Ramadhan dan Kesedihan

Posted on Updated on

Kesedihan Tak Bertuan

Inikah kesedihan itu ? Terkadang kita tak harus kehilangan sesuatu untuk merasa sedih, walaupun nyatanya tetap saja terasa ada yang hilang.

Jika bulan Ramadhan memang telah benar-benar pergi, dan setiap berharga detiknya tak bisa digapai lagi, setidaknya saya masih bisa mengenang bagaimana rasanya kebahagiaan menikmati teduh paginya, atau khidmat siangnya, atau syahdu saat senjanya hingga gemintang malam-malamnya. Dengan kenangan itu saya bisa meng-capture-nya dalam ruang cita-cita untuk mengabadikannya dalam sisa usia ini, walau tanpa Ramadhan lagi disisi.

Ada banyak kesedihan disini. Di bumi yang berdiri diatasnya rumah-rumah megah yang terus diperindah, dibawah menara-menara pasar modern dan perkantoran yang terus diperkokoh, diantara dinding-dinding tinggi rumah ibadah yang terus dipermegah.

Ramadhan kali ini pun tampaknya hanya menyisakan impian indah tentang senyuman kepada yang papa, tentang memberi dan berbagi, tentang keadilan dan ketentraman. Ramadhan kita disini, nampaknya hanya berupa sedikit kesempatan “bernafas” bagi orang-orang yang kita sebut mereka ‘kaum dhu’afa’ atau ‘fakir miskin’ atau orang-orang tak berpunya.

Seorang Ibu yang tinggal di dekat rumahku hanya menatap bayinya yang menangis tujuh hari sesudah Hari Raya Idul Fitri berlalu. Bayi yang dilahirkannya di sebuah puskesmas tanpa ayahnya dapat membayar biaya persalinan istrinya dan menghadapi kegelisahan karena sikap tak bersahabat fihak medis akibat kemiskinannya. Bayi yang dilahirkan dalam keadaan ibunya kehausan tanpa bisa membeli minuman walau hanya sebotol air mineral berukuran sedang. Bayi yang memiliki nasib seperti enam orang kakaknya yang hanya bisa menangis terlebih dahulu apabila merasa kelaparan karena tiada yang bisa dimakan di rumah melainkan dengan cara menghiba dan mengharap belas kasih tetangga. Bayi yang ayahnya hanya bisa menunduk dan meneteskan air mata apabila hanya uang Lima belas ribu rupiah yang bisa ia serahkan kepada istrinya dari hasil ia menjadi supir angkot pinjaman setelah sehari semalam mengusahakannya.

Tak ada Hari Raya bagi orang-orang seperti ini, kecuali apabila uang yang mereka terima dari Amilin masjid itu tak keburu habis dipakai untuk mengganjal perut seluruh penghuni rumah sebelum lebaran tiba.

Hari raya bagi mereka adalah hari-hari yang sepi, melihat rumah-rumah mewah tetangganya kosong ditinggal mudik atau bertamasya ke tempat-tempat wisata.

Anak-anak yang bersedih di hari raya menatap masjid yang selalu menyediakan makanan berlimpah di setiap saat berbuka puasa pada bulan ramadhan, kini hanya mendengar kesunyian dan harapan agar kegembiraan itu bisa segera datang kembali.

Kesedihan yang Ramadhan titipkan agar kita selalu mengingatnya pada bulan-bulan sesudahnya tentang kebahagiaan yang ingin ia bagikan kepada orang-orang yang kita menyebutnya ‘kaum dhu’afa’.

Ramadhan mengajariku,Β  bukan mereka yang dhu’afa, tapi diri inilah yang dha’if, tak mampu menjaga amanah yang diajarkannya untuk membahagiakan orang-orang seperti mereka


Kesedihan Tak Berteman

Saya masih harus mengerutkan kening dan menatap kosong ke sesuatu arah saat mencoba mengingat hal yang tak ingin saya ingat.

Salah satunya adalah saat saya harus menghapus salah satu akun rumah mayaku (Facebook). Bagaimana tidak menyedihkan dan tentu saja menyakitkanku, yang untuk satu alasan saya harus menghapus akun saya itu dan kehilangan banyak teman sekaligus tanpa bisa menyambangi mereka satu persatu dan menyatakan betapa sayangnya saya kepada mereka karena Allah. (Ini lebay-kah ? Ah itulah kelemahan saya kalau begitu :D)

Kehilangan sahabat-sahabat yang biasa saling bertemu dan berbagi apa saja di ruang maya pun tak kalah membuat saya terisak juga. Rupanya cobaan tak mesti datang dari kehidupan nyata saja, di dunia ‘nona’ maya pun tak luput dari sentuhannya. dan memulai kembali sesuatu yang pernah dibangun sebelumnya yang telah hancur berkeping itu memang tak mudah. Suasana yang berbeda, tak bisa terhindarkan dan itu bisa sangat mempengaruhi mood ternyata. Meski saya bukan tipe orang yang rajin membuat status laporan kegiatan pribadi, status-status atau catatan saya kebanyakan hanya hasil melamun saja. Tak urung, suasana baru yang sepi ini membuat saya jarang sekali membuka akun baru ini.

