[Xenophobia] Ketika Perbedaan Menjadi Rahmat

Posted on

Belum hilang dari ingatan, kehebohan yang terjadi di negeri ini gara-gara diundangnya seorang tokoh selebritis luar negeri Lady Gaga oleh sebuah event organizer yang telah mengundang reaksi cukup besar baik yang pro maupun kontra dari masyarakat dan ormas di negeri ini.

Reaksi sebuah ormas Islam yang hendak menggagalkan acara tersebut sesuai rencananya telah memunculkan reaksi panas tidak hanya di sejumlah media yang digawangi pemandu acaranya bersama pendapat tokoh-tokoh seniman,tokoh agama hingga pejabat, tetapi juga melahirkan berbagai tanggapan di media-media jejaring sosial, blog dan mikroblog di seantero Indonesia.

Banyak yang mengutuk aksi ormas tersebut dalam upayanya untuk menggagalkan konser besar tersebut hingga tuntutan sebagian kelompok masyarakat untuk membubarkan organisasi itu, tetapi tidak sedikit juga yang mendukungnya yaitu kelompok masyarakat yang merasa keberadaan mereka adalah benteng terakhir yang dapat melindungi harapan mereka akan terjaganya prinsip-prinsip yang sedang mereka semai dalam keluarga mereka, anak-anak mereka disaat hukum dan aparatnya telah tak bisa diharapkan lagi berfungsi sebagai penegak keadilan dan hukum telah berubah menjadi barang mainan.

Apakah benar perbedaan dan cara memandang perbedaan itu sebagai ‘masalah’ adalah sumber penyebabnya ? Benarkah kebanyakan kita tak suka dengan adanya perbedaan ? Apakah ungkapan Nabi umat Islam Muhammad saw bahwa ‘Perbedaan adalah rahmat’ hanya omong kosong belaka ?

Dalam sebuah artikel di wikipedia, Xenophobia didefinisikan sebagai sebuah bentuk ketakutan atau kebencian yang tidak rasional terhadap orang asing atau orang yang dianggap asing. Kata xenophobia ini berasal dari bahasa Yunani, Xeno berarti orang asing, dan Phobos berati takut. Kemudian xenophobia memanifestasikan dirinya dalam banyak hal yang melibatkan persepsi dan hubungan kelompok/komunitas orang

Seorang xenophobic, menurut teori diatas akan selalu tergerak untuk menolak segala hal yang nampak berbeda dengan dirinya. Kita mungkin pernah melihat orang yang phobia terhadap sesuatu benda, dia akan berusaha menghindar dari benda yang ditakutinya apabila ternampak olehnya benda itu mendekat. Jika penghindaran telah menjadi hal yang sia-sia, maka yang muncul adalah reaksi kepanikan dan itu bisa saja membahayakan orang lain bahkan dirinya sendiri.

Maka apa yang bisa kita katakan tentang diskriminasi rasial pembunuhan dan pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa pada Mei 1998 di Glodok Plaza Jakarta, pembantaian kaum muslimin di Poso Sulawesi Tengah, konflik suku Dayak dan Madura, konflik di Papua, konflik fihak pemerintah Myanmar dan Rohingya, Israel dan Palestina yang jauh sebelumnya telah tergelar dalam catatan sejarah kemanusiaan hal-hal mengerikan itu telah dipergelarkan oleh pendahulu-pendahulunya di zaman perang dunia pertama dan kedua dan seterusnya apabila diteruskan menapak tilasi kisah-kisah peperangan umat manusia di bumi yang demikian kecil ini diantara jagat semesta yang terdiri dari kumpulan tata surya dan galaksi yang berbeda-beda ini.

Jika demikian, ketika kita memandang perbedaan adalah suatu masalah besar dan karena itu ia harus disingkirkan, maka masalah yang sesungguhnya dan terbesar itu adalah diri kita sendiri.

Setiap keberadaan yang telah tercipta memiliki hak hidup dan sistem untuk mereka mempertahankan keberadaannya sendiri-sendiri. Selama hak dan sistem itu berjalan tanpa saling mengganggu dan mencederai harmony yang telah dianugrahkan Tuhan dalam jagatNYA yang serasi ini, maka keberagaman itu bahkan akan melahirkan keindahan.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh sosok seorang Hasanain Juaini, pemimpin Pondok pesantren Nurul Haramain di Narmada Lombok,beliau juga adalah Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama di Nusa Tenggara Barat, seorang yang disamping telah mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Philipina, serta Ashoka Internasional juga penghargaan-pengharggan lainnya dari dunia internasional atas jasanya dalam mengembalikan fungsi alam, menghijaukan ratusan hektar lahan tandus di Lombok, serta membuat terobosan inovasi dalam persoalan sosial, pluralisme dan perspektif gender di pondok pesantren dan kehidupan Islam.

Untuk melihat profilnya kita dapat melihat di sini

Mari kita menyimak apa yang telah diturunkan Tuhan kita semua kepada rasulNYA untuk disampaikan kepada umatnya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantaramu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS : Al-Hujurat :13)

Maka untuk saling mengenal ternyata keberagaman itu diciptakanNYA, maka kenalilah segala perbedaan disekitar kita, hingga kita memahaminya dan mengerti bahwa itulah karuniaNYA, karena memang “Manusia akan memusuhi apa yang tak diketahuinya” (Sd Ali ra).

Bogor, Agustus 2012
Ikut Lombanya mbak Lessy

Iklan

2 thoughts on “[Xenophobia] Ketika Perbedaan Menjadi Rahmat

    rudalboy said:
    09/08/2012 pukul 6:31 am

    Horeeeeeeeee…..Aku mampir ya….Semoga menang diperlombahannya.

    Suka

      winnywidyawati responded:
      09/08/2012 pukul 10:08 am

      Horeee … ada bang Rudy lagii, serasa masih di ruma lama ya bang, makasih bang

      Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s