Saat Kanker Mengubahmu

Posted on Updated on

Setiap kali membaca tulisan bunda Julie Utami disini dan tulisan beberapa teman blogger para penyintas kanker (para penyandang kanker yang sedang berjuang atau telah sembuh dari penyakit itu), tak pernah tidak, selalu muncul rasa kagum yang bersenyawa dengan rasa hormat yang mendalam, bagaimana sebuah penyakit yang ditakuti karena akibatnya yang besar atas kesehatan seseorang bisa membuat mereka begitu tangguh menghadapinya sekaligus memprasastikan bagian hidup mereka itu ke dalam tulisan yang mencerahkan banyak pembacanya.

Seorang sahabat penulis penyandang kanker pernah menulis, bahwa kanker dan seluruh proses pengobatannya telah membuat perubahan besar atas diri dan keluarganyanya. Sejak kanker bersemayam dan menggerogoti sedikit demi sedikit kekuatan raganya, kehidupannya dan keluarganya telah tak sama lagi.

Banyak hal berkaitan dari mulai proses pemeriksaan dan pengobatan dari yang menyakitkan hingga sangat menyakitkan yang harus dilalui membuat mereka berubah menjadi pribadi-pribadi yang berbeda. Kesabaran benar-benar diuji, pengalaman fisik yang dinamis yang membuat bathin tergoyah hebat, membangun tingkat kesadaran spiritual yang luar biasa.

Sering, saat selesai membaca postingan mereka serasa baru keluar dari sebuah rumah ketakjuban yang lalu menyisakan hening. Hening yang membawa ingatan saya hinggap pada kenangan tentang almarhumah Mama yang telah pergi dengan sebab penyakit yang sama, kanker.

Leukemia (kanker darah) hanya memberi Mama waktu tak sampai setahun untuk berjuang dan mempertahankan kesehatannya. Saat dokter penyakit dalam memastikan penyakit yang Mama derita, keadaan sudah terlalu jauh dari jangkauan. Mama dinyatakan mengidap Leukemia stadium 4. Memang, waktu itu Mama menolak pengobatan secara medis. Mama tak kuasa membayangkan diri beliau harus diambil cairan dari tulang sumsumnya untuk membantu dokter mengetahui bagaimana pengobatan yg tepat untuk kesembuhannya, Mama juga tak mengizinkan kemoterapi untuk melawan penyakitnya. Mama memilih hanya pengobatan secara herbaly. Tapi satu yang sama yang saya lihat dari Mama dengan teman-teman para penyintas kanker saat ini, yakni semangat, ketabahan dan sekaligus juga kepasrahan.

Saya belajar tentang kesabaran dari Mama saat beliau memikul beban penyakit itu. Beliau dalam ringkih tubuhnya karena kehilangan kekuatan dan banyak berat badannya sehingga jika keluar rumah harus dipapah atau menggunakan kursi roda, dan Mama menolak dibelikan kursi roda, tapi beliau tak pernah kehilangan kesempatan mengaji di pengajian mingguan ibu-ibu lingkungan rumah kami di Bandung. Dari rumah, beliau terseok-seok menuju rumah tempat pengajian ataupun masjid, lalu sesampai disana dengan sopan santunnya kepada guru mengaji beliau, Mama memohon maaf atas keterbatasannya karena disebabkannya Mama harus duduk diatas kursi yang disediakan tuan rumah atau masjid selama mengikuti pengajian itu bahkan disaat shalat berjamaah (Mama shalat berjamaah dalam keadaan duduk di kursi). Saya masih ingat, sang guru dengan ramah dan lembutnya mengizinkan beliau duduk di kursi saat ibu-ibu yang lain duduk di atas permadani, dan semua yang hadir tak ada yang tak meneteskan air matanya menyaksikan Mama dalam keadaan seperti itu.

Mama adalah seorang yang apik dan rapih dalam merawat diri selama hidup beliau. Dan hal itu terbawa saat beliau sudah diserang berbagai penyakit (sebelum diketahui mengidap kanker, Mama terkena stroke ringan yang menyebabkan tubuh bagian kanan beliau lumpuh tak berdaya).

