Marah, Perlukah ?

Posted on Updated on

Dulu, orang tua  kita jika berselisih faham dan hendak menyelesaikan perso’alan, ayah akan meraih tangan ibu  dan mengajaknya ke ruangan lain supaya anak-anak tidak melihat mereka berdebat. Betapa santunnya mereka bahkan kepada anak-anak yang masih belum sempurna akalnya.

Dulu, jika seorang anak tak diajak bermain oleh teman-temannya, ia hanya akan bersedih sebentar, tak mengadukan kesedihannya kecuali hanya kepada yang paling dekat, ialah ibunya, lalu sebentar kemudian sudah bermain lagi dengan teman yang tadi menjauhinya, tanpa kegusaran tersisa, tanpa dendam membara, lupa.

Dulu , saat saya masih bersekolah setingkat sekolah dasar , teman-teman kecilku saat itu sudah terbiasa saling memanggil dengan gelar-gelar yang antar mereka nobatkan sendiri, misalnya “Boncel” pada si pendek, “Tonggi” pada anak yang giginya belum rapih, atau “Item” (misalnya Budi Item, Joko Item) pada anak yang pas kulitnya berwarna agak  dekat ke warna kulit buah kiwi.

Saya sendiripun tak luput dari panggilan semacam itu. Mau tahu apa gelar apa yang mereka sematkan untuk saya ? “Si Kumis”. Ya, si kumis karena ada barisan bulu halus di atas bibir saya yang nampak terlalu nyata untuk ukuran anak gadis saat itu (tapi seiring waktu, sayapun tak tahu kemana si kumis itu pergi dari tempatnya, *jadi kangen* hehe). Ada rasa sedih saat pertama kali mendengar ungkapan itu, karena nama bagi saya adalah cinta pertama manusia, dengannya orang tua kita memanggil kita dengan penuh cinta. Tapi lambat laun, saya semakin terbiasa, dan akhirnya saya tak perduli lagi dengan apa yang mereka katakan, karena nyatanya semakin kita protes atas keadaan yang mereka anggap lucu dan seru, maka semakin mereka menjadi-jadi menggoda. So,let it flow.

Masyarakat kitapun  mirip dengan anak-anak kecil yang cepat bereaksi manakala ada sesuatu hal yang mengusik kenyamanan fisik maupun hati mereka. Kita sudah tidak heran jika mendengar anak atau pasangan suami istri tetangga kita bertengkar dari balik dinding rumah, kita sudah terbiasa melihat pengemudi mobil memijit klakson sekencang-kencangnya pada situasi jalan raya macet, kita sudah sering disuguhi berita kekerasan dalam rumah tangga dan terakhir ini mungkin sering juga kita melihat orang menggerutu, mengomel, atau saling mencaci di jejaring-jejaring media sosial, saling perang status atau note sudah merupakan pemandangan yang  biasa ada.  Ahh betapa pemarahnya bangsa ini ya.

Nah sekarang mari kita dengarkan bagaimana orang awam bertanya kepada Rasulullah s.a.w. di masa yang lalu :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم ، عَلِّمْنِي عَمَلاً أَدْخُلْ بِهِ الْجَنَّةَ وَأَقْلِلْ لَعَلِّي أَعْقِلُ ، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ.

Dari Abu Said:
” Seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata:”Wahai Rasulullah ajari aku suatu amalan yang bisa memasukkan aku ke dalam syurga, tapi sederhanakan agar aku bisa memahaminya. Rasullah s.a.w. menjawab : Janganlah marah.

Dalam kisah itu diceritakan bahwa karena rasa tidak puas dengan jawaban Rasulullah, orang itu datang kepada Rasulullah hingga tiga kali hanya untuk mengulang pertanyaan yang sama, dan jawaban Rasulullah pun tetap sama. Jangan marah.

