Dilema Menjadi Tempat Curhat

Posted on Updated on

curhat

Entah sejak kapan aku menjadi tempat  curhat orang.  Sependek ingatanku, sejak aku mulai berseragam merah putih, ada saja teman yang berubah menjadi sahabat gara-gara aku setia mendengar celotehnya tentang apa saja.

Bukan karena permen yang mereka suplai selama bercerita atau roti lapis keju yang mereka bawa.  Pada dasarnya, mungkin karena aku termasuk anak yang cukup kepo  saat itu ya ahaha (kepo : selalu ingin tahu urusan orang _ Redaksi), sampai-sampai saat zaman berubah cepat,dan puluhan tahun bukan waktu yang singkat, sahabat-sahabat masa kecilku hinga kini masih mencariku meski hanya untuk mentertawakan  masa lalu.

Menjadi tempat curhat teman sempat membawa diriku pada satu pandangan, bahwa betapa beragamnya perso’alan kehidupan dan betapa banyaknya pelajaran, yang seharusnya ini menjadi point positif, dimana aku bisa belajar, namun yang terjadi kadang tak seperti yang diharapkan.

Meski tak selalu, namun setidaknya aku pernah mengalami dua kejadian pahit karena menyediakan diri menjadi tempat teman mengadu.

Diantaranya adalah ketika persahabatan berubah menjadi ketergantungan. Yakni saat posisiku tak lagi menjadi tempat curhatnya, tapi seakan-akan menjadi tempat “sampah’nya, dimana setiap hari, setiap jam, bahkan hampir setiap menitnya, aku harus menerima limpahan sms-sms atau inboxnya di facebook maupun pesan-pesan email, yang isinya hanya berita-berita aktivitasnya yang sama sekali tidak berhubungan denganku. Contohnya :

“Astaghfirullah, aqua galonku habis !” atau

“Hari ini aku kepikiran si X” atau

“Sebentar lagi aku mau tidur, supaya jam dua malam nanti bisa tahajud”

Bayangkan jika berita-berita aktifitas itu dikirim ke ponsel anda sepuluh kali dalam waktu setengah jam. Dan berlanjut di setengah jam-setengah jam berikutnya, selama 24 jam

Saya sering berfikir, “Kenapa status facebok orang pindah ke ponsel saya ?” karena bahasa dan jenis kalimat yang selalu terkirim memang seperti itu. Dan karena begitu seringnya, saya pernah merasa tertekan setiap mendengar suara pesan masuk di ponsel saya, tanpa saya berdaya mencegahnya karena terus terang saya tidak tahu cara memblokir sms masuk.

Dilema itu tidak berhenti sampai disitu, temanku ini mulai membanjiriku dengan berbagai pemberian yang semula kuanggap sebagai tanda persahabatan, lambat laun menjadi terasa sebagai teror. Hampir setiap minggu dia mengirimiku pernak pernik hingga buku. Accesories rumah hingga alat kelengkapan internet.

Semua ini tak menjadi masalah jika tak disertai dengan keganjilan yang mulai kurasakan, yakni sifatnya yang sangat sensitif dan mudah menilai negatif orang lain.

Aku tak  menduga hal ini mulai membuat fikiranku lelah, sebagai ibu rumah tangga akupun memiliki tugas utama yang tak boleh kuabaikan. Tapi, serangkaian kehadiran telfon, dan sms-sms itu selalu membuatku terperangkap lagi pada rasa iba dan toleransi yang tak perlu.

Nasehat keluarga dan sahabat membuatku kembali tersadar, bahwa akupun memiliki hak untuk mengabaikan bahkan  menolak kehadiran pribadi yang mengisap energi positifku, yang berakibat terhisap pula dayaku untuk membangun sisi kehidupanku yang nyata ada  didekatku.

Aduhai betapa sekian lama aku telah terkungkung oleh ketidak-tegasanku sendiri. Dan saat aku berani menentukan sikap serta bersikap adil pada sekitarku, termasuk pada teman yang mempercayaiku sebagai teman curhatnya, aku justru bisa banyak belajar. Aku menjadi punya cukup waktu untuk menjalin indah kehidupan pribadiku sekaligus tetap bisa menolong orang lain, memberikan waktu yang cukup bagi mereka bisa sekedar mengadukan kesulitannya.

Aku bukan psikolog profesional, tapi aku senang bisa setidaknya menjadi seorang pendengar yang baik saat sahabatku membutuhkannya. Dengan catatan, tetaplah berdiri pada batas yang telah Tuhan bentangkan. Tak harus terlalu masuk pada ruang hidupnya, demikian pula ia tak harus terlalu dalam menembus kamar hidupku.

Somehow, tak ada yang sia-sia dari sebuah kebaikan, sepanjang menaburnya dengan cara yang baik pula.

Keep smiling and loving      🙂

Iklan

19 thoughts on “Dilema Menjadi Tempat Curhat

    BuPeb said:
    07/01/2013 pukul 4:41 am

    *akupun memiliki hak untuk mengabaikan bahkan menolak kehadiran pribadi yang mengisap energi positifku* Yup…. mba win berhak donk.
    Aku pernah juga mba saat jadi “tempat sampah” namun sekarang aku bersikap tegas en sedikit ninggalin perasaan ga tega en kepo. Hasilnya, skrg aku lebih banyak memiliki enjoy time.

