Andai Bisa Lebih Lama …

Posted on Updated on

Haru atau Sedih

Hanya ingin menulis bahwa saya terharu, eh mungkin sedih. Ahh betapa tak pentingnya, tapi keharuan atau kesedihan itu tiba-tiba muncul malam tadi, sesaat setelah anak-anak yang semula melingkar di meja makan berbentuk bundar itu bubar, menekuni buku pelajarannya masing-masing, belajar.

Tak penting bahwa saya memang selalu cengeng bahkan kalau yang bercerita itu anak ABG dua belas tahun seperti Zahra. Sulungku ini bisa mengaduk-aduk hatiku hanya dengan menceritakan bahwa diantara semua teman sekelasnya, hanya dia yang diberi nilai yang baik ditambah senyuman oleh seorang gurunya yang dikenal “killer” oleh seantero sekolah. Mungkin karena dia pandai menuturkannya dengan terstruktur, membangun piramida di labirin emosiku lalu meruntuhkannya bersama air mataku pada waktu yang tepat.

Entahlah, yang jelas mataku terus mengerjap tanpa bisa menahan airnya.

Flash Back

Setiap habis menegakkan shalat maghrib, diantara sesudah acara mengaji dan sebelum belajar malam anak-anak, ada secuil waktu buatku bisa berbincang dengan mereka seluruh buah hatiku. Mendengar pengalaman mereka seharian itu, sungguh-sungguh acara keluarga yang seru.

Malam tadi Zahra bercerita tentang teman sebangkunya yang senang menirunya. Lebih tepatnya meniru tugas kelasnya hehehe. Aku senang memperhatikan mimiknya yang lucu saat Zahra sedang menceritakan temannya itu. Antara gemas dan merasa lucu.

Atau saat ia menceritakan Ani, sahabatnya di rumah sekaligus sahabatnya di sekolah karena mereka belajar di sekolah yang sama. Bahwa betapa Zahra begitu menyayanginya, hingga meresmikannya menjadi kakak angkatnya tanpa upacara apa-apa. Aku sering tak kuat menahan tawa  mendengar ceritanya bersama Ani.  Bayangkan, di BB saja mereka membuat grup BBM yang anggotanya hanya mereka berdua hahaha (aku nggak tahu, apakah itu karena saking euphorianya dengan persahabatan, atau karena nggak nyadar, bahwa apa bedanya sama chatting secara langsung (yang notabene berdua berdua juga kan :s).

Cerita Zahra macam ini sering lalu ditimpali adik-adiknya. Kadang pertanyaan yang belakangan datang kurang nyambung dengan cerita sebelumnya. Tentu saja, mereka punya pengalaman yang berbeda tetapi sama ingin dibagi juga. Cerita Faishal tak kalah menariknya, tentang teman-temannya yang sadar ataupun tidak, sering memanggil temannya dengan julukan-julukan yang mengecilkan hati. Bahkan Faishalpun tak luput dari julukan itu.

Hanya pada kesempatan seperti itu, di usia mereka sekarang, aku punya waktu membagi pandangan-pandanganku secara lebih luas. Aku sering harus memeras otak lebih keras, karena satu pertanyaan salah satu anak sebisa mungkin juga bisa menjadi pelajaran untuk anakku yang lain yang usianya lebih tua maupun yang lebih muda. Dan sering pada kesempatanku yang seolah-olah sedang menasehati mereka itu. justru akulah yang lebih banyak belajar dari pengalaman mereka menghadapi dunianya.

Feeling

Perbincangan santai itu biasanya tak berlangsung lama, hanya sekitar 45 menit atau kira-kira satu jam saja. Lalu mereka akan bubar, asyik dengan tugas sekolahnya masing-masing . Kecuali si bungsu Rahma tentunya, yang cukup menjadi cheerleader saja menyemangati kakak-kakaknya *seringnya menggoda juga sih :D*

Saat mereka telah berada dalam asyik berkutat dengan buku-buku, entah apa yang membuat mataku meruyak lalu meneteskan airnya. Tiba-tiba dari sudut tatapku, aku melihat tempatkku duduk mundur dalam kecepatan cahaya, membawaku ke lorong waktu, melemparku pada masa yang aku tak tahu dan membuka kesadaranku.