Hingga mendekati hari wafatnya, Mama tak pernah mau buang air kecil apalagi besar jika bukan di toilet. Selalu, meski harus dengan bersusah payah, beliau akan berjuang mencapai toilet untuk membersihkan dirinya. Mama tak ingin menyusahkan siapapun termasuk anak-anaknya, padahal beliau melihat semua putri-putrinya tak ada yang merasa disusahkan olehnya.

Mamapun meninggalkan jejak hikmah yang begitu dalam, saat Papa yang semula begitu tegar menemani Mama sejak penyakit pertama datang (stroke) dalam proses pengobatan manapun Papa selalu mengawal dengan penuh perhatian. Tapi vonis kanker untuk Mama terlalu berat untuk ditanggungkan, tiba-tiba Papaku yang gagah, yang selalu tenang memimpin peyelesaian perso’alan, Papaku yang pendiam, terguncang mendapati hasil test darah Mama yang . Suatu pendadakan yang membuat limbung seluruh keluarga, namun tak sedikitpun rona ketakutan tampak dalam diri Mama. Mama memilih untuk diam dan lebih fokus pada berobat saja daripada mencari tahu penyakitnya seberat apa.

Mama seorang sederhana yang tak berminat untuk terlibat di dunia  maya, tak tahu bagaimana caranya browsing di internet, tak bisa membuat akun apapun semisal facebook apalagi blog, tak mengerti apa itu bloging dan semacamnya.  Mama tak bisa menulis pengalaman dirinya melawan penyakitnya untuk bisa berbagi semangat kepada sesama penyandang kanker lainnya atau sekedar untuk menghibur diri dan melupakan sejenak penderitaannya. Mama hanya pensiunan guru sekolah dasar yang bisa melakukan itu semua jika sahabat-sahabat atau karib kerabat mengunjungi untuk menjenguknya. Atau kapanpun beliau bisa bertemu orang lain meski dalam rapuh raganya.

Para tetangga ataupun pedagang-pedagang makanan atau jamu langganan Mama dan abang-abang becak yang rata-rata sudah berusia tua di sekitar rumah kami menjadi teman berbincang Mama di pagi atau sore hari jika Mama memaksakan diri untuk mentherapy tubuhnya dengan “berjalan-jalan kecil” meski dengan tertatih-tatih sambil bertelekan di pagar rumah. Mama selalu ingin bertemu dengan mereka, sekedar menyapa supaya bisa meneruskan kebiasaan beliau memberi sekedar makanan ataupun uang alakadarnya. Jauh sesudah hari wafatnya, sering jika saya pulang ke Bandung banyak dari mereka yang menyalami dan memeluk saya karena rindu kepada Mama, rindu pada kebaikan-kebaikannya. Mama telah membuat saya mendapat limpahan cinta juga dari orang-orang yang dulu dikasihinya.

Tapi, ketegaran Mama karena ada Papa disampingnya meminta jeda juga rupanya. Untuk beberapa lama, Papa tertekan bathinnya, Sering menyendiri dan mulai menunjukkan tingkat kecemasan yang berlebihan. Hingga sampai pada tingkat tak memiliki lagi gairah hidup. Padahal Mama masih sangat membutuhkan beliau untuk terus mendampinginya.

Disinilah saya melihat Mama yang terbiasa manja kepada suaminya “bangkit” sebagai sosok yang kuat, motivator yang hebat dan elegan bagi Papa kembali merebut semangat hidupnya. Saling support, saling menguatkan, saling meyayangi disaat-saat paling lemah mereka. Sungguh, segala puji bagi Allah,  kanker membuat saya dan adik-adik menyaksikan kisah cinta penuh pengorbanan dan kesetiaan dari orang tua kami sendiri.

Hingga tiba saatnya, maut memisahkan kami. Bukan karena Mama telah menyerah, bukan karena Mama telah berhenti berjuang. Semata-mata karena kehendak Allah, saat itu Mama harus menjumpaiNYA dalam keadaan saya masih di Bogor, tak mendampingi saat-saat “keberangkatannya”. Dan itu adalah hal paling menyakitkan dalam hidup saya hingga saat ini, meski saya yakin Mama telah ikhlas jauh sebelum saat itu datang. Bahkan jauh sebelum penyakit itu menyerang.

