Si Pendengar Setia

Posted on Updated on

Image

Pic from here

Menjadi teman curhat sahabat sejak dulu saya nikmati sebagai bagian dari kebahagiaan dan rasa syukur yang dalam atas kekariban yang Tuhan karuniakan. Betapa sunyinya kehidupan jika tanpa kawan bukan ? Dan tak seperti kekasih, suami atau istri yang hadir di kehidupan lebih lambat, sahabat diperkenankan datang dan memasuki kehidupan kita jauh lebih dini.

Saat masih aktif di suatu organisasi di masa kuliah dulu, kepercayaan yang diberikan pimpinan membuka jalan untuk saya tak hanya dekat secara organisatoris terhadap sesama teman, tapi lebih dari itu saya mulai disentuh hubungan yang lebih mesra, lebih sebagai kakak atau bahkan ibu bagi adik-adik angkatan disebabkan posisi saya dalam sekian tahun di kancah keorganisasian itu.

Berbeda dengan pada saat berbagi cerita kepada sahabat di masa-masa bersekolah di SMP ataupun SMA, di organisasi tersebut saya merasa tertuntut untuk bisa lebih banyak mendengarkan, memahami dan membantu mencarikan jalan keluar atas apa yang dihadapi sang curhater.

Sejak itu, saya mulai terbiasa mengetahui persoalan teman-teman seperjalanan, lebih menghargai apa yang saya miliki dan bahwa jikapun saya memiliki masalah, selalu masalah saya tidak sebesar masalah2 yang pernah saya dengar. Itu terpatri dalam benak dan mungkin telah membentuk semacam paradigma. Dan mungkin itiu pula yang menyebabkan saya hampir tak pernah curhat kepada siapapun, bahkan ibu saya sendiri.

Selama itu tak ada hal-hal tak enak yang berkaitan langsung dengan curhat-curhatan ini, sampai saya bertemu seorang “sahabat” kurang lebih satu setengah tahun yang lalu yang pernah saya kisahkan tentangnya disini.

Pandangan saya bahwa saya harus selalu bersedia kapanpun dan apapun bentuknya untuk dicurhatinya berubah seiring perlakuan yang saya terima darinya disaat saya mencoba terus bertahan menampung muntahan masalah-masalahnya, yang semakin lama saya pertanyakan kebenarannya.

Lalu saya agak membuat jarak darinya, mencoba menghindarinya dan akhirnya menjauh dari kehidupannya bukan karena tak menyayanginya, melainkan sayapun membutuhkan jarak itu demi ketentraman diri saya sendiri. Karena akibat dari ‘gempuran” curhat-curhatnya yang tak mengenal waktu dan rasa malu serta sikap santun, membuat lelah bathin yang berkepanjangan. Just info, bahkan sampai saat ini, dia terus mengirim sms-sms itu dan kiriman hadiah-hadiah yang tak kuinginkan, padahal sejak 3 bulan lalu saya tak pernah lagi membalas satupun messagenya.

Belum usai ketercenungan atas apa yang teralami dalam sejarah pertemananku, kini ada hal yang lebih membuat saya terkesiap. Keterkejutan dalam diam yang saya rasakan karena mendapati saya telah berada ditengah-tengah suatu konflik keluarga sekaligus komunitas persahabatan yang saya terseret kedalamnya hanya karena saya telah menjadi tempat curhat seorang teman yang belum lama saya kenal di dunia maya.

Saya sempat merasa skeptis, karena walaupun tak mirip dengan kasus pertama, tapi yang terakhir inipin cukup membuat saya serba salah berada dalam lingkungan pertemanan itu.

Banyak hal yang membuat saya akhirnya tak bisa menghindar, tapi jika mau memandang dari sisi yang lebih optimis, banyak pula pembelajaran yang bisa saya serap. Karena jika jiwa kita menyediakan diri untuk kebaikan, ia serupa sponge Β yang siap menghisap hikmahnya

Saya merasa, jikapun orang mendekat dan mempercayakan penggalan hidupnya untuk saya ketahui melalui curhatannya, itu bukan atas dasar keingin-tahuan saya yang besar dengan urusan mereka. Tidak, sama sekali tidak. Saya rasa saya bukan orang yang kepo, pada urusan pribadi teman. Tak ada manfaatnya dan membuat hati tak nyaman.

Tapi sayapun tahu, ia yang datang bercerita pun bukan berarti memandang saya sebagai konsultan. Sering, hanya dibutuhkan sebuah keranjang untuk melempar naskah yang gagal lalu move on, bergerak menulis naskah yang lebih baik.Β  Dan saya melihat saya hanya sekedar sebuah keranjang itu bagi beberapa perso’alan yang mereka hadapi.

