Invisible But Feels

Posted on Updated on

mother-and-child

Jika membaca tokoh-tokoh dunia yang pencapaian prestasinya hingga berdampak pula pada pencapaian kemanfaatan hidupnya bagi orang banyak begitu luar biasa seperti kisah Bill Gates pendiri Microsoft Corporation, atau Sergey Michaelovic Brin dan Lawrence Edward Page pendiri mesin pencari internet Google, atau pendiri situs blog WordPress, Matt Mullenweg, atau sang engineer jenius yang membanggakan bangsa atas prestasinya di bidang industri kereta api dan pesawat terbang Baharudin Jusuf Habibie, saya selalu tertarik untuk melirik ke sisi hidup mereka yang beraura cinta, yakni Ibu dan istri  mereka.

Masa lalu dan masa kekinian mereka tak lepas dari perempuan-perempuan luar biasa yang berada didalam kehidupannya, yang tersembunyi dari sorotan mata dunia namun terbukti telah menggoncangkannya. Invisible but feels.

Seperti yang tersirat dalam kata-kata ini :
“Di balik seorang tokoh, selalu tersembunyi peran dua perempuan, yaitu ibu dan istri,” kata Pak Habibie saat mengakhiri sambutan atas penganugerahan gelar Dr HC itu di Balairung, Kampus UI, Depok, Sabtu (30/1/2010).

Mengapa ada kata “tersembunyi” untuk segala yang telah dipersembahkan oleh kaum yang di dalam dirinya Tuhan simpan ‘Rahim-NYA ?  Sedang organ rahim wanitapun memang bermaqam dalam tempat yang tersembunyi di tubuhnya. Bahkan hampir-hampir tak nampak keberadaannya pada saat tiada janin bersemayam didalamnya. Namun ketersembunyiannya, bukan bermakna kehampaan, melainkan daya bagi kehidupan.

Saya hampir-hampir putus asa mencari kisah yang bertaut dengan keberadaan ibunda BJ Habibie yakni RA. Tuti Marini Puspowardojo. Di beberapa mesin pencari di internet memang ada beberapa artikel yang menyentuh nama wanita ini, namun tak ada yang menceritakan apa yang telah dijalani dalam kehidupannya sehingga termuncul putra yang demikian menakjubkan dunia sebelum kehadiran sang istri yang juga demikian memukau dalam pengabdian dan kesetiaannya, ialah bunda Hasri Ainun Habibie.

Namun demikian, tak berkurang pemuliaan dunia pada keberadaan dan betapa luhurnya peran dan tugas wanita. Adalah ibunda dari Hasanain Juaini  telah juga menginspirasiku. Bermula dari kekagumanku kepada sosok Hasanain Juaini yang bukan hanya seorang pemilik pesantren khusus putri di Narmada Lombok sana, melainkan juga peran besarnya dalam upaya pelestarian lingkungan dan luhur jasanya dalam menempatkan kembali martabat perempuan pada tempatnya yang mulia, yang karena semua itu beliau mendapatkan beberapa penghargaan dunia, diantaranya ialah Ramon Magsaysay dari pemerintah Philipina.

Masih teringat kata-katanya di sebuah tayangan acara ‘Kick Andy’ tanggal 2 Maret 2012, saat beliau menceritakan kedua orang tuanya. Beliau mengisahkan, ayahnya adalah seorang pria yang hebat, sebagai  pendiri pesantren di kampungnya dan juga pegawai pemerintahan yang sederhana namun kuat dan sabar dalam menjalani kehidupan bersama ibunya dan 14 (empat belas) putra-putrinya. Mulai dari kemiskinan yang mengepung keluarga kecil mereka hingga musibah yang beruntun datang (misalnya kematian beberapa putranya berturut-turut pada usia mereka yang masih dini) serta kerja keras yang dipersembahkan dalam membina umat di kampungnya.

Yang membuatku merinai air mata adalah pada saat Hasanain Juaini mulai berkata :”Begitu hebatnya ayah saya di mata saya, namun tiada yang melebihinya kecuali Ibu saya”. Ibulah orang yang paling hebat dalam hidup saya”.

Lalu mengalirlah dari lisan beliau yang mulia tentang wanita yang bernama Hj. Jahrah Juaini, wanita yang beliau panggil Ibu. Selain memiliki jumlah santri yang lebih banyak, ia pun seorang wanita yang sangat excelence dalam mendidik. Memilik visi yang cemerlang dan tidak biasa yang diterjemahkan dengan caranya yang khas kepada putra putrinya.

Saat bunda Jahrah telah dekat pada saat kewafatannya, beliau berpesan agar suatu hari Hasanain dapat membangun pesantren khusus putri yang baik, dan ini penggalan pesannya kepada sang putra :

” Jika kau cinta kepada ibumu ini, didiklah para perempuan dengan benar, dengan begitu kau telah bermanfaat untuk bangsamu”

Amboi, seorang wanita sederhana di masa yang telah sekian dekade berlalu, namun sanggup mengucapkan kata-kata seberat itu di detik-detik menjelang wafatnya. Tak terbayangkan oleh saya, sedahsyat apa visi hidupnya.