Namun ada permata berharga tak ternilai yang ditinggalkan Mama, setidaknya dalam kesanku. Permata yang membuat Mama selalu berpancar bahagia meski dalam keadaan beliau yang paling berat sekalipun. Ialah memberi. Mama seorang yang senang memberi memberi apa saja yang beliau punya, kepada siapapun, apalagi kepada orang yang menginginkan dan membutuhkan.

Melihat orang senang atau lega karena terlepas dari kesulitannya dengan pemberiannya  adalah kebahagiaan Mama. Mama menggenggam sifatnya ini tak kenal letih, menjadi perhiasan Tuhan didalam pribadinya yang indah, membuat beliau menjadi pribadi yang lovable, banyak dicintai segala kalangan. Setidaknya di lingkungannya, dari orang-orang yang mengenalnya, sebagai seorang Ibu yang sekaligus juga seorang guru di sekolah dasar.

Hal ini nampak justru saat jelang dan pada saat pemakamannya, banyak orang mengantarkan jasadnya pada pelukan bumi, saat ruh dan rasanya kembali kepada Rabb yang Maha Penyayang.

Ada kata2 Mamaku yang terpatri dalam hatiku yang mungkin tak terlalu persis, tapi intinya seperti ini :
“Semakin keras ujian Tuhan, semakinlah kamu genggam erat tali simpulNYA.  “Apa itu tali simpulNYA Mama ?” tanyaku, simpul Allah itu dzikir dan banyak bersedekah”

Ya, kanker telah mengubah  Mama semakin cinta dzikir dan berbagi, begitpun padaku, penyakit itu telah mengubah cara pandangku tentang hidup, tentang perjuangan, tentang kesabaran, tentang keberanian menghadapi apapun bahkan penderitaan.

Semoga taqdir tak mengizinkan kanker menghampiri kita, keluarga kita, serta sahabat-saudara kita. Namun, kalaupun harus tertaqdir, jangan takut !, biarlah kanker menjadi epigraf, yang akan terus menebarkan kebestarian dalam kehidupan kita. Aamiin.

 

Tulisan ini winny dedikasikan untukmu Mama, dan seluruh penyintas kanker di dunia ini.

Image
Sel Kanker

Iklan

41 thoughts on “Saat Kanker Mengubahmu

    tinsyam said:
    16/04/2013 pukul 1:44 am

    mamanya pasti bahagia “disana” membaca tulisan indah ini..
    sudah setahun berlalu kah?

    penyakit apapun selalu membuat kita jadi berubah, kalu mengalaminya.. beda cara pandang dengan yang tak mengalaminya..

    pelukpeluk mbakwinny..

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/04/2013 pukul 2:05 am

      12 Juli ini menjelang 2 tahun kepergian beliau mbak. Ya, penyakit kanker memang sudah mengubah hidup kami, tp yg saya rasakan perubahan itu baik buat kami meski menyakitkan. Sampai sekarang sering merasakan kangen yang nggk bisa ditahan. Tapi semoga spt yg mbak Tintin tuliskan ya mbak, smg Mama sdh bahagia sekarang disana bersamaNYA, aamiin ..

      *Peluk mb Tintin jg*

      Suka

    Melly Feyadin said:
    16/04/2013 pukul 2:16 am

    Kanker emang mengubah seseorang..
    tetep jaga kesehatan ya mba.. krn kita ga pernah tau penyakit kanker akan datang ke siapa saja, termasuk saya saat ini jg ada di payudara 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/04/2013 pukul 2:25 am

      *Peluk sayang mb Melly dulu*
      Insya Allah mb Melly, akan saya jaga kesehatanku, smg mb Mellypun dikaruniakan kesembuhan ya mbak. Tetap semangat berobat, jangan menyerah ya.

      Suka

    Julie Utami said:
    16/04/2013 pukul 3:11 am

    Allah akan menunjukkan cinta kasihNya kepada kita melalui caraNya sendiri yang tak pernah terduga, termasuk lewat penyakit kanker ini. Sekarang sebagai penderita saya dan anak-anak justru merasa sangat diperhatikan Allah dan dimanjakan lewat sentuhan pemberian orang-orang yang terketuk membantu kami atas izin dan kehendak Allah. Jadi, saya tetap berbesar hati menjadi salah satu penderita kanker saat ini.

