Menangis Itu Baik

Posted on Updated on

Hidup tak selalu datar, ada saat-saat dimana kita menemukan kesedihan, kegelisahan atau bahkan kemarahan. Masalahnya, setiap apa yang kita rasakan membutuhkan pengungkapan sebagai jalan keluar bagi pembebasan jiwa. Bahkan rasa bahagiapun membutuhkan pembebasan, dan pintunya adalah mengungkapkannya dengan senyuman, atau tertawa atau malah meneteskan air mata.

Anehnya, jika perasaan bahagia bisa diekspresikan dengan berbagai macam misal, tapi tidak dengan perasaan yang lain, seperti sedih ataupun marah. Tak ada orang yang sedih lalu ia tertawa. Mungkin ia masih bisa tersenyum, tapi senyuman dalam kesedihan adalah manipulasi, tak dapat membebaskan hati. Begitu pula amarah, tak ada orang yang marah lalu ia tergelak terbahak-bahak. Mungkin ia masih bisa tersenyum, namun senyuman kala hati marah adalah senyuman sinis yang tak memerdekakankan sukmanya. Menangislah satu-satunya pintu yang memutuskan rantai yang membelenggu.

Dulu, kala aku menemukan kesedihan, bersunyi di bawah rerindang pohon jambu air ibuku, atau berjalan sendirian  di jalan setapak dan pematang sawah, atau di sepi jalan satu perkampungan, atau di redup senja dalam perjalanan pulang, atau dimana saja tempat yang memungkinkanku terisak meski tak sampai tersedu sedan dan tak diperhatikan orang, adalah keasyikan yang melegakan.

Aku pernah mendakwa diriku seorang yang terlalu cengeng. Begitu mudah merinai netra. Mataku bisa tiba-tiba berkaca-kaca jika memandangi wajah orang tuaku berlama-lama, atau saat mendengar alunan nada yang menyentuh sukma. Sering, musik mengantar kenanganku dengan mudahnya pada peristiwa-peristiwa yang meluka hati.

Atas keadaanku, aku menyadari aku membutuhkan pelipuran. Itu sebabnya, sejak dulu aku lebih suka membaca buku-buku sejarah dan biography pahlawan-pahlawan dunia daripada novel-novel asmara atau puisi-puisi cinta.

Aku senang mendapati diriku terpana oleh kecerdasan taktik perang Sultan Muhammad Al-Fatih dalam menaklukan benteng Konstantinopel, atau kegagahan dan betapa gentlemannya Salahuddin Al Ayubi, sang jenderal pemenang peperangan yang santun dan pemaaf saat menundukkan Jerusalem.

Aku juga lebih senang  menikmati cinta Mother Theressa, Mahatma Ghandi  atau Dalai Lama kepada sesama dalam kisah-kisah yang kubaca atau kegeniusan B.J. Habibie yang membanggakan bangsanya di mata dunia atau ketekunan Bill Gates dan kegigihan orang-orang seperti Tuan Guru Hasanain Juaini yang pandai namun tetap sederhana dalam bertimbun jasanya kepada masyarakatnya dibanding menyimak tulisan sendu mendayu-dayu.

Lalu, apakah itu semua membuatku tak cengeng lagi ? Oow bahkan lebih parah. Sejarah manusia-manusia hebat memang tak lepas dari perjuangan dan pengorbanan dalam hidup mereka, dan membaca  itu semua selalu menguras air mata.

Tapi bagiku, terisak dalam kekaguman kepada pribadi-pribadi yang baik jauh lebih melegakan daripada tersedu karena menangisi dunia, ataupun berduka karena terjebak dalam situasi yang tidak di harapkan.

Membaca dan belajar dari kisah hidup orang lain membuat pemikiran kita terbuka dan membuat hati lebih bisa menerima apapun keadaan kita.

Semakin lama, aku pun menjadi seorang pemilih kehidupan yang lebih berwarna. Warnaku tak cuma biru. Aku mulai cintakan merah jambu, hijau dan ungu, bahkan putih, kuning dan abu-abu.

Dalam arti, aku mulai bereksplorasi dalam pilihan-pilihan hidupku. Semangatku menggebu-gebu. Aku mudah cemburu pada kepandaian atau keahlian orang lain. Tapi aku menjawab kecemburuanku dengan belajar demi mencapai kemampuan yang sama. Meski acapkali, kemampuanku masih tetap dibawah mereka-mereka yang prestasinya kukagumi, tapi setidaknya aku telah berani “berlari” dan “berlari’ membuatku bahagia, tak sedih lagi.

Hati kita seperti saku kecil berlubang yang menampung jutaan keping perasaan, namun hanya keping yang membahagiakan yang akan tinggal, sedang keping kesedihan biasanya kan luruh bersama air mata kita.

Jangan tahan tangismu. Karena menangis membebaskan air mata kita dari penjaranya. Karena menangis itu melegakan dada. Karena menangis itu melembutkan hati. Menangis itu baik.

