Buah Tangan Lebaran

Posted on Updated on

Nasehat Kemacetan

Ada kembang sedap malam di sudut ruang, terpajang anggun tinggi semampai. Harum malam takbiran yang sama dengan malam-malam takbiran bertahun-tahun di rumah ini. Rumah Mama dan Papaku di Bandung.

Ini hari raya ketigaku tanpa kehadiran Mama. Keramaian yang senyap di mataku memandang Papa disungkemi anak-anak dan cucu-cucu tanpa Mama disisinya. Mungkin perlu waktu seumur hidup tuk mengobati rasa kehilangan  wanita yang pernah  melahirkan dan mengasihiku itu.

Hanya saja, kehadiran banyak orang yang pernah mengenal, menyayangi dan disayangi Mama di tajuk iedul fitri ini sungguh-sungguh menjadi penghiburan yang indah. Hingga selanjutnya beberapa perjalanan dengan kemacetan lalu lintas luar biasapun jadi hal yang sama menyenangkannya.

Mungkin sebagian menganggap ini cakap angin saja, tapi persoalan rasa memang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yang pasti, perjalanan 30 jam pulang pergi Pangandaran – Bandung kemarin memang asli menyenangkan. Semua penumpang mobil tak ada yang mengeluh, kecuali hanya sesekali permintaan berhenti untuk shalat atau keperluan toileting. Selebihnya acara berjam-jam di mobil diisi dengan bincang-bincang, kadang serius, kadang jenaka, beberapa games seru yang dirancang dan dimainkan anak-anak dan yang pasti, acara tidur, kecuali sang supir.

Lebih dari itu ternyata, kita memang perlu menyediakan berlimpahan maklum dan kemaafan bagi sesama teman perjalanan yang tentu tak bisa selalu menahan khilaf dan kesalahan-kesalahan kecilnya selama kebersamaan . Mungkin itu sebabnya perjalanan jadi tak menegangkan karena semua dihadapi dengan ringan, hingga terik panas dan jenuh karena kemacetan hampir-hampir tak dirasakan. Lalu saya mulai sok menghubung-hubungkan semuanya dengan kehidupan.

Aku teringat pada kata-kata seseorang  :
“24 jam bukan perkara mudah untuk mengisinya, padahal gerbang kehancuran manusia itu tiga perkara: KEKOSONGAN, MASA MUDA DAN BANYAK UANG.”

Ada sebagian orang yang di paruh bayanya masih bermain-main dengan waktu. Saat orang yang sukses bermalam dengan rencana-rencana dan kontemplasi dalam tahajud cinta, sang pecundang habiskan malam dengan pergaulan sia-sia. Saat orang sukses memulai pagi semelesat kilatan pedang, sang pecundang malah rebah menebus begadangnya semalam. Saat orang sukses menghisab petang dengan evaluasi dan kalkulasi, sang pecundang sibuk menguap dan baru terjaga dari mimpi.

Tak heran, hidup sang pecundang selalu penuh emosi, sensitif pada hal-hal yang tak perlu dan yang pasti tak produktif, mudah mencari kambing hitam atas kegagalan-kegagalannya. Semua karena hidupnya kosong dari visi, hingga kosong pula dari misi. Atau mungkin ia punya bergudang visi, tapi tak hendak mengeksekusi. Akhirnya sama saja, ia hanya akan berputar-putar disitu-situ saja.

Dalam perjalanan menuju Pangandaran, terkenang cerita keluarga ulama di Lombok yang penuh keprihatinan.  Di masa awal berkeluarga, setiap kelahiran seorang putri atau putra selalu tertimpa musibah, hingga lima kali berturut-turut anak yang terlahir selalu meninggal dunia. Hingga putra keenam bertahan beranjak besar, pada usia tujuh tahun meninggal juga karena tertabrak kendaraan yang melaju kencang.

Mereka hidup dalam kemiskinan, namun selalu menyediakan gubuknya menjadi naungan orang lain hidup bersama-sama mereka. HIngga bertahun-tahun kemudian keadaan membaik, dan berkah berlimpahan atas keluarga mereka. Semua putra sang ulama yang masih hidup menjadi cahaya mata yang berharga, baik dalam keluarga maupun masyarakatnya. Mereka semua telah dimampukan menunaikan ibadah haji bahkan sebelum kedua orang tua mereka renta.

Namun ujian nyatanya tak berhenti menyapa, selama lima belas tahun istri sang ulama diterjang stroke yang melumpuhkan tubuhnya, selama itu pula sang suami merawatnya dengan cinta disela-sela kesibukan da’wahnya. Dan yang paling menyentuh hati adalah saat sang istri yang iba melihat suaminya mengabdikan hidupnya untuk orang banyak, keluarga  dan dirinya berkata :
“Jika kanda menginginkan, silakan kanda menikah lagi, carikan wanita yang baik untuk menjadi istri  dan ibu agar ia bisa mengurus kanda dan anak-anak”.

Apa jawaban sang ulama ? :
“Jangankan kau sedang sakit seperti ini, kau sedang sehatpun tak terbersit sedikitpun untuk menikah lagi. Saksikanlah, bahwa kau tak sia-sia menikahi lelaki ini. !”

Kuusap sayang rerambut anakku yang tertidur di pelukanku. Menerawang jalanan yang masih gelap dihadapanku.

