They Talks, They Even Praying

Posted on Updated on

My Home
Sejak menikah , sudah beberapa kali pindah rumah. Yang pertama di daerah Kalibata Bogor, sebuah rumah kampung tapi sangat dekat jaraknya ke jalan raya yaitu Jl. Pajajaran, sebuah tempat yang sampai sekarang aku kenang karena kesan yang ditinggalkannya.
Memang untuk bisa akses ke rumah itu harus memasuki sebuah gang sempit lebih dulu. Tapi, hanya sekitar 10 meter saja melalui gang itu, tiba-tiba ada view yang buatku saat itu indaah sekali, sebuah jalan setapak yang di kiri kanannya diteduhi pepohonan, lalu menerus ke sebuah jembatan bambu yang membentang di atas sebuah sungai kecil yang sangat jernih airnya. Bahkan dari atas jembatan itu kita bisa melihat anak-anak ikan berenang-renang. Nah, selepas melewati jembatan itu, mulailah terlihat kumpulan rumah-rumah sederhana penduduk yang salah satunya adalah rumah mungilku -:D.
Menyadari sudah menjadi ratu rumah tangga saat itu *uhuk*, mendadak ingin mengeluarkan segala jurusku dalam menata rumah seindah mungkin (indah dalam batas visi dan kemampuanku tentunya -:).
Sudah menjadi kebiasaanku, dari pengalaman 3 kali pindah rumah, selama masa menunggu waktu kepindahan itu, aku menggambar denah bakal rumahku. Jadi pas waktu survey ke lokasi, aku catat betul (di ingatan) bagaimana fasad luar dan dalam rumahnya, mengira-ngira berapa besar luas setiap ruang dan membayangkan akan kuletakkan apa di ruangan mana di rumah itu. Lalu sesampainya di rumah, aku mulai menggambar denahnya (bisa berkali-kali revisi, gambar-hapus-gambar-hapus-gambar), lalu kugambar juga furniturenya di setiap denah ruang itu, udah kayak *sok* arsitek aja gayanya hehe. Selalu harus terperinci, hingga pindahan rumah kedua di Bandung, lalu pindah lagi ke rumah yang sekarang kami tinggali di Bogor ini, begitulah kebiasaanku.
Sedemikian repotnya detailnya, dan aku lakukan itu di setiap kali aku akan pindah rumah, dan nggak tahu kenapa setiap moment akan pindah rumah itu dengan segala kerepotannya plus menggambar denah-denah itu, ada hal lain yang nggak bisa kutinggalkan, ialah membawa bibit pohon dan bunga-bungaan. Aku rasa, kalau so’al ini mungkin banyak teman yang hobi berkebun juga lakukan ya. Maka jadilah, mobil omprengan yang membawa segala isi rumah dari mulai furniture, peralatan dapur, perangkat elektronik sampai perintil-perintil isi lemari itu justru harus kasih space yang lebih besar cuma buat bawa tanamanku itu :D.
Tentang rumah, ada hal prinsip yang buatku sangat penting. Rumah itu nggak harus mewah dan sangat lapang, tapi ia harus membuat nyaman penghuninya, dan rumah yang nyaman itu menurutku cukuplah rumah itu dibuat rapi dan bersih. Itu saja sudah merupakan bentuk rasa syukur atas naungan yang dikaruniakanNYA. Rumah sesederhana apapun akan membuat betah penghuni dan siapa saja yang berkunjung kedalamnya, jika ia rapi dan bersih.
Tapi, rumah juga bisa dibuat lebih indah, jika kita masukkan unsur tanaman dan air kedalamnya. Keduanya membawa suasana yang natural, dan menyejukkan ke dalam rumah. Kesejukan yang disebarkan oleh pepohonan dan aneka tanaman yang mengelillingi rumah serta suara gemericik air, secara psikologis kami butuhkan untuk tak sekedar membuat nyaman, tapi membahagiakan penghuninya, terutama anak-anak. Aku hanya berharap, segala hal yang lembut dan indah itu, meski sederhana atau bahkan kurang layak di mata orang lain tapi dapat berpengaruh baik untuk anak-anakku, dalam segala hal (watak dan perilakunya, bangunan cita-citanya, semangat belajarnya dsb).
Di rumahku saat di Bandung, aku membuat sebuah kolam kecil dekat ruang makan kami. Sebuah kolam dengan bentuk dan material yang sangat sederhana, tapi itu bisa tertutupi bahkan menimbulkan kesan alami jika ditambah dengan mengaplikasikan beberapa jenis tanaman yang cocok untuk ditanam di habitat kolam. Sayang, fotonya tersimpan di hand phone lama, sama sekali nggak ada arsipnya. Padahal kolam itu hasil kreasiku sendiri, meskipun untuk level memasang batu dan semen tetep minta bantuan tukang juga :D.
Kolam itu aku pasangi pancuran dari bahan bambu, mirip-mirip pancuran yang ada di jamban di desa-desa gitu, maklum waktu kecil aku tukang berkhayal. Biasanya yang kukhayalkan adalah kemunculan kurcaci-kurcaci di selokan pinggiran jalan di desa Papaku di daerah Bandung Selatan sana, yang meski dikata selokan karena lebarnya yang kecil tapi airnya sangat jernih.
