Karena Menulis itu Cinta

Posted on Updated on

I. Menulis Dan Kesibukan
Adalah nikmat sederhana yang sangat berarti buatku jika bisa  mendapatkan waktu bersendiri satu jam saja di siang hari hingga bisa mengambil netbook-ku yang kuusahakan tetap menyala agar bisa mudah melanjutkan tulisan yang terjeda. Meski terkadang dari waktu satu jam itu, tigaperempatnya habis hanya untuk mengedit tulisan sebelumnya, dan satu perempatnya lagi untuk termenung menjalin rajutkan ide selanjutnya.

Menengok daftar tugasku di rumah dan 24 jam  yang kupunya di setiap hari dan malamnya, rasanya memang tak ada tempat lagi untuk kegiatan menulisku mendapatkan lagi tempatnya.

Itu sebabnya, mengapa pertengahan malam menjadi naungan ternyaman untukku bisa menuangkan buah fikiran dan rasa. Dan agar sepertiga malam yang tersisa masih bisa kumanfaatkan untuk hal lainnya, maka aku coba mengatur agar bisa jadwal menulisku terjaga.

Menulis sudah menjadi kecintaanku disisi kecintaanku yang lain. Terutama setelah bergabung dengan beberapa komunitas menulis di media sosial, maka semakin berpijarlah semangatku. Terutama saat kumulai mengenal beberapa penulis yang telah berhasil menerbitkan buku, aku seakan melihat lembaran mimpi masa kecilku terbuka lagi dalam bentuk yang baru.

Beberapa kali kesempatan untuk menerbitkan buku datang meski dari jalan yang cukup berliku, tapi beberapa kali juga (karena satu dan lain hal) akhirnya kesempatan itu berlalu. Sempat merasakan sedih, apalagi jika membaca kalimat-kalimat motivasi yang mengaitkan hal ini dengan kekurang sungguh/seriusan diri atas cita-cita yang telah dipancangkan.

Lalu aku mulai memeriksa langkah diri, memang banyak yang harus kutata ulang. Dari mulai mengelola waktu, menentukan skala prioritas hingga melatih diri agar lebih sigap dan terampil melaksanakan tugas-tugasku. Harusnya tak perlu ada kebingungan lagi saat beberapa tuntutan pekerjaan ternyata datang secara berarsiran. Nyatanya,  aku sering harus terbata-bata lagi memulainya dari awal.
Sering kuhanya bisa turut berbahagia saja melihat banyak temanku masih bisa meluangkan waktu untuk bertemu. Sekian undangan dari event-event kopdar baik sahabat-sahabat lama masa sekolah maupun sahabat-sahabat dari grup kepenulisan akhirnya hanya berakhir di wall facebookku berupa foto-foto perjumpaan tanpa sosokku didalamnya. Sering kuharus menahan haru, setiap kali memberi alasan untuk tak bisa bertemu sahabat yang kami saling merindu. Tapi menurutku semua ada waktunya. Dan saat ini, waktuku memang belum bisa terlalu banyak untuk hal itu.

Tentu saja terkadang ada juga celah dimana aku masih bisa berjumpa kawan-kawan, meski dalam setahun bisa dihitung dengan jari kesempatanku itu. Amboi, bisa terbayangkah bertumpuknya kangenku ?

 

Menulis dan Cinta

Tapi, dibalik semua itu, berlimpahan syukurku yang sering tak semua bisa kugambarkan bahkan dalam munajatku. Sering kumerasa malu. Mengapa kumengeluh karena belum bisa menerbitkan buku, sedang ratusan tulisanku telah melanglang dunia melalui jejaring media sosial maupun beberapa blogku.

Beberapa terkadang kembali kepadaku melalui broadcast di smartphone-ku. Tulisanku yang dishare orang tanpa mereka tahu telah kembali ke penulis aslinya. Subhanallah.

Ya Allah, bukankah semula telah kutekadkan bahwa menulis bagiku untuk membagi kebaikan ? Jika demikian, apakah lagi yang dipertanyakan ? Selama masih bisa menuliskan kebaikan dimanapun tak jadi perso’alan. Bahkan tak kupedulikan lagi tentang hak cipta yang pernah sangat kuperhatikan . Yang kutahu, aku hanya ingin menulis dan berbagi.