Sekedar teman bicara. Sekedar menyediakan bahu untuk tempatnya menangis melepaskan beban hatinya. Nyatanya, pada saat perso’alan itu bisa dilewati, sang keranjang tak dibutuhkan lagi. Itu sebuah keniscayaan yang memang saya sadari sejak lama, namun hal itu tak mengganggu perasaanku atas sahabat-sahabatku. Bukankah, jika kita menyayangi seseorang, kita ingin dia tak kurang suatu apa dan bisa merasakan bahagia ? πŸ™‚

Meski acapkali hati dibuat sendu, kita tak perlu merasa takut untuk menjadi tempat curhatan teman, asal tak turut larut kedalam kisahnya dan kehilangan rasa adil dalam memahami masalahnya yang akibatnya kita kehilangan diri kita sendiri. Tak perlu berfihak, cukup sebagai pendengar saja. jikapun kita berempati kepada sahabat atas apa yang dituturkannya, selalu carilah kabar penyeimbang.

Belajar untuk memandang masalah tidak hanya dari satu fihak dan satu sudut pandang saja. Sehingga kita dapat menegakkan sikap dengan benar atas perso’alan mereka dan terutama atas diri kita sendiri, apakah kita bisa mengutip hikmahnya atas apa yang telah mereka alami.

Bagaimanapun, saya bahagia atas karunia persahabatan ini. Sering saya mendapat timbal balik yang jauh lebih berharga dari sekedar menjadi teman curhat. Ialah cinta. Ya, rasa sayang yang sering tak kuduga berkuntum-kuntum datang ke haribaanku hanya karena telah menjadi si pendengar setia yang kerap tak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya berba’it do’a.

Kemarin petang, seusai berkunjung ke rumah sederhanaku dan saya antar dia pulang sampai ke stasiun kereta Bogor, sahabatku yang sengaja datang hanya karena rasa kangen katanya dan bercurhat ria, memelukku sepenuh erat, entah apa yang kulihat dalam matanya yang hujan, kecuali sebuah bisikan dalam dekapan :

“Win aku sayang kamu”

πŸ™‚

 

Iklan

15 thoughts on “Si Pendengar Setia

    Ika Koentjoro said:
    20/03/2013 pukul 7:10 pm

    Luar biasa dirimu Win. Bisa menjadi pendengar yang baik πŸ™‚

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/03/2013 pukul 6:27 am

      wah biasa aja mbak Ika, semua kita pasti sdh biasa curhat-curhatan sm sahabat πŸ™‚

      Makasi sdh singgah ya mbak πŸ™‚

      Suka

    Mita Alakadarnya said:
    21/03/2013 pukul 4:12 am

    saya juga punya sahabat mbak,, tapi saya bukah hanya sebagai pendengar saja,, terkadang saya sebagai pendengar terkadang saya yang bercurhat. ya kita saling bercurhat ria,,,

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/03/2013 pukul 6:29 am

      Iya Mita, dengan sahabat memang sebaiknya begitu, kalo saya sering lebih memilih menulis seperti ini daripada curhat sama teman, tapi yg sifatnya pribadi nggak sy share di dumay hehehe

      Suka

        Mita Alakadarnya said:
        21/03/2013 pukul 6:56 am

        saya klu curhat juga pilih2 mbak,,, yang terlalu pribadi saya simpan sendiri… πŸ™‚

        Suka

        winny widyawati responded:
        21/03/2013 pukul 7:19 am

        Iya sayang, jangan terlalu umbar masalahmu kecuali kpd orang yang terpercaya dan yg bisa membantu keluar dar masalah itu dengan cara yg baik ya ^_^

        Suka

        Mita Alakadarnya said:
        21/03/2013 pukul 7:38 am

        iya mbak… πŸ™‚

        Suka

    jampang said:
    21/03/2013 pukul 10:04 am

    kadang2…. cuma sekedar ngomong aja…. nggak perlu solusi… bikin lega πŸ˜€

    Suka

    Rawins said:
    21/03/2013 pukul 3:42 pm

    ya kadang dengerin orang curhat itu lebih asik daripada dengerin radio butut
    tak jarang nyebelin banget walau ga tega mau nyuekin
    hehe

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/03/2013 pukul 4:52 am

      hehe kadang-kadang begitu, yg penting jangan sampai balik kita yang ilfeel yah mas πŸ™‚

      Suka

    anazkia said:
    22/03/2013 pukul 4:01 am

    Cipluk masih suka menyibu, Mbak? πŸ˜€

    Wah, siapa yang datang kemarin, yah? Bukan anaz, kan? πŸ˜€

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/03/2013 pukul 4:53 am

      hehehe kemaren yg dateng temen FB Na …:)
      Iya si Cipluk fans beratku rupanya xixixi

      Suka

    tinsyam said:
    23/03/2013 pukul 6:03 pm

    kebanyak orang butuh kuping buat didengar.. padahal kita punya dua kuping dan satu mulut, tapi kebanyak malah lebih cerewet daripada mendengar ya.. πŸ˜€
    salut m.winny jadi madam curhat yang sabar dan tabah..

    Suka

      winny widyawati responded:
      24/03/2013 pukul 12:52 pm

      hehe iya mbak, saya kadang kalo udah dicurhatin orang tuh kayak tersudut di pojokan, nggak bisa kabur hehehe

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s