Melangitkan Impian

Posted on Updated on

Mimpi Yang Terampas

Ada rentang masa, dimana saya pernah merasa telah kehilangan banyak hal, yang utama adalah kebebasan untuk menentukan perso’alan-perso’alan penting dalam hidup saya. Semasa sekolah di bangku SMA hingga menuntut ilmu di perguruan tinggi, saat teman-teman berselancar di masa mudanya dengan berkarya dan mengejar cita-cita, sayapun bekerja dibalik dinding doktrin dan dogma.

Mengikuti sebuah organisasi yang mengatas namakan agama selama belasan tahun tanpa daya, dan sejak itu banyak mimpi saya menguap serupa asap. Hari-hari penuh tuntutan dan tekanan, hingga saya merasa hidup saya hanya untuk mengikuti keinginan orang lain saja.

Tak mudah untuk melepaskan diri dari jerat sistem yang serupa kanker itu. Ia merangsek kedalam seluruh kehidupan saya sedemikian rupa tanpa siapapun bisa menolong. Saya harus menemukan sendiri kejanggalan dan keganjilan itu. Sampai di suatu titik saya menyadari bahwa tak ada yang bisa menolong saya untuk terbebas melainkan Tuhan dan diri saya sendiri. Dan ketika saat kebebasan itu tiba, barulah saya insafi bahwa mimpi-mimpi saya telah terampas pergi.

layang2putus

Apa yang lebih menyedihkan dari kehilangan waktu, masa muda dan cita-cita kita ? Saya rasa tak ada, karena masa lalu tak akan pernah kembali. Kita masih bisa mencari ganti jika yang hilang itu berupa materi, tapi tidak masa lalu, tidak waktu-waktu berhargamu.

Maka sejak itu, dari titik dimana saya mendapatkan kembali jati diri, saya mulai menyusun kembali mimpi-mimpi yang sempat tertunda. Tentu saja dalam keadaan yang sudah tak sama. Saat itu saya sudah berkeluarga, dan di atas segalanya, meski melalui cara yang tak lazim, saya bersyukur karena bagaimanapun, dari jalan itu Allah karuniakan suami dan anak-anak yang baik untuk saya.

Secercah Sinar

Acapkali merasa berat untuk menuliskan sesuatu yang bersifat pribadi adalah salah satu keadaan saya. Bagaimanapun blog adalah ruang terbuka yang terindera khalayak.

Sering menjadi tempat curhat orang lain tak menjadikan saya orang yang cukup punya keberanian untuk melakukan hal yang sama, apalagi di ruang terbuka. Jadilah saya “saku” tempat menampung masalah saya sendiri. Kadang terheran, bagaimana teman blogger lain bisa dengan ringan menceritakan banyak  penggalan hidupnya dalam diary virtualnya, saat saya harus lama meraciknya terlebih dahulu sebelum menerbitkannya.

Tapi, sejak intens menulis di media publik yang bermula di ruang notes sebuah media sosial lalu berkembang di blog pribadi, saya menyadari ada banyak cara tuk meluahkan rasa ataupun gagasan. Tak setersembunyi buku diary, namun blog membuat saya terbangkit untuk lebih imajinatif dalam  berkreasi.

Saat pertama mengenal tempat menulis di dunia maya, saya serupa anak kecil yang senang bermain masak-masakan dengan hanya menggunakan sebentuk batu kali dan bubuk bata, lalu mendapat sepaket hadiah mainan baru nan modern untuk masak-masakan dari bahan plastik. Permainan yang sama namun dengan alat dan cara yang berbeda.

Dulu saya menggores tinta dengan menggunakan ballpoint ataupun hanya sebatang pensil, kini seperangkat PC ataupun sebentuk gadget menjadi alat saya menuangkan gagasan ataupun buah perasaan. Tak sadar semua itu semakin membangkitkan passion saya akan menulis.

Semula, saya hanya menulis saja tanpa beban, namun sejak tulisan-tulisan itu membuahkan komentar, saya mulai menyadari, bahwa sesederhana -sederhananya tulisan, ada orang yang membacanya. Maka saya wajib bertanggung jawab kepada pembaca tulisan-tulisan saya atas ide yang saya gurat.

