Don’t Worry,Be Happy {Sakit atau Derita ?}

Posted on

Pain and sickness, itu dua kata yang menjadi essensi percakapan dengan seorang tokoh komedian Pepeng Ferrasta Soebardi pada sebuah acara televisi beberapa  bulan yang lalu.

Memang kisah dan pandangan hidup beliau, terutama pasca diserang penyakit tak tersembuhkan menurut pandangan medis, telah menawan mata hati saya untuk sering-sering memandang sosok itu bersama istri beliau nan shalihat dan setia mbak Utami. Lalu menikmati filosofi hidupnya yang diterjemahkannya dengan tutur kata yang penuh riang dan terkadang jenaka. Seakan, tak pernah terjadi sesuatu apa yang besar menimpanya.

Dua kata itu (pain and sickness) menarik segenap perhatian saya sesudahnya, setelah banyak bertemu dan berinteraksi dengan saudara-saudara yang dirantai keterbatasan hidup.

Sering, saya dibuat takjub manakala memperhatikan kehidupan orang lain yang dalam pandangan saya begitu menyedihkan, dibuat nelangsa baik jiwa dan raganya karena berbagai sebab, namun tetap terlihat  tegar dan mampu menjalankan kehidupan nyatanya dengan baik.

Sang komedian Pepeng sendiri adalah penderita Multiple Sclerosis (MS), yakni sebuah penyakit yang menyerang sistem saraf pusat dan memunculkan terjadinya proses inflamasi (peradangan) pada tulang belakang. Penyakit ini akan mengganggu penyampaian “pesan” antara otak dan bagian-bagian tubuh lainnya.

Penyakit MS yang dideritanya menyebabkan mantan presenter kondang ini mengalami kelumpuhan dan setiap saat merasakan nyeri yang luar biasa dari pinggang hingga ujung kaki.

Jika ditanya :“Seberapa sakitkah? , maka jawabanya :“Seperti jari diketok palu. Nyerinya bukan saat diketok, tapi setelah diketok. Nyut, nyut,nyut,” kata Pepeng.

Pernah terjadi, luka yang sebenarnya merata di seluruh tubuhnya sudah membaik, tapi ada satu luka lagi di bagian jemari mas Pepeng yang masih tertinggal. Luka yang aneh, karena pinggirannya mengeras tapi tengah-tengahnya lunak, seperti basah di bagian tengah. Pada saat itu, istri beliau mbak Utami mengambil gunting dan menggunting kulit yang luka itu, lalu ternampak ada ulat-ulat disitu dan satu persatu mbak Utami keluarkan ulat-ulat itu dengan pinset.

Mas Pepeng bilang, :“Perasaan saya padanya sudah tak terkatakan, dia itu bukan perawat, tapi dia mau lakukan itu untuk saya” 

Ya benar, tidak semua istri siap dengan keadaan suaminya seperti itu. Tidak juga setiap suami siap menghadapi penyakit yang ditaggung istrinya. Namun keduanya, pasangan suami istri itu, mas Pepeng dan mbak Utami telah menampakkan ‘kekuatan’ pada keadaan terlemahnya.

Orang bisa berkata :“Itu hanya nampak di luarnya saja, dalam hatinya, pastilah sakit juga. Dan hati yang tersakiti atau terpenjara, suatu saat akan berontak dan mencari jalan keluarnya sendiri”.

Mungkin kalimat itu benar bagi sebagian orang, tapi dalam bingkai keimanan (karena mas Pepeng adalah seorang Muslim maka ia menguraikannya dalam perspektif kemuslimannya), ada rumusan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita umat manusia ini jika menghadapi saat-saat tersulitnya, yakni:” Ingatlah kamu kepada Allah, niscaya hatimu akan tenang” (QS 2 Al-Baqarah 152).

Maka tidak ada yang dilakukan mas Pepeng saat merasakan nyeri di tubuhnya datang, melainkan hanya dengan menenangkan dirinya dengan mengingat Allah (bagi umat beragama lain mungkin upaya ini bisa disamakan atau diistilahkan dengan bermeditasi atau yang serupa itu, mohon maaf jika saya salah).

Pada saat saya menuliskan ini, tiba-tiba saya teringat teman blog saya yang sudah seperti ibu saya sendiri, ialah Bunda Julie Utami. Dan kenapa nama beliau bisa hampir sama dengan istri mas Pepeng yang memiliki kesabaran yang sama hebatnya. Entahlah.