Maka aku mengubah cara pandangku, bahwa semua akan indah jika kulakukan dengan cinta. Begitupun dengan menulis. Meski tak banyak waktu yang kupunya, tapi aku menulis karena memang aku memang mencintainya seperti aku cinta menggambar, atau mencintai tanaman. Tak peduli, apakah itu dalam blog, di notes facebook, file words, diary kerja, atau hanya dalam memo pad blackberryku.

Kamu selalu tahu cara tuk menemui yang kamu cintai bukan ?. Begitupun diriku. Aku dan siapapun yang suka menulis pasti selalu menemukan cara dan waktu untuk melakukannya. Dan hebatnya, di era kecanggihan teknologi saat ini kamu bisa menulis kapan saja dan dimana saja, meski di sedinding toilet dengan sebentuk gadgetmu :).

 

Menulis dan Sejarah Hidup

Orang bilang, jam kerja seorang ibu itu dua puluh empat jam penuh. Tapi menurutku, tak sedramatis itu, Selalu ada saat-saat yang memberimu ruang untuk menghela nafas dan mengusap titisan keringat, membiarkanmu pejamkan kelopak mata dan tersenyum, mentertawakan kekonyolan diri dalam hati atau sekedar terisak sambil mengusap air mata di balik pintu kamarmu.

Tapi aku percaya, Allah jauh lebih mengerti keinginanku, cita-citaku, bahkan yang belum satu aksarapun kuucapkan. Dia tahu, bahkan meski masih melintas di palung hati. Tak usah hanya sebuah buku, ratusan buku buah karya  dengan mudahnya sanggup DIA beri jalan untuk terbit dan tersebar luaskan. Namun ku tak ingin itu jadi tujuan, sehingga terlupa jika proses menulis itulah yang seharusnya menjadi sebenar-benar pengabdian.

Kini, aku menikmati menulis dengan sepenuh-penuh kenikmatan. Menulis menjadi terasa sebagai tamasya. Aku tak kemana-mana, aku tetap di rumah saja, tapi dengan menulis naskah novel aku bisa melintasi negeri-negeri terindah yang kuimpikan.  Aku bisa melihat senja dan Hagia Sopia di Konstantinopel dalam naskah cerpenku, aku bisa berjalan-jalan di taman-taman indah di Maroko dalam naskah novelku, aku bisa menatap menara-menara tinggi di Kairo dalam puisiku, bahkan kubisa duduk di tepian kolam memandang istana yang dibangun sebagai lambang cinta untuk Mumtaz Mahl dalam fikiranku. Ya, aku bisa kemana saja yang kumau saat melakukan riset tentang negri-negri yang kuingin jadikan background kisah-kisah fiksiku.

Satu kali aku menjadi tokoh yang cuek dan lucu dalam cerita jenaka, kali yang lain aku menjadi seorang wanita yang rapuh, tetapi tabah dalam elegi cinta.  Ahh, menulis memang mengasyikan bukan ?

Menulis juga telah membuat aku lebih senang membaca. Membaca tak hanya buku, tapi juga membaca karakter orang, membaca perilaku binatang, membaca gesekan daun saat tertiup angin, membaca tetesan air dari keran, membaca titisan hujan, membaca perubahan awan, membaca rona langit saat shubuh ataupun petang. Aku jadi senang membaca semuanya, karena aku ingin mennuliskan segalanya.

Betapa dahsyatnya kekuatan menulis. Bagiku ia menjadi teman saat dalam kesunyian. Aku seorang yang kurang bisa bergaul dalam kehidupan nyata, tapi aku bisa sangat cerewet jika sudah menyusun aksara.  Jika ada lomba menulis, aku berusaha untuk bisa mengikutinya. Disini istimewanya, dalam lomba menulis menurutku mungkin ada yang menang, tapi tak pernah ada yang kalah. Yang menang memang akan mendapat hadiah, tapi yang tak menangpun mendapatkan ilmu dan .

