Seharum Namanya

Posted on

Tanpa berkurang rasa cinta dan hormat kepada pahlawan-pahlawan nasional wanita lainnya seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Nya’ Meutia, Martha Christina Tiahahu, Nyai Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Dewi Sartika dan lain sebagainya, Siapakah orang yang paling harum namanya di negeri ini ?

Sebuah lagu sederhana yang saya kira kebanyakan orang Indonesia mengetahuinya membuat orang mudah menjawabnya. Itulah Raden Ajeng Kartini.

Jika membaca riwayat hidupnya, betapa takjubnya saya, usia hidup beliau hanya sekitar 25 tahun saja, namun RA Kartini seolah-olah terus hidup hingga sekarang. Namanya terus disebut-sebut orang sebagai pahlawan. Tentu ini tidak terjadi begitu saja tanpa rancangan rencana Tuhan. Orang seperti ini, yang memiliki sebutan yang baik bahkan sesudah wafatnya seolah-olah yang panjang umurnya. Bayangkan, sudah 108 tahun atau satu abad lebih sejak hari wafatnya, namanya masih dalam kenangan orang-orang yang dahulu beliau perjuangkan harkat dan derajatnya.

Dan memang disitulah sunnatullahnya, siapa yang berkah usianya, banyak bermanfaat untuk banyak orang di semasa hidupnya, bahkan seisi alampun kan terus mendo’akannya, manusia-manusia yang tidak mengenalnya karena berbeda generasi dengannya mencintainya. Itulah keadaan RA Kartini, seorang pribadi sederhana yang ternyata perjuangannya tidak sesederhana namanya, tetapi membuat namanya yang sederhana itu menjadi inspirasi orang banyak luar biasa . Tak terbayangkan, betapa banyak pahala sedang dan akan selalu mengalir ke alam barzakh tempat beliau bersemayam kini disebabkan jasa-jasanya.

Untuk itu saya tidak akan mengulas tentang Ibu Raden Ajeng Kartini sebagai individu pejuang. Telah banyak tulisan yang mengungkap tentang kebesaran beliau dalam usianya yang pendek (hanya 25 tahun).

Bertitisan air mata, malu kepada Tuhan dan bangsa ini, betapa RA. Kartini telah memilih jalan hidup yang tegas dan benar dalam kungkungan adat pada masa itu. Dengan segala keterbatasannya, RA Kartini bercita-cita dan sekaligus memperjuangkan cita-citanya, melalui banyak jalan, diantara cita-citanya diabadikan Tuhan agar kita generasi sesudahnya dapat membacanya, yakni melalui tangan orang dari bangsa yang menjajah negeri ini ratusan tahun lamanya.

Adalah Mr. JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Pemerintah Hindia Belanda, menyusun kumpulan surat-surat RA Kartini menjadi sebuah buku yang berjudul “Door Duisternis tot Licht, Gedachten van RA Kartini” yang diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. (Namun para shalihin shalihat bangsa ini yang menyayangi RA Kartini memaknainya sebagaimana Kitab Al-Qur’an menyebutkan dalam salah satu ayatnya yakni : “Keluar dari kegelapan, menuju cahaya”).

Ada ekstrak yang berusaha saya peras dari isi surat-surat RA Kartini yang saya bayangkan Kartini menyimpannya sebagai cita-cita dan kala itu mulai merintisnya dengan menyebarkan banyak pemikirannya dalam tulisan-tulisannya baik kepada sahabat-sahabat mancanegaranya maupun media-media cetak berbahasa asing kala itu. Perjuangan dan upaya RA Kartini nampak pada salah satu isi surat RA Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, tertanggal 4 Oktober 1901,yang bertulis sebagai berikut :

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya , yakni menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Entah beliau menyadari atau tidak, atau beliau menulis itu justru atas dasar pengetahuan beliau akan prisnsip-prinsip agama, tetapi kata-kata itu adalah kata-kata Rasulullah saw : Al-Ummu madrasatun uula (Ibu, adalah pendidik manusia yang mula-mula).

Bahwa ternyata RA Kartini menginginkan dan sedang mengupayakan bantuan bagi kaum wanita bangsanya kala itu, bahkan sesungguhnya beliaupun memperjuangkan kepentingan bangsa ini seluruhnya yang tengah dijajah bangsa lain.