Mungkin terdengar “lebay” bagi sebagian orang, tapi tak apa, bukankah setiap kita punya sikap yang unik atas apa yang dikerjakan ? Sependek pengetahuan saya, banyak sekali penulis yang memandang sakral pekerjaan menulisnya. Mereka menuliskan gubahan fikirnya dengan sangat “berhasrat”. Entahlah, namun bagi saya beragamnya sikap, tema, jenis dan gaya tulisan itu pada akhirnya biarlah menjadi kekayaan dalam khazanah literatur kita.

tunduk2

 Proyek  Monumental

Di dalam jurnal saya yang terbit bulan Januari 2013 ini saya menulis kondisi dunia literasi negeri ini. Bahwa jika dibandingkan pada skala luar negeri, jumlah karya tulis anak bangsa kita masih kalah 14 (empat belas) kali lipat  dari jumlah karya tulis yang dihasilkan putra putri negeri jiran Malaysia. Begitu juga jumlah inventor (penemu)  anak bangsa ini masih jauh puluhan kali lipat dibawah inventor Singapura, apalagi jika dibandingkan dengan jumlah karya tulis dan inventor negara-negara maju, padahal jumlah sumber daya manusia dan sumber daya alam kita sungguh-sungguh luar biasa. Malu kepada Allah, yang telah mengaruniakan segenap nikmatNYA namun kita tak pandai memanfaatkannya.

Sejak bergabung dengan komunitas-komunitas kepenulisan di jejaring sosial, saya menyaksikan betapa kobaran semangat membaca dan menulis itu begitu nyala. Embrio-embrio penulis dan karya-karya mereka tak putus-putusnya bertumbuh dan berkembang sedemikian rupa. Saya merasakan kegairahan itu dan tanpa sadar saya telah mencerap energinya hingga ke tulang sumsum. Bayangkan betapa banyaknya, bahkan dari entitas perempuan dan ibu rumah tangga dengan beberapa buah hati seperti saya telah melahirkan ber-eksemplar-eksemplar buku karya mereka. Wanita-wanita dengan segala keterbatasannya karena peran yang diembannya namun menulis telah menjadi bagian dari ritual hariannya. Hebat ! Subhanallah.

Lalu saya meneropong ke dalam diri, saya hanya seorang istri dan ibu yang tak punya keistimewaan apapun, namun saya ingin keberadaan saya untuk keluarga memiliki manfaat. Bahkan jika Allah mengizinkan, inginlah saya berkarya juga untuk orang banyak. Dan tak ada yang saya bisa dengan kondisi saya sekarang sebagai perempuan berkeluarga melainkan hanya dengan menulis.

Untuk itu saya ingin sekali tulisan saya berarti, setidaknya untuk diri saya sendiri. Agar setidaknya sayapun punya rasa malu atas apa yang telah saya tulis. Dan lebih dari apapun di dunia ini, saya ingin meninggalkan untuk putra putri saya yang lebih abadi dari sekedar benda yang memang tak banyak yang saya miliki jika saya wafat nanti. Ialah tulisan-tulisan saya, ibu mereka.

Maka setelah saya menulis ratusan artikel, cerpen dan juga puisi di dalam ruang menulis di media sosial maupun blog, kini saya ingin melangitkan impian, yakni untuk bisa menerbitkan buku.

Komandan BlogCamp Abdul Cholik menulis di dalam salah satu blognya seperti ini :

“Sebagai seorang blogger pasti Anda sudah memiliki artikel yang sekarang tersimpan di arsip blog. Nah itu dia bahan untuk menerbitkan buku.”

Naskah untuk isi buku saya kelak jelas sudah tersedia di blog, tinggal memindahkannya ke dalam dokumen / file (yang sebagian sudah terkumpul). Tapi saya memerlukan persiapan dan perencanaan yang terukur lainnya agar bisa mewujudkannya sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Cetak Biru Penerbitan Buku

Selain masukan dari Pakde Cholik, saya juga mencari tahu seperti apa persiapan yang harus saya lakukan demi terlahirnya buku karya tulis saya nanti. Bagi saya persiapan bahkan lebih penting dari cita-cita itu sendiri. Persiapan yang baik,saya percayai akan menghasilkan akhir yang baik juga. Bukankah banyak kemenangan pasukan-pasukan perang dalam sejarah yang diperoleh hanya dalam sekian hari karena persiapan bertahun-tahun mereka sebelumnya.

Secara runtut, proses yang saya ketahui dari Pakde dan juga dari penulis nasional mbak Indari Mastuti di grup IIDN adalah seperti ini :

1. Buatlah naskah yang rapi secara ketikan. Spesifikasinya: Times New Roman, 12 poin, spasi 1,5, dan jumlah halaman minimal 120 hal untuk satu naskah buku

==> dengan ketikan yang rapi tidak membuat kami jenuh membacanya

2. Buatlah naskah yang rapi secara EYD. Biasakan untuk membaca kembali naskah yang akan dikirimkan, perbaiki salah huruf, salah ketik, dan bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Mulailah menjadi editor buku Anda sendiri.

==> dengan naskah yang rapi secara EYD membuat kami semakin tertarik membacanya

3. Buatlah sinopsis buku yang menjadi guide redaksi sebelum membaca keseluruhan isi naskah. Paling banyak 2-3 paragraf singkat yang menjabarkan isi buku.