    Semangat mba win ^_^b

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 4:05 pm

      Persisss mb Feb, kelembutan itu perlu saat kita menghadapi teman, apalagi yang sedang punya masalah. Tapi nggak berarti kita jadi lemah kpd mereka. Ketegasan itu yang juga kita butuhkan, buat kebaikan semua juga akhirnya ya.
      Duh seneng banget ketemu Mommy Peter lagi disini ^^

      Suka

        BuPeb said:
        08/01/2013 pukul 1:11 am

        aku juga seneng bisa baca tulisan mba win lagi ^_^

        Suka

        winnywidyawati responded:
        08/01/2013 pukul 4:04 am

        Makasih ya Mommy Peter sayang ^^

        Suka

    ayanapunya said:
    07/01/2013 pukul 4:53 am

    kayak laporan aja ya, mba. hehe

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 4:02 pm

      hehehe iya mbak, kayak status facebook juga 😀

      Suka

    rayaadawiah said:
    07/01/2013 pukul 5:12 am

    artinya mbak bener-bener amanah jadi tempat curcol..
    etapi kalau ampe curhat galon ituuu?? mmm,, aneh juga sih. atau mgkn mereka hanya ingin menghabiskan pulsa gretongan? hehehe

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 3:45 pm

      Pulsa gretongan ? hmm menurutku sih nggak Ray, meskipun nggk mustahil juga.
      Pernah tengah malam buta, tiba2 ada sms masuk dari dia begini :”Astaghfirullah, rumahku kebobolan maling.” Lalu dia sebut barang apa saja yg ilang. Aku panik dong Ray. Trus, aku tanya :”Tapi kamu nggak apa2 kan ?”. Trus dia bilang, dia baik2 aja. Tambah lama ngomong, tambah aneh, trus aku tanya :”Ini kamu nelfon aku dimana ?”
      Dia jawab :”Di Yogya”. Betenya aku, tahu nggak kenapa ? so’alnya rumah yang dia bilang kemalingan itu di Cibubur sini dan kejadiannya udah lewat setahun sebelumnya. Ampuun deh

      Suka

    tinsyam said:
    07/01/2013 pukul 5:27 am

    sudah waktunya bilang TIDAK ke temen yang curhat dan sangat mengganggu itu deh.. daku juga sering di curhat, sampe dipanggil madam curhat.. tapi kalu menjurus sudah mengganggu ya monggo minta maaf saja, curhatnya kapan saja..
    emang kalu dikirimin banyak barang gitu ga bilangbilang? kaya minta diperhatiin kali ya? biar tetap diperhatikan gitu.. ada pamrihnya dong kasih barangbarang itu..

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 3:40 pm

      aku sampe butuh dua tahun buat memutuskan berani tegas sama dia mbak 😦
      Sesudah ada kejadian yang memperlihatkan sifat nggak baiknya tambah parah, aku blokir fb-nya. Rupanya ini jadi shock therapy buat dia, karena sesudah itu, sms2nya mulai berkurang, emailnya mulai nggak ada. Dan sekarang dia hanya sesekali sms, cuma buat bilang :”Maaf kalau sms ini mengganggu, saya cuma keingetan mbak Winny, padahal saya lagi mikirin yang lain” 😀
      Itu sms0nya kemarin pagi.
      Kalau pamrih, aku merasakannya dalam bentuk ingin perhatian yang lebih karena dia memang hidup sendiri. Keadaannya yang masih single dlm usianya yg makin merambat, menurutku jadi salah satu faktor utama sifatnya itu sekarang. Itu sebabnya aku nggk bisa tega benar2 meninggalkan dia,kecuali sampai dia punya suami kelak.

      Suka

        tinsyam said:
        08/01/2013 pukul 7:50 am

        semoga disegerakan punya suami..

        Suka

        winny widyawati responded:
        09/01/2013 pukul 10:15 am

        aamiin, semoga ya mbak 🙂

        Suka

    Lailatul Qadr said:
    07/01/2013 pukul 6:53 am

    Arrrggghhhh…! Tidaaaaaaak..!

    Suka

    pindahanmultiply said:
    07/01/2013 pukul 1:50 pm

    Waduh, curhat sih curhat mbak, tapi kenapa itu aqua galon sampai dibawa-bawa, jangan2 bukan sekedar ingin curhat tapi juga cari perhatian? Memang ada saatnya kita membangun “barrier” atau batasan yagn tegas pada apa yang bisa kita bantu, jangan sampai terjajah sama orang lain

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 2:34 pm

      Itu kelemahanku yang sudah lama saya sadari tapi memang terkadang kita perlu support orang terdekat untuk bisa punya keberanian itu
      Trims mas Nahar, sudah berkenan berkunjung

      Suka

    Iwan Yuliyanto said:
    07/01/2013 pukul 8:00 pm

    Sampaikan dg people skill akan ketidaksukaannya, shg yg sekedar ingin mencari perhatian tidak tersinggung dg kalimat penolakan dari mbak Winny. Bagaimanapun juga mbak Winny tentunya punya prioritas di keluarga dan itu adalah tanggungjawab yg besar, lebih dari sekedar amanah.

    Suka

      winnywidyawati responded:
      08/01/2013 pukul 4:03 am

      Ketidak tegasan itu pun pada mulanya muncul karena khawatir membuatnya tersinggung mas Iwan. Rasa ingin diperhatikan menurut saya wajar2 saja, tp jika itu diungkapkan dalam bentuk yg berlebihan jadi bikin nggak nyaman mas. Terlebih ini dilakukan oleh teman sesama perempuan, aneh aja rasanya hehe.

      Suka

    jampang said:
    09/01/2013 pukul 7:40 am

    terkadang…. energi tak hanya habis untuk mendengarkan curhatan.
    tapi melihat tingkah laku orang lain, entah itu positif atau negatif…. menguras energi positif juga. padahak efeknya jelas-jelas nggak terkait dengan diri sendiri.

    *komen pertama di rumah ini*

    Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s