” Al …”

Posted on Updated on

Jam 10.10
Kuraba keningmu, masih ada sisa demam merambat di lembut kulitmu
Tapi kini kelopak matamu pejam
Hela nafasmu tenang
Tiada lagi rintih lirihmu mencekam
Hanya dengkur datarmu yang tiba-tiba mengelus kalbuku
Nak, lelaplah tidurmu
Disini Umy menjagamu

Masih nyata dalam kenangan
Dulu, saat  kau masih dalam dini kandungan
Tak kusangka hadirmu kan sesuai asa
Sebelumnya tak berani kumeminta
Terlalu malu kepada yang sebelumnya memberi kami seorang putri jelita
Lalu hanya terbetik saja dalam sukma
Ya Allah, izinkanlah yang terlahir nanti seorang putra

Kala itu, dalam bisik nan disalut do’a abimu berkata :
“Agar dapat kutuntun tangannya ke mesjid bersama. Mungkin kelak akulah yang dituntunnya kesana jika diriku telah renta”.

Lalu Abimu lanjut berkata :
“Dan supaya ada yang bisa menjagamu dan Zahra, apabila aku tiada “

Menitis air mata Umi mendengarnya Nak.
Saat itu kita dan Aby memang tak bisa selalu bersama
Aby dan kita terpisah jarak dan ruang yang berbeda
Dalam kemudaan dan kenaifan usia, Ummi harus menyedia tekad dan ketegaran
Bahwa dengan izinNYA, akan tiba saat-saat kebersamaan
Al …
Dalam perpisahan, ada masa dimana umy harus melawan sendiri kecemasan saat kau menderita demam atau kesakitan
Ada kalanya umy harus menahan kesedihan saat melihatmu harus bermain tanpa teman, sedang umy sendiri berbaring lemah saat diuji sakit dan kepayahan.
Anakku,  maafkan umy yang tak bisa sepenuhnya limpahimu perhatian dan pendidikan yang benar
Saat kau membutuhkan bimbingan umy malah sibuk dengan bertumpuk cucian dan setrikaan
Maafkan umy Nak, yang hanya bisa terisak dan kelelahan menyaksikanmu tertawa berdua kakakmu bermain di ruangan
Betapa inginnya Ummi selalu disisimu di setiap detikmu
Tapi apalah daya diri yang sendirian
Tanganku tak cukup menggapai segenapnya sekalian
Ahh … kau mengigau lagi …
Bermimpikah kamu Nak ?
Kusentuh dahimu nan berembun
Kuusap do’a di cahaya ubun-ubun
Bibirmu alunkan rintih yang senyap
Tungkaimu mengusik adik nan asyik terlelap

Sayang, apa yang kamu rasakan ?
Tak putus-putus kupandangi wajahmu
Dan kuterpaku

Ah Al …
Betapa rupawanmu
Setidaknya bagiku
Siapakah kelak yang kan menawan hatimu ?
Wanita yang kan menempati sanubarimu selain ibumu ?

Al …
Dekatlah kemari, biar Ummi bisikkan tentang hal indah yang mungkin akan kau temui.

Sayang, jika suatu saat nanti kau temukan hatimu terpaut pada satu rindu
Pada seseorang yang jika kau menatapnya hatimu malu
Maka biarkanlah begitu …
Sesungguhnya pandanganmu tentangnya akan selamanya indah jika kau tetap menjaga kehormatan perasaanmu

Biarlah tetap bersemayam dalam tenang …
Tak perlu kau luap tunjukkan hasratmu terlalu
Engkau laki-laki tak harus meluap api pekikkan geloramu

Hati yang mengharap selalu tahu setiap tanda
Kalbu yang merindu selalu tahu setiap rambu
Walau setersembunyi apa
Meski serahasia sesuatu dibalik batu
Cinta selalu mafhum
Anakku …
Ummi tak begitu mengenal Abimu saat menikah dahulu
Dan mungkin begitu pula dengan beliau tentangku
Dia lelaki pertama untuk Ummi
Dan Ummipun wanita pertama untuk Abi
Kami sama tak pernah mengenal cinta sebelumnya

Terbata-bata kumenata hati
Bertanya-tanya adakah ini yang pantas kunanti ?
Namun Al,  kutemukan kesungguhan pada diri Abi
Betapa ia teramat mengharapkanku menjadi istri
Cukuplah sakitnya pada suatu musim menjadi bukti
Bahwa cinta Abi tulus untuk Ummi

Dia lelaki yang tak pandai membuai dengan kata-kata mesra, Nak
Dia bukan pujangga yang limpahi sms atau ruang maya Ummi dengan barisan puisi dan prosa
Tapi Abimu lelaki yang selalu buat Ummi tersenyum dan tertawa
Tak sehastapun ruang untukku kecewa, melainkan pasti kan ia temukan cerita dan menarikku dari sana

Abi buatkan untuk kita naungan sederhana namun aman dan menyelamatkan
Abi bekerja siang dan malam agar kita bisa makan, minum dan mengabdi kepada Tuhan
Abi tak hanya ingin bertanggung jawab , bahkan Abi melampaui kesanggupan karena malu kepada Allah jika tak bisa membahagiakan