==> dengan memberikan sinopsis yang menarik membuat redaksi semakin terpikat untuk membacanya. sinopsis sebaiknya disimpan sebelum isi naskah secara keseluruhan.

4. Buatlah profil penulis seinformatif mungkin. Mulai dari nama, nama pena, alamat email, no kontak telp, karya yang pernah dipublikasikan, hingga prestasi yang akan menjadi pemikat nilai buku.

==> semakin menarik profil Anda semakin menarik penerbit untuk membukukannya

5. Cek ricek kembali apakah naskah Anda sudah JEMPOLAN dan layak siap bersaing dengan buku yang lain yang sudah terbit? apakah naskah Anda akan jadi trend setter? atau naskah Anda sebetulnya pengikut buku lainnya? kalau begitu berikan kami alasan kenapa naskah Anda harus Agensi perjuangkan menembus penerbitan.

Berikut sistematika pengiriman naskah dalam satu file:

1. Judul dan nama penulis (dalam satu halaman)

2. Sinopsis

3. Daftar isi

4. Naskah isi

5. Profil penulis

6. Biodata penulis lengkap (jangan lupa karya yang pernah diterbitkan ditulis ya)

6. Mengirimkan naskah ke alamat surel penerbitnya, dan menunggu kabar baiknya hingga maximal 3 (tiga) bulan kemudian.

Bersama bimbingan Allah yang selalu saya harapkan, saya bertekad untuk  merintis jalan ini. Semoga tak lama lagi bisa saya persembahkan untuk orang tua, keluarga dan bangsa ini yang meski hanya setetes dari samudra kebaikan, sebuah buku yang tertera pada kolom penulisnya sebuah nama pemberian ayah dan ibuku : Winny Widyawati.

Tak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi Tuhan, sungguh DIA Maha Mendengar.

Insya Allah

Kontes-Unggulan-Proyek-Monumental-20145-300x248

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Proyek Monumental Tahun 2014.

Iklan

37 thoughts on “Melangitkan Impian

    faziazen said:
    24/11/2013 pukul 1:59 am

    organisasi Ha Te I kah??

    Suka

    Shohibul Kontes KUPM 2014 said:
    24/11/2013 pukul 5:38 am

    Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Proyek Monumental Tahun 2014
    Akan saya catat sebagai peserta
    Keep blogging
    Salam hangat dari Surabaya

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/11/2013 pukul 6:12 am

      Insya Allah akan tetap menulis pakde, sampai Allah tak mengizinkannya lagi. Terima kasih telah hadir Pakde 🙂

      Suka

    edi padmono said:
    24/11/2013 pukul 5:44 am

    Mudah-mudahan sukses

    Suka

    Susanti Dewi said:
    24/11/2013 pukul 6:59 am

    Semoga bisa terwujud 😀

    Suka

    Ade Anita said:
    24/11/2013 pukul 7:55 am

    Aamiin.. semoga tercapai ya Win cita2mu… segera disusun saja bukunya. Sepertinya aku akan masuk antrian orang yg akan membelinya. Gaya menulismu asyik soalnya. Tapi kalo liat dari tulisan inj rencanamu nulis buku non fiksi ya? Coba nulis novel model diary win.. sepertinya asyik deh. Gaya berbahasamu yg cocok utk itu.*cuma saran

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/11/2013 pukul 1:20 pm

      Justru yang pertama ingin menerbitkan buku kumpulan cerpen dan juga novel mbak. Alhamdulillah kalau mb Ade mellihat tulisan saya cocok utk novel. Semoga bisa segera terwujud. Mohon do’anya ya mb Ade. Terharu sekali membaca apresiasimu ini ….:)

      Suka

    Ani rostiani said:
    24/11/2013 pukul 11:18 am

    Subhanallah …
    Semoga Allah swt mengabulkan mimpimu, neng Win …
    Aamiiin
    Jadi gak sabar ingin segera beli bukunya. Tulisanmu pasti bagus.