Sayang, saat pindah ke rumah di Bogor, aku nggak ada kesempatan membuat kolam seperti itu lagi, karena saat membelinya, rumah itu sudah dalam keadaan jadi dan setiap ruang diberi batasan yang masif, padahal saya suka rumah yang nampak lapang, tak banyak dinding dan pintu untuk ruang-ruang publik macam ruang tamu dan ruang keluarga. Saat membeli rumah itu memang kami dalam keadaan terburu-buru karena sesuatu hal, hingga tak memungkinkan untukku bahkan sekedar melihat-lihat dulu sebelumnya. Tapi, sekali lagi, rumusan inovation come coz of kepepet itu ternyata memang betul hehe. Hal yang tak sesuai dengan keinginan itu  menyuruh kita bisa mensiasatinya. Dan tadaaa, jadilah si hijau-hijauan ini, dan bunga-bunga itu dan si air juga penyelamatku.
Nggak susah dan sama sekali nggak  mahal koq, kita bisa membuat rumah jadi jauh lebih berbeda hanya dengan memasang tanaman merambat yang bisa hidup tak hanya di tanah tapi bisa hidup juga di air macam daun merambat yang berlubang-lubang indah di permukaannya, atau yang serupa daun sirih tapi berwarna belang antara hijau dan kuning muda. batangnya bisa kita biarkan menggantung begitu saja, dan daun-daunnya yang berwarna cerah akan menjadi daya tarik luar biasa bagi yang melihatnya.
Saat masih di rumah di Bandung, biasanya tanaman seperti ini kutanam dengan media hanya air saja di dalam sebuah bekas botol mineral yang telah diberi kawat, lalu digantung disetiap sudut rumah. Di ruang duduk di teras, aku bisa pasang vas bunga dari bahan sederhana lalu kuisi air yang terlebih dahulu sudah diberi garam sebagai anti bakteri, lalu kumasukan beberapa batang bunga Daisy yang cantik.
They Talks
Sekian minggu menata rumah mungilku di kota yang baru di Bogor, sedikit tabunganku dibelanjakan untuk membeli bibit tanaman baru, sebagian lain untuk biaya pemeliharaan dan pengembang biakannya. Aku bisa betah berlama-lama dengan tanaman-tanamanku, apapun jenisnya. Aku tak ada fanatik dengan salah satu jenis tanaman. Aku bahkan bisa berbisik-bisik mesra kepada mereka :), serius.
Banyak teori mengatakan, tanamanpun bisa merasakan kasih sayang pemeliharanya, karenanya mereka bisa tumbuh lebih baik dan cepat dibanding tanaman yang tak diperlakukan dengan cinta. Begitupun air, hasil penelitian Dr Masaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang menunjukkan  jawabannya. Ternyata air dapat mendengar dan molekulnya berubah-ubah bentuk sesuai dengan apa yang diperdengarkan kepadanya. Bahwa alam ini hidup sebagaimana kita hidup dan merasa sebagaimana kita merasa sungguh benar adanya, dan aku pribadi meyakini itu.
air bicara
Sumber dari tempat ini
Betapa air itu bisa membentuk kristal yang berbeda dengan perlakuan gelombang yang berbeda, bahkan hanya dengan tulisan saja. Seolah-olah air bisa diajak berkomunikasi.
Berdasarkan pnelitian Masaro, bila air di ekspos dengan musik rock metal, air akan gagal membentuk kristal yang cantik. Namun, jika air diberikan alunan nada yang lembut atau ucapan terimakasih dan penghargaan, maka dia bisa membentuk kristal yang indah.
Dalam penelitiannya, Masaru yang tekun melakukan penelitian tentang perilaku air itu  mendo’akan air murni dari mata air di Pulau Honshu secara agama Shinto, lalu didinginkan sampai -5oC di laboratorium. Setelah itu dia memfotonya dengan kamera mikroskop elektron berkecepatan tinggi.
Ternyata molekul air membentuk kristal segi enam yang indah. Percobaan diulangi lagi dengan membacakan kata, “Arigato (terima kasih dalam bahasa Jepang)” di depan botol air tadi. Kristal kembali membentuk sangat indah. Lalu dicoba dengan menghadapkan tulisan huruf Jepang, “Arigato”. Kristal membentuk dengan keindahan yang sama. Sewaktu ditunjukkan kata “setan”, kristal berbentuk buruk. Begitupun saat diputarkan musik Symphony Mozart, kristal muncul berbentuk bunga. Dan saat diperdengarkan musik heavy metal, kristalpun hancur.
Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan.
Demikian pula dengan pohon, Ian Baldwin, Director Max Planck Institute for Chemical Ecology, mempublikasikan sebuah paper yang menyimpulkan bahwa pohon bisa menyebarkan sebuah senyawa kimia untuk ‘berkomunikasi’ dengan pohon lain di dekatnya.
Menurut Baldwin, ketika sebuah pohon yang ia teliti diserang oleh serangga, pohon itu akan memproduksi tanin dan berbagai senyawa kimia lainnya. 
