Membela Mimpi

Posted on Updated on

Menjemput waktu berbuka puasa sambil mendapatkan hal berharga tentu menyenangkan hati. Begitu pula denganku yang tanpa rencana sebelumnya, tiba-tiba mendapat kesempatan mengikuti acara ‘Ngabuburit bareng Ahmad Fuadi’ (penulis Novel ‘Negeri 5 Menara’ yang merupakan buku pertama dari trilogi novelnya).

Satu kebetulan dengan tingkat kemampuannya menceriakan hatiku yang berlipat-lipat. Bagaimana tidak begitu, tak cuma bisa mendengarkan beliau mengurai catatan perjalanan hidupnya hingga terlahir kembang-kembang dari hasil penulisan bukunya (yakni diantaranya diproduksinya kisah Negeri 5 Menara ke dalam bentuk film), melainkan juga kejutan lucu di lift menuju lantai ke-6 gedung Yarsi, karena ke dalam lift itu, masuk juga Ahmad Fuadi yang rupanya tiba di tempat acara secara bersamaan.

Sedikit saling menyapa dan memperkenalkan diri sebagai orang yang “berani-beraninya” mention beliau di tweet serta menyampaikan salam seorang sahabat blogger yang merupakan fans beliau juga. Begitu senangnya sampai lupa foto-foto di dalam lift hehehe (lagian mana sempat kalo pepotoan di lift kan ).

Ahmad Fuadi belum memulai presentasinya di acara itu, tapi aku merasa kata-katanya di televisi atau yang tersirat dalam buku-bukunya sudah terbukti, bahwa jangan takut bermimpi, setinggi apapun mimpimu insya Allah akan tercapai, buktinya aku bisa bertemu muka dengan beliau plus foto bareng juga, serta duduk di kursi barisan kedua terdepan disaat sebelumnya aku sudah membayangkan betapa sulitnya bisa mendekati beliau yang sudah ditunggui fansnya para calon mahasiswa mahasiswi yang mengikuti acara itu.

Tapi yang jauh lebih penting adalah, aku bisa mendengar buah pemikirannya yang diuraikan dalam forum tersebut dengan tuma’ninah-nya, walaupun terpaan udara air conditioner di ruangan itu terlalu dingin untuk badan yang sedang lapar ini hehehe.

Sore tadi Ahmad Fuadi tidak mengurai jelaskan tentang novel ataupun film Negeri 5 Menara-nya. Namun ia memeras saripati dari pengalaman hidupnya dan membaginya kepada kami audience yang memenuhi ruangan seminar itu.

Sebenarnya fokus bang Ahmad Fuadi (begitu beliau senang disapa), lebih kepada pemuda pemudi usia sekolah/kuliah. Dan novel Negeri 5 Menara sendiri memang berbasis pada pengalaman hidup anak-anak daerah pada usia sekolah.

Ada dua hal yang bang Fuadi ikat dalam satu jalinan dalam awal uraiannya, yaitu Ilmu dan Mimpi. bagaimana keduanya bisa saling terkait ?

Ialah semua berawal dari mimpi. Setiap orang sebetulnya memiliki mimpinya masing-masing. hanya saja keadaannya berbeda-beda bergantung pada upaya mereka dalam mewujudkan mimpi itu.
Ada yang melihat mimpinya begitu tinggi, sehingga dirasakan mustahil untuk menggapainya, maka berhentilah ia disana, mimpinya menggantung berayun-ayun ditiup angin pembiaran. Maka tinggalah ia sekedar sebagai mimpi saja, tanpa ada daya untuk menjadi nyata.

Adapula yang melihat mimpinya memang sangat tinggi, namun ia percaya ia bisa menjangkaunya, maka ia raih semangat dan kerja keras sebagai kendaraannya, dan mengayuh mengemudikannya kuat-kuat. Hingga tanpa tersadari, ia melihat apa yang menjadi mimpinya dahulu, kini telah mewujud nyata.

Saya jadi teringat dengan ucapan Hasanain Juaini pada sebuah acara di televisi, beliau mengatakan :”Siapapun  dapat menjadi apapun yang dia inginkan, asalkan dia mau membayarnya dengan pengorbanan dan kerja keras”

Maka siapa yang akan membela mimpi kita selain diri kita sendiri ?
Yup, tidak ada yang dapat  membelanya melainkan diri kita sendiri, dengan cara itulah kita bisa menggapai segala impian kita.

Saat menjelaskan tentang mimpi ini, Ahmad Fuadi memperlihatkan sebuah gambar indah yang terpantul lembut di permukaan dinding dengan image sebuah gedung terkenal seantero dunia, yakni gedung kantor kongres Amerika yakni Capitol yang terletak di Capitol Hill satu distrik pemukiman padat di Seattle Amerika Serikat.

Saat masih menimba ilmu di pesantren Gontor, gedung ini sering dia lihat dalam buku-buku berbahasa Inggris yang dia baca untuk mendalami kemampuan bahasa Inggrisnya. Dan pada pemancar suara yang dipasang disekitar pesantren yang sering menyiarkan program tentang dunia Islam dalam acara Voice Of America, terbitlah satu keinginan dari Ahmad Fuadi  yang membayangkan dirinya berada disana pada suatu hari nanti.