    Ikut bangga pada Mama ya neng Winny, sekaligus ikut mendoakan semoga arwah beliau dikucuri banyak kebaikan dari Allah dengan ditempatkan di sorga yang kekal. Amin-amin-amin. Bayangkan senyum ibundamu dari alam keabadian itu………. Bahagia terbebas dari sakitnya dan bangga menyaksikan banyak orang mencintai termasuk kalangan bukan keluarganya.

    Terus terang bebas dari sakit kanker itu membahagiakan keluarga lho, karena kan dengan sendirinya mereka memang ikutan merasakan sakit kita sebab untuk merawat dan memberikan pengobatan yang baik pun sudah amat melelahkan keluarga.

    Salam hangat dan peluk mesra ya!

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/04/2013 pukul 8:50 am

      Itulah sisi lain yang ingin saya perbesar dalamparadigma saya, bahwa kanker mungkin bisa merebut kekuatan fisik penderitanya, tapi ternyata tak mampu melawan kekuatan jiwa mereka yg penuh cinta dan rasa syukur. Setidaknya itu yg saya lihat dari Mama, dari Ibu Julie, dari teman2 penyintas kanker.

      Terima kasih atas do’a indahnya Ibu, saya nggak kuat tahan air mata membaca kata-kata Ibu. Tentu saya sgt mengharapkan Mama sdh bahagia sekarang, terbebas dari seluruh kesakitan duniawinya.

      Dan untuk Ibu, semoga selalu dikarunia kebahagiaan, tak perduli apapun yg sedang dijalani, dan semoga tak lama lagi dianugrahi kesembuhan oleh Allah ya Bu.

      Salam sungkem dari winny Bu.

      Suka

        Julie Utami said:
        16/04/2013 pukul 9:31 am

        Saya aminkan doanya ya neng. Selalu jadi penyemangat saya lho.

        Suka

    novianadewi said:
    16/04/2013 pukul 3:31 am

    Tes… tes… tes… jadi pingin netes airmata terharu…
    Kalo kita ikhlas, sepahit apapun kejadiannya selalu ada hikmah yang bisa dipetik ya, Mbak…
    Mamaku juga pernah kena kanker payudara, tapi survive karena kasih sayang Tuhan dan masih sehat sampe sekarang umurnya udah 73.

    Suka

      Julie Utami said:
      16/04/2013 pukul 4:24 am

      Cipie, bagio-bagi dong sama saya soal kiat mencapai kesembuhan Mama. Stadium berapa dulunya? BTW cipie mesti ati-ati karena cancer is running in the family. Jadi menjalani gaya hidup sehat seperti yang cipie terapkan akhir-akhir ini adalah solusi terbaik.

      Suka

        novianadewi said:
        16/04/2013 pukul 5:08 am

        Masih stadium awal sih, Bund… karena cepat ketahuan ya jadi cepat ditindak. Sempat berobat ke sinshe juga sih sebelum akhirnya dibuang sebelah payudaranya. Habis itu masih harus pengobatan lamaaa…. Ada tusuk jarum, pengobatan herbal cina, pantang daging. Tapi si mama semangat hidupnya besar, katanya tanggung jawabnya sama anak-anak masih banyak. Saya waktu itu masih SMP, Bund.
        Beberapa tahun yang lalu sempat dicurigai jaringan itu tumbuh lagi. Soalnya suka sakit di daerah dada sampe makan juga susah nelen. Tapi setelah diperiksa, puji Tuhan ternyata nggak.

        “cancer is running in the family” kayaknya bener, Bund. Adiknya mama paling kecil kena di rahim. Nenek saya almarhum juga sama.
        Tapi Mama saya bilang, dia selalu berdoa supaya penyakit itu berhenti sampai di mama aja, biar nggak ada lagi anggota keluarga yang kena.

        Suka

        Julie Utami said:
        16/04/2013 pukul 9:29 am

        Iya kan cipie? Semoga doa Mama didengar Yang Maha Pengasih. Soalnya sakit kanker itu nyiksa beneran. Cukup sampai yang tua aja.