Tapi saya melihat dari orang-orang seperti mereka telah dianugrahi kemampuan untuk dapat memisahkan antara painfull dan suffering. Painfull (rasa nyeri/sakit) bisa jadi selama penyaki itu belum tersembuhkan akan terus terasa oleh tubuh-tubuh manusiawinya yang bertulang sumsum, dan berdarah daging dengan segala sunatulahnya yang pasti akan tunduk pada hukum alam, yakni dimana ia telah rusak atau berkurang fungsinya, maka konsekuensi logisnya adalah merasakan rasa nyeri atau perih.

Tapi, kita akan melihat tidak semua orang dengan penyakit yang sama akan berteriak :“Awwww ….“, atau “Aduuuhhh ….” atau tindakan-tindakan yang menunjukkan bahwa dia sedang menanggung penderitaan.

Pada orang-orang yang hatinya tenang (bagi Muslim karena dia mengingat Allah/dzikrullah), maka reaksinya akan berbeda. Bukan “Aww” atau “Aduuh ..” yang akan terungkap dari lisannya, atau tindakan-tindakan ‘denial’ lainnya. Karena kata “Aww” atau “Aduh” dan lain-lain itu sesungguhnya adalah ekspresi penderitaannya.

Orang yang tenang tidak akan menderita, meski rasa sakit atau nyeri itu menyerangnya. Bagi seorang muslim, ketika dia menyadari bahwa tidak ada yang terjadi melainkan atas izinNYA, maka begitu terjadi kesakitan itu, lalu sikapnya adalah innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun (Kita semua milik Allah dan kita semua akan kembali kepadaNYA), maka segera dikembalikannya rasa sakit itu kepada Allah.

Dan itu adalah yang terpenting. Sakit, tapi tidak menderita, bukankah itu yang diinginkan ? Orang yang menderita pada saat dia ditimpa kesakitan, kerugiannya berkali lipat, semakin ia mengeluhkan sakitnya, semakin ia menderita. Dan itu sama sekali tidak akan menolongnya.

Lalu saya mengerti, mengapa ada sekelompok orang yang demikian tabah meski ditimpa berbagai macam masalah dan kesulitan. Bukan hanya apa yang telah ditauladankan oleh mas Pepeng dan mbak Utami, melainkan banyak sekali yang mungkin banyak berserak di sekitar kita.

Dan penerimaan yang tersirat pada lisan serta keikhlasan yang ternampak dalam senyuman itu adalah benar adanya.

Kalau kita tahu bahwa ketenangan adalah kunci dari penjara penderitaan, saya yakin tidak ada manusia yang bisa gelisah di dunia ini dan status-status galau itu mungkin hilang dari beranda facebook saya hehe 😀

Then, don’t worry be happy 🙂

 

 

Iklan

17 thoughts on “Don’t Worry,Be Happy {Sakit atau Derita ?}

    tinsyam said:
    23/01/2013 pukul 10:39 am

    sakit itu dipikiran kalu kata babeku sih ya..
    kagum sama mbak uut-nya juga dua anak m.julie.. tabah dan sabar..
    semoga mas pepeng dan m.julie bisa melewatinya..

    Suka

      winny widyawati responded:
      23/01/2013 pukul 10:44 am

      Betul banget mbak Tin. Sama Bunda Julie pun aku kagum, dalam sakitnya masih bisa ngeblog, membagi semangatnya dalam berjuang melawan cancer itu yang saya nggak berhenti bangga dan kagum. 🙂

      Suka

        tinsyam said:
        23/01/2013 pukul 10:46 am

        iya masih selalu semangat.. ga cuma menikmati sakitnya tapi juga berbagi kisah, informatif dari tangan pertama..

        Suka

        Julie Utami said:
        23/01/2013 pukul 3:01 pm

        Aduh, buat saya berbagi info adalah kewajiban gitu deh hehehehe………

        Suka

        winny widyawati responded:
        24/01/2013 pukul 3:48 pm

        Untuk semua itu, terima kasih banyak Ibu. Info yang sangat-sangat bermanfaat koq “)

        Suka

      Julie Utami said:
      23/01/2013 pukul 2:59 pm

      Atas nama anak-anak, saya sampaikan terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga untuk jeng Tintin dan yang punya blog, ananda Winny. Sebetulnya mereka juga tidak setegar itu sih, cuma mereka tidak mau memperlihatkannya. Kan ceritanya kemarin dulu luka saya ngucur darahnya. Si bungsu sambil nadahin dengan pispot bergidik juga ternyata. Tapi walau begitu, masih tetap mau mbershin, ngelapin luka dan membalutnya kembali baik-baik, sampai besoknya langsung dia bawa ke RS karena kebetulan saya juga ada pemeriksaan tulang di RSKD.