Maka dalam pemahaman kemusliman, konklusinya adalah, tak seorangpun diijinkan marah oleh Rasulullah s.a.w., apalagi menjadi pemarah. Karena memang tak ada keperluan kita untuk marah. Marah tidak menyelesaikan masalah, sangat sedikit yang bisa diharapkan solusi dari kemarahan, kemarahan bahkan memperparah keadaan. Biasanya, kita menjadi marah karena tidak cukup data yang  dimiliki, sehingga prasangka lebih banyak bermain, dan prasangka memang sekali-kali tidak mendekatkan kita pada kebenaran.

Orang yang telah bersemayam hatinya dalam kebijaksanaan, senang mendahulukan tafakur/tadabur (merenung, menganalisa, memahami) sebelum meyakini dan memutuskan tindakan. Emosinya jauh disimpan dibelakang kebesaran jiwanya. Seandainya bangsa ini memiliki keluhuran ini, banyak hal yang bisa kita cepat bangun dan benahi.
“Kita marah/ memusuhi pada apa yang tidak kita ketahui”
(Sd. Ali RA)

So, Jangan marah ya  …

Iklan

12 thoughts on “Marah, Perlukah ?

    Julie Utami said:
    10/01/2013 pukul 12:18 pm

    Saya pemarah enggak ya? Ah kan hanya orang lain yang bisa menilai diri saya. 😀

    Suka

      winny widyawati responded:
      10/01/2013 pukul 3:30 pm

      Ibu pemarah ? nggak percayaaa …
      Ibu dalam mataku adalah wanita yang cantik, kuat dan tegar. So inspirative lady for me 🙂

      Suka

    jampang said:
    11/01/2013 pukul 1:51 am

    yang lebih berbahaya adalah rasa marah dan rasa negatif lainnya yang tersu disimpan di dalam hati dan pikiran….

    semoga kita terhindar dari semua itu

    Suka

      winny widyawati responded:
      11/01/2013 pukul 2:31 am

      Apa itu yg disbut dendam bang ? memang berbahaya, tidak cuma buat dirinya tapi juga buat orang lain yg ada dlm fikiran negatifnya.

      Suka

        jampang said:
        11/01/2013 pukul 3:38 am

        termasuk…..
        bisa juga ya…. iri… dengki…

        Suka

    tiarrahman said:
    11/01/2013 pukul 2:02 am

    Ketika salah satu kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah duduk, maka hilang marah-marahnya. Dan jika tidak hilang maka hendaklah berbaring”. (HR. Abu dawud)

    “Sesungguhnya marah-marah dari Setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan sesungguhnya api dimatikan dengan air. Maka ketika salah satu kalian marah-marah maka hendaklah berwudhu” (HR. Abu Dawud)

    Al Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah hamba meneguk tegukan yang lebih utama di sisi Allah Swt, dari meneguk kemarahan karena mengharap wajah Allah Swt.” (Hadits shahih riwayat Ahmad)

    Suka

    tintin syamsuddin said:
    11/01/2013 pukul 4:15 am

    baiklah ustadzah..
    daku kalu malah cuma diam.. hanya diam..
    lihat pagipagi orang klaksonin mobil, ya monggo diam saja.. menentramkan hati.. dan cuek..

    Suka

      winny widyawati responded:
      11/01/2013 pukul 4:44 am

      hwaaa … ustadzah nyasar ya mbak. liat org klaksonin mobil padahal tau lagi macet itu gimanaa ya mbak hehehe

      Suka

    wetwetz said:
    12/01/2013 pukul 12:47 am

    Postingan yg bikin hati adem mbk winny 🙂

    Suka

      winny widyawati responded:
      12/01/2013 pukul 3:16 pm

      Aih senengnya ada mb Wewet ketemu lg. Serasa masih di MP 🙂

      Suka

    Red said:
    14/01/2013 pukul 3:17 am

    kalo saya memang masih temperamen…. cepet naik darah 😀
    *ngaku dosa*

    Suka

      winny widyawati responded:
      14/01/2013 pukul 4:33 am

      Kalo darah saya rendah terus jadinya suka pusing hehehe…

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s