Bahwa tak selamanya aku diberi kesempatan untuk dapat berkumpul seperti itu. Menikmati cerita-cerita lucu, kadang menyedihkan dari mulut-mulut mungil mereka. Mencoba memberi pandangan dan berharap bisa membantu mereka menghadapi kesulitan yang sama atau lebih dari yang sebelumnya mereka temukan.

Bahwa tak seterusnya, aku bisa memeluk mencium atau dipeluk dicium mereka, sesering yang kusuka. Menelisik setiap jengkal wajah dan tubuh mereka untuk kutemukan apakah ada luka disana. Atau meski sekedar perubahan karena gigitan nyamuk pada malam harinya.

Bahwa tak sepanjang masa, aku bisa menjahitkan kancing baju mereka, atau menambal robekan baju seragam dan kaus kakinya. Mendengar keributan di pagi buta, saat ada yang tak dapat menemukan topi ataupun dasinya.

Bahwa tak abadi, saat-saat dimana aku orang pertama yang mereka cari, darimanapun mereka telah pergi. Rumah selalu menjadi tempat pertemuan terindah kami. Sebodoh-bodohnya aku, dan seseru-serunya petualangan mereka di luar, tak ada nama yang pertama mereka seru saat tiba di muka pintu selain :

/\  “Ummiii …?, Umi dimana ?”.

Bahwa tak perduli seberapa dekat anak-anakku dengan Abi mereka, namun untuk bisa terlelap dalam ketenangan, haruslah aku yang menemani mereka di ruang tidur. Tak harus mendongeng kisah-kisah yang selalu baru, hanya melihat sosokku atau sekedar menyentuh kulitku, barulah matanya bisa terpejam. Apatah lagi jika aku memainkan gitar mengantarkan pada lelap,saat hanya lilin yang menerangi kami dalam gelap.

Lalu aku hanya meminta kepada Tuhan, agar dalam taqdirNYA ini semoga kiranya DIA memberiku kesempatan, lalu rasa mau dan mampu untukku menjadi seorang yang sesungguh-sungguhnya seorang Ibu. Mungkin dengan segala kekuranganku sulit untuk mencapai harapan itu, namun aku bisa terus belajar dan belajar, dan untuk itu aku membutuhkan segala kekuatan disebabkan lemahku.

Aku sebagaimana ibu manapun hanya mencita-citakan hal yang terbaik dan terindah untuk anak-anakku. Dan harapan itu bukan kuucapkan dalam bentuk future tense, bahkan saat-saat kini aku masih dikarunia kesempatan membersamai dan mengasuh mereka. Bahwa apa yang telah kami lalui dalam naungan yang kami sebut keluarga, kumaknai sama dengan membangun sejarah mereka. Maka pondasi itu haruslah kokoh, dan tugasku cukup berat untuk bisa meng-cover segala yang kuucap, segala yang kulakukan atau bahkan segala yang kubiarkan menjadi GPS yang akurat, setidaknya untuk kehidupan mereka kini. Syukur-syukur jika hal itu masih berbekas, untuk di kemudian hari, saat aku telah tak ada lagi, lalu sesuatu tak baik terjadi, ada satu anakku mengingatkan anakku yang lain :

/\  “Eh, ingat nggak dulu apa kata Umi ? ….” bla bla bla bla bla”

Ahh betulkah separah itu aku ingin dikenang ? Entahlah.

Aku, meski dalam kapasitas terendah dibanding semua Mama di bumi, tetap sama mengharapkan, bisa membekali anak-anakku dengan sebaik-baik bekal dalam kehidupan mereka, kurasa itu yang lebih tepat dilakukan daripada terjebak terus dalam sentimentil perasaan malam itu.