Itulah kehormatan perasaan
Begitulah cinta sebenarnya telah Abimu tunjukkan
Dan beginilah Ummi yang merasa disayangi dan dikasihi
Beginilah Ummi yang tak hendak pergi kemanapun lagi
Kutatap parasmu dalam redup temaram
Sudut bibirmu lengkungkan manis senyuman

Sayang …
Ummy bukan wanita luar biasa
Ummy tak punya apa-apa yang mungkin bisa kau banggakan
Ummy mungkin tak sepandai dan sehebat  ibu teman-temanmu
Tapi Ummy berjanji Nak, Ummy akan selalu ada untukmu, untuk saudara-saudaramu.
Selagi Ummy dimampukan Allah Ummy akan selalu bersamamu

Bukan, mungkin bukan karena kau membutuhkan Ummy
Akan tiba masanya kau tak perlukan bimbinganku lagi
Akan tiba saatnya kau harus pergi dan berdiri sendiri
Tapi jika kau masih temukan Ummy dimanapun, di keadaan apapun, meski kau sudah begitu kuat, dan Ummy begitu lemahnya, itu karena Ummy mencintaimu.
Ummy akan selalu mencintaimu
Seperti Ummy telah mencintaimu disaat pertama kehadiranmu di dalam rahimku
Dan akan selalu begitu di sepanjang usiaku.
Jadi, maafkan Ummy jika kelak cinta Ummy sedikit mengusikmu.

Anakku
Terima kasih telah hangatkan jiwaku dengan hadirmu
Terima kasih telah menjadi bintang dalam hidupku

*Peluk

Image

Sebuah tulisan untuk  shalihin-shalihinku Muhammad Faishal Syafi’ullah (Al)  dan Muhammad Azzam Fhadlullah  (Fadhly).
Dari Ummi yang dha’if, maafkan Ummi  ya Nak
Jika kalian berdo’a, jangan lupakan Ummi dalam do’a-do’amu
Ummy love you forever and ever ….

Tulisan inipun terinspirasi dan saya dedikasikan untuk sebuah project #DearDaughter dan #DearSon yang diselenggarakan oleh komunitas blogger KEB (Kumpulan Emak2 Blogger atas prakarsa mbak Indah Julianti Sibarani salah seorang makmin di KEB, yang secara peraturan seharusnya penulisan dengan tema ini dilakukan secara berantai, namun karena satu dan lain hal, saya menulisnya secara independen, dalam arti tak terkait oleh karena penugasan blogger manapun. Tulisan ini murni dari keinginan hati saya sendiri untuk putra-putra saya terkasih. Semoga kiranya pembaca berkenan.

Iklan

16 thoughts on “” Al …”

    Julie Utami said:
    09/09/2013 pukul 10:11 pm

    Do’a-do’a saya yang terbaik untuk nak Winny sekeluarga ya. Semoga lekas sembuh dan sehat lagi untuk bisa beraktivitas seperti biasa.

    *peluk sayang*

    Suka

    chan idehan said:
    10/09/2013 pukul 12:40 am

    sangat terharu, karna hal ini serupa yang perna saya alami…..semoga lekas sembu dan sehat slalu amin…

    Suka

    edipadmono said:
    10/09/2013 pukul 12:47 am

    Jika sahabatku ini sedang sakit aku berdoa agar segera sembuh, jika sedang sedih semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan. Sahabatmu ini tidak bisa tidak bisa memberi apa apa selain doa.

    Suka

    tinsyam said:
    10/09/2013 pukul 1:39 am

    katakata umi adalah doa untuk anakanak..
    lomba toh ini, puitis banget..

    Suka

    Miss Fenny said:
    10/09/2013 pukul 2:16 am

    Maluuuu, emaknya Al yang satu ini belum bisa bertutur seindah itu >.<

    Suka

    Siti Nurjanah said:
    10/09/2013 pukul 3:45 am

    Doa Umi selalu menjadi penjaga bagi putra putrinya.

    Suka

    lovelyristin said:
    10/09/2013 pukul 3:46 am

    Kata2 yang menyentuh 🙂

    Suka

    jampang said:
    10/09/2013 pukul 4:00 am

    kumpulan bapak2 blogger yang bikin surat kaya gini nggak ada yah?
    saya punya stock banyak 🙂

    Suka

    rita dewi said:
    10/09/2013 pukul 4:26 am

    tulisannya indah sekali mbak 🙂 salam kenal:)

    Suka

    Devy Nadya Aulina said:
    10/09/2013 pukul 5:01 am

    Seperti biasa. Untaian kata yang terjalin indah.

    Suka

    Yessy said:
    10/09/2013 pukul 7:24 am

    hiks..hiks..hiks..terharu banget…

    Suka

    muslim El Yamani said:
    10/09/2013 pukul 3:34 pm

    Semoga isi doanya Allah menjawabnya. Amin

    Suka

    indah said:
    11/09/2013 pukul 8:13 am

    saya terharu. . .
    Tiada yang lebih indah selain doa ibu untuk anak2nya.

    Suka

    kakaakin said:
    20/09/2013 pukul 8:07 am

    Aah.. iri banget sama yang udah punya anak… 🙂

    Suka

    hukuminformasi said:
    21/09/2013 pukul 5:29 am

    nice blog

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s