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/11/2013 pukul 1:22 pm

      Aamiin, aamiin …terima kasih atas do’a tulusnya teh Ani sayang, semoga bisa cepat terwujud. Terima kasih sekali lagi teh Ani yang selalu mensupportku *peluk

      Suka

    novianadewi said:
    24/11/2013 pukul 3:10 pm

    Menunggu dengan tak sabar terbitnya buku dengan penulis Winny Widyawati.
    Semoga sukses juga ngontesnya

    Suka

      winny widyawati responded:
      25/11/2013 pukul 10:24 am

      aamiin, duh terima kasih mbak Novy atas supportnya, do’ain bukunya jg bisa cepat terbit ya 🙂

      Suka

    aisyahalwi said:
    24/11/2013 pukul 4:04 pm

    Mimpi yang membuat saya memikirkan kembali apa rencana saya di th 2014…terimaksih telah membangunkan saya dari tidur panjang … salam

    Suka

      winny widyawati responded:
      25/11/2013 pukul 10:24 am

      Kita sama2 mencapai mimpi kita ya mbak Aisyah, semoga Allah wujudkan 🙂

      Suka

    Inge Febria said:
    25/11/2013 pukul 7:07 am

    ikutan nunggu bukunya mb Winny

    semoga sukses ya mb…. 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      25/11/2013 pukul 10:25 am

      aamiin aamiin, terima kasih supportnya mb Inge 🙂

      Suka

    nurme said:
    25/11/2013 pukul 8:47 am

    Bagus ilustrasinya Teh, cukup mewakili tulisan yang teteh buat

    Suka

      winny widyawati responded:
      25/11/2013 pukul 10:26 am

      oya ? saya senang foto2 buat ilustrasi tulisan, tapi belum punya perangkat pendukungnya kecuali si BB jadul nan setia ini hehehe, makasih ya Pie 🙂

      Suka

        nurme said:
        25/11/2013 pukul 12:58 pm

        Kalau ipie baca tulisan teteh trus liat ilustrasinya. Itu menggambarkan sih Teh..

        Kayak sebuah lukisan abstrak, sebenernya kan itu ada artinya.

        Suka

    dianonasis said:
    27/11/2013 pukul 6:36 am

    in sha Allah terwujud ya winny… uni juga punya mimpi bikin buku tentang traveling uni, karena kalau ke penerbit besar, belum tentu diterima, jadi uni mau nulis dengan cara uni dan cetak serta jual sendiri..

    sepertinya itu bisa juga jadi proyek tahun 2014…

    ikut mendoakan winny… ibu awet muda ini…hehehe

    Suka

      winny widyawati responded:
      27/11/2013 pukul 9:33 pm

      Teerima kasih sebelumnya Uni, nanti winny kayaknya bakal banyak nanya nih sama Uni soal penerbitan hehehe, terima kasih juga selalu support aku, dan selalu bilang ibu awet muda hihi

      Suka

    The Others said:
    27/11/2013 pukul 2:10 pm

    Akhirnyaaa… mbak Winny akan menerbitkan buku juga.
    Semoga terwujud ya mbak.. 🙂

    Suka

    capung2 said:
    01/12/2013 pukul 6:09 am

    klo mb Winny mmg pantas disebut penulis krn tulisannya bernas dan mengalir apa adanya..

    sukses ya mb !

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/12/2013 pukul 2:06 pm

      semoga kata2 mas/mbak Capug ini jadi do’a bwt saya 🙂

      Suka

    Ranii Saputra (@Khiranii) said:
    12/12/2013 pukul 2:22 pm

    smoga proyek monumentalnya berjalan sesuai yg di harapkan mak 😀

    Suka

    isnuansa said:
    18/12/2013 pukul 4:23 pm

    Semoga bisa terlaksana, Mbak, mimpinya menerbitkan buku. Aamiin….

    Suka

    Joddie Palgunadi said:
    19/12/2013 pukul 12:32 pm

    jumlah karya tulis anak bangsa kita masih kalah 14 (empat belas) kali lipat dari jumlah karya tulis yang dihasilkan putra putri negeri jiran Malaysia
    –> Woow @_@ baru tau aku.
    Anyway, selamat ya mbak, semoga tekatnya bisa segera tercapai. Menjadi penulis buku tuh gampang kok, yg sulit malah justru manajemen disebaliknya (gw dulu sempat ngambek gara-gara itu). Hehe.. anyway, apapun yg terjadi jangan nyerah yah 😀 cemunguud!!

    Suka

      winny widyawati responded:
      19/12/2013 pukul 3:11 pm

      Aih makasih semangatnya ya mas Joddie, insya Allah tak akan menyerah mas 🙂

      Suka

    jay boana said:
    21/12/2013 pukul 9:02 am

    wow merinding baca proyeknya mba hehe jadi pengen saya ngikutan

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/12/2013 pukul 8:06 pm

      ayo mas Jay, sudah punya proyek apa untuk 2014 ? 🙂

      Suka

    khoirudin said:
    21/12/2013 pukul 12:24 pm

    semoga terwujud yang bermula dari tidak tahu akhirnya jadi tahu.. tetaplah berikan yang terbaik buat umat, yang bisa mencerahkan dan bisa menjadi shadaqah jariyah aamiin…

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/12/2013 pukul 8:07 pm

      aamiin, semoga masih diberi kesempatan utk berbuat kebaikan, mhon do’anya ya mas Khoirudin

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s