Tak mencapai waktu dua puluh tahun, keinginan masa remajanya itu tercapai. Tidak sekedar melihat gedung capitol itu, tapi ia pun bekerja disana sebagai wartawan VOA selama beberapa waktu.

Dulu ia bermimpi ingin sekolah di luar negeri, dan jikapun hal itu meleset, ia berazzam setidaknya ITB harus ada dalam genggaman. Beberapa tahun kemudian, bukan sekedar bersekolah di luar negeri, tapi Ahmad Fuadi yang berasal dari sebuah keluarga sederhana di suatu desa pingggiran Danau Maninjau sana ini, mendapatkan bea siswa untuk bersekolah di empat negara berbeda. Allah memberinya empat kali lipat lebih banyak dari apa yang ia impikan.

“Maka jangan remehkan mimpimu” katanya. Tidak ada impian yang terlalu tinggi bagi Tuhan.Dan Allah Maha Mendengar.

Sampai sini, tegak keyakinanku, terbangun oleh kata-kata sang Novelis ini untuk tidak takut bermimpi, dan kuharapkan inipun meresap di fikiran dan hati Zahra yang aku ajak mengikuti kesempatan itu, karena dialah yang nanti akan menggenggam masa depan setelahku.

Untuk mencapai mimpi itu diperlukan dua alat menurut beliau, ialah USAHA / KERJA KERAS dan DO’A. Disinilah Ahmad Fuadi mulai mengurai makna Man Jadda Wa Jada (satu pepatah dari bahasa Arab yang berarti Siapa yang bersungguh-sungguuh pasti akan berhasil).

Salah satu implementasi dari Man Jadda Wa Jada ini ialah menimba ilmu. Ya, dengan ilmu segala tujuanmu dapat menemukan jalannya untuk bisa tercapai. Dan yang terpenting dalam menimba ilmu itu ialah faktor GURU dan LINGKUNGAN.

DI pesantren, dengan model pendidikannya yang khas, Ahmad Fuadi mengekstrak sudut pandangnya tentang model pendidikan disana. Adalah keikhlasan para guru dari mulai Kyai sang pemimpin tertinggi pesantren sampai staf pengajar hingga pekerja di tingkatan mana saja didalamnya telah membentuk karakter para santri pada tingkat yang diharapkan.

Dalam pandangan orang-orang pesantren, Pesantren bukan sekedar sekolah agama. Lebih dari itu ia adalah sekolah kehidupan. Dengan segala dinamikanya dan ragam bentuk pendidikannya, para santri diarahkan menjadi pribadi-pribadi yang tidak saja memiliki basic ilmu agama (sebagai ilmu yang wajib dimiliki dalam hidup) melainkan juga ilmu-ilmu empiris, kemandirian, tanggung jawab dan semangat untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesamanya. Dalam pondok, biasa didengung-dengungkan sebuah slogan, bahwa orang yang sukses itu adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Ada dua point penunjang keberhasilan menimba ilmu yang ditanamkan kepada para santri, ialah :Niat yang benar dan kekuatan do’a, terutama do’a Ibu.
Niat yang kuat akan menuntun kita pada kemauan bekerja keras dan bersabar diatasnya. Namun diatas semua itu tertanam kesadaran, bahwa tidak ada yang terjadi melainkan karena izin Tuhan.Maka do’a menjadi faktor penting yang harus terus membersamai hidup kita. Dan memuliakan Ibu kita, salah satunya ialah dengan selalu meminta do’a darinya adalah kekuatan luar biasa yang akan menghimpun tidak saja kekuatan kita yang lemah itu bersama kekuatan semesta raya yang mengarah pada terwujudnya mimpi.

Disamping itu ada tiga hal penting yang digaris bawahi oleh Novelis penerima 8 kali bea siswa ini yang beliau sebut sebai mozaik faktor penting keberhasilan pesantren dalam bidang pendidikan ini alah :