Iklan

24 thoughts on “Menangis Itu Baik

    bimosaurus said:
    24/03/2013 pukul 4:45 pm

    Dalam agama, sebenarnya.. “Menangis lebih dianjurkan daripada tertawa” dan kita lebih banyak melakukan sebaliknya.. padahal kita lahir dalam keadaan menangis, dan kelak kita akan pergi dalam keadaan ditangisi 😦

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/03/2013 pukul 5:07 pm

      Saya pernah merasa heran, kenapa menangis koq dianjurkan, ternyata banyak sekali hikmah dari menangis ini ya. Bertambah lagi satu ilmu yg ingin diteliti, ilmu ttg menangis 😀

      Suka

    Iwan Yuliyanto said:
    24/03/2013 pukul 4:53 pm

    Setuju.
    Menangis itu agar tidak membuat hati menjadi keras.

    Suka

    imatkalimahi said:
    24/03/2013 pukul 5:51 pm

    Salam jumpa di rumah blog mbak Winny…
    Iya, menangis itu baik…yang ngak baik itu yang berlebihan saya pikir…
    Salam hangat mbak Winny…

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/03/2013 pukul 10:40 pm

      Segala yang berlebihan itu nggak baik ya 🙂
      Terima kasih mas Imat sdh berkenan singgah 🙂

      Suka

        imatkalimahi said:
        26/03/2013 pukul 5:56 am

        Iya setuju mbak Winny…yang berlebihan itu ngak baik. Malah minum air putih berlebihan juga ngak baik kan ya…hehe
        Sama-sama mbak Winny…silahkan singgah juga di rumah blog saya nan sangat sederhana, hihi…
        Salam hangat mbak Winny…

        Suka

    tri sapta said:
    24/03/2013 pukul 10:44 pm

    Salam kenal. Nice Mak! Menangis baik tetapi kadang malu kalau menangis depan orang banyak.

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/03/2013 pukul 10:59 pm

      hehehe iya, makanya saya cari tempat sepi buat menangis, yg pentinghati jd lega, dan bertemu orang2 hati sdh sumringah lagi ya ^_^
      Salam kenal juga mak, makasih ya 🙂

      Suka

    Iyah, bahkan ada bukunya.. Terapi Air Mata terbitan Maghfirah kalo nda salah… tapi jangan berlebihan ya entar abis lg hehehe

    Suka

      winny widyawati responded:
      25/03/2013 pukul 4:39 am

      Oh ada bukunya ya, nanti liat2 deh di toko buku.
      Iya nggak akan berlebihan, malu hehehe

      Suka

    Mita Alakadarnya said:
    25/03/2013 pukul 2:24 am

    setuju dech sama kamu,,,, #iklan.banget…..

    Suka

    Yos Beda said:
    25/03/2013 pukul 4:38 am

    iya benar sekali menangis itu baik karena menangis adalah media yang kita gunakan untuk melepaskan segala maslaah dan beban yang sedang ada di diri kita, asal jangan terlalu sering menangis sih saya kira bagus2 saja 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      25/03/2013 pukul 4:41 am

      Iya mas Yos, saya mengangkat tema tentang menangis karena memang menangis tidak mengambil bagian besar dalam hidup kita, tapi bagaimanapun, disadari atau tidak, diinginkan atau sebaiknya, kita membutuhkannya. Karena dengan menangis, hati kita jadi lega dan jiwa kita jadi lebih tenang.

      Suka

    novianadewi said:
    25/03/2013 pukul 1:04 pm

    Kecuali menangis karena mengiris bawang….

    Suka

      winny widyawati responded:
      26/03/2013 pukul 4:21 pm

      hahaha , menangis karena mengiris bawang juga baik lho mbak, kata lainnya = cuci mata hehehe

      Suka

    tinsyam said:
    25/03/2013 pukul 3:33 pm

    seringnya menangis itu membuat hati lega.. belakangan ini daku suka menangis loh.. tibatiba.. tapi jadi lega..

    Suka

      winny widyawati responded:
      26/03/2013 pukul 4:27 pm

      Nah itu sisi positifnya ya mbak. Kadang2 kita nggak tahu kenapa tiba2 ingin menangis, kata orang, kalo kita ingin menangis padahal semua terasa baik2 saja, itu tanda bahwa kita adalah orang yang cukup tegar selama ini, padahal sebenarnya ada hal2 yg justru sebaliknya, tapi kita tepis. Dan menangis di saat itu adalah reaksi yang merespon alam bawah sadar kita yg membutuhkan pelipuran, dan pembebasan. Dan menangis adalah satu jalannya.

      Suka

    Ceritaeka said:
    26/03/2013 pukul 10:50 am

    Mbak, netra itu artinya apa ya? Aku koq baru denger

    Suka

      winny widyawati responded:
      26/03/2013 pukul 2:08 pm

      Netra itu sinonim dari kata Mata mbak Eka 🙂

      Suka

        Ceritaeka said:
        27/03/2013 pukul 9:53 am

        Oalaaah. Aku baru tahu.
        ASyiiik dapat kosakata baru 🙂

        Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s