Dalam segenap kelemahan dan kekuranganku sebagai seorang Ibu, aku sungguh-sungguh bersyukur, setidaknya hingga aku menulis jurnal ini, masih bisa mendampingi buah hatiku. Semoga, bisa terus menyaksikan apa yang kusemai kini kelak berbuah indah dan bermanfaat bagi kehidupan.

Yang pasti aku hanya ingin menikmati keharuan, bahkan saat kuketikkan jemari di tuts laptop setiaku ini. Dan saat Rahma dengan riang menjeda dengan mendudukan dirinya diatas pangkuanku, kembali hatiku berkata lirih :

/\  “Tak selamanya kamu akan duduk di pangkuan Umi, saat Umi sedang menulis seperti ini Nak”

Dan seketika kurengkuh mungil tubuhnya kedalam dekapan, memeluknya erat,tak ingin kulepaskan.

umirahma

8735_103733626306110_100000084182559_97910_5798653_n

22040_108033072542832_100000084182559_206782_5717211_n

berbagi ni'mat eskrim

16360_104413682904771_100000084182559_116619_6852235_n

ngegaya

4 of us

Iklan

49 thoughts on “Andai Bisa Lebih Lama …

    winny widyawati responded:
    15/02/2013 pukul 4:16 am

    Makasih mbak Antung, Raya, mbak Ika sudah like postingan ini ya 🙂

    Suka

    rayaadawiah said:
    15/02/2013 pukul 4:55 am

    ya alloh, bahagianya 🙂

    *pengenpunyaanakjuga*

    Suka

      winny widyawati responded:
      15/02/2013 pukul 5:12 am

      Alhamdulilah, ada 4 bintang kecil di rumahku Ray. Tiap malam gemintang, tapi lain dengan bintang di langit, yang di rumahku bintangnya berisik ahaha …

      Insya Allah nanti Raya pun dikarunia anak-anak yg banyak dan bahagia juga ya, aamiinn …^_^

      Suka

        rayaadawiah said:
        15/02/2013 pukul 5:18 am

        amin 🙂
        doain yaaa mbak win ^^

        Suka

        winny widyawati responded:
        15/02/2013 pukul 5:36 am

        Tentu dek, do’a yang terindah buatmu …

        *kecup*
        ^_^

        Suka

        rayaadawiah said:
        15/02/2013 pukul 5:43 am

        jadi ingat lagunya las kecup..
        asereheeee,, haaa deheee,,, 😀

        Suka

        winny widyawati responded:
        15/02/2013 pukul 5:45 am

        halah jadi nyanyi ….aserehe pula, serasa jaman kapan ya hihihi

        Suka

    Julie Utami said:
    15/02/2013 pukul 5:16 am

    Ananda adalah ibu idaman semua anak di muka bumi ini. Teruslah menjalin kebersamaan dan kedekatan dengan mereka, dengan cara yang ananda anggap paling baik. Hanya ananda yang tahu bagaimana caranya membuka hati mereka, sebab tak semua manusia sama sifatnya.

    Peluk sayang dan doa-doa terbaik untuk seisi rumah di Ciomas ya nak! BTW itu foto makan es bikin mupeng hehehehe…… Kayaknya enak deh!

    Suka

      winny widyawati responded:
      15/02/2013 pukul 5:36 am

      wah terlalu berlebihan kalau ibu idaman Bu, alhamdulillah, tapi sudah bahagia kalau sampai sekarang saya masih bisa mendampingi mereka.