        BTW puji Tuhan cie, tadi bu Walikota ke Kelurahan, kata staff Kelurahan nyari saya karena dengar ada penderita kanker payudara stadium lanjut nggak bisa berobat. Sayang mereka nggak bisa nyebut siapa nama penderitanya, dan bu Walikota salah nyebut alamat RT dan RW saya, jadi nggak ketemu. Terus Ketua Kader Posyandu RW saya dipanggil pak Lurah dan akhirnya ketahuan saya yang sakit. Habis itu dia lapor ke Kelurahan dan Kasie Kesra ke rumah, ngasih tahu bahwa akan disuruh membuatkan Jamkesda yang saya harap-harapkan itu, sambil nganter bu Walikota hari Sabtu nanti mengunjungi saya mau mengulurkan bantuan dari Yayasan Kanker Indonesia. Duh, terharu banget……… puji syukurnya nggak habis-habis, soalnya rakyat dapat perhatian banget dari Walikotanya gitu lho. :-)))

        Suka

      winny widyawati responded:
      16/04/2013 pukul 8:52 am

      Ikut bahagia membacanya mbak Novi, sembuh dari kanker tak terbayangkan senangnya, tapi memang harus selalu waspada. Dibisakan Tuhan mencapai usia 73 itu luar biasa untuk mantan pasien kanker. Mama saya meninggal dunia saat usia beliau masih 64 tahun mbak.

      Suka

    moocen susan said:
    16/04/2013 pukul 4:24 am

    jadi ingat ibuku juga sakit kanker, beliau meninggal 14 tahun yang lalu. mau baca kisahnya? silakan kunjungi http://moocensusan.blogspot.com/2013/03/kanker-telinga-membersihkantelinga.html

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/04/2013 pukul 8:54 am

      Terima kasih atas kujungannya disini ya mbak Susan. Semoga ibunda mb Susan dalam kasih sayang Tuhan skrg. Saya segera meluncur ke blogmu mbak.

      Suka

    Riski Fitriasari said:
    16/04/2013 pukul 4:51 am

    Innalillahi wa innailaihi roji’un, smoga amal ibadah baik beliau selalu menerangi dan meringankan jalan dan langkah beliau dimanapun berada, terimakasih ka sdh menulis pengalaman kaka dg mama kaka, saya jadi terpacu lg smangatnya, smoga smangat itu jg menular kesemua orang yang membaca tulisan kaka ini…
    Kaka jg semangat ya..!!! Salam kenal..

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/04/2013 pukul 8:55 am

      Aamiin, aamiin, aamiiin,
      Terima kasih banyak atas do’amu yg menggugah hati adik sayang. Do’aka kakak bisa tabah ya. Riski juga jaga kesehatan ya dik 🙂

      Suka

    Sofi said:
    16/04/2013 pukul 2:10 pm

    Insya Allah Mama Teh Winny mendapatkan Tempat yang Indah di Sisi Allah, terharu membacanya. Kakak perempuan saya juga mengidap kanker. Setahun lalu kankernya telah diangkat, telah menjalani kemoterapi, berbagai keluhan pasca kemoterapi dilalui hingga suatu waktu ternyata jantungnya terendam air. Itulah saat2 kritis….setelah dinyatakan sehat, kini sebulan lalu hasil pemeriksaan lab menunjukkan bahwa sel kanker dalam tubuhnya masih menunjukkan angka di atas normal. Mohon do’anya Teh Win….

    Suka

      Julie Utami said:
      16/04/2013 pukul 3:45 pm

      Salam kenal teh Sofi, saya pasien kanker sedang dalam kemoterapi belum dioperasi sebab menunggu cari obat yang cocok untuk kemoterapi oasca pengangkatan tumor. Saya berhasil mempertahankan kondisi supaya kanker nggak menyebar dengan herbal Cina dan totok syaraf. Bahkan setiap akan dikemoterapi saya termasuk pasien yang paling siap dan paling fit karena kondisi umum saya terbaik di antara para pasien yang dikemo saat itu.

      Semoga kakaknya juga bisa bertahan ya teh Sofi.

