Di Al-Fatihah keseribu Kita Bertemu

Posted on

Sebuah catatan lama

Diary Winny

Lembayung senja rebah di hamparan gulita, saat tangan Syam memeriksa labu infus ketiga di tepi pembaringan istrinya. Warna marun darah yang mengallir pelan di selang infus nampak enggan melewati ruang pandang Syam yang berkabut.

“Jangan ditutup Kak”, Annisa berkata lemah, mencegah suaminya menutup gordyn biru di ruang itu.

“Aku ingin memandang senja dan mendengar suara bayi kita”.

“Tidakkah kau kedinginan Dik ?, udara di luar dingin sekali”

“Tak apa sayang, dingin kali ini tak akan mengalahkan kangenku kepada anakku”

Syam tersenyum getir, diusapnya kepala istri yang dicintainya. Ini tahun ketiga belas pernikahan mereka, dan bayi cantik di ruang perinatal itu anak pertama yang dihadiahkan Tuhan bagi mereka. Hanya saja, perdarahan hebat di ruang O.K. rumah sakit yang dialami Annisa telah melukis warna kelabu di antara kebahagiaan mereka.

Syam mengutuk ketegarannya yang hilang entah dimana. Seharusnya ia lebih siap menghadapi saat-saat seperti ini. Penyakit Lupus yang diderita istrinya sejak lama telah…

Lihat pos aslinya 473 kata lagi

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s