  1. Keikhlasan para guru. Jika anda bertanya berapa gaji seorang ustadz di pesantren, maka jawabannya adalah Nol. Hidup mereka telah didedikasikan untuk mendidik generasi baru ini karena Allah saja, sebagai pengabdian kepadaNYA. Lalu jika demikian darimana mereka mendapatkan nafkah untuk keperluan sehari-hari keluarga mereka. Di lingkungan pesantren, pada orang-orang dengan kesiapan berbakti seperti ini, tingkat kehidupan dan pola mereka hidup sudah tidak ada bedanya dengan santri, yakni makan, minum dan keperluan sandang serta papan mengikuti kebijaksanaan pesantren dan Kyainya. Jika para santri makan, maka merekapun makan, jika santri belajar, maka merekapun bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing.
  2. Harus memiki perasaan bahwa :”Saya adalah warga global”. Di pesantren biasanya terdiri dari bermacam-macam suku bangsa bahkan lintas negara. Jika kita membatasi diri perasaan kita sebagai warga regional atau teritorial saja, maka ya sudah, kita akan selamanya terkungkung terbatasi oleh cara pandang seperti itu. Membatasi silaturahmi, membatasi kedekatan, membatasi potensi tolong menolong di dalamnya. Berbeda dengan orang yang merasa dirinya sebagai bagian dari warga Global, persaudaraannya dengan teman berbeda bangsa dan bahasanya tak bisa dibatasi perbedaan bendera diantara mereka. Telah tersingkap hijab-hijab kesukuan dan hal-hal lain yang dapat melahirkan keengganan untuk bersahabat. Yang dengan itu berarti ia telah menutup dirinya sendiri dari keberkahan silaturahmi.
  3. Penguasaan bahasa asing sebagai kunci pintu dunia. Sering kita mendengar slogan, Bahasa adalah Mahkota. Penguasaan bahasa asing bagaimanapun akan membedakan kita dari kebanyakan orang dan menempatkan kita pada kemampuan yang lebih luas untuk dapat berinteraksi dan saling berbagi dengan bangsa lain.Dan pada akhirnya Ahmad Fuadi menyimpulkan uaraiannya pada 4 point , yaitu :
    • Mimpi setinggi-tingginya, jangan ragu dan jangan remehkan mimpimu. Jika perlu tulislah mimpi itu, agar terus terpatri dalam kerja keras dan kesungguhanmu
    • Niat yang kuat dan ikhlas, ini merupakan energi luar biasa yang abadi. Jika kita memiliknya maka energi ini akan mendorong upayamu dengan kekuatan tak habis-habis.
    • Man Jadda wa Jada, bersungguh-sungguh, hal ini dibuktikan dengan upaya sang pemimpi itu dilakukan diatas rata-rata teman-temannya. Jika temannya membaca 1 buku sehari, maka orang yang bermental man jadda wa jada akan melakukannya lebih dari itu. Demikian seterusnya. Karena orang yang paling baik itu adalah orang yang terbaik dalam ikhtiarnya diantara orang lain.
    • Do’a dan syukur, dimana hal ini dikalangan orang-orang beragama diyakini sebagai sebuah energi yang ajaib. Dipercaya sebagai sebuah kekuatan maha dahsyat yang sering tak bisa ditelusuri oleh akal.Maka jika semua itu telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, seharusnya lahir daripada kawah candradimukanya pribadi-pribadi yang sukses. Yang bagaimana pribadi yang sukses itu ? Ialah pribadi yang paling besar manfaatnya untuk orang banyak.
      Sekelumit pengalaman dan perolehan berharga dari seorang penulis yang sekaligus rule model dari apa yang ia kisahkan sendiri dalam bukunya. Sebuah kesempatan buka bersama yang mengesankan.Semoga hal ini dapat menjadi inspirasi buat kita semua, aamiin.
Iklan

8 thoughts on “Membela Mimpi

    Iwan Yuliyanto said:
    14/08/2012 pukul 8:23 pm

    Alhamdulillah, mbak Winny bisa ketemu Ahmad Fuady.

    *Komen Pertamax di lapak barunya mbak Winny.

    Suka

      winnywidyawati responded:
      15/08/2012 pukul 12:07 am

      Alhamdulillah ketemu mas Iwan lagi disini,, terimakasih ya Mas. Belum terbiasa sering2 main disini Mas hehe.

      Suka

    Reni Judhanto said:
    15/08/2012 pukul 12:47 am

    Mbak Winny terimakasih banyak ya sudah menyampaikan salamku untuk beliau 🙂
    Sungguh mbak… Aku ingin rasanya ikut ada di ruangan itu, mendengarkan sendiri apa cerita dari Bang Fuadi. Tapi membaca catatan mbak Winny sudah mampu mengobati rasa kecewaku karena aku tak dapat ikut duduk disana.
    Semoga Zahra kelak akan sesukses beliau ya mbak dan semoga dengan ikut mendengarkan sendiri pengalaman Novelis handal itu Zahra kian termotivasi utk menjalani hari2nya di Ponpes kelak.
    Aamiin…
    Sekali lagi terimakasih banyak utk “reportasenya”

    Suka

      winnywidyawati responded:
      15/08/2012 pukul 12:56 am

      Sama-sama mbak Reni sayang. Aamiin. Terimakasih atas do’anya untuk Zahra. Saya minta link blognya ya mbak,

      Suka

    anotherorion said:
    16/08/2012 pukul 4:15 am

    sungkem sama mbak winny

    Suka

      winnywidyawati responded:
      26/08/2012 pukul 12:54 pm

      hahaha wah disungkemin pak Guru nggk kebalik nih 😀

      Suka

    Julie Utami said:
    22/09/2012 pukul 1:22 pm

    Assalamu’alaikum ceu,

    Akhirnya kita ketemu lagi di sini. Saya follow ya, semoga berkenan memperpanjang silaturahmi yang sudah terlanjur terjalin indah. Seindah kisah pertemuan dengan penulis kenamaan ini. Wah, asyiiiiik……

    Suka

      winnywidyawati responded:
      07/01/2013 pukul 3:11 am

      Ibuuu … kangeeennn
      Maaf baru semat buka WP lagi ya.

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s