      Suka

      winny widyawati responded:
      17/04/2013 pukul 8:45 am

      Selalu ada do’a untuk orang-orang yg sabar, bahkan seluruh penduduk langit dan bumi mendo’akan mereka yg sabar atas ujian Allah. Saya yakin, kakak mb Sofi-pun mendapatkan kehormatan itu.
      Mb Sofi tabah ya, semoga kakaknya dikarunia kesembuhan kembali.

      *Peluk2 mb Sofi*

      Suka

    jampang said:
    16/04/2013 pukul 10:50 pm

    banyak hikmah di setiap kejadian

    Suka

    ocitamala said:
    17/04/2013 pukul 7:24 am

    saya selalu kagum dengan pejuang kanker

    Suka

    The Others said:
    18/04/2013 pukul 1:10 am

    Sampai saat ini penyakit kanker memang masih menjadi penyakit paling menakutkan di muka bumi ini.
    Siapapun pasti tak akan siap saat divonis menderita penyakit ini mbak.
    Itu sebabnya, mereka sangat butuh dukungan dari keluarga dan orang2 tercinta utk dapat melawan kanker itu.
    Terkadang berkat orang2 sekitarlah mereka dapat kuat utk bertahan melawan penyakit yang ada.
    Soal Bundanya mbak Winny… aku yakin beliau telah mendapatkan banyak cinta dan dukungan dari keluarga.
    Bila akhirnya memang ‘kalah’ itu memang sudah kehendakNYA.
    Beliau pasti pergi dengan tenang dan bahagia karena yakin keluarganya ikhlas dan dapat melanjutkan hidup dengan baik.

    Seneng banget bisa mampir kesini mbak… ({})

    Suka

      winny widyawati responded:
      18/04/2013 pukul 3:57 pm

      Iya mbak ada salah satu anggota keluarga yg sakit, akibatnya ke seluruh keluarga itu sendiri. Selama Mama sakit terasa sekali perubahan suasananya, tapi kalau dibawa ikhlas, kita bisa ttp bahagia dan bersyukur jg ya mbak. Dan mg itu yg aku harapkan saat itu, bisa membahagiakan Mama di sisa waktunya.
      Mohon do’anya utk Mamaku ya mbak.

      Aku jg senang mb Reni selalu hadir di rumah virtualku 🙂

      Suka

    Raf said:
    19/04/2013 pukul 11:11 am

    Saya pernah ngalamin hal serupa, jadi tahu persis sepeti apa rasanya. Be strong 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      19/04/2013 pukul 3:04 pm

      Semoga suatu saat anda berkenan mengisahkan hal ini juga ya 🙂

      Suka

    Sofi said:
    19/04/2013 pukul 5:05 pm

    Teh Winny benar sekali apa kata Teh Winny, ada anggota keluarga menderita kanker dampak terhadap kehidupan keluarga besar kami sangat terasa, terutama bagi kedua orang tua saya, Ayah saya sempat jatuh sakit setelah tahu kondisi kakak saya.Pun demikian saya membayangkan saat mamah Teh Winny sakit…pasti sangat berpengaruh terhadap kehidupan keluarga, satu hal yang pasti tak pernah berhenti dari harap & do’a walau diliputi kecemasan yang luar biasa

    Suka

    Sofi said:
    19/04/2013 pukul 5:08 pm

    Bu Julie salam kenal, Terimakasih Bu Julie atas atensinya, saya yakin Bu Julie orang yang luar biasa dengan kesabaran dan kekuatannya….seperti halnya kakak perempuan saya. Bu Julie adakah jejaring sosial bagi penderita kanker? akan saya kabarkan pada kakak saya, agar dapat berbagi dengan teman-teman. Terimakasih Bu Julie

    Suka

      Julie Utami said:
      20/04/2013 pukul 8:16 am

      Wah, senang sekali bisa kenalan dengan keluarga penderita kanker seperti teh Sofi. Sayang saya nggak tahu apa ada jejos untuk kami atau tidak. Tapi di awal-awal sakit dulu saya pernah browsing dan menemukan site penderita kanker, yang sayangnya nggak saya book mark jadi lupa siapa itu dan apa alamatnya.