Di kemudian hari putranya tersebut berhasil mewujudkan impian sang Ibunda. Hasanain Juaini berhasil mendirikan kembali diantara puing pesantren yang diwariskan ayahandanya, dengan misi memuliakan kaum wanita dan membuka jalan bagi mereka untuk turut terlibat dalam membangun dan dan memuliakan bangsanya.Sebuah cita-cita mulia yang telah terlampaui kini.

Wanita ini juga yang dalam 15 tahun deritanya menanggung penyakit stroke, telah membuat sang suami, ayahanda dari Hasanain Juaini tetap setia menemaninya. Bahkan meskipun dirinya telah mempersilakan suami yang dicintai dan dijunjungnya untuk menikah lagi karena keterbatasannya kini telah membuatnya tak bisa lagi menunaikan tugasnya sebagai istri. Namun apa jawaban yang diberikan oleh sang ayah dalam kesaksiannya :

“Bagaimana aku bisa meninggalkanmu untuk wanita lain dalam keadaanmu seperti ini, sedang disaat kau sehat pun tak terbetik sedikitpun untuk mengkhianatimu. Kau dapat menyaksikan dan membuktikan, bahwa engkau tidak pernah salah memilih lelaki ini menjadi pendamping hidupmu..”

Menitis air mataku, dan dalam renungku, saya menyadari bahwa memang tak dapat dipungkiri, wanitalah yang dapat membuat laki-laki menjadi apapun. Bahkan meskipun ia tentang soal kesetiaan.

Dalam pidato kehormatan penerimaan penghargaan Ramon Magsaysay di Philipina yang dipersilakan kepadanya, Hasanain Juaini berkata :

“Kepada anak-anakku di Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri, Narmada, dan untuk seluruh murid-murid perempuan di Indonesia, hadiah Ramon Magsaysay ini untuk kalian semua. Ketahuilah bahwa dalam piagam ini ada goresan tangan wanita cerdas berprestasi, Mrs. Carmencita T. Abella, dan goresan tangan Yang Terhormat Presiden Wanita bermental baja, Gloria Macapagal Arroyo. Beliau berdua telah turut membuka jalan bagi kalian untuk maju seperti mereka. Teruslah berjuang dan teriakkanlah kepada dunia bahwa tanpa kami kaum perempuan maka tiang-tiang peradaban akan runtuh”.

Sungguh, kaum wanita tidak cukup hanya menjadi pribadi yang ingin dan berusaha tampak cantik dan cerdas saja, karena kecantikan dan kecerdasan adalah karuniaNYA yang cukup untuk disyukuri, melainkan haruslah sepenuhnya pula bersiap diri, menjadi pribadi yang sadar dan kuat dalam kesabaran untuk wanita yang akan menjadi seorang ibu, sekolah pertama bagi anak-anaknya, menjadi istri pendamping hidup suaminya dan “tiang” bagi negara dan bangsanya. Meski besar jasanya tak telihat, namun terasa goncangannya oleh dunia. Invisible but feels.

 

Iklan

18 thoughts on “Invisible But Feels

    tintin syamsuddin said:
    14/01/2013 pukul 9:13 am

    inspirator daku, mama daku..

    Suka

      winny widyawati responded:
      14/01/2013 pukul 9:26 am

      Hormatku untuk Ibunda mbak Tintin. Dimana beliau sekarang mbak ?

      Suka

    Invisible But Feels « My Dream said:
    14/01/2013 pukul 10:34 am

    […] « Invisible But Feels […]

    Suka

    ayanapunya said:
    14/01/2013 pukul 10:51 am

    makin terpacu untuk bisa jadi istri dan ibu yang baik 🙂
    makasih tulisannya, mba 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      16/01/2013 pukul 4:05 am

      Sama-sama mbak, smg akupun bisa menjadi istri dan ibu yg baik jg.Aamiin, aamiin ….Selamat sibuk ya mbak 🙂

      Suka

    Iwan Yuliyanto said:
    14/01/2013 pukul 10:54 am

    Inspiring. Dalem banget pesan-pesannya…

    Saya punya buku, duh lupa judulnya, ada di rumah, yg isinya… kisah para ibu yg mencetak putra-putri hebat di dunia. Nanti saya kabari judulnya kalo dah nyampe rumah 🙂

    Suka

    jampang said:
    17/01/2013 pukul 1:18 am

    semoga Allah merahamati para kaum perempuan dan para ibu…. aamiin

    Suka

    Ina said:
    17/01/2013 pukul 3:54 pm

    keren banget postingannya mbak Win….
    benar hadis nabi yah ” ibumu, ibumu dan ibumu”…. dan ibu adalah wanita. setuju banget dibalik pemikiran para tokoh2 besar, sebenarnya ada pemikiran si istri di situ.

    Suka

      winny widyawati responded:
      17/01/2013 pukul 4:43 pm

      Dari kisah hidup orang lain, kita jadi mengerti mengapa dalam agama wanita begitu dimuliakan ya mb Ina 🙂
      Mbak terimakasih banyak ya sudah berkenan berkunjung disini. Senang sekali berkenalan dgn mb Ina, sudah saya follow WP-nya ya mbak 🙂

      Suka

        Ina said:
        18/01/2013 pukul 12:31 am

        sama2… tappi di mp kita sudah jadi kontakan lho….

        Suka

        winny widyawati responded:
        18/01/2013 pukul 3:57 am

        alhamdulillah kita kontakan lagi disini ya mbak Ina 🙂

        Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s