Senyawa itu biasanya dilepas untuk menghambat pertumbuhan dan tersedianya makanan bagi larva serangga itu, serta untuk mempertahankan diri dari serangan lebih lanjut dari serangga tersebut.
Temuan Baldwin lainnya, setelah itu ternyata tak cuma pohon yang terserang serangga saja yang mengeluarkan senyawa kimia itu, melainkan juga pohon-pohon lain yang belum diserang, mengeluarkan senyawa yang sama.
Baldwin dan rekan-rekannya berkesimpulan, senyawa kimia itu dikeluarkan sebagai mekanisme untuk memperingatkan potensi bahaya yang dihadapi oleh pohon-pohon lain sehingga juga bisa mempersiapkan pertahanan diri. Penelitian lebih jauh menggunakan analisa molekuler dan genetika menemukan bahwa senyawa kimia dilepaskan melalui daun, mulai dari molekul kecil sederhana seperti ethylene, hingga senyawa yang lebih komplek seperti methyl jasmonate.
Senyawa-senyawa tersebut berdifusi dengan udara, dan ketika menyentuh pohon lain, maka pohon itu merespon dengan melakukan perubahan pertumbuhan dan sintesis kimia. “Bentuk komunikasi kimiawi dari tumbuhan yang kita duga adalah semacam teriakan tak langsung “Ada bahaya!” atau “Awas!”, namun bukan seperti dialog.” 
Sementara akar pohon pun juga akan mengeluarkan sejumlah komunikasi kimiawi yang berbeda. Namun, karena senyawa ini berada di lapisan tanah, ia tidak akan bisa menyebar sejauh senyawa kmia yang menyebar lewat udara dan air. Kini para peneliti tengah berupaya meneliti dan mengurai senyawa-senyawa kimia itu agar senyawa informasi itu dapat dimodifikasi dan digunakan secara genetik untuk keperluan pembasmian hama untuk tanaman yang akan dipanen.
Betapa sampai disitu saja, tak habis-habis memuji kebesaran Tuhan. Dan semakin besar saja sayangku pada semua tanamanku. ternyata mereka bisa mendengar dan berbicara antar sesamanya.
Suatu hari aku menyaksikan di televisi istri Tuan Guru Hasanain Juaini (mohon maaf kalau aku terlalu sering mengangkat kisah tentang Tuan Guru dalam tulisanku, karena memang  begitu banyaknya inspirasi datang melalui beliau untukku) bercerita tentang suaminya, dan  ini menjadi salah satu alasanku, mengapa aku semakin cinta bertanam.
Beliau (istri Tuan Guru Hasanain) dalam suaranya yang sendu karena haru mengisahkan betapa dalam belasan tahun mendampingi suaminya, melihat Tuan Guru sering sampai lupa makan karena mengurusi pengembang biakan bibit-bibit pohon untuk menghijaukan sekitar 4 hektar lahan tandus di desanya. Apabila, ada orang yang berniat membeli bibit itu untuk ditanam di tempat mereka maka Tuan Guru menyerahkannya dan menolak bayarannya. Beliau hanya berkata :
“Tak usah ditukar uang, saya hanya meminta, pertemukanlah mereka dengan bumi (tanah), lalu peliharalah sebaik-baiknya, kelak jika mereka tetap hidup dan tumbuh, biar merekalah yang mendo’akan saya.
Di bawah ini sebagian tulisan Tuan Guru Hasanain Juaini di Grup MNDCI tentang salah satu dari banyak keberuntungan yang entah bagaimana bisa tiba-tiba menolongnya atau orang-orang terdekatnya dalam berjuang melestarikan hutan Narmada :
Tadi malam ketika mengaso dari penat melinggis, mencangkul dan menyekop batu cadas, Pak sarjuliadi menggerutu lagi: “Mengapa mereka para artis begitu gampangnya melakukan umroh ya? Kita ini, mungkin perlu ngaso ke Multazam untuk ngecas semangat juang kita” Oh… tak ada apa2 yang terjadi.
Sepulang dari hutan, saya cepat sekali tertidur, namun sebuah SMS mengganggu: Ting Nong, Dari Sahabat saya Ust. Dr. Shobahussurur Syamsi yang kerja di Atase Agama Kedutaan Saudi Arabia; Katanya: Assalamu’alaikum: ” Shohib, Kirimi saya nama salah seorang guru antum, saya mau kasih hadiah umroh untuk bulan ini,Wassalam”.
Sebelum berangkat tidur, saya kirimkan SMS kepada Pak Sarjuliadi yang masih nginap di gawah: Pak Juli, jangan sembarangan menggerutu ya? Segera urus Pasport, side (anda) akan umroh tanggal 15 Februari ini. Wassalam
Allahumma ya Allah Ya Rahman, hamba menangis karena tidak mampu mengumrohkan pejuang kami, mungkinkah hambaMu yang bernama PEPOHONAN itu telah meneruskan air mata kami kehadiratmu?
They talks, they even praying …
lembah madani
Salah satu view Lembah Madani yang selama 15 tahun telah diperjuangkan oleh Tuan Guru Hasanain Juaini dari semula lembah yang tandus menjadi lembah yang subur dan indah ini.
Foto dipinjam dari sini
Note : Salah satu catatan yang berhubungan dengan tulisan ini ada disini
Iklan