      Sekarang saya hanya menuliskan semua perjalanan penyakit saya dan upaya menghadangnya di blog saya di bundel-jandra22.blogspot.com teh.

      Salam hangat dari Bogor!

      Suka

    Sofi said:
    20/04/2013 pukul 12:34 pm

    Terimakasih Bu Julie infonya, akan saya kabari kakak saya. Sebenarnya dari RS Darmais selalu dikabari jika ada kegiatan untuk para pasein di sana, tapi bukan jarak yang dekat Pandeglang-Jakarta.

    Salam hangat juga dari kami

    Suka

      Julie Utami said:
      20/04/2013 pukul 2:17 pm

      Betul, saya juga dipindah ke Bogor lagi karena dokter saya kan sebetulnya praktek juga di kampung kami di sini, cuma saya tahu fasilitas RS nya kan nggak sebagus RSK Dharmais, jadi saya dulu ke RSKD. Tapi akhirnya nyerah juga, selain karena capek di jalan, ingin hemat ongkos sih 😀

      Saya ke RSKD cuma untuk perawatan luka di klinik luka dan stoma, selebihnya di Bogor aja kecuali pemeriksaan penunjang dan PA cancer profiling test itu aja. Kemo juga di Bogor kok, dan bulan depan saya dioperasi insya Allah di Bogor juga, kecuali dokter saya maunya pakai theater RSKD yang jelas post controlnya di Bogor lagi sih.

      Suka

    kakaakin said:
    21/04/2013 pukul 9:22 am

    Ngelihat emak saya lagi sakit types aja saya udah mewek, Mbak.
    Semoga kesehatan kita semua terjaga. Kita bisa memetik pelajaran kesabaran dari para penyitas kanker dan keluarganya…

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/04/2013 pukul 11:33 am

      Aamiin, dan semoga bundanya kakaakin jg cpt sembuh yaa …, aamiinn
      Makasih udh singgah dan follow ya 🙂

      Suka

    Ninda Rahadi said:
    22/04/2013 pukul 10:45 am

    yang warna apa mbak sel kankernya… semoga para penyintas diberi kekuatan senantiasa dan juga kesembuhan.

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/04/2013 pukul 11:34 am

      wah saya nggak ngerti soal warna sel kanker mbak, maksudnya gmn ya mbak ? maaf.
      Aamiin,ya smg para penyintas kanker dikarunia kesabaran dan kesembuhan kembali ya, aamiin ..
      Makasih ya Ninda sayang 🙂

      Suka

    catatan kecilku said:
    24/04/2013 pukul 9:44 am

    Mumpung modemku sedang bersahabat dg wordpress aku mampir lagi kesini sekedar utk menyapa mbak Winny…. 😀

    Suka

    della said:
    30/04/2013 pukul 8:29 am

    Subhanallah, Mak. Insya Allah mama diberi tempat terbaik oleh Alloh SWT :’)
    Aku bacanya terharu, deh..

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/05/2013 pukul 4:17 pm

      Aamiin, makasih atas do’anya ya mak Della.
      Makasih jg sdh menyempatkan membaca disini. 🙂

      Suka

    annie said:
    02/05/2013 pukul 1:14 pm

    Subhanallah …
    kirim alfatihah untuk mama, semoga beliau bahagia disana memiliki puteri seperti teh Winny, menuliskan keindahan rasa sabar dan ikhlas yang dimiliki mama dalam sakitnya yang tak sederhana. Kanker memang selalu menakutkan, tetapi dengan hati yang ikhlas, mama bisa menjalaninya. Terimakasih atas tulisan ini …

    Suka

      winny widyawati responded:
      02/05/2013 pukul 4:16 pm

      Terima kasih kembali teh Ani sayang, saya selalu ingin mencatat kisah Mama dan sakitnya ini sejak lama, tapi saya selalu didahului kesedihan sebelum sempat menggoreskannya. Baru kali ini saya kuat dan berhasil menulisnya meski tak sebanding dengan apa yg sdh dialami oleh almarhumah.
      Semoga do’a dari sahabat2 semua disini menjadi tambahan kebahagiaan untuk mama disana, aamiin.

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s