      Semoga saya bisa seperti Bunda Julie, yang terbukti bisa mencetak putra2nya menjadi anak2 yang shalih, yg baik dan berbakti.

      hihii iya itu es krim punya zahra, dibagi makan berdua. Belepotan deh jadinya xixixi

      Peluk sayang juga buat Oma Julie dari Zahra, Faishal, Fadli dan Rahma. semoga Oma dikarunia kesembuhan, kesehatan yang lebih baik lagi dari sebelumnya, jadi bisa main lagi nengok kami di Ciomas sini. Ditunggu yaaa …

      *Sungkem Ibu

      Suka

        Julie Utami said:
        15/02/2013 pukul 8:03 am

        Weuw!!! Euweuh ti dituna nini-nini disebut oma hahahaha……

        *nyelempot heula ah, eraeun*

        Suka

        winny widyawati responded:
        15/02/2013 pukul 9:32 am

        haha lupaa, kl disini di perumahan banyak yg dipanggil Oma. Ya udah nenek cantik ajah … heee …

        Suka

    Emy_Echa said:
    15/02/2013 pukul 6:04 am

    wah wah usia berapa putra putri nya mak ?

    Suka

      winny widyawati responded:
      15/02/2013 pukul 6:13 am

      Yang paling besar 12 tahun mbak Emy, ke bawahnya hanya selisih 2 tahun, kecuali yg bungsu, jarak kelahirannya dari kakaknya 4 tahun. Lumayan ramai si hehehe

      Suka

    Emy_Echa said:
    15/02/2013 pukul 6:25 am

    hmmmm rame nyaaa :D, kalau saya nanti 2 anak saja cukup 😀

    Suka

      winny widyawati responded:
      15/02/2013 pukul 6:30 am

      🙂 berapapun jumlahnya, anak adalah karuniaNYA ya mbak. Semoga mb Emy dan keluarga bahagia ya 🙂

      Suka

    ocitamala said:
    15/02/2013 pukul 7:16 am

    Menjadi ibu itu memang indah

    Suka

    aiz said:
    15/02/2013 pukul 7:40 am

    senengnya baca postingan ini… 🙂

    Suka

    arostiani said:
    15/02/2013 pukul 9:34 am

    sukaaa baca tulisan yang ini. Nyata sekali cinta dan perhatian seorang ibu berbalut khouf dan roja’ bagi masa depan terbaik putera-puterinya, tergambar dengan sangat indah disini. Iiih, siapa tuh yang makan es krim … Mau dooong hehe …

    Suka

      winny widyawati responded:
      15/02/2013 pukul 9:37 am

      alhamdulilllaaahhh … makasih yaa teh Rostiani. Belum jadi ibu yg baik, tapi mudah2an bisa dikasi kesempatan terus belajar ya.
      Jazakillah teh, makasih ya sdh berkenan singgah ^^

      Suka

        arostiani said:
        15/02/2013 pukul 10:26 am

        hehe … gak nyadar, disini namaku arostiani ya.

        Suka

        winny widyawati responded:
        15/02/2013 pukul 10:27 am

        hwaaa ternyata teh Ani ya, kira-in siapaaa teteeh …^^

        Suka

        arostiani said:
        15/02/2013 pukul 10:42 am

        hihi … iyaaa. Sadar teh pas dikau nyebut teh Rostiani. Tumben hehe … ari pek teh abdi nu lepat. Salam sono buat Zahra dan semua adik2nya, yaaa

        Suka

        winny widyawati responded:
        15/02/2013 pukul 11:00 am

        hahaha … iya tadi kirain ada kontak baru. Ternyata teh Ani punya akun di wordpress juga ya teh, tapi keliatannya masih kosong teh ? apa saya yg salah liat ya ?

        Insya Allah disampaikan nanti salamnya Teeh ^_^

        Suka

        arostiani said:
        15/02/2013 pukul 11:03 am

        hihi … itu dia masalahnya. WordPress baru nyoba. Kirain tadi masuk via blogger, duuuh … jadi malu. Belum bebenah, neng win

        Suka

        winny widyawati responded:
        15/02/2013 pukul 11:12 am

        kalau buat saya rasanya lebih enak di wordpress teh, fiturnya lebih banyak dan lengkap. Ada notifikasinya juga spt di fb, ada pencegah spammer masuk, bentuk interaksinya juga lebih personal di ruang komentar, pokoknya keren deh Teh, mirip blog saya di Multiply dulu. Mudah2an teh Ani cepat benahi WPnya ya, biar kita bisa lebih seru2an disini, hehehe

