Karena Cinta Ibunda

Posted on

Pada perjalanan yang memaksa jauh dari buah hati, tak bisa mendengar dan memandang merekalah yang paling menyiksa hati seorang ibu. Bahkan saat-saat mereka lena dalam lelap tidurnya pun menjadi kerinduan yang tak habis-habis.

Tak terbayangkan, bagaimana rasanya menjadi ibunda yang harus kehilangan cahaya matanya untuk selama-lamanya, baik putra/putri dalam keadaan masih berusia kanak-kanak, remaja, ataupun dewasa. Setiap detik waktu amatlah berharga, karena anak adalah karunia bernilai tak terhingga.

Jika dibuatkan perumpamaan, tak ada pepatah yang dapat menggambarkan bagaimana besarnya penyesalan atas hilangnya kesempatan dapat hidup bersama belahan jiwa darah daging tulang sumsumnya.

Seorang Ayah mungkin dapat menyembunyikan cintanya kepada putri dan putra tanpa mengucapkannya, tapi Bunda tak bisa.Tiada yang dapat menjelaskan, bahkan seorang bundapun tak pernah bisa mengerti alasan, mengapa kepada putri dan putra, demikian besar ia mencinta.

Betapa indahnya sebuah rumah, yang bercahaya karena kilau keshalihan seorang bunda. Mendidik dan mengasihi pangeran dan putri kalbunya dengan tuntunan ilmu dari Nabinya. Menyayang dan mencinta sebagaimana pantasnya memperlakukan sebuah karunia. Hingga telinga dan kuku ananda tak luput dari perhatiannya, apalah lagi keselamatan dunia dan akhiratnya.

Anak-anak yang bahagia menyaksikan :

Bunda mengajarkan mengaji mencintai Al-Qur’an. Menanamkan arti bernilainya qalam Tuhan.

Bunda yang mendidikkan bagaimana caranya menghadap Tuhan. Ruku’ dan sujud serta menghafal bacaan

Bunda yang mengantar anak laki-laki ke masjid jika ayahnya berhalangan. Yang karenanya pada anak terfaham,pada shalat berjamaah di rumah Allah ada cinta dan ampunanNYA dicucurkan.

Bunda pula yang menauladankan, mengasihi anak yatim dan orang lemah tak terperhatikan. Tangan bunda selalu terulur dalam sedekah dan pertolongan. Kepada kaum dhu’afa, hati anak-anak dipautkan.

Dari bunda anak-anak mencamkan, tiada paling berharga yang harus digenggam tak dilepaskan, ialah Iman.

Dari bunda anak-anak terteguhkan, tiada yang boleh hilang dalam kehidupan, ialah syukur dan kesabaran.

***

Jika anak-anak menjauh dari pandangan, dalam haru dan tetes air mata, lisan bunda tak henti membisikkan :

Allahummaj’ alhum min ‘ibaadikashaalihiiin,warhamhum Rabby, Allahumma aamiin yaa mujibassaa’iliin

“Wahai Allah jadikanlah mereka (anak-anakku) dari golongan hamba-hambaMU yang shalih. Sayangilah mereka Tuhanku, dan perkenankanlah do’aku wahai Dzat yang memperkenankan segala pinta”

Hingga punggung-punggung kesayangan itu menghilang dari pandangan, hingga sosok-sosok kecintaan tak kan bisa terlihat lagi dari pelupuk bayangan, saat maut memisahkan.

Cinta bunda, tak bertepi, kasihnya sepanjang hidup hingga mati.

***

Betapa berhargamu para Bunda

Indah jalan anak-anak menuju Tuhan, apabila bunda shalihat yang menjadi teman …

*Bogor, 20 Mei 2012*

Iklan

3 thoughts on “Karena Cinta Ibunda

    faziazen said:
    09/08/2012 pukul 7:17 pm

    iya..baru kerasa pas udah nikah hampir setahun
    mau cari kontrakan kok yaa ditahan tahan ama Mamah, alesannya lagi hamil tua, kasian adik2 kalo ga ada aku, dll
    pasti berat rasanya kalo seorang Bunda “ditinggal” anaknya karena menempuh hidup baru

    Suka

      winnywidyawati responded:
      13/08/2012 pukul 12:34 am

      Pantes ya mbak, kalo di acara2 nikahan, atau nikahan kita sendiri, Ibu selalu netes air mata, dan apa yg daa di dalam hatinya pasti lebih berat lagi.

      Suka

        faziazen said:
        13/08/2012 pukul 1:24 pm

        iya..senang karena anaknya sudah menikah
        sedih karena ditinggal, jadi kena sindrom sarang kosong

        Suka

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s