RA Kartini bukan memperjuangkan hak-hak wanita dengan teori emansipasi yang salah kaprah. Akan tetapi beliau menginginkan bangsanya, yang karena penjajahan bangsa lain membuat rakyat Indonesia terhina, terbelakang dalam ilmu dan status ekonomi dan sosial, terangkat derajatnya, kembali pada derajat mereka semula yang luhur.

Dalam teori saya, isi Al-Qur’an surat Al-Mujadalah ayat ke 11 yang berisi firman Allah :

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Telah menjadi api pemicu semangat RA Kartini untuk mengembalikan derajat luhur bangsa ini. Dalam ayat itu disebutkan, bahwa tiada jalan untuk dapat meraih derajat yang tinggi melainkan harus membuka jalan bagi bangsanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dan RA Kartini merintisnya dengan mengutamakan pendidikan itu bagi kaumnya terlebih dahulu, karena sesuai dengan isi suratnya yang mengutip kata-kata Nabi saw, bahwa kaum Ibu, sang pemilik cinta tak bertepi, adalah pendidik manusia yang pertama-tama”

Harus ada ibu yang hebat dalam setiap rumah tangga bangsa ini, agar dapat mendidik anak-anaknya dengan benar, dengan kualitas yang baik, sehingga terbentuklah generasi yang unggul. Di tangan kaum ibu yang baik dan cemerlang, yang memiliki cinta tak bertepi itu, generasi ini sesungguhnya dapat menjadi generasi yang “berlian”.

Untuk itu, tiada jalan, melainkan harus dibentangkan kesempatan seluas-luasnya bagi kaum wanita untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tentu saja, ibu dalam lingkup rumah tangga hanya dapat mengajarkan dan mendidikkan ilmu pengetahuannya kepada anak-anaknya pada masa yang terbatas. Akan tiba waktunya ia harus melepas anaknya untuk mendapatkan pendidikan dari luar dirinya, yakni sekolah. Namun, pendidikan Ibu (bersama Ayah,sebagai garda cinta Ibu yang mencarikan nafkah bagi keluarganya) merupakan dasar yang kokoh, yang akan terbawa oleh anak-anak sampai kapanpun. Itu sebabnya, pendidikan Ibu di rumah, sangatlah berharga dan pentingnya.

Alangkah terbatasnya pengetahuan, dan hanya Tuhan saja yang mengetahui berapa banyak jasa-jasa dan perjuangannya. Walaupun banyak juga orang kurang memperdulikannya, tetapi fakta bahwa harum nama RA Kartini menjadi lambang keberkahan hidupnya yang walaupun telah lama wafat namun masih terus dikenang hingga kini oleh generasi sesudahnya. Semoga Allah merahmatimu Ibunda RA Kartini, aamiin.

Selamat hari Kartini wahai kaumku, para pemilik cinta tak bertepi.

Semoga kita dapat menjadi pribadi yang “harum seharum namanya”

*****************************************************************

Berikut bagian-bagian dalam surat Kartini yang tercecer dan menarik untuk diungkapkan.

1. Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899

“Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan fikiran (fikroh) dan keningratan budi (akhlak). Tidak ada manusia yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholih orang yang bergelar macam Graaf atau Baron?… Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini,…”

2. Surat kartini kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.

3. Surat Kartini kepada Nyonya Abendon, 4 September 1901

“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”.

4. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

5. Surat Kartini kepada Nyonya Abendon, 10 Juni 1902

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”.

6. Surat Kartini kepada Nyonya van Kol, 21 Juli 1902

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai”.

7. Surat kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902

“Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”.

8. Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut sebagai peradaban?”

9. Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 25 Agustus 1903

“Ya Allah, alangkah malangnya; saya akan sampai disana pada waktu Puasa-Lebaran-Tahun n Baru, di saat-saat keramaian yang biasa terjadi setiap tahun sedang memuncak. Sudah saya katakan, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya ijinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih sayiang dalam hati sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah!”

10. Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1903

“Tidak, ia tidak mempunyai ilmu, tidak mempunyai jimat, tidak juga senjata sakti. Kalaupun rumahnya tidak ikut terbakar itu dikarenakan dia mempunyai Allah saja”.

(10 ungkapan surat Kartini ini dikutipl dari sumber sini)

Iklan

Terima Kasih telah berkenan hadir, kesan anda sangat berarti :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s