 

Lembayung Pangandaran

Berhari-hari dalam keramaian hari raya buatku kangen kesendirian. Sejak remaja, aku senang berjalan menyusuri jalan berseorang, tanpa teman, tanpa kawan. Bersendiri berjalan kaki menyusuri aspal, menghayati setiap kelokannya, menikmati panorama jalan, gedung-gedungnya, lampu-lampunya, pepohonan, taman-taman kota, rerumpun semak, jembatan, perdu dan ilalang, atau bunga-bunga liar.

Dulu belum ada phone cell berkamera, kemana-mana kuselalu membawa pensil dan buku gambar bersampul warna. JIka ada waktu luang, kucari kursi, duduk disana sekedar menggambar lampu kota atau awan senja.

Pangandaran membuatku rindu semua itu. Meski tak banyak yang bisa kuharapkan, karena kesyahduan sulit kudapatkan dari sejak tempat penginapan hingga ke tepi pantai. Semua tempat penuh dengan orang berlalu lalang. Dan keprihatinan mendalam melihat tempat seagung pantai telah dicemari limbah beraneka rupa. Orang-orang membuang plastik atau kemasan makanan ke atas pasir tanpa merasa bersalah.

Namun kumenyaksi ketabahan samudra. Betapapun manusia menyakitinya, ia tetap mengirimkan ombaknya. Membasuh tumit-tumit yang tak peduli kepadanya. Memperlihatkan indah terbit dan tenggelamnya matahari dari Pantai Timur dan Pantai Baratnya pada hari yang sama.

Aku hanya membawa BB jadulku di saku. Dan tak ada yang kumau kecuali hanya menangkap sunset di kamera ponselku. Sayang, selama dua senja disana, sang fajar selalu berkelimun dibalik awan. Pada akhirnya, memang aku hanya asyik dengan awan-awan itu. Dan sedikit tak peduli dengan pendapat orang tentang sugesti. Yang pasti, senja itu aku memotret salah satu pagelaran awan yang membentuk nama Tuhanku. Allah. Tepat di atas kepalaku.

 

Ada namaNYA disana
Ada namaNYA disana

 

Aku masih mencintai awan-awan,  ia serupa impian-impian yang harus kujelang. Meski dalam jarak tak berkesudahan.

 

 

 

Iklan

14 thoughts on “Buah Tangan Lebaran

    novianadewi said:
    18/08/2013 pukul 12:25 pm

    Belum telat buat ngucapin selamat idul fitri kan, Mb Win?
    Maaf kalo ada komen-komen yang nggak berkenan di hati.

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/08/2013 pukul 7:04 am

      nggk ada telat mbak, terima kasih atas ucapannya ya. Tak ada yg harus dimaafkan, mbak Novi itu baiiik sekali, aku sayang mb Novi *peluk*

      Suka

    Julie Utami said:
    18/08/2013 pukul 3:49 pm

    Assalamu’alaikum. Maafkan saya lahir dan batin sekali lagi ya, Perjalanan melelahkan tapi penuh kebahagiaan, bukan?! Seperti itu juga yang dirasakan almarhumah Mama di kehidupan barunya.

    *salam hangat*

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/08/2013 pukul 7:06 am

      Alaikumsalam wrwb
      Seharusnya saya yg mohon dimaafkan Bu, kurang bersilaturahmi sm Ibu. Jangan berkurang sayang buatku ya Bu
      *peluk Ibu*

      Aamiin, ya semoga Mamaku pun bahagia “disana”.

      Suka

    kakaakin said:
    18/08/2013 pukul 4:30 pm

    Hmm… saya mesti introspeksi diri nih. Semoga bukan termasuk golongan pecundang…

    Suka

    jampang said:
    19/08/2013 pukul 1:07 am

    semuanya tersedia buat manusia… tinggal manusianya apakah bisa mengambil pembelajaran dari semua itu…

    *semog saya bisa*

    mohon maaf lahir batin, teh

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/08/2013 pukul 7:09 am

      semoga saya juga bisa bang, maaf lahir bathin jg ya 🙂

      Suka

    Batavusqu said:
    19/08/2013 pukul 4:59 am

    Salam Takzim
    Buah tangan lebaran tertulis demikian panjang yang seharusnya bisa dibelah menjadi 2 bagian terindah, awan itu demikian indahnya menanungi WP
    Salam Takzim Batavusqu

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/08/2013 pukul 2:55 am

      hehe iya mas, entahlah, mungkin karena belakangan ini saya jarang punya keempatan menulis, jadinya, dua tema dijadikan satu postingan.
      Salam takzim juga, terima kasih sdh berkenan singgah mas

      Suka

    tinsyam said:
    20/08/2013 pukul 9:33 am

    maaf lahir batin ya.. 30jam pangandaran-bandung? woaaahhh..
    keren foto awannya, ada huruf W disitu.. kebaca allah ya?

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/08/2013 pukul 2:54 am

      30 jam maksudnya PP mbak 🙂

      hehe iya itu tergantung persepsi yang lihat si mbak, mungkiin orang bisa juga melihat awan itu spt huruf W, atau mungkin bisa juga seperti ombak ya 😀

      Suka

    ocitamala said:
    21/08/2013 pukul 2:15 am

    saya selalu kagum dengan laki-laki seperti ulama diatas:
    “Jangankan kau sedang sakit seperti ini, kau sedang sehatpun tak terbersit sedikitpun untuk menikah lagi. Saksikanlah, bahwa kau tak sia-sia menikahi lelaki ini. !”

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s