Dan yang semakin membesarkan hati adalah, menulispun ternyata merupakan keadaan para salafusshalih. Tengoklah jendela sejarah, dari sana kita tahu, bagaimana peradaban telah dibangun bersama tulisan-tulisan beliau-beliau yang wajahnya atau namanyapun bahkan kini tak kita kenal. Tak terbayangkan, jika manfaat dari tulisan-tulisan mereka itu telah bermanfaat bagi jutaan umat manusia di belakangnya bahkan ribuan tahun sesudah wafatnya. Aduhai, betapakah berkahnya, seolah-olah usia  mereka telah mencapai puluhan abad saja.

Jika demikian, maka tiada lagi alasan.  Semoga Allah tetap menjaga harapan, dan segala upaya tuk melanjutkan kebaikan.

tunduk

Menulis bukan hanya tentang menggores ilusi, pun bukan sekedar tentang melukis khayal imaji. Ia serupa cermin, yang menuturkan seluruh semesta fikir, yang berkisah tentang segenap yang bertahta di jagat rasa. Ia simpanan tak ternilaimu, penghias hidup, pengikat ilmu.

Menulislah dari hatimu, kau sedang memahat sejarah hidupmu.

Iklan

17 thoughts on “Karena Menulis itu Cinta

    jampang said:
    23/09/2013 pukul 10:32 am

    menulis tentang apa saja …. kapan saja … terus posting 😀

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/09/2013 pukul 10:34 am

      hayooo udah dibaca belum ? hehehe …
      Iya bang, keep writing yah ^^

      Suka

        jampang said:
        23/09/2013 pukul 10:40 am

        saya baca cepat… dan saya juga ngerasa begitu.

        tawaran bikin bukunya ke penerbit major teh? keeren donk…. saya nerbitin sendiri… modal ya…. 50rb plus ongkir udah jadi buku
        😀

        Suka

    nit-nit said:
    23/09/2013 pukul 10:46 am

    like this…*kasih jempol
    Salam kenal mak.. 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/09/2013 pukul 4:04 pm

      Salam kenal jg ya mb Nit-nit, terima kasih sdh berkenan singgah 🙂

      Suka

    Linaks said:
    23/09/2013 pukul 12:48 pm

    tularin aku mak biar bisa pinter menulis. Supaya bisa mendatangkan manfaat kebahagian semangat pembacanya seperti tlisan mak winny

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/09/2013 pukul 4:06 pm

      Tulisan mb LIna jg bagus2, kita sama2 belajar aja ya mbak sambil terus menulis. 🙂

      Suka

    bunda aisykha said:
    23/09/2013 pukul 8:52 pm

    rata2 kalo pada nulis tengah malam ya mba he he sama,,o ya aku jg pnya cita2 pengen bisa jd penulis yg menghasilkan beberapa buku,,sukur2 best seller ha ha,,aku malah pernah bikin buku sendiri,,beberapa kali,,cm gak diterbitin,,cm bwt kalangan sendiri aja,,semangat trs mba,,

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/09/2013 pukul 1:35 am

      wah itu juga sudah punya buku sendiri mbak, alhamdulillah, Ikut seneng mbak, semoga nggak lama lagi bukunya bisa diterbitkan ya mbak, jadi bisa dinikmati lebih banyk orang 🙂
      Terima kasih ya mbak 🙂

      Suka

    Tita_jodie said:
    24/09/2013 pukul 1:44 am

    menulis adalah berkarya untuk seterusnya.
    takzim saya, 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/09/2013 pukul 1:51 am

      Kata orang, menulis itu bekerja untuk keabadian. Setujukah mbak Tita ?

      Makasih yaa sdh sempatkan mampir disini 🙂

      Suka

        Tita_jodie said:
        24/09/2013 pukul 1:54 am

        sependapat dengan anda.
        saya berkunjung di rumah biru mba cantik ini namun tak bisa di add 😀

        Suka

        winny widyawati responded:
        24/09/2013 pukul 3:03 am

        iya mbak tadi sy deaktivasi sementara, sekarang sudah bisa mbak. 🙂

        Suka

    tinsyam said:
    24/09/2013 pukul 3:54 am

    baiklah.. ini lagi menulis..
    pakabare mbakwinny? sehatsehat ya..

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/09/2013 pukul 5:14 am

      Baik mb Tintin, alhmdllh
      Moga mb Tintin jg baik2 aja ya:)

      Suka

    azhar ilyas said:
    20/10/2013 pukul 3:12 am

    great motivation!

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s