tentu saja saya adalah orang yang penuh dengan keterbatasan, tapi bukankah kitapun dikarunia potensi kesabaran dan kesyukuranย  yang dengannya kita tetap bisa berbahagia ?
So, tak ada yang salah untuk berusaha untuk selalu bersikap dan bertindak smart dalam segala keadaan, karena dengan itulah kita menjadi insan yang bernilai.

Blogpost ini tadinya mau diikutsertakan dalam lombanya Emak Gaoel, tapi berhubung sudah telat, jadi ini hanya blogpost biasa aja ๐Ÿ˜€

Iklan

22 thoughts on “Bersikap Smart Membuat Hidupmu Lebih Bernilai

    dani said:
    22/12/2013 pukul 12:30 am

    Semuanya tergantung dari cara kita melihatnya ya Mba. Etapi kalo postingan ga ikut serta kontes kok link ke sponsor masih ada Mba? ๐Ÿ˜€

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/12/2013 pukul 12:33 am

      hihihi iya gapapa mas, udah kadung nge-link tadi sambil nulis. Semoga ngelink ini juga bagian dari sikap yang smart ya hehehe …*nggak nyambung

      Suka

    azhardibandaaceh said:
    22/12/2013 pukul 1:06 am

    ada sebuah kutipan, masalah terbesar adalah orang yang paling tidak tertarik dengan lingkungan di sekitarnya…. saya tiba-tiba teringat hal itu saat membaca ini. saat membaca cerita tentang gitar tersebut… just share…

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/12/2013 pukul 1:11 am

      sepakat bang Azhar, saya merasa ternyata kepo untuk urusan yg baik itu keren koq. Saya jadi bisa main gitar (biarpun cuma genjreng2 gitu aja) karena dulu tertarik dan keukeuh pengen bisa. Juga hal2 lainnya, banyak kegemaran saya berawal dari ketertarikan.

      Suka

    bunda aisykha said:
    22/12/2013 pukul 5:15 am

    aku jg ngga ikut chalange smart ini mba,,kmrn cm ikut yg kreatif aja,,merasa blm cukup smart ๐Ÿ™‚ aku setuju bgt mba,,hidup itu harus tau apa tujuannya,,

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/12/2013 pukul 5:19 am

      hehe iya bunda, telat. Tapi gapapa saya senang koq menulisnya. ๐Ÿ™‚

      Suka

    mas huda said:
    22/12/2013 pukul 6:01 am

    Membaca pilihannya menjadi ibu rumah tangga jadi ingat emak saya yang punya 11 anak… selain jadi ibu rumah tangga juga sibuk ke pasar nyari beras….

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/12/2013 pukul 6:14 am

      Semoga ibunda mas Huda disayang Allah, salam dan hormat saya untuk beliau ya mas. Semoga dalam nikmat sehat dan bahagia selalu atas seluruh pilihan hidupnya.

      Suka

        mas huda said:
        22/12/2013 pukul 6:16 am

        Aamiin …. Alhamdulillah emak sehat selalu, tapi dua miinggu sekali kontrol DMnya sih….

        Suka

        winny widyawati responded:
        22/12/2013 pukul 6:21 am

        sedang diuji sakit rupanya, semoga yang merawatnya juga sabar ya, aamiin

        Suka

        mas huda said:
        22/12/2013 pukul 6:22 am

        Aamiin… semoga g opname lagi aja sih

        Tapi emang hebat lho emakku… he he

        Suka

    punyahannawilbur said:
    22/12/2013 pukul 6:13 am

    Ini baru yang dinamakan ‘anti fragile’ alias ‘antirapuh’. Selalu menyesuaikan diri secara positif dengan keadaan apa pun ๐Ÿ˜‰

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/12/2013 pukul 6:18 am

      hihi saya mikir keras apa ini bisa jadi contoh sikap yg smart apa nggak lho mbak. Wong syarat lombanya berat, tentang definis smart dan kapan saya merasa smart. Duh saya takutnya jadi ngaku2 ini (mohon maaf Gusti Allah)

      Suka

    edi padmono said:
    22/12/2013 pukul 7:56 am

    Halah kata kata di bawah itu lo bikin ketawa.
    Cerita awal mempunyai kemiripan dengan saya, di kampung saya dulu ada seorang nenek yg sebatang kara, entah siapa nama sebenarnya tapi kami memanggilnya mbah jedor. Karena keterbatasan fisiknya, banyak orang terutama anak anak suka mengganggu dan mengejeknya. Berbeda dg ibu saya yang selalu sopan dan menghormatinya serta suka memberi bantuan makanan atau sekedar oleh oleh dari pasar. Sikap ibu yg mudah iba itu ternyata menurun kepada saya, saya suka bermain ke rumahnya, mendengarkan ia mendongeng atau cerita tentang mendiang suaminya. Saya suka membantunya menimba air untuk dia mandi atau memasak, memijit tubuhnya yg mungkin tidak berasa karena tenagaku masih kurang kuat. Atas sikap saya itu, saya dijahuin sama teman teman dan bahkan suka diejek sebagai cucu orang gila, saya sering berantem dg teman yg suka mengganggunya. Saya tidak memperdulikan sikap teman teman ke saya yg terpenting nenek itu baik dan sayang sama saya.
    Ah teteh bikin ingat seorang nenek yg orang menganggapnya gila tapi begitu menyayangi saya. ….Jadi sedih lagi….

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/12/2013 pukul 12:26 pm

      jangan sedih mas,dido’ain aja, semoga beliau sekarang sudah bahagia nggih ๐Ÿ™‚

      Suka

    jampang said:
    22/12/2013 pukul 8:23 am

    yang penting menulis, teh ๐Ÿ˜€
    kalau terlambat…. ya soal waktu doank

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/12/2013 pukul 12:23 pm

      hehe iya bang karena menulis itu penting (apa sih:D

      Suka

    capung2 said:
    22/12/2013 pukul 8:59 am

    Sikap smart yang tentunya juga selalu diiringi rasa berbaik sangka dengan seseorang.

    Suka

    islamsejati40 said:
    22/12/2013 pukul 3:11 pm

    kemari membaca…..salam dari Firman

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s