22 thoughts on “They Talks, They Even Praying

    Samsiah said:
    09/02/2013 pukul 12:12 pm

    Subhanallah.. jadi inget, dulu suka ngobrol juga dg tanaman 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      09/02/2013 pukul 12:40 pm

      Ternyata mereka mendengar ya mbak, bahkan mendo’akan kita (setidaknya begitulah dlm keyakinan saya) 🙂

      Suka

    IndahJuli said:
    09/02/2013 pukul 10:55 pm

    Sama dengan pendapat almarhumah mamaku, tanaman/bunga juga tau kalau disayang, makanya diajak bercakap-cakap. Misalnya saat kita menyiram, bilang: saya mandiin dulu ya, biar kamu segar, cantik dan indah :))
    Semua kebesaran Allah SWT ya.
    Salam kenal, Mak. Sering-sering berbagi di KEB ya 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      09/02/2013 pukul 11:00 pm

      iya mbak Indah, insya Allah dengan perkenan mbak Indah dan makmin serta anggota disana saya lebih bersemangat berbagi.
      Terima kasih ya mbak atas kunjungannya, senang sekali ditengok mbak Indah 🙂

      Suka

    annie said:
    10/02/2013 pukul 10:45 am

    mamaku sangat suka tanaman, apapun, dan beliau menyayangi mereka sepenuh jiwa, karenanya tumbuh mereka selalu lebih indah. Dantentang air, kita jd makin faham kenapa Rasulullah mengajarkan kita untuk minum air putih yang telah di’isi’ doa terbaik kita. Subhanallah .. Allah memang Mahasegala ya, teh Win …

    Suka

      winny widyawati responded:
      10/02/2013 pukul 12:31 pm

      iya Teh, semakin kita belajar semakin kita sadar bahwa apa yg kita tahu begitu sedikitnya. Teh Ani, senang sekali teh Ani hadir disini. ^_^

      Suka

    Helda said:
    10/02/2013 pukul 10:56 am

    Saya dari dulu pgn banget mengulas tentang kristal air ini Mbak, tapi blm jadi2, postingannya bagus, bermanfaat 🙂 salam kenal

    Suka

      winny widyawati responded:
      10/02/2013 pukul 12:28 pm

      Salam kenal juga mbak Helda, ayo buat tulisan tentang ini mbak, bisa lebih memperbanyak bahan renungan, tentu tulisan mb Helda akan lebih bagus lagi.
      Terima kasih atas kunjungannya ya mbak. 🙂

      Suka

    Ina said:
    11/02/2013 pukul 3:19 pm

    tulisannya puannjaaang deh. tapi aku tamatin bacannya.
    saya juga suka nuansa ijo mbak, berencana punya kolam dalam rumah… tapi nunggu bajet nih. yg perlu dibenahi buanyakk .

