Bukan dalam Kebanggaan, Hanya dalam Kesyukuran

Posted on Updated on

“Aku bangga menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya
Sebuah kalimat yang mengawali beberapa kalimat berikutnya di sebuah status facebook mencuri perhatianku. Sang pemilik status nampaknya memang seorang ibu rumah tangga yang penyayang kepada anak-anaknya, terlihat dari foto-foto yang sering di-uploadnya bersama mereka, entah itu di mall, di restoran atau sekedar di dalam mobilnya.

Senyatanya, kalimat dengan nada serupa ini pernah beberapa kali kubaca.Lain waktu, beberapa tema sewarna kutemukan lagi.

  • “I’m proud being a moslem” dalam selembar T-shirt yang dikenakan seorang ABG di sebuah mall,
  • ada juga kata-kata seorang komentator olah raga seperti ini :”Bangga rasanya melihat bendera Indonesia berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di negara orang”. Pada saat itu ia memang sedang melakukan laporan pandangan mata pada sebuah ajang kompetisi bulu tangkis dunia di China.
  • “Ayah bangga padamu Nak” ucap seorang bapak sambil mengusap-usap kepala anaknya dalam sebuah adegan film.

Lalu tak terhitung lagi hingga lupa kalimat-kalimat mana lagi yang semuanya menyandang kata ‘bangga’ di dalamnya. Semua rekaman kata-kata itu tergambar indah, dan sering membuatku terharu  jika membaca atau mendengarnya karena rasa yang ditimbulkannya.

Semua terasa pas, ketika kata ‘bangga’ bersanding dengan kalimat  ‘menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya’, semua terasa cocok kala kata ‘bangga’ didampingkan pada kata agama manapun, semua terdengar layak saat kata ‘bangga’ berpasangan dengan kata ‘Indonesia’. Dan ribuan sandingan kata bangga lainnya.

Lalu, fikiranku mulai “bersidang”, salah siapa wanita yang tak bisa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya ? Banyak wanita yang terjun ke zona pencarian nafkah bukan karena keinginannya, tapi karena terhimpit masalah ekonomi keluarganya. Menurut saya, wanita mana yang tak ingin tinggal di rumahnya saja, mengurus suami dan anak-anaknya dalam keadaan sejahtera, apalagi dimanja fasilitas  yang mewah, hendak pergi kemana saja tak susah, tak harus memikirkan apakah hari ini dirinya dan anak-anak bisa makan atau akan melewatkan lagi malam dengan perut lapar.

Tak terhitung wanita di luar sana yang akhirnya harus menyingsingan lengan baju, bekerja di luar rumah karena ditinggal wafat suaminya atau karena hal perceraian, atau yang terbanyak adalah karena banyak pria yang meninggalkan fungsinya sebagai penanggung jawab nafkah keluarga.

Jika mengingat ini, tiba-tiba kumerasa, ‘kebanggaan’ yang dituliskan oleh sang ibu rumah tangga tadi terdengar “sumbang”.

Sebaliknya, akan “sumbang” pula kurasa jika tema yang sama dilantunkan oleh para wanita karir karena profesinya. Seseorang bisa mengungkapkan bahwa dia bangga karena bisa berperan ganda, sebagai ibu, sekaligus seorang pencari nafkah. bahkan mungkin pemangku suatu jabatan. Tapi tentu perlu diperiksa, apakah keluarganyapun bangga dengan kesibukan sang ibu.

Begitu pula yang terjadi dengan kebanggaan-kebanggaan lainnya. Sependek ingatanku, Nabi kaum muslimin bahkan selalu mengajarkan kerendah hatian. Imannya “bertutur” dalam adab dan perilaku yang luhur, bahkan kepada sesiapa yang disebut musuh sekalipun. bukan dipropagandakan dalam orasi-orasi bernada tinggi atau digoreskan dalam pongah karya-karya tulis.

Karena jika suatu kaum menyatakan bangga pada agamanya, bukankah kaum yang lainpun bangga dengan agama mereka ? Apakah juga jika kita bangga sebagai bangsa Indonesia, lalu orang Vietnam atau Malaysia tak merasa begitu juga terhadap negerinya ? so what ? Apakah kebanggaan menjadikan kita semua lebih bermartabat  ?

Aku mencoba menciduk ke dalam tempayan perspektif keyakinanku sekemampuanku (tentu saja dengan terbatas pandanganku), dan tak kudapati  kata ‘bangga’ direkomendasikan pada setiap karunia Tuhan yang dilimpahkan kepada hamba-hambaNYA. Lalu kudapati, hanya kata Syukur yang bertebaran di dalamnya.