      Ya, manusiawi ‘kan kalau orang rada sedih, takut atau punya perasaan semacam itu menghadapi orang sakit serius? 😀

      Salam hangat dari kami sekeluarga, semoga yang punya blog dan para pembacanya dikaruniai nikmat kesehatan yang baik semuanya ya.

      Suka

        tinsyam said:
        24/01/2013 pukul 12:14 am

        anak lain pasti takut mbak dan nangis.. daku pernah tuh punya bude yang diabetes dan kakinya sampe diamputasi, lukanya dimanamana, daku yang olesin obat, anaknya kabur semua.. sedih jadinya..
        dulu daku ga bisa lihat darah loh mbak, pingsan.. sekarang sih ga pingsan tapi berkunangkunang.. cuma tekatkan hati, kalu ga gitu, gimana kita nanti melihat darah sendiri, masa pingsan?
        salut buat m.julie, pelukpeluk.. kuat ya mbakyu..

        Suka

        winny widyawati responded:
        24/01/2013 pukul 3:59 pm

        Masya Allah, ternyata mb Tintin juga hebat.Saluuttt *peluk2* ^_^

        Suka

        winny widyawati responded:
        24/01/2013 pukul 3:44 pm

        Subhanallah, terbayang bagaimana perasaan anak melihat keadaan ibunya seperti itu. Tapi mereka sungguh2 sedang mendapat kepercayaan yg agung dari Tuhan, berbakti kepada Ibu terkasih. Dan ridha Ibu saat ini utk mereka adalah yg paling berharga. Allahu, belum tentu anak2 saya bisa seperti itu dalam keadaan yg sama. Mohon do’a dari Ibu, semoga anak2 saya menjadi anak2 yg shalih seperti anak2 Ibu ya Bu.

        Salam hangat kami juga untuk Ibu sekeluarga 🙂

        Suka

    jampang said:
    25/01/2013 pukul 1:39 am

    tentang istrinya Pak Pepeng, pernah saya tulis dan saya masukan dalam buku…. judul tulisannya lelaki dan bidadari

    Suka

    Julie Utami said:
    25/01/2013 pukul 2:41 am

    Nak Winny terkasih, saya lihat sih putra-putri nak Winny anak baik semua, dan taat sama nasehat orang tuanya. Kalau soal tukang berantem, ribut dst itu sih wajar sebab mereka masih bocah. Coba aja nanti, besar sedikit hilang juga kok.

    Saya doakan dengan cara mendidik yang baik seperti sekarang ini cucu-cucu saya di Ciomas akan lebih baik daripada oom-oomnya di Cimanggu deh. 🙂

    Suka

    ranny said:
    25/01/2013 pukul 7:09 am

    Saya juga kagum benar sama istrinya mas pepeng itu.sungguh tabah dan sabar.sangat menginspirasi..
    Cerita ibu Julie bikin mau bw ke blognya. Bagi saya,anak2 yg mau berbakti kek anak2 ibu Julie itu pahalanya besar,berkah dari Allah itu sungguh tak terkira.sungguh suatu anugrah,dapet anak seperti itu.
    Smoga ibu Julie diberikan kesembuhan. Amiin

    Suka

      Julie Utami said:
      25/01/2013 pukul 2:38 pm

      Terima kasih ya mbak. Saya ceritakan semuanya apa adanya, untuk bahan pembelajaran orang lain juga sih, semoga ada manfaatnya.

      Anak saya berbakti, mencontoh apa yang dulu saya lakukan kepada orang tua saya. Waktu itu saya korbankan kuliah saya demi nungguin ibu saya di RS yang letaknya di belakang kampus saya. Rasanya saya nggak pernah merasa rugi tuh nggak kuliah, jadi alhamdulillah anak saya sekarang ikut-ikutan saya terinspirasi dari cerita orang-orang di rumah soal itu.

      Suka

        winny widyawati responded:
        30/01/2013 pukul 7:20 am

        Rupanya Ibu dahulu pun anak yg shalihat, tak heran kini mendapat putra yg shalih2 🙂

        Suka

      winny widyawati responded:
      30/01/2013 pukul 7:19 am

      mbak Rani terima kasih sudah berkenan singgah. Bersyukur ada bunda Julie menemani> mohon maaf saya baru sempat buka WP lagi ini 🙂

      Suka

    DOLBYVIT said:
    29/01/2013 pukul 8:24 am

    maksih yah mba…postingannya sangat menginspirasi 😀
    dan tak mungkin ada penyakit yang tak ada obatnya 😀

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s