        Suka

    lita alifah said:
    16/02/2013 pukul 12:46 am

    duhhh ramenya, emaknya masih mudah banget, kok krucil2nya sudah 4 ya 😀
    barakallah mb, menjadi ibu yang bahagia ada 4 putra putri tercinta. ngiri deh, aku baru satu 😀

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/02/2013 pukul 1:28 am

      Aamiin, makasih mbak Lita. Jadi tersandung eh tersanjung dibilang muda, makaciii ya mak hehehe …

      Baru satu udah bahagia, semoga kalau bertambah, bertambah juga bahagianya ya mbak, aamiin

      *Peluk2 mak Lita, terima kasih atas kunjungannya ya, segera kunjungan balik nanti mbak 🙂

      Suka

    experiencingistanbul said:
    16/02/2013 pukul 7:14 pm

    komenku kemaren ga kepublish efek jaringan internet suka lola dikala winter ;(

    Subhanallah mba Winny masih keliatan muda putera puteri sudah 4, how rich you are Alhamdulillah 🙂 Rahma usianya seumuran dengan anakku ya, 4thn ya mba, bln apa lahirnya?

    Suka

      winny widyawati responded:
      17/02/2013 pukul 4:37 am

      iya mbak, sama padahal di rumah aku pake speedy (lagi ada promo ni hehe) tetep aja ilang timbul.

      alhamdulillah, iya mbak betul Rahma 4 thn, lahir bulan Juli. 🙂

      Suka

    Luluk Ubaidah said:
    16/02/2013 pukul 10:51 pm

    wah, tulisannya bikin aku nangis haru mbak..jadi inget keriuhan pagi di rumah bersama dua jagoanku. Salam kenal ya..:)

    Suka

      winny widyawati responded:
      17/02/2013 pukul 4:41 am

      Kadang karena rutinitas, perasaan kita seperti kebas, kalo nggak menikmati suasana itu. Paadahala segala kehebohan yang sering buat kita stress itu justru jadi tanda bahwa kita punya sesuatu yg indah di dunia ini, yaitu keluarga ya. jangan sampai semua itu lewat begitu aja, tahu2 anak2 udah besar2 tanpa kita bisa memaknai tiap detiknya. Bahagia itu sederhana ya mbak 🙂

      Salam kenal juga mbak Luluk, smg nggk kapok datang kemari ya 🙂

      Suka

        Julie Utami said:
        17/02/2013 pukul 6:23 am

        Bahagia itu sederhana ya mbak 🙂

        **************

        Ungkapan yang indah deh. :-)))

        Suka

    tintin syamsuddin said:
    17/02/2013 pukul 3:52 am

    umiiii, umi dimana? laper nih..
    umiiiiiii, temenin dong, serem ih..
    umi gimana sih umi, kog lama amat jahitnya, terlambat terlambat..
    habahhabah..

    kayanya katakata gitu ga akan lama ya setelah mendadak mereka udah gede dan menikah dan ga serumah.. keren nih ceritanya, ibu yang bahagia menikmati dinamika anakanaknya..

    Suka

      winny widyawati responded:
      17/02/2013 pukul 4:45 am

      hahaha iya mb Tintin, apalagi kalo pagi2 sepanjang hari kerja/sekolah, heboh bukan main. Kalo lagi nggk sabar, bawaannya uminya ini jadi ngomel2 karena misalnya :”Koq topi sendiri, atau buku sendiri simpannya nggak rapi sih ? ilang terus. Tiap pagi jadi semua ikutan repot gara2 nyari, kaus kaki ilang satu lah, topi yg Adek Fadly lupa naro dimana, atau buku LKS yg belum dibungkus dll. Heudeuuhh.
      Kelak, waktu mereka udah besar2, udah pd sekolah apalagi berumah tangga, rumah ini bakalan sepi kali ya … hiksss …

      Suka

        Julie Utami said:
        17/02/2013 pukul 6:25 am

        Kelak, waktu mereka udah besar2, udah pd sekolah apalagi berumah tangga, rumah ini bakalan sepi kali ya … hiksss …
        ****************

        Sindroma sarang kosong, empty nest syndrome yang saya alami sekarang.