Ya, tak ada yang lebih pantas untuk dirasakan dan diungkapkan untuk merayakan setiap anugrah melainkan dengan kesyukuran. Rasa syukur lebih menempatkan pemiliknya pada sikap seimbang dibanding rasa bangga. Karena syukur salah satunya bermakna rasa terima kasih, dan rasa terima kasih menunjukkan penghormatan kepada sang pemberi. Lihatlah apa yang dilakukan orang yang berterima kasih, tak suka menyia-nyiakan pemberian.

Dan justru karena rasa syukurlah menurutku, seseorang mendapatkan kehormatannya. Membuatnya semakin berintegritas dan berdedikasi atas apapun peran dalam kehidupannya.  Kesyukuran juga menJauhkannya dari kesombongan yang meruntuhkan penghargaannya kepada orang lain yang berbeda darinya.

#Bersyukur_itu_indah

Iklan

19 thoughts on “Bukan dalam Kebanggaan, Hanya dalam Kesyukuran

    jampang said:
    21/08/2013 pukul 11:18 pm

    jika bukan diri ini yang bangga dengan apa yang kita lakukan, siapa lagi?

    😀

    tetap bersyukur… semoga kita bisa.

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/08/2013 pukul 12:04 am

      ya, bangga mungkin memang influencenya lebih ke dalam diri. sedang kesyukuran bisa berefek positif kpd orang lain. Setidaknya itu menurut pendapatku 🙂
      Makasih bang 🙂

      Suka

        jampang said:
        22/08/2013 pukul 12:34 am

        ah… iya… bener teh

        Suka

    debapirez said:
    22/08/2013 pukul 12:53 am

    rasa syukur akan membuat kita tercukupi…

    Suka

    Inge Febria said:
    22/08/2013 pukul 1:04 am

    terima kasih sudah diingatkan ya mbak…

    semoga bentuk syukur kita tidak terjebak pada kebanggaan yang sumbang

    Suka

    Ziyad said:
    22/08/2013 pukul 1:57 am

    Mantap ini tulisan. Renyah, ringan dan enak di baca. Sekalian follow or coment http://ziyadvoice.blogspot.com/

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/08/2013 pukul 3:07 am

      makasih mas Ziyad, insya Allah nanti sy berkunjung ya 🙂

      Suka

    danirachmat said:
    22/08/2013 pukul 2:25 am

    makasih sudah diingatkan, semoga saya bisa selalu bersyukur.. 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/08/2013 pukul 2:55 am

      sama2 mas Dani, ini ingatan utk diri sendiri, mhn maaf kl terasa menggurui 🙂

      Suka

    akhmad muhaimin azzet said:
    22/08/2013 pukul 2:41 am

    Alhamdulillaah….
    sungguh berkali pula
    aku turut mengucap… alhamdulillaah…

    Suka

    pudja said:
    22/08/2013 pukul 3:15 am

    alhamdulillah,
    nice post mba 🙂

    Suka

    tinsyam said:
    22/08/2013 pukul 5:02 am

    daku bangga mengenal mbak winny dan tetap berteman sampe sekarang..
    [[berpelukan]]..

    iya sih perpektif kita soal bangga itu gimana, yang penting adalah tetep bersukur.. sebangga apapun kita pada prestasi, jabatan, status, nationality, norma.. apapun..

    Suka

    edipadmono said:
    22/08/2013 pukul 10:49 am

    Bangga dan syukur itu suatu hal yang berlawana.
    Untuk awal tulisan mengenai ibu yang bekerja, tidak ada masalah selama diniatkan untuk membantu beban suami karena keterbatasan ekonomi dan bukan karena ambisi karir dalam hidupnya yg mungkin sudah susah payah bersekolahtinggi. Diriwayatkan bahwa Aisyah RA pernah bekerja menjadi tukang tumbuk gandum karena kondisi ekonomi Rosul yg kekurangan.

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/08/2013 pukul 1:43 pm

      tak ada masalah dgn ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja, selama bertanggung jawab dengan peran utamanya. Saya hanya merasa, rasa bangga yang diungkapkan, itu dekat dengan ujub. Di tulisan ini ada link yang mengarah ke penjelasan tentang kata bangga (kekaguman /takjub kepada diri sendiri atau sesuatu yg kita miliki)

      Suka

    novianadewi said:
    23/08/2013 pukul 10:38 am

    Seharusnya memang nggak boleh berbangga karena apapun yang kita punya dan kita nikmati semuanya adalah pemberian Tuhan.
    Setuju, bersyukur mungkin kata yang lebih cocok….

    Tapi kata “syukur” juga ketika dituliskan di socmed, bisa berpotensi jadi pamcol ya… 🙂

    Makasih sudah diingatkan, Mbak…

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/08/2013 pukul 11:18 am

      hehehe iya mbak, dtulis di status socmed kesannya jadi pengumuman ya hihihi

      Ini cuma opini pribadi mbak, mhn maaf kl ada yg kurang berkenan ya ;0

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s