Terlepas Dari …

Posted on

Terlepas dari rasa galau, kesal, marah, bingung, cemas. Terlepas dari rasa sedih akibat dari issue penutupan fitur media sosial Multiply, pada akhirnya kita memang harus melepas semua rasa itu, yang tidak berguna untuk menjadi beban fikiran dan perasaan kita, sementara kita sudah punya hal lainnya yang sama sedang  difikirkan dan dirasakan juga.

Saya rasa sudah banyak postingan yang mengungkapkan indahnya jalinan persahabatan, dan manfaat ilmu yang didapat selama kita berbloging ria di jagat Multiply ini, jadi saya tidak akan mengulangnya lagi.

Begitupula paparan diskusi pejuang-pejuang Multiply yang dengan segala ketulusan dan kebaikannya terus mengupayakan tetap eksisnya media yang kita sayangi ini, atau setidaknya sekedar ingatan akan janji-janji manis aparatur Mulpid dan jajajarannya, sayapun tidak bergairah mengenangnya lagi sekarang ini.

Rela ataupun tidak, memang merupakan konsekuensi logis bagi siapapun yang tinggal di tempat orang lain untuk suatu saat terusir sesuai dengan kehendak tuan rumah. Bagaimanapun tempat itu bukan miliknya, dan itu memang harus berada dalam kesadarannya. Terlepas dari apakah tuan rumah itu menyuruhnya keluar dengan cara yang baik ataupun tidak.

Bagi orang yang sadar bahwa ia berada di tempat itu tak akan selamanya, akan memiliki kesiapan jika suatu saat ia harus pergi dari sana.

Dalam ajaran agama, kita dituntun untuk selalu mempersiapkan diri demi datangnya hari yang semisal dengan itu, yakni hari kematian kita, hari perpisahan kita dengan dunia yang sangat kita gandrungi, sangat kita sayangi, karena didalamnya kita menemukan banyak sekali kesenangan walaupun mendapatkan juga sejumlah kesedihan.

Yang pasti pertemuan, perpisahan, kesenangan dan kesedihan adalah sesuatu yang niscaya dalam kehidupan. So, mau apa lagi kita, jika sudah berhadapan dengan ketetapan seperti itu.

Terlepas dari semua itu, ada hal penting yang saya catat, bahwa setiap kejadian selalu menyediakan ruang pembelajaran / hikmah yang luas.

Bahwa keputusan manajemen Multiply untuk menutup fitur blog dan sebagainya yang sejenis sebagai media sosial adalah sesuatu yang meskipun bukan pendadakan tapi cukup mengagetkan dan menyakitkan. Tapi, mari kita lihat gelombang apa yang menggulung tinggi dibelakangnya ?.

Ialah gelombang solidaritas yang terjalin sedemikian hebat yang semakin terjalin bukan saja antar bloger melainkan juga antar bloger dan online seller. Keprihatinan yang sama yang melahirkan banyak sekali ide, banyak sekali kreativitas, banyak sekali potensi yang muncul di kalangan Multipliers saling berkejaran satu sama lain yang justru lebih dahsyat daripada berita yang dirilis Mr. Stefan di media ini.

Setidaknya yang saya update sampai saat ini adalah Anaz dengan ide briliannya mengajak teman-teman Multiplers untuk membuat sebuah buku antologi yang berisi pengalaman para bloger selama ngempi, ini linknya. Ada mas Bimo dengan ide hebatnya membuat satu naungan tempat kita masih bisa kumpul bareng, sekedar supaya masih bisa  ngobrol dan OOT sama-sama yang infonya ada disini. Ada mbak Febby yang mendadak keren (eh, memangnya selama ini nggak keren gituh ? hehehe) mengadakan lomba dadakan : Arti MP, ada penggalangan surat petisi penolakan penutupan fitur blog di MP, ada kuis semangat berbagi – TERIMAKASIH MULTIPLY INDONESIA di Twitter! yang diselenggarakan selama 4 bulan hingga jatuh tempo per 1 Desember 2012 yang sukses besar menuai tujuh ratusan tweet hanya dalam dua hari pertama sejak diselenggarakannya (Wooow) dan entah kekerenan apalagi yang dilakukan teman-teman kontak atau bukan kontakku demi menghadapi sisa-sisa kebersamaan di desa Melatipelayu ini (duuuh jadi berkaca-kaca begini ingat keanehanku dulu disini, hikkssss …. *tanpa sroot*).

Terlepas dari tulisanku ini, sambil menunggu 1 Desember itu tiba, mari kita tersenyum manis beresama sejenak,  memandangi Anazkia yang mendadak ber-gue-gue disini sambil ngabuburit ngemil kuaci #eh, dan membaca renungan penuh hikmah menjelang buka puasa dari Cak Marto dibawah ini :


Alkisah ada sebuah bangunan besar tak bertuan. Teduh di kala siang dan terang benderang di kala malam. Gerbang pagarnya selalu terbuka, dan banyak anak berdatangan di kemudahannya. Mereka bebas bermain, bercanda, bertengkar, bermusik, ngelantur, curhat, berdebat, belajar, jualan, dan ber-apapun. Emperannya luas dan nyaman buat anak – anak itu berteduh. Dari sanalah mereka dijuluki “The Mpers”.

– Martoart –

Selalu ada keindahan dibalik kepedihan … seperti selalu ada pendar matahari dan pelangi setelah hujan.

 

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s