        Suka

    Iwan Yuliyanto said:
    19/02/2013 pukul 5:19 am

    4 bersaudara yang akur sepertinya, semoga mereka melewati setiap masa pertumbuhannya dengan baik.

    Suka

      winny widyawati responded:
      19/02/2013 pukul 5:26 am

      Aamiin, semoga mas, terima kasih atas do’anya 🙂

      Suka

    catatan kecilku said:
    21/02/2013 pukul 1:56 pm

    Alhamdulillah… setelah beberapa hari mencoba akhirnya malam ini aku bisa masuk juga kesini mbak.
    Ampun susah banget mbak, loadingnya lama… mungkin modemku yang bermasalah ya?

    BTW, aku terharu sekaligus tergetar membaca catatan mbak Winny di atas. Terasa kehangatan dan kebanggaan disana.
    Begitulah seorang Ibu, yang sangat dibutuhkan anak2nya.
    Semoga kita dapat menikmati masa2 itu dengan maksimal mbak.

    Oya, aku penasaran pengen liat mbak Winny main gitar lo.
    Trus, zahra di rumah kah?

    Suka

      winny widyawati responded:
      21/02/2013 pukul 2:19 pm

      hehe iya gapapa mbak Reni.
      Aamiin atas do’anya, semoga ya mbak kita bisa jadi ibu yang baik untuk anak2 kita.

      Foto saya lagi main gitar ada tuh di page Tentangku mbak, liat deh diatas header blog ini ada daftar halamannya.:)

      Mb Reni terima kasih ya sdh susah-susah datang ke blogku ini. seneng banget mbak 🙂

      Suka

    anotherorion said:
    22/02/2013 pukul 9:19 am

    mampir ah, kangen sama mbak winny n keluarganya

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/02/2013 pukul 6:10 pm

      Eh ada tetangga lama nih, lama tak jumpa ya ^_^

      Makasih ya mas Priyo 🙂

      Suka

    Ninda Rahadi said:
    22/02/2013 pukul 10:58 am

    mbak wiiinnnnn sampek nggak mengenali komentar mbak di blogku
    idnya baru kalo nggak ada potonya aku jg nggak tau ini mbk winny 😛

    Suka

      winny widyawati responded:
      22/02/2013 pukul 6:11 pm

      hehehe …baru ngeh yaa …iya ini blog baruku. Moga bisa menjalin persahabatan lagi ya Nin 🙂

      Suka

    Erlina said:
    01/03/2013 pukul 2:55 pm

    Masha Allah … senang membaca tulisan mb Winny, tulisannya membawa saya hanyut disetiap suasana alur ceritanya. Suasana anak2 yg sangat ramai tp sll terkendali dg adanya cinta kasih umi yg sll menjadi ketentraman hati anak2.

    Terima kasih sdh sharing pengalaman indahnya, byk pelajaran yg bs dipetik dr cerita singkatnya disini … dan salam kenal ya mb Winny… 😀

    Suka

      winny widyawati responded:
      01/03/2013 pukul 6:07 pm

      Salam kenal juga mb Erlina 🙂
      Senangnya dikunjungi mb Erlina dan mendapat apresiasi atas tulisan saya seperti ini.
      Hanya ungkapan hati sederhana mbak, yg justru aku merasa bellum bisa jadi ibu yg baik buat anak2 saya. Mohon do’anya ya Erlina 🙂

      Suka

    danirachmat said:
    04/03/2013 pukul 4:15 am

    Kagum sama njenengan Mba Winny, masih muda tapi putra-putri sudah gede-gede. Mereka berasa teman ya Mba.

    Suka

      winny widyawati responded:
      04/03/2013 pukul 1:51 pm

      Mungkin begitu ya mas, yg jelas seperti semua orang tua, anak2 itu karunia dan kebahagiaan besar ya

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s