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/02/2013 pukul 6:37 am

      hihi iya panjang ya, semoga nggak ngantuk deh bacanya.
      Semoga terwujud ya membuat kolam dalam rumah. Dengan biaya yg nggak mahal juga bisa koq, yg penting syarat utamanya gak bocor, itu dulu. Nanti menatanya agar nampak alami bisa diatur tergantung kreativitas kita 🙂

      Suka

    Iwan Yuliyanto said:
    19/02/2013 pukul 5:33 am

    Yang terakhir itu kisahnya begitu menggetarkan, belajar tentang keihlasan.
    Saya jadi ingat dengan teori Matematika Harapan di sini:
    http://sintayudisia.wordpress.com/2013/02/12/matematika-harapan/

    Suka

      winny widyawati responded:
      19/02/2013 pukul 5:36 am

      Di Matematika Harapan, rumusan yang sederhana namun telak menohok kesadaran tentang ikhlas ya 🙂

      Suka

        Iwan Yuliyanto said:
        19/02/2013 pukul 6:20 am

        Itu bisa dijadiin poster, dibingkai, trus ditaruh di kamar anak-anak agar mereka paham ilmu ikhlas-nya dan selalu mengingatnya.

        Suka

        winny widyawati responded:
        19/02/2013 pukul 6:25 am

        Ide hebat mas. Sebetulnya di rumah ada ditempel beberapa sticker untuk menyemangati anak2 misalnya shalat pada waktunya, bersedekah itu berkah dsb, tapi poster ttg ikhlas bisa jadi reminder yg bagus kalau sering terbaca ya

        Suka

        Iwan Yuliyanto said:
        19/02/2013 pukul 6:29 am

        Tinggal dimodifikasi posternya, misalnya ditambahkan ayat Al-Qur’an yg berhubungan dg sedekah & ikhlas, letaknya di atas rumus itu, tentunya dg background yg menarik tapi tidak menonjol, agar tulisan rumusan matematikanya yg menonjol.
        Saya juga bikin kok, nanti saya coba buat postingan khusus soal ini.

        Suka

        winny widyawati responded:
        19/02/2013 pukul 6:34 am

        Saya nggak bisa buat poster yg computerize Mas :D, paling digambar manual aja pake Spidol diwarnai begitu ya

        Suka

        Iwan Yuliyanto said:
        19/02/2013 pukul 6:36 am

        Atau gimana kalo mbak Winny ngadain lomba bikin poster buat 4 bersaudara di atas
        Pasti seru tuh, ilmunya akan nancep, lha wong mereka sendiri yg bikin 🙂

        Suka

        winny widyawati responded:
        19/02/2013 pukul 6:50 am

        hmm …. (duuhh mas Iwan pinter banget sih)
        Setuju Mas, nanti weekend saya jadi punya event buat anak2 nih, ^_^

        Kalo siapin hadiah buat peserta lombanya, nggk kontraproduktif sama pesan yg mau ditanamkan kah ?

        Suka

        Iwan Yuliyanto said:
        19/02/2013 pukul 6:53 am

        Hadiahnya jangan uang dong..
        gini aja, yang Juara 1 posternya dipasang di ruang tamu 🙂
        atau coba cari apresiasi lainnya yg sifatnya mendidik.

        Suka

        winny widyawati responded:
        19/02/2013 pukul 7:15 am

        jd terfikir begini, anak saya yg pinter gambar baru 2 orang, nah adik2nya kan pasti kalah kl dari segi teknik. Apalagi yg bungsu belum faham makna kompetisi. Jadi biarpun ada juaranya, tapi hadiahnya disamain ya (misalnya dimasakin menu yg mereka suka), buat yg menang jd belajar ikhlas berbagi, yg belum juara belajar bahwa meski kalah tp tetap merasa dihargai dan disayangi.
        *Baru itu yg terfikir*

        Suka

        Iwan Yuliyanto said:
        19/02/2013 pukul 7:17 am

        Wah… itu sudah cukup adil saya rasa.
        Memang harus bisa dipahami, karena masih anak-anak, skill-nya pasti belum merata.

        Suka

        winny widyawati responded:
        19/02/2013 pukul 7:22 am

        Iya mas terima kasih banyak sudah sumbang ide, jadi full spirit 🙂

        Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s