Dan Ramadhan mengajariku arti keikhlasan. Untuk sesuatu kebaikan, terkadang kita harus berani dan rela melepas yang paling kita sayang. Meski yang berharga itu adalah kawan-kawan. Tentu saja tak sepenuhnya kulepaskan perkawanan itu, dalam arti memutuskan ingatan tentang kebaikan-kebaikannya dan kenangan dalam kebersamaan.

Semoga tak harus terulang lagi kesedihan yang mahal itu, meski hanya di dunia maya,Β  kawan-kawan kita itu nyata insan juga bukan, dan persahabatan itu memang terasa. Bahkan banyak diantara kawan maya yang menjadi kawan yang nyata dengan adanya beberapa pertemuan dan atau saling berkirim tanda persahabatan. Persaudaraan memang tak boleh terputus jika dalam kebaikan.

 

Kesedihan tak Bertulisan

Salah satu yang membuat sebagian teman menyesalkan penghapusan akun facebook-ku adalah karena didalamnya sudah tersimpan ratusan tulisanku, yang kukumpulkan dari sejak akhir tahun 2008. Meski mungkin bukan tulisan yang berharga untuk teman-temanku , tapi untukku tentu saja memiliki kenangan tersendiri. Bagaimanapun sederhananya, setiap tulisan selalu kugoreskan dengan sepenuh hati, untuk saya dan teman-teman bisa bersama-sama membacanya, lalu saling berbincang didalam ruang komentarnya.

Beruntung saya selalu mem-back-up tulisan-tulisan saya di facebook ke blog saya yang lain, meski di blog lain itu tentu saja tanpa komentar teman-teman facebook-ku.

Dari tulisan-tulisan saya menemukan teman-teman yang baik, dan hanya kebaikan juga yang ingin saya persembahkan untuk persahabatan ini dalam segala kekuranganku.

Ramadhan mengajariku ikhlas dalam menulis. Tidak untuk mendapatkan apa-apa. Menulis hanya bagian dari amal baik yang disukai Tuhan. Dan kesedihan itu tak harus berlama-lama menunggu, saya dan kita semua bisa menulis dimanapun dan kapanpun untuk memakmurkan kebaikan itu dimana-mana.

Kita tak pernah tahu, mungkin sedikit tulisan yang baik dapat mengubah keadaan hati seseorang atau banyak teman. Dan betapa membahagiakannya dapat memberikan sedikit senyuman pada hati yang sedang kesusahan, atau merubah keburukan menjadi kebajikan.


Kesedihan dan Cinta

Ternyata kesedihan ada karena cinta. Adalah keadaan manusia untuk memiliki cinta dalam hidupnya, sebagaimana Tuhan penciptanya memiliki sumurnya. Sumur cinta Tuhan tak henti-henti ditimba dan mengalirkan kesejukannya, dan kesedihan hanya sebagian kecil warna yang menghiasi percikannya.

Jadi tiada mengapa dengan kesedihanmu, ada Tuhan yang akan menghapusnya untukmu.

Ramadhan mengajariku bersedih dengan cara yang membahagiakanku pada akhirnya,. Mungkin saja ada banyak kesedihan yang mengelilingimu, but somehow ada lebih banyak lagi keindahan yang bisa kau lihat saat tanganmu mulai bergerak untuk memberi kebaikan. Itulah cinta.

Dan kini saya bisa mengubah kata-kata yang bertengger manis di kolom judul itu sebelumnya, bukan Ramadhan dan kesedihan lagi, melainkanΒ  Ramadhan dan cinta. Kesedihan boleh datang bertandang, tapi, jangan lama-lama ya πŸ™‚

Iklan

7 thoughts on “Ramadhan dan Kesedihan

    tinsyam said:
    31/08/2012 pukul 6:31 am

    sekarang sudah ga sedih lagi kan?
    jadi instropeksi juga nih baca ini..

    Suka

      winnywidyawati responded:
      31/08/2012 pukul 6:53 am

      Nggak lagi mbak, belajar dari teman2 seperti mb Tintin jadi menambah semangatku. Makasih ya mbak πŸ™‚

      Suka

      winnywidyawati responded:
      31/08/2012 pukul 7:58 am

      Udah nggak mbak, apalagi ada teman seperti mb Tintin ini *peluk*

      Suka

    anazkia said:
    31/08/2012 pukul 8:15 am

    FBnya bener2 dimatikan, yah, Mbak? πŸ™‚

    Mengenai tetangga itu, apakah yang dulu sempat diberi hadiah waktu ultah MPID?

    Suka

      winnywidyawati responded:
      11/09/2012 pukul 7:52 am

      Naaz, maaf baru keliatan ni komen Anaz, duuh selain jarang kesini, masih blm mudeng jg dg WP ini.

      Iya betul Naz, πŸ™‚

      Suka

    daicyzara said:
    02/12/2012 pukul 1:43 pm

    teh winny, apa kabar?
    mahia disini, masi inget gak?
    hehe, akhirnya ketemu lagi di wp..:)

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 3:13 am

      kabar baik sayang
      Makasih ya Mahia sudah menyempatkan singgah
      Maaf baru sempat balas nih
      Semoga Mahia nggk bete hehehe

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s